
Sekarang giliran Rita yang tersenyum, kira-kira bagaimana respon Ney ya saat tahu pemesanannya tidak berhasil?
Dalam pemikiran Rita sudah pasti dia mencak-mencak karena hampers tidak ada kabar lalu sekarang Hokben.
Kalau dia sendiri sampai heboh tidak karuan, sudah tentu dia yang kalah dan Rita menantikan itu.
"Jadi ini bukan kakak yang pesan?" Tanya kurir.
"Bukaaaan. Orang itu memesannya datang langsung?" Tanya Rita.
"Tidak Kak, menggunakan aplikasi Hokben," kata Kurir.
"Yang saya punya hanya aplikasi Opay untuk belanja online. Saya tidak pernah memesan makanan langsung dari aplikasi Hokben atau apapun. Kan ada di ojol juga," balas Rita.
"Oh, baiklah kalau begitu saya konfirmasikan dulu. Terima kasih," kata Fahri mengembalikan pesanan ke dalam.
Yang Rita aneh kan dari aplikasi kan pastinya ketahuan ya letak posisi si pemesan dimana. Itu bisa dilacak lho apalagi pakai digital.
"Kak, sekalian ya kalau nanti ada lagi yang memesan Hokben atas nama saya dan teleponnya, tolong di batalkan. Kalau dia memaksa lapor polisi saja. Sekali lagi saya bukan orang gila yang memesan Hokben dari luar Bandung," ketik Rita kesal.
Fahri tertawa dan mengerti sepertinya memang ada orang yang sengaja entah menjahili atau punya niat lain.
"Baik kak, akan saya konfirmasikan ke CS Hokbennya dulu ya baru akan kami lakukan pembatalan.
Mohon maaf mengganggu waktunya Kak. Kami akan membantu membatalkan bila ada orang yang melakukan pemesanan atas nama Kakak lagi.
Terima kasih dan selamat siang," kata Fahri mengakhiri perbincangan tersebut.
Apakah Alex? Karena dia juga tahu bahwa Rita tukang makan namun, seingat Rita mereka sudah tidak ada kontak selama empat bulan lamanya.
Dan baru-baru ini yang mengirimkan hampers tidak lain adalah Ney. Lalu sekarang Hokben, kalau memang Alex masalahnya...
Kenapa dia tidak mencantumkan alamat lengkap Rita? Alex tahu lalu banyak keanehan. Alex menjahili tidak mungkin, dia itu si manusia es balok ya.
Rita merenung kalau Alex sama sekali tidak mungkin masalahnya, dia bego saja kalau pesan Hokben dari Bogor ke Lembang.
Hellooo Lembang juga ada Hokben lho heran kalau dia sampai tidak tahu sih. Ya kemungkinan besarnya hanya Ney. Arnila? Tidak mungkin deh, karena untuk apa?
Setelah itu tidak ada kejadian apapun dan Rita melakukan kegiatannya seperti biasa, hanya saja dia agak menunggu sih kedatangan Kazen.
Karena penasaran dengan alamat tersebut, Rita mencari tahu dia membaca dengan teliti dan mencarinya di gugel.
Rita sangat kaget karena alamat tersebut ternyata mengarah pada bangunan besar bernama LOTTE, di kota Bogor.
"Hah!? Lotte!? Tapi lokasinya di Bogor? Hah, apa tidak salah? Jadi dia memesannya dari Mall ini!?" Tanya Rita kaget.
Ya Allah, ngapain coba?? Ih, memang gila tuh orang! Stres sis! Ini sih parah! Bukan jahil tapi memang sengaja!
"Nih orang ya maksudnya apaan coba!? Heran aku tuh sama isi kepalanya!" Kata Rita sangat marah.
Tanpa sepengetahuan Rita, Kazen pun menerima pemberitahuan dari beberapa orang. Bahwa ada yang mengirimkan pemesanan Hokben dengan memakai nama Rita serta nomornya.
Lalu mereka juga mendapatkan lokasi alamat tersebut sama dengan yang Rita dapatkan.
