
Istana Arc-Angel, Benua Melayang
"Lu...cy..." rintih Uriel sebelum kesadarannya menghilang.
Mata Uriel sudah remang-remang kabur. Tubuhnya tergeletak di lantai tak berdaya. Bukan hanya dirinya, hal yang sama juga terjadi pada Gabriel, Raphael dan Zaphkiel. Mereka berempat telah memahami kekalahan telak ketika melawan mantan rekan mereka.
Kursi ke-3 Nostra, The Fallen Angel, Lucifer
Penampilan Lucifer sekarang sangat jauh berbeda dari Luciel yang mereka kenal. Matanya begitu dingin dan menusuk. Ekspresinya sangat kelam, kejam dan memancarkan aura berbahaya. Luciel yang hangat, baik hati, ceroboh, jahil dan licik sudah tidak ada.
Lucifer memandang rendah para Arc-Angel yang tergeletak dibawahnya. Dia berjalan mendekati mereka dan merampas cincin halo mereka lalu memasukannya ke dimensi yang berbeda.
"Wah, wah... kamu kejam juga ya. Padahal mereka itukan dulu sahabat-sahabatmu!" cengir Hecate yang duduk anteng menonton pertarungan Lucifer.
Kursi ke-8 Nostra, The Thousand Shadows, Hecate
"Yah, tak heran sih. Lagian kamu itukan super rookie yang langsung menempati kursi ketiga begitu masuk setelah merampas cincin halo teman kecilmu itu."
Kata-kata Hecate merujuk pada kejadian pengkhianatan Luciel pada Michael dulu. Pada waktu itu, setelah Luciel menjadi Fallen Angel Lucifer, Lucifer mengalami penurunan kekuatan yang cukup signifikan. Karena pada dasarnya Arc-Angel diciptakan dari cahaya, langsung oleh Dewi, maka ketika mereka menolak cahaya itu, tubuh mereka akan mengalami kerusakan dan penurunan kualitas.
Namun Lucifer mengakalinya dengan memanfaatkan cincin halo Michael. Dia memanfaatkan fakta bahwa sesama Arc-Angel memiliki resonansi dan sinkronisasi yang tinggi dalam penggunaan cincin halo. Dengan kata lain, mudah bagi sesama Arc-Angel meminjam kekuatan Arc-Angel lain. Dan mudah juga bagi mereka untuk merampas milik yang lain.
Berkat itu, Lucifer dapat mengembalikan kekuatannya dan menjadi lebih kuat sehingga dirinya langsung menempati kursi ketiga nostra. Tingkatan Lucifer kini berada di tingkat Téssera.
"Kalau kamu juga menyerap cincin halo punya mereka berempat, akan jadi sekuat apa nanti ya~" senandung Hecate.
Lucifer tidak menggubrisnya. "Meminjam milik Michael saja sudah sangat menguras tenaga. Aku tidak bisa memakai milik yang lain juga kalau aku mau mempertahankan kesadaranku."
"Satu... atau maksimal dua, itu batasan yang bisa tubuhku tanggung."
Lucifer mendesah kecil, nyaris tak terlihat. Wanita itu mengulurkan tangannya ke arah para Arc-Angel. Bersamaan dengan itu, mereka berempat terangkat ke udara dalam kondisi tak sadarkan diri. Dari sana, Lucifer melemparkan mereka ke makhluk serba hitam yang seperti slime berbentuk manusia besar.
BUUGH
"Bawa mereka!" perintah Lucifer.
Makhluk hitam itu membawa keempat Arc-Angel sekaligus di pundaknya. "Saya mengerti, Nyonya."
Bersama makhluk itu, Lucifer meninggalkan istana Arc-Angel tanpa menunggu Hecate. Hecate yang sekarang dalam tubuh gadis kecil berambut twintail nampak merajuk pada perlakuan Lucifer.
"Ah!! Jangan tinggalkan aku, woi!! Kita ini ditugaskan bersama!!!" jeritnya sembari mengejar Lucifer.
Dengan mulut yang tengah mengemut lolipop, Hecate terus mengoceh disebelah Lucifer.
"Nee, nee... mau kau apakan mereka? Tidak dibunuh?"
"Tubuh Arc-Angel itu berharga. Membunuhnya hanya akan menyia-nyiakan sumber daya. Aku akan memanfaatkan mereka sepenuhnya," jawab Lucifer tenang.
