
Keesokan harinya Rita bekerja seperti biasa, tapi kali ini ada kehadiran Koma dan Diana. Mereka ditugaskan mengajar di kelas TK D dan TK F.
"Semangat ya," bisik Rita yang melewati mereka berdua.
Mereka mengacungkan jempolnya dan menuju kelas di lantai dua. Rita masuk ke ruangan staf dan membuka buku laporan.
Pukul delapan pagi, mereka berdua sudah diikutsertakan mendengarkan arahan dan penjelasan dari Rita dan timnya.
Mereka bertiga mulai bekerjasama untuk masalah ide kegiatan serta lembar kerja murid.
Saat itu muncullah kejadian yang tidak terduga dari orang yang mereka kenal baik.
"Bu Rita tolong pasang lowongan ya," kata Bu Dewi memasuki ruang kerjanya.
"Lowongan? Butuh guru tambahan lagi Bu?" Tanya Rita heran karena jumlahnya sudah cukup banyak.
"Bukan, untuk bagian Keuangan. Bu kepala sekolah tidak mau kalau sampai membebankan semua tugas ke kamu. Ini tolong di sebar ya kalau ada teman yang berminat kerja di sini," kata Bu Dewi memberikan lembaran.
Rita bersyukur untunglaah pekerjaannya kini terbilang ringan. Setelah itu Rita sebarkan pada staf yang lain namun mereka tidak ada yang menjawab.
"Ini, sebarkan siapa tahu ada teman kampus kalian yang butuh pekerjaan," kata Rita.
Hening. Rita kemudian menuju lantai dua, mereka berlima tertawa tahu Rita hanya bicara sendiri.
Rita masuk ke ruangan staf lainnya, "Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam. Ada apa Bu Rita? Tumben," sambut Asna menuju pintu.
"Ini, tolong disebarkan barangkali ada yang berminat," kata Rita memberikan beberapa lembar iklan.
"Lho? Bukannya bagian keuangan sama Bu Rita?" Tanya Asna heran.
"Kata Bu Dewi, Bu kepala sekolah mau serahkan ke orang lain saja kan aku sudah banyak tugasnya," kata Rita.
"Oh iya ya oke, aku sebarkan ke grup saja. Terima kasih ya," kata Asna.
Rita kemudian menuju kelas dimana Koma sedang menjelaskan pekerjaan anak.
"Bu Ritaaaa!" Seru anak-anak yang mengantri dinilai tugasnya.
"Haaai, sedang apa nih?" Tanya Rita menyapa semuanya.
Mereka memeluk badan Rita yang tinggi semampai itu, ada juga yang berusaha menaiki punggungnya.
"Aduuh, kasihan dong Bu Ritanya. Ada apa Bu?" Tanya Koma dengan gaya gurunya.
"Habis Bu Rita tinggi sih mirip tower di rumah hehehe," kata anak laki-laki dengan sebagian giginya yang menghilang.
"Awas ya kamu. Ini Bu, dibuka lowongan untuk bagian Keuangan. Siapa tahu ada teman yang butuh," kata Rita memberikan beberapa lembaran iklan.
"Siap," kata Bu Koma mereka tertawa.
Mereka tampak tidak canggung karena mengenal dengan baik dan Rita pernisi keluar meski diikuti oleh beberapa anak.
"Assalamualaikum," kata Rita mengetuk pintu kelas Diana.
Semua anak-anak menatap begitu juga Diana. "Walaikumsalam waramatullahi wabarakaaatuuh!" Sapa mereka semua.
Diana berdiri menahan tawa, "Eh ada Bu Rita," katanya.
"Ya ya ya ini sebarkan di grup ya kali ada yang butuh pekerjaan," kata Rita.
Kelas Diana adalah kelas anak-anak di usia menuju sekolah jadi tidak begitu sulit diatur.
Koma ditempatkan sesuai dengan kemampuannya yang dapat mengatasi anak berusia pertengahan TK.
Diana terdiam dan berbisik, "Mau coba ditawarkan ke Asma? Taoi aku tidak yakin sih," kata Diana meragu.
"Ya terserah sih kalau menurut kamu baik," kata Rita menatap Diana.
Karena tidak bisa berlama-lama, mereka akan bertemu lagi pada saat istirahat siang.
