MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
24



"Ya memang begitu kenyataanya. Kamu tidak percaya sama aku kan masih ditutup sama dia. Di halang-halangi kan jadi aku hanya bisa berdoa saja minta Allah swt membukakan jalan untuk kamu supaya cepat sadar," kata Rita senyum.


"Aku terharu sekali, maaf dulu aku lebih percaya kata Ney," kata Arnila senyum di tempatnya.


"Yah wajar kamu kan temannya dia, aku sudah jadi mantan hahaha," kata Rita tertawa.


"Hahaha iya ternyata yang penuh luka itu kamu bukan Ney. Ney sih mengaku kalau dia sangat terluka karena kamu banyak menyakiti dia dulu. Lalu aku mikir kenyataanya, kamu juga jarang main sama dia kan," kata Arnila aneh.


"Dia bilang begitu? Dia tidak mau disalahkan, Arn makanya kesalahan dia dilempar ke aku," kata Rita.


"Iya betul. Dia cerita kalau banyak yang menempel di kamu dan waktu di ruqyah, kamu menempelkan itu ke aku. Makanya tanpa sadar aku bicara ke Ney tidak suka sama kamu," kata Arnila menunduk.


"Aih, kalau ruqyah mana ada di tempeli ke orang lain. Paling juga di musnahkan, yang nempel di tendang ke negara api," kata Rita membuat mereka berdua tertawa.


"Negeri Konoha," jawab Arnila tertawa. "Jadinya aku malah takut dan bilang bahwa kamu jahat, ternyata aku malah ditipu sama dia selama ini," katanya.


"Wah, itu aku tidak bisa komentar apa-apa deh. Benar-benar tidak terpikirkan dia akan begitu ke kamu," kata Rita bengong mendengarnya.


"Banyak, Rita soal kamu lalu 2 bulan kemudian aku bertemu seseorang di Mall. Temannya Ibuku, beliau memegang bahu aku dan bilang 'Rita itu tidak jahat'," kata Arnila menceritakan.


"Hah? Kok bisa tahu? Kamu cerita?" Tanya Rita.


"Tidak ada sama sekali Rita. Aku juga bingung kok tahu soal kamu? Teman ibuku hanya senyum, lalu bilang lagi 'Dia hanya punya niat membukakan mata kamu untuk melihat siapa sebenarnya Ney ya? Tapi menyerah.' Begitu. Memangnya iya?" Tanya Arnila.


"Emm iya sih hehehe," jawab Rita.


"Yahhh kok menyerah? Kalau terus berusaha mungkin..." kata Arnila agak sedih.


"Kamu benar-benar percaya dia, jadi susah. Sama dengan Alex jadi ya sudah hanya Allah SWT yang bisa menolong kamu lebihnya. Alhamdulillah terkabul ya," kata Rita bersyukur.


Arnila senang sekali bisa mendapat kesempatan men chat Rita lagi. Dia bersyukur Rita masih mau menerima penjelasan.


"Iya Rita, Alhamdulillah. Aku sholat taubat juga dan mengerjakan yang di suruh oleh temannya Ibu. Sekarang aku jadi lebih ringan dan lebih hidup!" Katanya dengan riang.


"Bagus! Waktu aku memutuskan jauh dari kalian, itu masih dia menjelekkan atau menceritakan aku yang bohongnya ke kamu?" Tanya Rita.


Wah, ternyata dia juga menjelekkan dirinya. Tapi Saat itu Rita diterima bekerja di tempatnya sekarang dan tidak ada waktu memikirkan soal Ney.


"Masih, makanya aku heran kalau tidak suka kamu kenapa sih masih suka mengejar? Dia bilang siapa juga yang kejar? Lah apa kabarnya dengan dia suka menelepon kamu kan?" Tanya Arnila.


"Hahaha iya betul. Tapi aku sudah masukkan ke daftar hitam sih," kata Rita.


"Iya aku tahu. Kemudian waktu kamu cerita soal Koko itu, dia bilang kalau Koko sebenarnya tidak ada. Itu hanya halusinasi kamu saja. Aku kan percaya tapi karena penasaran aku coba cari. Eh, serius ada," kata Arnila.


"Lah, kalau tidak ada yang ruqyah aku siapa? Hantu?" Tanya Rita tertawa.


"Iya ya tapi sekarang dia diam saja setelah tahu aku mendatangi kamu, Rita. Terbukti aku perlihatkan bahwa Koko itu Real. Dia tidak membalas. Terima kasih Rita," kata Arnila lagi.


"Ya sama-sama. Aku juga senang kamu ungkapkan kebenarannya," kata Rita senang juga.


"Alhamdulillah kamu masih mau mendengarkan aku. Tapi kamu sebenarnya sudah tahu dari dulu, sudah sadar kan? Hanya masih meragu apakah benar tindakan kamu atau tidak kan?" Tanya Arnila menebak.


"Ya tapi kan memang sudah jauh juga sih hubungan aku sama dia. Tapi anehnya dia selalu merasa semakin dekat jadinya tidak nyambung sih," kata Rita.