"Hmm~ kalau begitu, boleh aku jadikan satu dari mereka bahan eksperimenku?" tanya Hecate bersemangat.
Lucifer melirik gadis itu dengan mata yang sulit diartikan, "Tergantung eksperimen apa itu."
Hecate tidak menyangka Lucifer tidak akan langsung menolaknya. Sejujurnya dia sempat meragukan kesetiaan Lucifer pada Nostra karena dia tidak membunuh Arc-Angel lainnya.
"Kayaknya percobaan memutar ulang waktu mereka seru juga. Aku mau bikin dia kembali jadi bayi lagi, ingatannya di hilangin dan coba di didik ulang. Akan jadi seperti apa ya anak itu nantinya~?" riang Hecate.
"Ah! Terus-terus! Aku nemu yang seru lagi!! Gimana kalau, ada yang gak di putar ulang, tapi cuma di hapus ingatannya gitu! Terus rasnya di ganti sama dimasukin ingatan orang lain. Kalau kayak gitu dia bakal jadi orang yang berbeda gak ya?"
"Ahh!! Di jadiin makhluk buatan juga boleh!!! Nanti aku pingin gabungin dua orang gitu!! Kalau ingatan, tubuh dan jiwa mereka bersatu, apa mereka akan hancur karena penolakan satu sama lain? Atau mereka hidup dan menjadi lebih menakjubkan? Atau malah mereka jadi cacat seumur hidup!? Gak sabar bangett!!" girang gadis kecil itu.
Lucifer tidak mengubah ekspresinya bahkan setelah mendengar semua itu. Dia melirik Hecate dan para Arc-Angel bergantian. Kepalanya tengah memikirkan sesuatu.
"..... Percobaan ketiga ditolak. Akan merepotkan kalau mereka justru jadi lebih kuat."
"?"
Mata Hecate seketika berbinar-binar. "Artinya yang pertama dan kedua boleh!!??"
"Ada syaratnya."
"Tentu, tentu!! Katakan saja!!!"
"Untuk yang pertama, kamu harus menyerahkan bayi itu padaku setelah eksperimennya selesai. Aku sendiri yang akan mendidiknya, lagipula aku yang mengalahkannya."
"Boleh, boleh."
"Untuk yang kedua, aku yang akan memilih ingatan siapa yang akan ditanam ke dia. Dan akan kubawa juga dia setelah itu. Terserah padaku mau kuapakan."
"Bo...lehlah. Intinya kamu cuma mau ambil semua hasilnya, kan?" tanya Hecate menyindir.
"Gak sih... toh emang itu hakmu... oke deh. Aku cukup nikmatin prosesnya aja!" jawab Hecate.
"Terakhir..."
"Eh!? Masih ada lagi!?"
"Terakhir!"
"Hufth... oke, katakan saja..."
"Aku tidak ingin ada kecacatan selama eksperimen berlangsung. Aku menyerahkan produk dalam keadaan bagus, jadi aku juga ingin mereka keluar dalam keadaan bagus. Kalau tidak, bersiaplah nyawamu sebagai gantinya," kata Lucifer penuh penekanan.
"Oi, oi, oi... kau pikir aku ini siapa? Kalau tentang itu tidak perlu dikatakan. Semua eksperimen yang kulakukan selalu berhasil tanpa kecacatan, jangan khawatir. Produk kelas tinggimu tidak akan rusak kok," jawab Hecate percaya diri.
"Yasudah."
"Jadi? Siapa yang mau kau serahkan padaku?"
".... Akan kuberikan Gabriel untuk eksperimen pertama dan Raphael untuk yang kedua. Uriel dan Zaphkiel akan ku pakai sendiri," kata Lucifer setelah berpikir sejenak.
"Oke siap!! Janji ya!!!!"
"Iya, iya..."
Bersama-sama, keduanya melangkah keluar dari istana Arc-Angel. Terlihat tak terhitung jumlahnya para malaikat yang tepar, pingsan, bahkan mati di jalan yang mereka lalui. Malaikat-malaikat itu tadinya mencoba menghentikan mereka berdua. Namun perbedaan kekuatan yang terlalu besar membuat mereka tak bisa berbuat apa-apa selain menyumbang nyawa ketika atasan mereka dibawa pergi oleh penjahat.
Di ujung Benua Melayang, seorang kakek-kakek muda, bugar dan berotot (bayangin aja mirip sebas) sedang menunggu mereka sambil memberi makan Wyvern miliknya.
