The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
Chapter 42 [ 3 Yggdrasil ]



"Kenapa? Lanjutkan!"


"Itu… ratu berspekulasi bahwa perang ini sangat sulit dimenangkan. Kemungkinan untuk kembali hidup-hidup akan sangat sulit. Bahkan untuk beliau dan pemilik Menara sihir sekalipun…"


Elvira melirik Aqua saat mengatakannya. Tak terlalu banyak perubahan ekspresi di wajah anak itu. Dia tetap tenang mendengarkan.


"Padahal gurunya bisa saja mati dalam perang, bagaimana anak ini bisa tetap tegar? Dia punya sifat dan mental yang luar biasa."


Elvira tidak tahu kalau alasan Aqua bisa tetap tenang bukan karena dia punya mental yang kuat atau semacamnya.


"Master tidak mungkin mati. Aku tidak tau dengan mantan ratu karena tidak dijelaskan, tapi dalam game Master masih hidup dan baik-baik saja. Aku tidak memberi perubahan dalam game terkait perang, jadi seharusnya itu tetap sama."


"Apa sudah semuanya?" tanya Aqua.


"..... Satu hal lagi master, sepertinya kemampuan dewa kejahatan sangat jauh dari siapapun. Levelnya diperkirakan lebih dari 1000. Dan pasukannya juga punya level lebih dari 500."


"Begitu. Terima kasih informasinya. Aku akan menggunakan informasi itu untuk mengubah rencana kita kedepannya."


Aqua keluar dari kamar Elvira, namun tiba-tiba dia teringat sesuatu. Anak itu berbalik ke arah Elvira.


"Oh iya, apapun perubahan yang akan terjadi nanti. Aku punya 1 misi untuk kalian berdua setelah kekuatan asli kalian kembali."


"Kami siap menerima apapun yang master perintahkan."


"Itu bagus, karena misi kalian sangat penting untuk masa depan Raven kedepannya."


Aqua turun dari lantai 2. Saat masih ada di tangga,


"Aqua! Kemana kamu mau pergi?" tanya Elvina setelah keluar dari kamar Yue.


"Jalan-jalan!!"


Sehilangnya Aqua dari pandangan mereka. Elvina mengeluh karena anak sekecil itu sama sekali tak bertindak seperti halnya anak-anak. Elvira menghentikan Elvina, dia mengajak adiknya masuk kamar untuk membicarakan yang tadi dengannya.


Aqua berjalan-jalan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke kantong celana. Sepertinya semua orang lelah dengan semua yang terjadi hari ini. Karena meski tadi sangat ramai dari pagi, sekarang benar-benar sepi. Para Elf mabuk dan tertidur di rumah masing-masing. Beberapa masih jalan terhuyung-huyung di jalanan.


Anak itu terus berjalan ke arah aula istana. Meski banyak ksatria dimana-mana, tak ada yang berani melarangnya masuk ke Istana. Biar bagaimanapun, Aqua sekarang adalah Pangeran kedua. Memasuki istana menjadi hal yang wajar baginya. Aqua terhenti di depan pintu aula, setelah memastikan tak ada yang melihatnya, dia masuk dengan cepat.


{ Dia sudah datang! Dia sudah datang! }


{ Aku tau!! Berisik! }


{Wah, ini anak yang Baginda inginkan? }


{ Bagaimana dia bisa punya mana seperti itu? }


{ Dia cukup manis… }


Para peri mencicit-cicit begitu Aqua datang. Aure dan Undine mendekati Aqua.


{ Bagaimana? Apa kamu sudah siap pergi ke dunia peri? }


"Ya, aku siap. Tolong bantuannya!" jawab Aqua tak ragu.


{ Oke! Semuanya!! Buka gerbangnya!!!} }


{ Baik! }


Para peri kecil terbang mengelilingi pohon Yggdrasil kecil. Percikan cahaya berjatuhan dari peri-peri kecil itu. Percikan cahaya itulah yang membentuk sebuah portal berwarna biru muda keunguan.


{ Saa… masuklah! Kami akan membimbingmu bertemu Baginda ratu! }


Aqua mengangguk, meski sedikit khawatir, dia tetap melangkahkan kakinya memasuki portal. Begitu masuk ke portal, rasanya tubuhnya mendadak jadi ringan. Perasaan tenang dan santai merasukinya.


"Rasanya nyaman…"


Tapi perasaan nyaman itu tak berlangsung lama.


"AAARRRGGGGGGGGHHHHH!!!!"


Mendadak tubuh Aqua jatuh dari ketinggian yang sangat tinggi. Sisi lain portal itu ada di langit.


