
"Ah, Bapak suka sakit perut. Mana makanannya aneh-aneh semua," kata Bapak membuat semuanya tertawa.
"Kamu kok bisa tahu masakan kesukaan Bapak?" Tanya Rita agak aneh.
"Perasaan saja sih habis makan juga mirip gaya Sunda kan," kata Kazen mencari alasan agar Rita tidak tahu.
"Oh iya," kata Rita.
Kazen senyum dan mobil memasuki Resto yang dimaksud Kaze. Bapaknya mengatakan pernah kemari tapi tidak berani memesan. Saat itu semua pegawai akan rapat di restoran ini.
Semuanya keluar dan keponakan berlarian menuju pintu resto. Kazen berjalan dengan Rita, Prita dengan Aros.
"Oh iya Rita, jangan pesan masakan Korea ya," kata Kazen serius.
"Hah? Kenapa?" Tanya Rita. Kenapa jugaaa niat dia bisa terbaca.
Kazen memandanginya dengan wajah serius, dia tahu kesukaan Rita dan tidak baik untuk badannya.
"Nanti maag kamu kumat bagaimana? Semuanya kan serba pedas," kata Kazen.
Rita sudah tahu bila Kazen bernada serius dan dingin, itu adalah peringatan berbahaya. Apalagi wajahnya tidak begitu bersinar. Karena malam.
Mereka masuk dan mengambil berbagai macam makanan yang mereka suka. Restoran itu milik salah satu kenalan Kazen yang Rita tidak ketahui.
Kazen benar-benar mengawasi Ritabyang membuat semua anggota keluar menggelengkan kepala.
"Protektif sekali ya sama Rita," bisik Prita.
"Sebegitu sayangnya jadi iri," kata ibu.
Rin sangat kesal dan marah, dia mengambil apapun yang dia mau. Dan enggan menatap lama Rita dan Kazen.
"Jangan mengikuti dong," kata Rita sebal.
"Kalau tidak, kamu akan ambil yang pedas-pedas," kata Kazen dengan wajah serius.
Bubu tentu dilepaskan dan bermain dengan girang dalam halaman, tidak lupa Rita taruh wadah beserta makanannya dan minum.
Bubu berlarian dan membuat beberapa pengunjung senang melihatnya. Beberapa anak meminta ijin untuk mengelusnya.
Rita sudah peringatkan Bubu untuk menghentikan kebiasaan menggigitnya. Tidak semua orang jahat, begitu pun anak kecil.
Kazen masih mengikuti Rita meski Rita risih menatapnya. Tapi tidak bisa melawan karena Kazen dalam mode Merah.
"Pacar kakak kamu posesif ya," kata Aros yang melihat Kazen terus mengikuti.
"Hahaha iya tapi posesifnya positif kok. Kak Rita memang suka pedas sampai lambungnya perih," kata Prita.
Kazen menatap Rita, piringnya hampir penuh. "Kamu ambil apa?"
"Masakan Jepang. Tidak boleh?" Tanya Rita bete.
"Boleh kalau Jepang kan aman," kata Kazen yang juga mengambil beberapa dua daging yakiniku dan lainnya.
"Pantas badan kamu besar, makannya juga sebanyak ini," kata Rita.
"Badanku besar dari Allah swt tahu!" Kata Kazen tertawa. Beberapa makanan dibawakan oleh pelayan.
Keluarga Rita emejing melihat banyaknya yang dimakan Kazen. Kazen juga membawakan daging premium terbaik untuk keluarga Rita.
Yang tidak makan hanya Rita, sudah cukup senang melihat keluarganya makan dengan nikmat. Bapak juga mengacungkan jempol menikmati daging.
Kenapa Kazen makan begitu banyak karena untuk menahan hasrat dan gairah lainnya, karena dia harus bisa menahan godaan untuk tidak melakukan hal mesum pada Rita.
Rita senang melihat Kazen makan karena nampak enak padahal ada alasan lain.
"Kenapa?" Tanya Kazen yang sadar Rita terus memandanginya.
"Gaya makan kamu seksi ya," kata Rita.
Kazen terdiam dan terbatuk-batuk lalu minum. Dan Rita senang lalu mulai makan, mulutnya penuh makanan membuat Kazen tertawa.
"Mirip tupai," kata Kazen memperhatikan Rita.
