
Di sisi lain, orang tua Alex menyambut kedatangannya, Jasmine pun salah tingkah bagaimana bisa kedatangan Rita dan Alex begitu pas.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya ibunya cemas bila tahu siapa kekasih baru Kazen.
"Ya," jawab Alex dengan pelan. Kyla tentu saja menarik perhatian orang tuanya supaya bisa diangkat sebagai calon menantu.
"Jangan sampai Alex tahu," kata ibunya pada Jasmine.
"Tapi Mom suatu hari nanti pasti dia akan tahu," kata Jasmine ragu.
Ibunya hanya bisa pasrah lebih baik Rita dengan orang lain daripada dengan Alex. Mereka kemudian pergi menuju rumah paman.
Alex menunggu mobilnya tiba begitu juga Kyla yang terus mengoceh soal penampilan Kazen.
Secara tidak sengaja, Alex menoleh ke gedung itu lagi dan menangkap sosok yang dia kenal.
Rita yang menghampiri Kazen disambut dan Kazen pamit dulu untuk meminta ijin pulang ke orang tuanya. Rita ditinggal sendiri di depan gedung.
Alex otomatis beranjak saat Kyla meneriakkan namanya karena bingung. "Sosok itu... Rita," gumamnya berlari.
Alex sampai di depan dan dia baru tersadar siapa yang mau Kazen perkenalkan. Alex menghela nafas ya tentu saja.
"Ah jadi yang mau Kazen ceritakan adalah Rita," kata Alex memandang sendu Rita dari luar.
Sekali saja untuk terakhir kalinya dia ingin menyapa dan melihatnya, meski hatinya terluka ternyata Rita memilih orang lain.
"Syukurlah sekarang kamu mendapatkan laki-laki yang memang cocok denganmu," kata Alex dengan sedih.
Dia mencari Kazen dan melihat berlari masuk ke dalam aula. DEG! Mungkinkah.. ini yang namanya kesempatan dalam kesempitan?
Karena ragu akhirnya Alex memutuskan untuk maju. Mungkin Rita masih ingat siapa dirinya. Alex diam saat melihat Rita memutar balik dan berjalan ke arahnya.
Pandangannya tegak menatap lurus, Alex menelan ludah dia tersenyum dan...
SET
Rita melewatinya sambil menguap mengantuk. Alex terdiam dan berbalik, dia bengong itukah reaksinya?
"Tunggu," kata Alex otomatis dan tersadar memanggil Rita.
Rita mendengarnya dan celingukan siapa yang berbicara dengannya?
"Siapa tuh? Ke aku?" Tanya Rita mencari orang.
"Aku di belakang," kata Alex menghela nafas. Rita masih saja sama konyol.
Rita berbalik dan menatap Alex. Alex hanya gugup. "Oh. Ya? Ada apa?"
Alex tidak percaya ah ya sudah 6 bulan berlalu. Apalagi tidak ada kabar semenjak kasus terakhir lalu itu.
"Kamu... tidak kenal aku?" Tanya Alex mencari tahu.
"Siapa ya? Maaf aku pertama kalinya ke acara seperti ini. Aku tidak punya kenalan siapapun," kata Rita senyum dengan biasa.
Ada rasa penyesalan melihat Rita yang sekarang. Rasa-rasanya Alex setengah tidak ikhlas melihat dirinya dengan Kazen.
"Kita pernah kenalan, via media sosial. Di pacebok. Alex Haryaka Alfarizki kamu... lupa dengan nama itu?" Tanya Alex.
Rita berpikir, "Aku pernah ada kenalan dengan nama Alex tapi kepanjangannya tidak tahu. Hanya saja aku membenci orang itu,"
"Kenapa?" Tanya Alex ada rasa ketir.
"Dia lebih membela yang salah dan mengira aku adalah yang jahat, sedangkan yang jahat adalah orang membully aku.
Dia terus menuduh aku yang salah dan merugikan banyak orang. Padahal tanpa dia tahu orang yang menusuk aku dan dialah pelakunya.
Sejak itu aku sudah menghapus keberadaannya," kata Rita dengan wajah garang.
"Oh ya memang brengsek sekali orang itu kalau begitu," kata Alex.
"Kamu orang itu?" Tanya Rita.
"Ohh bukan bukan anu ada seseorang yang memberikan info kepadaku. Dia ingin tahu apa kamu masih ingat atau tidak," kata Alex agak takut.
