
Aqua mencoba berdiri sekuat tenaganya. Setiap kali dia memakai sihir tingkat Epic di kemampuannya yang sekarang, dia pasti akan pingsan setelahnya. Tapi Aqua mencoba sekuat tenaga agar tidak pingsan.
"Racun Arachnea! Mereka pasti sedang melawan Arachnea. Dengan level mereka yang sekarang, melawan laba-laba sialan itu sama seperti meminta di makan."
"Sial!! Aku harus bangun!"
Saat ini tubuh Aqua benar-benar tak bisa digerakkan. Namun karena kesadarannya masih ada, Aqua mencoba menghisap mana sebanyak yang dia bisa.
"Aarrgghh!!!"
Menghisap paksa mana lebih dari sekali akan meningkatkan level kesakitannya. Saat ini tubuh Aqua seperti sedang dibakar dari dalam. Mata indah Aqua mengeluarkan darah. Darah juga keluar dari hidung dan mulutnya.
Bahkan dengan semua pengalaman dan penderitaan yang Aqua alami sebelumnya, rasa sakit luar biasa ini tak bisa dibayangkan. Orang dewasa saja bisa pingsan karena rasa sakit itu, namun tubuh kecil anak 13 tahun itu menahannya seolah bukan apa-apa.
"Aku sudah bertekad!! Sesakit apapun itu, semenderita apa aku nanti, aku pasti… tidak akan membiarkan diriku kalah… dari siapapun!!" serunya sambil mulai berdiri.
Mana Aqua meningkat drastis karena dia berhasil menahan rasa sakit pemasukan paksa mana.
"Dengar Aqua! Teknik pemasukan paksa mana ini ( Mana Coercion ) adalah teknik terlarang yang seharusnya sudah menghilang dulu sekali. Meski sangat berguna, tapi kebanyakan orang tidak bisa menahan rasa sakitnya. Tapi aku akan tetap mengajarimu ini. Kenapa? Karena kapasitas mana mu akan meningkat drastis setiap kamu berhasil menggunakannya."
Perkataan Ashlan terngiang di kepala Aqua.
"Kau benar master! Ini benar-benar teknik yang berguna."
Aqua mengelap darah di wajahnya dengan lengan bajunya. Dia diam tak bergerak, sedang memakai berbagai sihir penguatan fisik. Setelah persiapannya selesai, tatapan Aqua menajam, dia bergerak dengan kecepatan luar biasa ke tempat perempuan itu berada.
Setiap serangga yang ditemuinya tersayat dan terpotong-potong dengan kejam oleh daggernya. Berbeda dengan anak penakut yang menggunakan sihir tingkat tinggi sebelumnya, sekarang Aqua ada dalam mode serius dimana tak seorangpun bisa menghentikannya.
Dia meloncati dahan demi dahan dengan cepat hingga sampai ke daerah yang cukup luas. Ada bekas pertarungan di sana. Seekor monster laba-laba raksasa dengan tubuh manusia di bagian atas sedang melawan dua perempuan serigala yang terlihat mirip.
"Arachnea ya… kelihatannya dia baru saja berevolusi. Jika dia dibiarkan sebentar saja, levelnya akan naik terlalu tinggi."
Aqua memandang Arachnea dengan tatapan jijik. Kalau bisa sebenarnya dia tidak mau mendekat kesana.
"Di kehidupan sebelumnya, Tiara menyukai karakter Arachnea karena di suatu anime tokoh utamanya wanita Arachnea cantik yang kuat dan keren. Anak itu… dia pasti menangis kalau aku menceritakan bentukan Arachnea yang ada di dunia ini."
Tak seperti yang banyak dibicarakan orang. Arachnea nyatanya bukanlah sesosok wanita cantik atau semacamnya. Demi menyesuaikan lingkungannya, tubuh manusia Arachnea kehilangan keindahannya. Kulit abu-abu gelap, mata banyak yang mengelilingi wajah, tak adanya sehelai rambut pun, mulut lebar seperti laba-laba, payudaranya bahkan sangat melorot ke bawah karena tak di sangga apapun.
"Beneran deh… kalau ini anime, pasti akan ada cahaya ilahi atau semacamnya yang menutupi makhluk itu."
Hanya satu kata yang bisa Aqua berikan untuk menggambarkan mahkluk itu. Menjijikkan!
"Meski begitu… dia lebih merepotkan dari Kraken, huh!"
Aqua tak langsung terjun dalam pertarungan. Dia diam mengamati terlebih dulu. Dua serigala bersaudara itu tampak cukup seimbang melawan Arachnea.
"Padahal perbedaan levelnya terlalu besar. Mereka cuma level 50-an, tapi bisa mengimbangi Arachnea. Yang namanya teknik dan pengalaman bertarung itu luar biasa," pikir Aqua kagum.