[ Wyvern ]
Wivern adalah makhluk mitologis bersayap dengan kepala naga, tubuh reptil, dua kaki, dan ekor bergelung. Mereka merupakan kerabat jauh naga dan memiliki bentuk yang mirip namun jauh lebih kecil dari naga. Tentu saja kekuatan dan kecerdasannya berbeda jauh pula. Namun mereka tetap makhluk berbahaya dan memiliki level yang tinggi.
Menyadari kedatangan Lucifer dan Hecate, kakek itu berhenti memberikan makan Wyvern-nya dan berbalik ke arah mereka. "Oya, Oya... Kalian sudah tiba. Hmm? Ohoho, dan bahkan membawa oleh-oleh."
"Apa itu untuk Dewi kita? Atau untuk Tuan Vladislava?" tanya kakek itu.
Hecate menggeleng dengan senyum mengejek, "Bukan, bukan! Ini tuh properti pribadi Lucifer. Sebaiknya Kakek Ifi jangan berkata begitu, kalau gak nanti Lucifer marah loh."
Sang kakek tertawa kecil, "Ohohoho, jadi begitu. Kalau begitu maafkan saya, Nona Lucifer."
"Tak masalah. Ayo kembali," ucap Lucifer santai.
Wanita itu mengeluarkan sayap hitam lebarnya yang segelap malam namun bersinar layaknya bintang. Makhluk hitam yang merupakan bawahan langsung Lucifer terbang dibelakangnya tanpa sayap apapun berkat sihir gravitasi Lucifer.
"Ah!! Si Lucifer ini!! Dia itu kenapa sih!? Kok suka main tinggal-tinggal gitu aja!!!" geram Hecate sembari menggembungkan pipinya.
"Hohoho, mari kita susul bersama Nona Hecate.
"Baiklah... ayo pergi kek. Sebelum nenek-nenek tukang omel itu memarahi kita karena terlambat."
Hecate melompat tinggi, menaiki salah satu Wyvern itu.
Tak lama, sang kakek juga menaiki Wyvern lainnya. "Nona Mael akan marah kalau anda menyebutnya nenek-nenek seperti itu."
"Biarin, toh sekarang dia gak bakal denger!" balas Hecate.
Keduanya terbang menaiki Wyvern, kembali ke asal mereka, markas Nostra yang berada jauh di dalam Benua Iblis, tepatnya di ujung dekat Tanah Kematian.
Dan sesaat sebelum mereka terbang melesat mengejar Lucifer, kakek itu menghentikan Wyvern-nya menghadap Benua Melayang.
"Hohoho, seperti yang diduga. Nona Lucifer tidak membuat banyak kerusakan. Entah karena dia memang seperti itu, atau karena tempat ini menyimpan banyak kenangan."
Kakek itu menyilangkan tangannya ke depan, mengarah langsung ke Benua Melayang. Mata yang selalu dia tutup seperti orang buta itu, sedikit terbuka. Matanya bukanlah mata biasa. Mata kakek itu tidak memiliki bola atau perbedaan warna iris mata dengan bagian putih pada mata layaknya orang biasa. Matanya hanya memiliki satu warna, dan itu adalah warna alam semesta.
[ Vselennaya prikazala snova vernutʹsya v obʺyatiya materi-zemli. Spuskatʹsya! ]
Tepat setelah kalimat itu di ucapkan, Demetria bergemuruh. Terjadi gempa tinggi tak hanya disekitar kakek itu, namun juga terasa hingga penjuru dunia. Dunia kembali dikejutkan oleh sihir skala luas yang dampaknya dapat dirasakan hingga keluar pembatas para peri dan spirit yang mengelilingi Benua Melayang dan Iblis.
Sihir tingkat Mythic yang dampaknya hampir mencapai tingkat God itu langsung menarik perhatian seluruh makhluk hidup Demetria termasuk makhluk luar batasan yang menjaga kedamaian Demetria, seperti Great Dragon, Peri dan Spirit.
"Saya Ifigenia, Kursi ke-2 Nostra, menyerukan genderang perang atas nama Dewi saya," ucap sang kakek sembari membungkuk sopan di atas Wyvern-nya yang terbang masuk ke gate yang mengarah ke markas mereka.
Tepat beberapa detik setelah bayangan sang kakek menghilang, Benua Melayang yang merupakan asal dari gempa itu kehilangan kemampuan terbangnya dan runtuh ke lautan.