"Oh, aku kira kamu si Alex keparat yang kenalan sama aku.
Katakan pada dia lebih baik dia kenalan dengan wanita murahan daripada yang benar-benar tulus.
Orang yang bermuka manis di depannya sebenarnya perempuan murahan yang berniat mencari koneksi untuk kebutuhannya," kata Rita dengan sebal.
"Oh baiklah," kata Alex tahu kalau sebenarnya yang dimaksud Rita memang Ney.
"Aku harap hidup orang itu semakin buruk karena memilih membela orang dengan sisi yang salah.
Jangan sampai kamu berteman dengan dia. Permisi," kata Rita setelah melihat Kazen yang berlari ke arahnya.
"Yes, of course," kata Alex senyum.
Rita tidak senyum kepadanya karena baginya dia orang asing. Dan Kazen tidak akan suka. Wajah Kazen berubah garang.
Kazen mendorong Rita dan memeluknya di hadapan Alex. Rita keheranan ada apa dengan dirinya?
"Dih, kamu kenapa sih? Malu kan," kata Rita.
Badan Kazen sama besar dengan Alex. Wajahnya tenggelam di bawah ketiak Kazen lalu disembunyikan di belakang punggungnya yang lebar.
"Hei!" Kata Rita protes.
"What are you doing?"
( Apa yang kamu lakukan? )
Tanya Kazen menatap tajam ke arah Alex.
Alex tertawa sambil mengangkat tangannya. "Don't worry, she will never remember me. She have short memory about me,"
( Jangan cemas, dia tidak akan pernah mengingatku. Dia punya ingatan pendek tentang aku )
"Siapa sih dia?" Tanya Rita yang memegang kemeja hitam Kazen.
"Kamu tidak kenal dia?" Tanya Kazen tidak percaya.
Kazen terdiam ternyata posisi Alex sudah tergantikan olehnya dan dari sorot mata Rita, dia tidak bohong.
Kazen memeluk Rita meski Rita agak risih. "Aku pikir kamu memilih dia,"
"Hah?" Tanya Rita kemudian mencubit pipinya.
Kazen tertawa, perasaannya sangat bahagia. Sambil menatap punggung sedih Alex tentu dia harus merelakan Rita untuknya.
"Aah Kazen sudah pukul sepuluh nih mungkin ini sebabnya kamu tidak fokus. Waktunya tidur, besok harus pulang kan," kata Rita.
Rita memang sudah tidak ingat siapa Alex namun rasa bencinya masih terus ada untuk Ney, karena itulah sudah tidak ada jalan baginya untuk menatap belakang.
Rita tidak akan puas sampai Ney benar-benar hancur sama seperti dia yang menghancurkan hubungannya dengan Alex.
Tapi Rita tidak akan mengotori tangannya, biarlah orang-orang yang melakukannya. Yoh sekarang mulai berproses, dengan Alex yang mulai menyadari kesalahannya.
Mereka tiba di hotel dan Rita lelah apalagi dengan pengalamannya tadi itu. Kazen tahu Rita merasa tidak semangat.
"Jangan tidur dulu," kata Kazen.
"Lalu ngapain?" Tanya Rita.
"Kita mengobrol dulu ya kamu mau ada yang diceritakan bukan?" Tanya Kazen.
"Aku ganti baju dulu ya," kata Rita masuk kamar.
"Mau aku temani?" Tanya Kazen dengan usil.
"Mau aku tampol? Kamu juga ganti baju," kata Rita tertawa lalu pergi.
Mereka mengobrol di depan lorong kamar mengenai yang baru saja Rita alami. Dia merasa tidak enak bila hubungan ini dilanjutkan.
Kazen sudah tahu dan berkali-kali keberatan mengenai pengujian itu. Maksudnya dia lebih bisa melihat niat Rita kepadanya bukan yang lain.
Perilaku Rita selama ini tidak mencerminkan perempuan murahan seperti Ney yang kalau ditawari apapun, mau-mau saja.
Rita memiliki kualitas seorang perempuan yang terjaga. Bahkan saat Kazen ingin membayarkan belanjaannya, Rita menolak.
Parfum juga dia enggan menerima yang mahal, dan berkata masih punya yang dia baru saja beli.
Dalam gedung pertemuan yang masih tersisa beberapa tamu, terkumpullah anggota keluarga Darma. Termasuk Bibi Lianda.