Alhasil membuat Kazen sangat geram pada pelakunya yang dimana adalah seorang perempuan, ya itu adalah Ney dengan alamat lengkap dan posisinya.
Kazen menggebrak meja kerjanya dalam kamar. Kedua matanya menyiratkan kemarahan yang tidak terhingga. Menakutkan.
Orang tua dan kakaknya sedang keluar entah kemana. Kazen menelepon orang-orang tersebut dan memerintahkan untuk menyelidiki tingkah laku Ney.
Apa yang Rita cari sudah tentu duluan di temukan oleh orang-orang Kazen beberapa di antaranya kagum pada kemampuan Rita.
"Bos, dia juga sudah mencari tahu tapi tidak bisa terlalu jauh bahkan mungkin tidak tahu kalau pelakunya orang yang dia pernah kenal," kata A.
Kazen menyengir inilah kenapa Shin tidak merekomendasikan Kazen untuk cerita mengenai cctv.
Rita bisa tahu dengan sendirinya. Dan kemampuannya yang menyelidiki sesuatu selalu dia dapatkan.
"Dia sudah tahu siapa pelakunya," kata Kazen memperhatikan semacam kode-kode pada layar.
"Hah? Kok bisa Bos?" Tanya yang lain.
"Orang ini yang selalu mencari masalah dengan dia bahkan sampai saat Rita enggan tahu keadaannya," kata Kazen.
"Wah, mengganggu sekali. Aku yakin dia pasti meneror juga," kata A.
"Memang," kata B.
"Apa?" Tanya Kazen bergegas ke meja yang lain.
"Aku mendapatkan banyak history pemanggilannya di tahun lalu, Pak. Tapi itu terhenti di hari berikut karena terdapat pemblokiran pada nomornya," kata B menunjukkan nomor Ney yang sangat banyak.
"Dia mengganti nomornya tiga kali dengan kartu yang sama dan terus meneror. Tapi terhenti di hari berikutnya dengan pemblokiran yang sama," kata D.
"HAHAHA ini sih tidak perlu aku cemaskan nampaknya," kata Kazen senang.
"Gadis ini pintar juga, Pak. Tidak akan menyusahkan Anda apalagi dia punya cara sendiri untuk membalas sang stalker," kata yang lain bersiul.
"Tapi dia itu mengerikan kalau sudah penasaran dan tercium bau mencurigakan, dia akan mencari sumbernya," kata Kazen.
Semuanya hening.
"Jadi dia bukan teman ya. Apa perlu kami hilangkan nomornya sekalian?" Tanya Lanka petugas yang bertubuh agak besar.
"Nanti saja kalau dia bertindak lebih gila lagi, sepertinya Rita juga bisa mengatasinya. Untuk saat ini," kata Kazen.
"Baik, Pak," kata mereka semua serentak.
"Dan aku akan katakan bahwa perempuan ini dengan Rita bukanlah teman. Berani meneror, banyak mengganggu, merundung, itu semua bukan kriteria seorang teman baik dan kalian lebih tahu. Dan juga laki-laki keparat itu!" Kata Kazen dengan marah.
"Lalu apa yang akan Bos lakukan?" Tanya Lanka.
"Baik, Pak. Ada lagi?" Tanya A.
"Cari tahu dimana suaminya bekerja," kata Kazen terakhir.
Semuanya melakukan perintah Kazen. Mereka menyelidikinya lebih maju daripada Alex.
Dengan kondisi sakitnya yah, sudah tentu Alex pun tahu dan terkejut, lagi-lagi tidak kuat dan tepar di karpet.
Akhir-akhir ini Alex merindukan Rita namun menyesali perbuatannya. Dia membeli kelinci putih hitam cokelat, berbulu lembut. Betina.
Dia tepar sang kelinci dengan santainya, menduduki wajahnya dan terkulai sama dengan pemiliknya.
Semoga saja Alex sesak nafas. Kelinci betina itu terkulai terlentang menutupi wajah Alex sampai sang pelayan menjerit.
Kelinci menatap heran, kepalanya miring dia bertanya-bertanya kenapa pemiliknya selalu senang tidur di karpet.