Aqua mencoba menggunakan sihir untuk terbang, tapi dia tak bisa mengeluarkannya. Dia mencoba mencegah dirinya jatuh dengan cara apapun. Tak satupun dari cara itu berhasil, anak itu tetap jatuh.


{ Kalau dibiarkan begini, aku bisa mati!!! }


Para peri yang terbang mengelilingi Aqua terlihat kebingungan.


{ Kamu kenapa? Kalau gini terus bisa jatuh loh! }


{ Manusia tidak bisa terbang! }


{ Elf juga tidak bisa terbang! }


{ Ahh, aku lupa!! }


"Hei, kumohon tolong aku. Aku belum mau mati karena jatuh dari ketinggian!" seru Aqua.


{ Apa boleh buat, kalau anak ini mati sebelum bertemu ratu bisa gawat }


{ Ayo tolong dia! }


{ Bantu anak ini }


Para peri terbang mengelilingi Aqua, cahaya yang berjatuhan dari tubuh peri-peri kecil itu memasuki tubuh Aqua. Berkat cahaya itu, perlahan jatuh Aqua melambat hingga berhenti sepenuhnya. Anak itu terbang tanpa mengeluarkan sihir.


"?"


{ Ukhm… di dunia peri, makhluk selain peri tidak bisa menggunakan sihir. Ini demi melindungi peri yang ada didalamnya }


Aure menjelaskan pada Aqua.


"Tolong katakan itu dari tadi. Aku hampir saja mati karena jatuh."


{ Kamu tidak akan mati. Kami tidak akan membiarkanmu mati sebelum Baginda ratu }sanggah Aure.


"Iya, iya, aku mengerti."


{ Kalau begitu, ayo ikuti aku. Kita akan menghadap Baginda ratu!! }


"Baik."


Aqua terbang mengikuti peri-peri kecil itu. Makhluk mungil yang bisa muat di saku itu terus bertambah seiring dengan melajunya Aqua.


Dunia yang anak itu lihat sekarang jauh berbeda dari dunia yang dia tinggali. Tempat itu penuh dengan warna dan terlihat sangat indah. Bunga-bunga dan tanaman memiliki ukuran yang besar. Peri-peri kecil tinggal di bunga, celah pohon, jamur, dll. Mereka bekerja dengan penuh semangat dan kebahagiaan.


Sama sekali tak terlihat hawa permusuhan dari para peri. Mereka terlihat sangat bersahabat dan ramah. Aqua juga kerap kali disapa oleh peri-peri kecil itu.


"Jika harus di gambarkan, aku seperti masuk ke dunia dongeng," pikir Aqua kagum.


Mereka terus terbang melewati hamparan bunga dan rumput. Dandelion yang sudah memutih terbang mengikuti arah angin, Aqua mengambil salah satu tangkainya saat sedang terbang dan melepaskannya lagi. Tak hanya musim semi yang ada di sana. Beberapa musim menyatu dalam satu wilayah. Musim salju, gugur, semi dan panas hanya terpisahkan sungai kecil yang mengelilinginya.


Peri-peri yang menuntun Aqua berhenti di tengah-tengah keempat musim itu. Tepat di tengahnya, terdapat sebuah pohon raksasa yang menjulang tinggi diatas awan. Ujung dari pohon itu tak terlihat oleh mata. Peri-peri itu membawa Aqua menuju ke pohon besar itu.


"Wahh..." kagum anak itu.


{ Wahahaha! Bagaimana?! Bukankah kamu takjub anak manusia! } kata Aure dengan nada sombong.


"Iya... aku belum pernah melihat pohon sebesar dan seindah ini," puji Aqua.


{ Tentu saja! Kaupikir ini pohon apa? Pohon yang kamu lihat adalah pohon kehidupan, Yggdrasil!!!! }


"!"


"Yggdrasil katamu?! Bukankah Yggdrasil ada jauh di dalam hutan Elf? Tidak, bukan itu aja! Bukannya kalian ini tinggal didalam Yggdrasil di hutan Elf??!"


{ Hoho! Jadi kamu tidak tau? Ada 3 Yggdrasil yang diciptakan Dewi Athena. Gerda sang penjaga, Altheya sang penyembuh dan Hadya sang penuntun. Yang ada di hutan Elf itu Altheya! Hadya ada di benua Melayang dan yang ada di dunia peri ini adalah Gerda. Omong-omong, biar kuralat. Peri bukan tinggal didalam Yggdrasil. Tapi Yggdrasil itu bisa menjadi portal untuk pergi ke dunia peri. Gitu! }


Aure menjelaskan Aqua dengan nada seolah dia tau segalanya. Itu membuat Aqua sedikit kesal, tapi informasi yang peri itu berikan memang sangat berguna.


"Informasi baru yang tak ada di game."