
Markas Raven
Gluttony, pemimpin dari organisasi rahasia ini tengah menunggu anggotanya datang sembari menata pikirannya. Tak butuh waktu terlalu lama bagi anggota Raven lainnya tiba disana. Lagipula mereka telah menanamkan waypoint di beberapa tempat agar dapat berpergian jarak jauh dengan cepat. Salah satu waypoint itu ada tepat di ruang kumpul Raven.
"Oh? Apa kami yang pertama?" ucap Lust yang mendadak muncul berkat teleport waypoint, disusul Pride.
Gluttony hanya mengangguk kecil dan kembali duduk di kursinya. Ruangan yang mereka tempati itu adalah ruang khusus yang dilengkapi berbagai sihir mulai dari pelindung, regenerasi hingga sihir kecil seperti pembersihan. Ruangan itu berisi sebuah meja oval panjang yang dikelilingi 7 kursi hitam dengan corak dan warna yang berbeda. Lemari hitam dengan isi yang berbeda mengelilingi dinding ruangan itu. Dan ada sebuah layar besar di sisi lain meja yang dapat dilihat semua orang.
(Anggap saja denah nya kayak gini. Maaf jelek, author males gambar)
Mendapati reaksi dingin dari Gluttony, Pride dan Lust tidak terlalu mempedulikannya. Mereka langsung berjalan menuju kursi mereka yang berada di selatan dan barat daya ruangan tersebut.
"Ada yang ingin kubicarakan nanti. Tolong luangkan waktumu," ucap Pride di tengah keheningan itu.
"Baiklah," jawab Gluttony singkat.
Dalam beberapa menit, waypoint kembali bersinar dan memunculkan tiga anggota Raven lainnya entah dari mana.
"Maaf, kami terlambat! Kami harus mengurus surat izin keluar dulu!"
Ketiganya datang tergesa-gesa sehingga napas mereka yang berat dapat terdengar.
"Tidak apa, kalian tidak terlambat. Duduklah," balas Gluttony tenang.
"Fyuhh... syukurlah... untung gak kena omel kali ini. Berterimakasihlah karena aku ketua OSIS, jadi ngurus itu bisa cepat," kata Wrath sangat santai.
"Yahh... berkat cowok ini juga kita hampir telat. Siapa tadi yang sempat-sempatnya nggoda murid baru yang cantik di tengah jalan?" sindir Sloth.
"Woi! Aku gak menggoda tau! Yang kulakukan itu ba-sa ba-si. Basa-basi," sangkal Wrath.
"Basa-basi macam apa yang sampai nanyain nama, alamat sampai hubungan asmara?"
"Kau yang nolep mana tau. Ini tuh biasa di antara bangsawan," ejek Wrath.
"Apa katamu!?" marah Sloth.
"EKHM!!!"
"!!!"
Hanya dengan sekali dehaman dari Pride, Wrath dan Sloth langsung diam dan duduk dengan tertib di kursi masing-masing. Ketiganya duduk kursi depan Pride dan Lust, menyisakan kursi kosong di tenggara yang mana adalah tempat duduk Envy, anggota mereka yang tidak bisa hadir.
Gluttony melirik para anggota bergantian. "Bisa kita mulai pertemuannya?"
Keenam anggota Raven mengangguk sebagai jawaban. Karena fokus para anggota telah kembali, Gluttony memulai pertemuan yang dia selenggarakan. Dia menggunakan layar besar di barat ruangan sebagai media. Layar hologram yang mirip seperti jendela status itu mulai menayangkan beberapa gambar.
Gambar yang pertama adalah wajah Adam, pemimpin Guild Perdagangan.
"Aku sudah membuat koneksi dengan orang ini. Kalian mungkin sudah tau siapa dia, tapi biar aku mengatakannya lagi. Namanya Adam, pria inilah yang sekarang menjabat sebagai Guild Master dari Guild Perdagangan."
"Dia sudah membuat kontrak dengan Raven. Tentu demi itu, aku menjelaskan sedikit tentang Raven. Dalam kontraknya, dia akan membantu penyebaran Projects Declan sebagai pedagang dengan memanfaatkan seluruh koneksinya ke penjuru dunia."
"Wrath yang akan menjadi penyalur untuk bangsawan, terutama bangsawan tingkat tinggi."
"1 Minggu lagi, aku akan mengirimmu sebagai jembatan Raven dengan Guild Perdagangan untuk sementara."
"Sementara?" tanya Wrath.
"Ya, sementara. Hanya sampai awal penyebaran saja. Lagipula peranmu adalah jembatan dengan bangsawan. Peran sebagai jembatan dengan guild perdagangan akan kupercayakan ke Greed," jawab Gluttony.
"A-Aku!?" kaget Greed.
"Mu-Mustahil aku bisa melakukannya. Tolong serahkan saja pada yang la-lainnya... aku cukup... menjadi blacksmith Raven... saja..." kegugupan Greed tidak menggoyahkan Gluttony sama sekali.
"Tenang saja. Aku juga tidak akan memaksamu langsung melakukannya. 1 Minggu lagi bersama Wrath, ikutlah bertemu pria itu. Lalu, lakukan semua yang kau bisa agar dia mengizinkanmu belajar darinya."
"Belajar...?"
"Skillmu adalah skill yang serakah. Kau membutuhkan banyak koin emas demi bisa menjadi lebih kuat. Itulah kenapa aku ingin kamu mencoba belajar dari Adam. Kalau bisa buat dia mengangkatmu menjadi muridnya dan dapatkan pondasi di Guild Perdagangan untuk Raven."
"Tapi aku... tidak mungkin bisa melakukannya..." ucap Greed tak percaya diri.