"Huuh, padahal mama mau bicara dengan Rita. Malah dia ijin pamit," kata ibunya menggerutu.
"Kan kita sudah percayakan semuanya pada Bibi," kata Minna.
Bibi Lianda melipatkan kedua bibirnya, "Sepertinya apa kata Tuan Muda benar, sebaiknya tidak perlu sampai diuji dengan memperlihatkan perhiasan," katanya menuangkan air.
Ya mereka sudah merencanakan hal ini semua dari awal tapi hanya Kazen yang menolak. Tumben biasanya dia selalu setuju.
"Lho, kenapa Bi?" Tanya ayah Kazen.
"Saya rasa, Nona Rita memang bukan seperti perempuan biasanya yang bermuka dua. Yang saya lihat, dia jadi tidak enak bisa jadi nanti hubungan keduanya jadi hancur juga," kata bibi Lianda.
Semuanya terdiam, Minna menghela nafas. Mulai lagi deh.
"Dia kecewa dengan kalimat yang saya katakan. Saya yakin maksudnya pasti berbeda dan benar saja," kata bibi Lianda menunduk.
Mereka juga melihat, Rita agak kurang semangat apalagi jadi tertutup dan diam tidak berkata apapun.
"Aduuuh bagaimana kalau mereka putus?" Tanya ibunya memegang wajah dan menyesal.
"Ya semuanya kan memang akibat urusan mama yang terlalu ikut campur," kata ayahnya.
"Siap-siap saja Kazen nanti meledak," kata Minna.
"Aduh, bagaimana dong? Kan kalian sudah setuju sekarang, mama yang kalian sudut kan," kata ibunya sebal.
"Kalau kami protes, apa akan didengarkan? Dengan semua pemikiran mama yang seenaknya," kata Minna sambil makan daging.
"Kalau gadis itu memang menyukai Tuan Muda karena uang atau fisik, matanya pasti jelalatan melihat perhiasan yang begitu banyak.
Tapi tidak, dia hanya menyukai bebatuan," kata Bibi Lianda tersenyum.
"Iya sih, saat aku tadi menyamar menjadi Lara juga wajah dan sorot matanya tidak angkuh," kata Minna memperlihatkan wig nya.
"Waktu menjahili kami dengan memecahkan gelas juga tampak dia tidak ingin diganggu," kata Sal membuka riasannya.
"Aku membacanya, dia tidak suka diremehkan makanya membalas. Tapi setelahnya dia minta maaf kan," kata Pho membuka wig nya.
"Dia juga galak, jadi mama dan papa tidak perlu cemas," kata Minna.
Mereka bertiga menyamar dengan sempurna meski memang mengakui dialognya sangat aneh. Terkesan Rita pun hanya bisa menyimak.
"Tidak tertarik perhiasan juga. Kalian lihat kan dia hanya memakai satu perhiasan, cincin," kata Sal pada kedua temannya.
"Dia suka warna bebatuan mirip dengan Tante," kata Pho tersenyum.
"Oh ya? Ah tapi sekarang dia menjadi tidak pede dengan keluarga kita. Hahh aku pikir, semua perempuan yang mendekati Kazen sama," kata ibunya menyesal.
"Makanya, tunggu dan dengarkan pendapat Kazen," kata Minna.
"Ibu harus bagaimana dong sekarang?" Tanya ibunya panik pada Minna.
"Apa ada perhiasan yang dia suka atau pilih?" Tanya Sal pada kepala pelayan.
"Tidak ada Nona," jawab Bibi Lianda membuat mereka lemas.
"Ayah dan Mama tidak keberatan kan kalau aku membuatkannya perhiasan dari bahan yang kalian punya?" Tanya Minna punya ide.
"Ya silakan. Kalau bisa kamu buat sebagai permohonan maaf kami. Kau kira ujian ini bisa membuatnya melayang eh tahunya," kata ibunya menghela nafas.
"Kita sudah mendapatkan jawabannya kan bahwa dia bukan perempuan matre yang mendekatkan Kazen karena materi," kata Ayahnya memandang semua anggota.
Ini artinya adalah kode lain dimana mereka harus memainkan peran penting untuk kelancaran hubungan Kazen.
Rencana yang sangat langka. Menurunkan status sosial mereka menjadi keluarga biasa. BI A SA.
Bersambung ...