Beberapa jam kemudian semuanya nampak kenyang dengan perut agak membuncit. Rin menyeka wajahnya yang juga puas.
Rita menghampiri Bubu yang tengah berbaring karena lelah. Dia tidak menyambut Rita karena sudah kenyang juga. Rita menambahkan air membuat Bubu bangun dan meminumnya.
Kazen lalu memberikan beberapa bungkusan besar kepada Ibu dan kakak, Rin.
"Aduuuh tidak perlu," kata Ibu melihat isinya yang penuh bahan makanan.
"Tidak apa-apa kapan lagi bisa makan enak. Ini daging paling terbaik," kata Kazen memperlihatkan.
"Ya Allah, semoga Allah swt membalas kebaikan kamu ya nak," kata Bapak senang.
"Aamiiin, Pak. Silakan kak meski kakak kurang setuju saya dengan Rita," kata Kazen menyerahkan.
Rin senyum ketiga anaknya sangat girang sudah lama jarang makan daging seenak ini. Antara malu karena perkataannya tadi, Rin memilih diam.
Suaminya menyambut senang dan akan membuat sukiyaki di rumah. Rin memandang isi paket itu dengan nada masih meremehkan.
"Ya sudah pantasnya sih kalau kamu tetap mau sama Rita. Untung kaya," kata Rin yang disikut suaminya karena tidak sopan.
Karena tidak peduli dan memandang Rita yang membereskan perlengkapan Bubu. Keponakan membantu dan duduk membelai Bubu yang tertidur.
"Maaf ya," kata ibu tidak enak mendengar perkataan Rin.
Rita datang dan melihat isi paket itu. "Wah! Tidak apa-apa nih? Kamu bangkrut dong,"
"Kenapa aku kerja mati-matian juga," kata Kazen senyum memperlihatkan giginya yang putih.
Orang tua Rita menikmati pemandangan, ada beberapa makanan yang tersisa di meja. Ibu duduk memainkan Bubu dan Bapak merokok.
Rita dan Kazen duduk sambil bersandar, Rita agak tidak enak menatap kantong besar itu.
"Ya aku tidak enak. Kamu nanti bangkrut terus aku di cap matre," kata Rita.
"Kalau begitu, bagaimana kalau bayar dengan badan kamu," kata Kazen menatap Rita serius.
"Dasar," kata Rita sebal.
"Aku serius," kata Kazen membuat Rita salah tingkah.
"Apa sih," kata Rita.
"Jadi belahan aku saja," kata Kazen membuat Rita memerah.
Rita geli dan mencubit pinggang Kazen sampai dia berteriak dan tertawa, memegang tangan Rita yang terus mencubit.
"Sudah ah sakit nih atau kamu mau "Adik" aku bangun?" Tanya Kazen lebih membuat Rita mencubit keras.
Kazen tertawa sebagian memang ingin merasakan bagian dari Rita yang membuatnya mabuk kepayang. Tapi Kazen tahu, dia ingin lebih mengistimewakan Rita.
"Besok kerja? Kamu kuat?" Tanya Kazen yang sudah membayar lunas semuanya.
Rita menguap mengantuk setelah banyak makan. "Besok sebenarnya libur, kan sekolah masih ada seminggu baru di buka hehe,"
"Wah! Dasar! Besok mau ikut ke kantor aku?" Tanya Kazen.
"Boleh? Mau mau! Ketemuan di mana?" Tanya Rita semangat.
"Depan kantor pemasaran saja nanti aku jemput dari sana," kata Kazen senang.
"Wahh asyiiiik kapan lagi bisa lihat kamu kerja. Aku ke sana jam berapa?" Tanya Rita.
"Siang saja jangan dipaksa pagi," kata Kazen.
"Oke deh nanti kalau sudah sampai aku hubungi," kata Rita semangat dan senang.
"Tapi kamu pasti tahu kan bagaimana aku kalau bekerja. Jadi kalau perlakuan aku agak dingin, ya..." kata Kazen garuk kepalanya.
"Tidak apa-apa nanti aku bawa buku komik deh jadi tidak mengganggu kamu," kata Rita.
Kazen tahu pasti komik yang akan dia bawa. Rita tahu Kazen sangat ingin menciumnya, dia berpikir dan menatap Kazen yang fokus melihat ke arah ponakan.
Kazen otomatis melirik dengan cepat dan saat itu juga Rita mencium bibir Kazen namun masih agak ke bawah, sambil menarik bajunya.
