MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
97



Kazen tidak mau membalas karena kekuatannya lebih besar dari Rita yang perempuan.


Jadi dia akan menahan sakit dan perih kepalanya di jotos dan dijambak. Aslinya Kazen memegang banyak gelar dalam ilmu bela diri.


Kini dia jadi tahu seberapa besar kemarahannya Rita pada Alex dan Ney. Dia menerima semua efek aura meledaknya pada dirinya.


Selama lima belas menit sekalian Rita koar-koar dan Kazen menerima semua hantaman, yang menurutnya itu seperti di gigit kucing.


Tapi Kazen agak menangis saat rambutnya dijambak, dan Rita berhenti sambil ngos-ngosan.


"Sudah kan," kata Kazen mengelus kepalanya.


"Ini belum seratus persen karena kamu bukan mereka," kata Rita.


"Iya, aku tahu ini baru tiga puluh persen kan tapi lumayan sakit," kata Kazen merapihkan rambutnya.


"Aku benar-benar terluka akibat si keparat Alex dan si gila nenek lampir itu," kata Rita mengepalkan tangannya.


"Iya aku tahu kok. Aduuuh maksudku aku saingannya bukan yang musuh. Aku sama sekali tidak tahu kalau dia bisa menyukai orang biasa seperti kamu," kata Kazen yang masih mengelus kepalanya.


Rita memandangi Kazen yang kesakitan. Rita juga bersalah kenapa dia jadi melemparkan rasa kesalnya pada Kazen?


"Sakit ya?" Tanya Rita.


"Pusing," kata Kazen pura-pura.


"Kenapa kamu tidak membalas?" Tanya Rita yang sudah tenang.


"Kamu perempuan, meski kamu pukul, jotos dan jambak aku. Tetap kamu itu lemah, aku diajari adab tidak boleh memukul perempuan. Meski mereka kurang ajar," kata Kazen menyeka matanya.


Rita menghela nafas kalau saja Alex seperti dia. Rita tertawa dan mengelus rambut Kazen.


Kazen menatapnya dan bertingkah manja. Menunjukkan kepalanya yang pusing.


"Baguslah, setidaknya kamu tidak begajulan," kata Rita membelai kepalanya dan merapihkan rambut Kazen.


"Aku begajulan tapi sudah tobat," kata Kazen senang menerima perlakuan lembut Rita.


Ingin rasanya memeluk Rita tapi dia menahannya, bukan muhrim tapi tidak menolak saat Rita membelai rambutnya.


"Kenapa dia ribet karena posisinya di dalam keluarga sama denganku. Tapi aku tidak begitu seribet orangnya. Kamu tahu kalau kakaknya yang pertama sudah tidak ada?" Tanya Kazen.


"Iya," jawab Rita.


"Nah posisi kakaknya itu sekarang dipegang sama dia. Kakak aku juga sudah tidak ada karena penyakit. Aku dan dia sama sebenarnya, kamu memegang kendali yang kakak pegang," kata Kazen.


"Hah? Memangnya tidak ada kebebasan memilih?" Tanya Rita kaget.


"Ada makanya aku dan dia itu beda, Rita. Kalau dia ya seperti merasa tanggung jawab kakaknya harus dia yang gantikan. Kalau aku memang menolak," kata Kazen.


"Terus bagaimana kamu bisa tahu soal Alex dan keluarganya?" Tanya Rita.


Kazen bingung juga dimana dia harus merahasiakan soal keluarga dan lainnya. Melihat Rita, mana mungkin bisa disembunyikan.


"Bukan sekedar tahu karena kenal. Bagaimana ya. Keluarga aku dan dia ada hubungan bisnis tapi jauh," kata Kazen.


"Pesaing ya," kata Rita mengerti.


"Begini seperti kamu dan Diana misal. Diana pintar dalam segala bidang dan kamu hanya beberapa, tapi kamu melihat dia seperti kagum," kata Kazen.


"Ahh! Artinya kamu kagum sama Alex juga kan?" Tanya Rita menahan tawa.


"Ya ada tapi selebihnya ya bukan. Dan kamu berusaha mengungguli Diana dari kejauhan. Semacam itulah," kata Kazen.


"Tapi kalian saling kenal kan?" Tanya Rita.


"Tidak juga sih hanya karena nama keluarga kami besar dan yah, semua keluarga pasti kenal sih," kata Kazen.


Rita mengerti dan menatap Kazen yang berwajah serius namun senyum padanya. Rita cubit kedua pipinya yang dimana Kazen memegang tangannya.


"Maaaaffff ya yang tadiii," kata Rita menyesal.


"Maaf sih maaf tapi tidak harus mencubit juga. Kamu gemas ya sama aku? Hehehe," kata Kazen memegangi kedua tangan Rita.


Rita tertawa malu, kedua mata mereka berhadapan tapi tenang tidak ada kissing.


"Tapi aku terima semua hantaman kamu aku anggap untuk hukuman aku juga," kata Kazen.


"Hukuman?" Tanya Rita.


"Aku selalu mengawasi kamu Rita, sebelum kamu dengan Alex. Aku yang duluan jatuh hati sama kanu, hanya dulu masih nakal," kata Kazen mengaku.