"Dia tidak suka kamu lebih dulu tapi tidak bisa lepas karena butuh juga. Untuk apa?" Tanya Arnila.


"Untuk membuat cerita bohong dia kali ke teman-temannya. Semasa kuliah juga aku masih hati-hati ke dia. 2 tahun lalu itu adalah masa-masa aku paling kelam dan akan sulit hilang," kata Rita.


"Iya Rita, aku mengerti kok. Oh iya kata teman ibuku kamu akan bertemu pengganti Alex. Dan dia akan sangat sayang sama kamu. Aku juga mendoakan untuk kamu," kata Arnila.


"Oh alhamdulillah makasih doanya. Alex juga sering bilang begitu berkali-kali. Sepertinya dia juga enggan dengan aku," kata Rita teringat kata-kata Alex sebelum putus.


"Ya dia kan insecure dengan kondisinya padahal kamu juga sudah sayang dia kan. Sebenarnya kalian itu sudah saling sayang, tapi dia memilih tidak ingin membuat kamu sedih. Dan kamu jadi sulit karena kehadiran Ney juga," kata Arnila.


"Iya kelakuannya sering membuat aku banyak sedih," kata Rita.


"Tapi sisi lainnya kesabaran kamu membuat Alex kagum lho. Oh iya aku mau cerita kalau Ney pernah bilang sama aku, dia tidak mau kalau kamu sama Alex sampai bertemu," kata Arnila.


"Lho, kan sudah," kata Rita.


"Yang kedua kalinya," kata Arnila.


"Kapan dia berkata begitu?" Tanya Rita.


"Tiga bulan lalu kan nomor aku masih tetap sama Rita. Aku juga kaget jadi memang dia itu sengaja memperkeruh hubungan kalian. Supaya kalian berakhir," kata Arnila.


"Astagfirullah! Kenapa sih dia itu? Takut tersaingi sepertinya," kata Rita geram.


Pantas sih Ney ketakutan dan menghalangi Arnila mendatanginya.


"Ya iri dan takut kamu jadi saingan dia. Aku sudah bilang kalau Rita bukan orang seperti itu. Tapi dia tetap bersikukuh kalau posisi dia bisa gawat melihat kamu dengan alex," kata Arnila.


"Dasar perempuan gila!" Kata Rita.


"Dia juga bilang begitu kalau kamu perempuan gila. Terus aku tanya, 'Rita apanya yang gila? Yang suka teror dia dari tahun lalu siapa?' Dia diam dong," kata Arnila.


Mereka berdua tertawa, sambil menelepon Rita juga mengerjakan tugasnya.


"Ya aku memang gila bisa kenal dengan orang toxic seperti dia. Haduuuh," kata Rita.


"Hahaha terus kamu pernah mengalami tidak kalau Ney suka menebak-nebak perasaan?" Tanya Arnila.


"Seperti, 'Kamu sedih ya? Kamu lagi takut ya?' Begitu?" Tanya Rita.


"Iya Rita! Kamu juga?" Tanya Arnila.


"Sering itu tapi aku tidak pernah jawab Iya selalu Tidak. Karena aneh, dia kan kepo ya orangnya," kata Rita.


"Oh begitu kalau aku selalu jawab Kok tahu sudah nya dia nebak dengan kalimat tidak mengenakkan," kata Arnila.


"Hmm kamu salah! Kalau berhadapan dengan orang kepo, kamu harus lebih kepo lagi. Lalu kalau dia bertanya, jangan sampai kamu jawab Iya, perbanyak kata Tidak. Soalnya dia pasti terus kepo kalau dijawab Iya," kata Rita.


"Oh begitu ya. Tapi sekarang sudah jarang sih setiap dia menelepon aku mulai diamkan saja," kata Arnila.


"Memangnya bisa tahan? lebih baik masuk kan dalam daftar hitam saja supaya otak kamu tetap waras. Terus ada cerita lanjutan soal teman ibumu?" Tanya Rita.


"Daftar hitam ya? Rencananya aku mau begitu soalnya semakin hari malah meneror juga. Setelah itu teman ibu bilang, aku harus mulai berbenah diri bila ingin terhindar dari perbuatan sesat dia," kata Arnila.


"Iya Arnila. Kamu itu orangnya netral, bisa lihat yang salah mana, yang harus diperbaiki dimana. Bukan pelayan dia," kata Rita.


"Enak saja!" Kata Rita galak.


"Hahaha kan istilahnya habis kamu nurut sekali sama dia. Orang dia bukan siapa-siapa dalam keluarga kamu juga. Aku saja sama dia selalu memantul kok," kata Rita.


"Karena kita juga senasib. Masalah keluarga kamu sama persis dengan aku, kata teman ibuku kita itu satu arah," kata Arnila.


"Oh ya? Iya sih setiap aku curhat apapun, kamu sering kasih solusi kan beda sama itu makhluk satu," kata Rita.


"Karena masalah kita sama, jadi kita bisa berjuang bersama," kata Arnila semangat.


"Betul," balas Rita.


Bersambung ...