Diana mengangguk dan Rita menuju lantai bawah memasuki kembali ruangannya. Dia mulai menulis untuk rapot nanti.
Kelima staf yang lain memandangi Rita dengan sinis.
"Enak ya sudah banyak kerjaan, gajinya lebih besar dari kita eh punya pacar dari negara sebelah," kata A dengan nada tinggi.
Rita sempat berpikir dan tidak mau ambil pusing. Pekerjaan dia sekarang lebih penting karena dikejar kepala sekolah.
"Iya ya kita saja yang berdoa dari tahun lalu masih belum dapat bagian," kata B menimpali.
"Susah ya kalau iri mah bilang saja tidak perlu susah menyindir," kata Rita tanpa menatap mereka.
Mereka semua menghentikan pekerjaan mereka masing-masing menatap sengit pada Rita.
"Kita tidak iri kok memangnya yang kita bicarakan itu kamu? Kepedean haha," kata A dengan nada sinis.
Mereka menyebut Rita tidak dengan hormat, dengan Kamu bukan Bu atau Teteh. Usia mereka sudah tentu di bawah Rita 3 tahun.
"Lalu siapa dong? Bukannya kalian berlima tidak punya pacar ya?" Tanya Rita menahan tawa.
Mereka semua terdiam ya lebih baik kalau salah satunya ada yang sudah punya sih. Jadi tidak malu kalau menyindir.
"EHEM! Kok kamu bisa sih daoat pacar dari negara tetangga?" Tanya C penasaran.
"Ya bisa-bisa saja," jawab Rita sekenanya.
Nada Rita yang terkesan cuek dan tidak peduli omongan mereka, membuat mereka berdua semakin panas.
"Maksud mereka itu berikan resepnya bagaimana," kata D menjelaskan sambil menatap mereka.
"Banyak berdoa bukan banyak ber ghibah," kata Rita.
Mereka berlima memandanginya dengan jutek tapi memang selama ini mereka bekerja banyaknya ghibah.
"Dan kerjakan pekerjaan kalian tepat waktu," kata Rita mengetuk jadwal laporan mereka.
"Kamu kenal dia dari media sosial?" Tanya A.
"Iya," jawab Rita merapihkan lembaran identitas anak yang menumpuk.
"Memang ya jaman sekarang banyak yang menawarkan soal perjodohan," kata C.
"Sudah putus," jawab Rita dengan biasa.
"Eh!? Serius!?" Tanya mereka.
"Kenapa?" Tanya E.
"Paling juga bulenya selingkuh ya," kata B.
Pada akhirnya mereka sibuk mempertanyakan soal bule dan Rita memfoto kopi benerapa pekerjaannya. Dia tidak banyak berkomentar.
Rita kemudian membuka laptop sekolah dan mulai bekerja kembali, Bu Dewi datang dan menggelengkan kepala melihat mereka berlima.
"KALIAN! MENGOBROL TERUS KAPAN KERJAAN SELESAI!?" Teriak Bu Dewi mengagetkan semua termasuk Rita.
Suara Bu Dewi mampu mencapai sampai warung seblak yang ada di ujung gang sekolah.
Mereka sudah terbiasa mendengar seruan suara Bu Dewi bila sedang kumat.
Mereka berlima kembali sibuk memgerjakan tugas sekolah, sudah tentu Rita pun memeriksa kumpulan tabungan anak-anak.
"Contoh dong Bu Rita! Dia sedikit bicara, nanti kalau waktunya istirahat baru bergosip! Ghibah terus kalian ini, apa mau saya pecat!?" Seru Bu Dewi sambil berkacak pinggang.
Tidak ada yang menjawab dan Bu Dewi keluar ruangan sambil menyentak kedua kakinya.
"Ah, sudah aman," kata A lega.
"Galak sekali sih lebih baik wakil kepala sekolah sebelumnya deh," kata D.
"Memangnya dia siapa sih? Sampai mengancam pecat kita segala," kata B berdiri melihat Bu Dewi masuk kantor.
"Bu Dewi itu adiknya kepala sekolah jadi hati-hati kalau kalian bekerja disini. Saat ini," kata Rita menempatkan yang sudah selesai di kolom lain.
"Eh, Rita kok bisa putus sih? Masalahnya apa?" Tanya E dan mereka berempat mendengarkan.