"Coba kamu yang pertama datang mungkin ceritanya akan berbeda," kata Rita memainkan jari Kazen yang besar.


"Kenapa?" Tanya Rita.


"Aku jadi yang kedua dan berhasil menyembuhkan luka. Dan dia sudah berakhir denganmu," kata Kazen memegang hidung Rita.


Rita tertawa dan mencubit lagi pipi kanannya. "Kamu lucu,"


"Baru kali ini dibilang lucu. Banyaknya mereka bilang aku iblis," kata Kazen ketawa.


"Karena kamu saat bekerja modenya beda kan," kata Rita.


"Iya aku jadi tahu juga seberapa marah dan sedihnya kamu. Aku tidak seperti dia, aku akan mengajak kamu melihat dunia. Aku tidak keberatan kamu menyukai anime, mau gaya pakaian yang berbeda pun silakan," kata Kazen.


Rita menganga. "Kamu tahu aku suka Anime dari mana?"


Kazen berhenti. "Kedua sahabat kamu, aku lihat memakai bros anime dan kamu tidak masalah. Aku yakin kamu juga punya kan?"


"Hahaha iya kami menyukai film yang sama. Hebat bisa tahu," kata Rita.


"Aku dong. Apapun kamu mau lakukan yang penting kamu nyaman dan senang. Dan setia sama aku," kata Kazen dengan nada tegas.


"Jangan cemas," kata Rita.


"Ya," jawab Kazen percaya.


"Aku sudah melupakan Alex, bahkan wajahnya pun aku tidak ingat seperti apa. Terima kasih selalu mengawasi aku," kata Rita dengan malu.


Kazen tertawa malu, lengannya dipeluk Rita. Dan dia tidak berbuat mesum, dia membiarkan lengannya Rita peluk.


Kazen lega juga sudah mengatakannya dan apa yang Shin katakan nyatanya jauh!


"Oh iya kalau begitu kita tidak perlu banyak chat ya kan bisa menelepon. Cctv juga lebih baik cabut saja," kata Rita manyun.


"Iya, rencananya mau aku berikan pada pak RT disana. Daerah sana juga sering banyak pencurian kan," kata Kazen.


"Iya. Sekolah juga sempat kena tapi sekarang dipasang cctv," kata Rita.


Mereka mengobrol seru, Rita banyak bertanya karena antusias dan Kazen menjelaskan selengkap mungkin.


Apa mereka pernah bertengkar? Bukan pernah juga tapi sering. Karena ketidakpekaan Rita membuat Kazen berkali-kali menjelaskan.


Kazen banyak marah mirip Alex tapi dia masih bisa menahan volumenya. Jarang Kazen membuat Rita sedih, bahkan sehari lupa tidak menghubungi, Kazen panik.


Ya trauma setelah itu dia baru sadar kalau sudah diputus hubungannya. Tapi Rita biasa saja. Terlihat sekali Rita menyayangi Kazen, jarinya selalu dibelai lembut.


Tidak, Rita jarang berpikiran mesum itu hanya Kazen namanya juga laki-laki. Membuat Shin dan Seren gemas ingin menjahili Kazen.


Kazen tidak berani mencium Rita, akhirnya dia selalu mencium jilbabnya di kepala. Rita juga ingin memeluk Kazen tapi selalu ditahannya.


Tentu Rita terpesona dengan bentuk badan Kazen yang agak berotot. Tapi dia langsung menampar wajahnya, dan berbisik istigfar.


Tidak heran badannya atletis mirip Jungkook perpaduan RM dan Jimin. Bingung kan, ya begitulah tapi wajahnya bukan Asia.


Kazen tahu Rita sering berwajah malu dan akhirnya dia memakai baju yang tidak terlalu ketat, seperti baju koko.


Rita tidak cemas setiap kali mereka bertengkar, Kazen tidak akan menjadi kaum Rebahan.


Kekonyolan mereka pun banyak termasuk saat Kazen marah, dan mengangkat salah satu tangannya.


Bukan untuk menampar tapi membetulkan rambutnya yang ketebas angin. Memperlihatkan ototnya yang membuat Rita malu dan terpaksa melemparkan bantal.


"Kamu kenapa sih!? Kok aku di lempar?!" Tanya Kazen sebal.


"Tidak perlu membetulkan rambut segala!" Kata Rita gugup.


"Kenapaaa rambutku berantakan!" Kata Kazen.


"Ya itu... itu.. ya jangan!" Kata Rita kesal.


Kazen diam. "Ya kenapa? Ini kan tangan saya! Nih, nih," katanya yang sengaja merapihkan lagi.


"KARENA OTOT KAMU TERLIHAT LEBIH SEKSI. BODOH!" Teriak Rita membuat Kazen bengong.


Akhirnya setiap kali Kazen dengan Rita dan berada di luar, dan harus membetulkan rambut, dia akan berjongkok dan merapihkan.


Terkadang membuat Rita tertawa keras. "Nih, demi kamu nih. Kamu bilang otot aku seksi kan. Jadi aku hanya akan perlihatkan dengan kamu saja. Kalau diluar terpaksa aku berjongkok," kata Kazen.


Rita sayaaaaang sekali kepadanya.


Bersambung ...