"Aku tidak salah. Mereka harus masuk ke Raven!"
Dua perempuan serigala kembar itu menggunakan tombak kembar yang terlihat usang dan hampir rusak. Seperti kata Aqua, mereka luar biasa karena bisa mengimbangi perbedaan level yang besar dengan teknik bertarung mereka.
Namun raut wajah mereka mulai memburuk. Dalam pertarungan jangka panjang, Arachnea lebih diuntungkan. Stamina dan mana mereka mulai habis. Beberapa kali serangan Arachnea tak bisa mereka hindari sehingga mereka penuh dengan luka dan lebam.
"Ck, padahal baru saja kusembuhkan dengan semua manaku. Jangan menyia-nyiakannya begitu!"
Arachnea melontarkan jaringnya dan memenjarakan kedua perempuan itu. Tubuh mereka melekat kuat dan tak bisa bergerak. Meski meronta sekuat apapun, benang itu bahkan tak bergeming. Arachnea tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia melaju dengan cepat sambil mengangkat dua kaki tajamnya.
Perempuan yang lebih muda menutup matanya, bersiap untuk terluka. Namun meski beberapa saat telah berlalu, dia tidak merasa sakit. Begitu dia membuka matanya, perempuan itu terkejut karena Arachnea tak ada di depannya.
"...... Kakak! Apa yang?!" bingungnya.
"Aku tidak tau. Mendadak Arachnea itu terlempar ke belakang," jawab perempuan di sebelahnya sama kagetnya.
".......?"
"Baik, kak!"
...***...
Arachnea beberapa kali mengeluarkan jaring dan racun. Dengan lincah, Aqua menghindari semua itu. Aqua terus menggiring Arachnea ke suatu tempat di dalam hutan. Tubuh besar Arachnea kesulitan mengikuti Aqua yang terus memasuki celah-celah kecil.
Laba-laba itu tidak mempedulikan rintangan apapun yang ada didepannya. Semua dia hancurkan dengan racun korosif skala besar. Beberapa kali Aqua menoleh ke belakang dan memastikan keadaan Arachnea.
"Mengalahkanmu dengan jujur dan adil itu mustahil bagiku. Jadi jangan berharap aku akan melakukannya!"
Aqua menyeringai.
"Arachnea punya harga diri yang tinggi. Jika dia diserang, dia akan terus mengejar lawannya sampai mati. Aku bisa memanfaatkan itu."
KREEEKKKK
Dahan yang menyangga Aqua patah terkena cipratan racun Arachnea.
"WAAAHHHHHH!!!!"
Sebelum Arachnea menyerangnya saat terjatuh, kaki Aqua memutar tubuhnya dan menggantung di cabang lainnya.
"Ini bahaya."
Aqua melompat ke dahan lain dan kembali bergerak dengan cepat. Semakin lama, pepohonan semakin langka. Pijakan Aqua dan rintangan Arachnea mulai berkurang. Memanfaatkan itu, Arachnea terus memfokuskan serangannya ke Aqua.
Salah satu jaring Arachnea mengenai kaki Aqua.
"!"
Aqua tertarik oleh jaring itu ke bawah pohon. Meski Aqua terus mencoba melepas jaring itu dengan daggernya, jaring itu terlalu lengket dan tebal. Arachnea memutar jaringnya dan melemparkannya ke tebing bebatuan.
BRUUUGGGGHHHH
"Kuhhh…"
Dengan kecepatan seperti itu, tak mungkin Aqua lolos tanpa luka.
"Kurasa tulangku patah… sial!"
Untungnya saat Aqua menghantam tebing, jaring itu putus dengan sendirinya.
[ Recovery ]
Setelah lukanya sembuh, Aqua kembali berlari ke suatu tempat.
"Cepatlah! Kalau menurut peta, sebentar lagi sampai!!"
Arachnea sudah memasuki jarak pertempuran jarak pendek dengan Aqua. Kakinya terangkat ke atas dan menyerang Aqua seperti halnya sabit dan pedang.
Aqua berhasil menangkis serangan dengan daggernya. Dentingan demi dentingan yang terdengar nyaring menggema ke mana-mana.
Saking cepatnya serangan itu, tangan Aqua sampai terlihat banyak. Tak semua serangan berhasil di hindari, beberapa lolos dan menyayat tipis kulit Aqua. Sayatan yang diberikan Arachnea mengandung racun yang sangat berbahaya. Tapi itu tidak berlaku untuk Aqua, anak itu memiliki skill kekebalan racun berkat pertarungan dengan Kraken sebelumnya.
.
.
.
.
.
[ Sudah gak error, kan? ]