"Urusan aku putus atau masih bersambung itu bukan urusan kalian. Kerjakan saja tugasnya! Mau kalian kena potong gaji lagi?" Tanya Rita menghela nafas.
Mendengar kalimat pemotongan gaji akhirnya mereka memutuskan menyelesaikan tugas mereka.
TONG TONG!!
Bel istirahat pertama berbunyi mereka berenam bisa bernafas lega. Rita merenggangkan pinggang dan kedua tangannya. Dia kemudian mengambil dompet dan ponsel kemudian melangkah keluar.
Di kantin dia bertemu Koma dan Diana yang sedang memakan kue sus dan menyapa Rita.
"Bagaimana? Hari pertama mengajar," kata Rita sambil membeli beberapa jajanan.
"Menyenangkaaan sekali. Kamu tidak minat mengajar lagi?" Tanya Komariah sambil memakan beberapa kue.
"Tidak ah, bekerja begini juga menyenangkan," kata Rita mengajak mereka menuju taman sekolah.
"Tapi memang sih agak keterlaluan semua kerjaan hampir kamu yang memegang," kata Koma.
"Untuk lantai satu dan dua kan?" Tanya Diana.
"Iya kelas lainnya, ada orang lain kok. Kacau kalau semuanya aku yang urus," kata Rita.
"Lalu soal lowongan itu bagaimana? Tampaknya memang kamu betah ya bekerja sebagai staf," kata Koma.
"Hahaha bayarannya juga lumayan sih makanya Asma ingin di sini juga," kata Rita memperlihatkan isi dompetnya.
"Pantas kamu sering ajak traktir. Tabung untuk menikah," kata Diana.
"Iya iya. Soal Asma bagaimana menurut kalian?" Tanya Rita.
"Kamu mau menawarkan pekerjaan di bagian keuangan?" Tanya Koma.
Mereka sampailah di taman dan memilih tempat yang rindang pohonnya.
"Menurut kalian?" Tanya Rita. Yah dia sih malas juga kalau Asma gabung.
"Ya silakan saja yang penting bukan di kelas yang sama," kata Diana.
"Ya bedalah bukan guru kok," kata Koma.
"Cieee Koma bertemu haters nih oke deh aku coba telepon dia," kata Rita sambil menahan tawa.
Koma mendorong pundak Rita dan Diana yang menertawakannya. Susah memang jadi orang cantik banyak haternya.
"Assalamualaikum, Asma!" Sapa Rita di telepon.
"Walaikumsalam. Ya, ada apa Rita?" Tanya Asma yang juga sedang istirahat di sekolahnya.
"Asma tidak akan banyak ulah kan?" Tanya Diana.
Koma menempelkan jari telunjuk di bibirnya memberikan syarat bahwa Rita sudah terhubung dengannya.
"Kamu masih mengajar ya ternyata," kata Rita mendengar suara hiruk pikuk.
"Iya nih lagi istirahat. Kamu kan sama ya," kata Asma.
"Di sekolah aku buka lowongan nih. Kamu mau tidak? Tidak perlu keluar dari sana juga bisa," kata Rita.
"Wah, boleh! Guru?" Tanya Asma dengan semangat.
"Bukan sih, kita lagi butuh orang untuk memegang di Keuangan. Kamu juga pasti sering kan pegang Keuangan. Bagaimana?" Tanya Rita.
Asma kecewa ternyata bukan lowongan guru tapi Keuangan? Dia memikirkan cara lain agar bisa diterima menjadi guru tapi mendengar soal kepala sekolah di sana yang menempatkan kemampuan guru tentu tidak semudah itu.
"Ya sudah tidak apa-apa, Rita," kata Asma tertawa dengan maksud.
"Oke deh, aku kirim formulirnya ya nanti langsung datang saja. Semoga kamu diterima ya," kata Rita dengan ceria.
Asma kemudian menutup ponselnya dan senang akhirnya dia bisa masuk. Target dia tentu saja bisa lebih dekat dengan Diana.
Asma memikirkan rencana lainselama Rita berada di kalangan sekolah yang sama maka Diana akan sulit didekati.
Toh Rita sudah lama bekerja di sekolah itu, kalau dirinya membuat Rita dikeluarkan akan lebih bagus.
Bersambung ...