"Terima kasih ya," kata Rita malu.
Kazen terdiam wahhh malah Rita duluan yang bergerak tapi dia sangat senang. Dan mengantarkan Rita dan keluarga pulang.
Kazen pulang dan di pertengahan jalan, dia menghentikan mobilnya ternyata sudah ada beberapa orang yang menunggu.
Kazen duduk di belakang di depannya terdapat dua orang pria yang menjalankan mobil. Kazen masih terngiang ciuman lembut Rita dan tertawa sendiri.
Rita rebahan dan menutup wajahnya malu atas apa yang dia lakukan. Ya sekali saja meski tidak sampai mencium di bibirnya.
"Ahhh kenapa aku lakukan itu! Rita bodoh! Tapi kalau ternyata bukan jodoh bagaimana ya? Hmm ah sudahlah itu urusan Allah SWT, yang penting sudah berusaha," kata Rita terus tertawa.
Saat dirinya mau tidur, dua nomor asing kembali mendatangi nomor Rita. Rita melihatnya dan sudah malas soal nomor asing.
Dia pencet mode senyap dan tidur, rasanya tidak sabar ingin segera besok hari. Menuju kantor Kazen.
Tempat lain Ney menjadi sangat gelisah. Dia pasang nomor lain dan menghubungi Rita.
"Kamu bisa diam tidak sih? Mama pusing lihat kamu mondar mandir," kata ibunya yang baru menidurkan cucunya.
"Kamu telepon siapa sih?" Tanya ayahnya. Kakak dan adiknya sedang tidak ada di rumah.
"Rita, Pah tapi dari tadi tidak diangkat terus," kata Ney akhirnya duduk dengan sebal.
"Kamu masih ada kontak sama Rita? Sejak dia tidak ada kontak dari SMA?" Tanya ibunya kaget.
"Iya. Yaa Ney sih yang duluan datangi dia," kata Ney.
"Bagaimana kabarnya? Pasti dia sekarang sudah punya kekasih," tebak ibunya.
"Kok mama tahu sih? Jadi memang sudah punya kekasih?" Tanya Ney menyesal baru tahu sekarang.
"Ya tahulah dia banyak yang suka yang berani maju ya yang sekarang. Yang Malaysia terlalu banyak keraguan," kata mamanya membuat Ney kaget.
"Kok bisa kamu duluan yang datangi?" Tanya Ayahnya heran.
"Yah sudah biasalah Pah, dulu juga kan begitu," kata mamanya membuat ayahnya diam.
"Terus kenapa kamu pakai nomor lain?" Tanya ayahnya melihat.
Ney langsung menyembunyikannya. "Ya nomor asli aku sudah dia blok dari dua tahun lalu,"
"Masalahnya apa?" Tanya namanya sudah biasa.
"Sepele sih Mah, Pah. Dia yang terlalu baper aku disebut Penjahat sama pengkhianat," kata Ney.
Mamanya tidak heran karena sudah banyak yang seperti itu pada anaknya. "Tidak heran,"
"Bisa-bisanya dia bilang begitu!? Sini biar ayah yang telepon untuk menanyakan masalahnya," kata ayahnya membuat Ney panik.
"Sudah Pah! Jangan mulai membuat masalah jadi kacau deh. Ayah kan sudah tahu bagaimana anak ketiga kita.
Sampai teman-teman dari SD nya juga banyak kan yang berkasus sama. Sudah biarkan saja," kata mamanya mencegah.
Ney tenang, bukan panik takut ramai tapi bisa celaka kalau ayahnya tahu masalah yang sebenarnya.
"Kamu itu kenapa sih dari dulu selalu bermasalah dengan semua orang? Kali ini dengan teman kamu yang lama dikenal. Kamu apakan dia, jujur!" Kata Ayahnya agak marah.
Ney memilih untuk pergi daripada harus menjelaskan pada Ayahnya.
"Hei! Kenapa pergi? Kamu ini tidak sopan dengan orang tua!" Kata mamanya dan Ney tidak peduli.
Ayahnya menghela nafas dan menatap atap rumah. "Ini salahku,"
"Iya memang salah Ayah! Mama pikir kalau menikah, dia bisa banyak berubah ternyata makin parah," kata mamanya.
"Aku terlalu memanjakannya," kata Ayahnya.