Gluttony menghela napas kecil, "Apa kau tau? Skill Seven Deadly Sins adalah skill yang terbentuk menyesuaikan penggunanya. Kalau skill 'Greed' adalah skill yang menyerap koin emas. Artinya dalam dirimu, tertanam bakat untuk memperoleh emas dalam jumlah besar sehingga tak masalah meski emas itu digunakan untuk skill."
Meski agak ragu, Greed mengangguk setuju, "Aku mengerti... akan kucoba lakukan sebaik mungkin! Demi... Raven!"
"Bagus," senyum Gluttony.
Karena masalah pertama telah teratasi, Gluttony mengganti gambar di layar menjadi gambar kalung yang dia lihat beberapa saat yang lalu. Pria itu juga memperlihatkan spesifikasi kalung tersebut dalam layar.
"Kalung itu...!"
Pride dan Lust langsung mengenali kalung itu, berbeda dengan Wrath, Sloth dan Greed. Tentu Gluttony telah mengiranya sedari awal.
"Golden Light River, itulah namanya. Akan kujelaskan dari awal, jadi dengarkan baik-baik."
Gluttony mulai menjelaskan apa yang terjadi dari dia tak sengaja melihat Adam saat kembali ke Akademi hingga berpisah dengannya. Dia juga menjelaskan alasan kalung itu diperjual belikan dan siapa penjual sekaligus pembelinya.
"Bagaimana menurutmu, Pride? Lust?" tanya Gluttony setelah penjelasannya selesai.
"Apa menurut kalian, kalung itu digunakan untuk pahlawan dari dunia lain itu?"
Lust langsung menggeleng, "Itu mustahil. Mana dalam kalung itu sangat berbeda dari mana orang dunia lain. Memanfaatkan tugas sebagai guru, kami telah mengidentifikasi mana orang-orang panggilan itu saat awal pembelajaran."
"Kalau mereka memakai kalung itu, efek yang diterima bukannya buff justru malah debuff."
"Begitu ya. Jadi bukan untuk mereka. Kalau begitu untuk siapa?" bingung Gluttony.
Pride berpikir sejenak sebelum menjawabnya. Rasanya, pikirannya yang berantakan langsung tertata rapi setelah mendengar penjelasan Gluttony.
"Kepingan puzzle-nya sudah lengkap."
"?"
"Apa maksudnya itu?"
Pride mengambil alih operasional layar dari tangan Gluttony. Berkat memory projector yang diciptakan Envy sebelumnya, Pride dapat menunjukkan informasi yang ada di ingatannya ke layar selama ingatan itu belum terpendam jauh.
Gambar pertama yang dia tunjukkan adalah kuil megah yang merupakan inti dari Kekaisaran Anessa.
"Sebelum aku mulai menjelaskan, tolong dengarkan informasi-informasi ini mulai dari dasar terlebih dahulu."
Begitu keempat anggota lainnya, kecuali Lust menyetujuinya, Pride mulai menerangkan kembali beberapa hal.
"Seperti yang kalian ketahui. Kekaisaran Anessa telah banyak menyembunyikan sesuatu. Bahkan untuk guild informasi, tidak mudah memasuki celah untuk mengetahui informasi-informasi dari tempat ini. Setelah berbagai perjuangan, kami dapat mengetahui beberapa hal penting."
Gambar pada layar berubah menjadi seorang wanita tua dengan jubah putih keemasan yang terlihat berwibawa. Rambutnya sudah ubanan dan kulitnya mengendur, namun tatapan matanya masih tajam. Tak ada orang di Benua Suci yang tidak mengenalnya.
"Kalian pasti tau siapa dia," ucap Pride memulai penjelasannya.
"Paus Kekaisaran Anessa, bukan?" jawab Wrath.
"Benar. Dia adalah Paus," angguk Pride.
"Ada 12 generasi paus sejauh ini. Mulai dari awal terbentuknya Kekaisaran Anessa, beberapa millenium tahun lalu hingga sekarang. Ras Paus sendiri berbeda-beda. Dan Paus generasi saat ini adalah manusia... atau setidaknya itulah yang diketahui orang-orang."
"Apa maksudnya itu? Apa yang kalian ketahui berbeda?" tanya Sloth.
Lust berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati layar. Tangan kirinya menyentuh wajah paus yang terpampang pada hologram. "Wanita ini bukan manusia."
"?"
"Dalam penyelidikan yang timku lakukan, kami mendapatkan beberapa bukti yang menunjukkan kalau wanita ini bukan manusia. Dan penampilannya yang sekarang bukanlah penampilan aslinya. Kemungkinan besar, wanita tua yang disebut paus ini termasuk ras umur panjang," terang Lust.
"Meski aku tidak tau, ras apa itu dan seberapa panjang umur aslinya. Karena itu paus sebelumnya dan sebelumnya lagi bisa jadi adalah orang yang sama."
"!!!"
"Ras umur panjang... jadi maksudmu, dia memalsukan umur dan penampilannya? Atas dasar apa?" ujar Gluttony mencoba memahami.
Pride mengganti gambar di layar menjadi gambar anak-anak remaja dari dunia lain. "Kelihatannya itu demi kamuflase rencananya."
"Ini hanya spekulasi. Tapi aku yakin 97% kalau Paus merencanakan sesuatu yang berbahaya dan membutuhkan jangka waktu yang sangat lama agar dapat terwujud. Kalau dia tidak memalsukan umurnya, hal-hal mencurigakan seperti itu dapat menarik perhatian dunia sehingga pergerakannya jadi terbatas. Tapi kalau dia hanya manusia biasa yang tidak bisa hidup lebih dari 100 tahun, orang-orang tidak akan terpikir kalau rencana yang butuh waktu ratusan tahun untuk merealisasikannya dapat dia lakukan."