"Sekarang sadar kan? Anak kamu itu jadi semakin seenaknya pada orang-orang. Sejak kapan dia akhirnya tidak punya memiliki siapapun," kata mamanya.
"Karena itu aku kirim dia ke Bandung siapa tahu bisa bertemu teman-teman yang benar peduli. Membuat dia setidaknya berpikir bahwa lebih baik memiliki teman dari lingkungan baik," kata Ayahnya.
"Itu namanya melepaskan tanggung jawab, Pah. Ayah seenaknya mengirimkan uang tanpa tahu dia pakai untuk dugem kan," kata mama.
Ayahnya saat itu sangat marah sekali karena kuliahnya tidak selesai apalagi mendapatkan surat pengeluaran dari kampus.
Karena Ney tidak pernah mengerjakan tugas, masuk kuliah seenak hati dan banyak bolos.
"Ayah tahu kalau Ney masih suka mencari pacar setelah menikah?" Tanya mamanya yang membuat Ayahnya sangat kaget.
"Mama tahu dari mana? Mana mungkin..." kata Ayahnya tidak percaya.
"Ayah kenal anaknya Bu Sastra kan. Sana lihat sendiri berapa kali dia mendapati Ney menemui laki-laki lain, dan yang terakhir bertemu Toge," kata mamanya membuat Ayah hanya terkejut.
Toge oh Toge, siapakah Toge ini?
Dalam kamarnya tertidur anak pertamanya dan Ney duduk di bawah. Dia mengirimkan pesan singkat.
"Besok mau jam berapa? Jam sembilan saja yuk sekalian kita main di Time Zone. Kan kamu suka permainan di sana,"
Lalu Ney kirimkan ternyata pesannya tidak bisa dikirim. Dia merasa aneh perasaan pulsanya masih banyak. Kemudian memutuskan menelepon lagi dan ternyata, nomornya sudah di blok.
Paginya Rita bangun dengan segar dan mandi. Dia mengenakan baju terbaiknya dan bersiap-siap.
"Bu, pergi dulu," kata Rita.
"Bukannya libur?" Tanya ibunya sedang memasak dari bahan kemarin.
Rita menciuminya dan mengambil piring sebelum pergi. Dia makan dengan memilih sayuran dan ikan.
"Kamu mau kemana?" Tanya ibu.
"Ke kantor Kazen hehe," kata Rita lalu menciumi tangan ibunya dan pergi begitu saja. Bapaknya sudah pergi kerja lebih pagi.
Di jalan Rita menelepon Kazen dan agak lama.
"Hoaaaammm yaaa," kata Kazen.
"Kamu nih bagaimana sih katanya mau kerja. Aku sudah di jalan nih menuju kantor kamu," kata Rita berhenti jalan.
Kazen sadar dan menatap jam dinding kamarnya, pukul delapan! Kazen bangun dan menggeliat.
"Kamu sudah pergi?" Tanya Kazen yang berdiri sambil menyelimut kan selimut tipis.
"Baru mau pergi nih. Sudah di angkot," kata Rita.
"Oke oke aku menuju ke sana. Tunggu ya," kata Kazen bergerak kilat. Mandi secepatnya dan memakai baju kantor serta parfum.
Orang tua dan kakaknya tengah sibuk di ruang makan, melihat Kazen yang sudah rapih dan makan dengan buru-buru.
"Kamu mau kemana?" Tanya Ayahnya.
"Kantor," kata Kazen.
"Tumben mandi. Dan pakai parfum," kata Mina menyuapkan makanan ke anaknya.
"Aku lupa undang Rita ke kantor. Pergi dulu," kata Kazen.
"HAH!?" Seru mereka semua.
Mina berlari menyusul adiknya, "Kamu undang dia ke kantor bukan untuk di campur aduk kan?"
"KAKAK!!!" Teriak Kazen sebal. Mina tertawa keras.
Campur aduk maksudnya hubungan intim itulah. Biasanya itu terjadi kalau pria sedang ingin gituan. Ya kebanyakan kantor adalah tempat enak untuk aduk semen.
Entah darimana Mina mendapatkan sebutan aneh itu namun Kazen mengerti. Karena pernah mengalaminya tapi tidak sampai mengaduk total.
Para wanitanya yang berusaha tapi Kazen menolak dengan meninggalkan mereka dalam kantor. Dan kembali seminggu kemudian.
Bersambung ...