Karena penasaran dia mencoba melompat ke wajahnya, kebetulan kali ini juga begitu. Tepar dan tidak bergerak sama sekali. Dan pelayan bergegas mengangkatnya, kelinci tertidur.
Kembali pada Kazen yang masih di dalam ruangan, menyelidiki banyak hal yang berhubungan dengan Rita.
Kelakuan mirip Alex, sekali tertarik pada perempuan, semuanya diselidiki.
"Nomo saya juga berhasil dia temukan lokasinya," kata Kazen.
"HAH!? Bos, bukankah itu berbahaya?" Tanya yang lain agak panik.
"Sangat berbahaya kalau kalian macam-macam sama dia," Kata Kazen menahan tawa.
"Saya bisa bela diri," kata Lanka berpose.
"Bela diri kalian pun tidak akan berguna kalau sudah berhadapan dengan dia," kata Kazen memandangi semuanya yang melongo.
Apa sebegitu berbahayanya ya?" Tanya Edi.
"Sangat galak juga, apa perempuan Indonesia memang super galak ya? Teman saya juga istrinya orang Indonesia, dan dia yang awalnya lebih galak. Sekarang jadi mirip kucing," kata Kazen tertawa bersama orang-orangnya.
"Super Galak memang tapi ramah. Judes jutek mirip cabe domba," kata Lanka.
Para rekan langsung tertawa mendengarnya termasuk Kazen. Setidaknya Kazen ramah dan tidak begitu galak. Padahal bukan orang Indonesia.
Setelah itu Kazen keluar dari ruangan lalu menuju kamarnya. Shin sudah berada disana leha-leha menikmati sebotol sampanye.
"Woi!" Tepuk Kazen dengan keras.
"Apa dah hampir saja jadi air terjun," kata Shin mengelap minuman tersebut.
"Masih siang begini sudah minum. Mau mabok? Ikut," kata Kazen berjalan menuju ruangan lain.
"Kemana sih? Baru juga sampai sudah main seret," kata Shin yang bajunya ditarik Kazen seenaknya sambil membawa gelas.
"Aku kan janji mau datang ke rumahnya. Aku bingung mau bawa apa," kata Kazen.
"Cieee tapi bruh, lepasin dulu tangan kamu. Mau mencekik ya?" Tanya Shin.
Kazen lupa tangannya masih menggenggam kerah Shin dan tertawa. Mereka menuju garasi bawah tanah yang terdapat banyaaaak mobil.
Warna warni dengan papan yang bertuliskan, "Kakak", "Ayah", "Ibu". Yang terakhir "Zen".
"Pakai mobil yang mana noh? Sekalian pamer," kata Shin.
Kazen memilih mobil berwarna abu-abu, dengan nama Wuling Cortez CT yang tidak begitu mencolok dan besar.
"Weeeiizz kenapa pilih ini?" Tanya Shin mengamati.
"Lebih sederhana dan tenang. Yuk masuk," kata Kazen membunyikan kuncinya.
"Ehhh sebentar aku kesini tidak sendirian, bruh," kata Shin menolak masuk.
"Lah? Sama siapa? Mana?" Tanya Kazen turun kembali dari mobilnya.
"Sayaaang," panggil Shin yang kemudian di cubit pinggangnya oleh Kazen.
Datanglah seorang wanita berpenampilan baju sportif dengan sepatu berwarna biru metalik. Rambut pirang bergelombang dengan kedua anting yang bulat.
"Serenity?" Tanya Kazen kaget.
"Hai, Kazen!" Kata Serenity dengan logat bulenya yang kental.
"Kok ada di Indonesia?" Tanya Kazen menatap Shin. "Kalian serius jadian?" Tanyanya bengong.
Seren memeluk Kazen kemudian bergabung dengan Shin. "Yes! You don't know? My my kamu tidak beritahu dia ya, Shin," kata Seren menjewer telinganya.
"Ow ow ow ya kapaan dia terus beri aku pekerjaan, lalu menyelidiki gebetan dia," kata Shin membelai telinganya.
"Gebetan? Crush? Tumben," kata Seren terkejut.
Kazen tersenyum, Seren menatapnya tidak pernah dia melihat Kazen tersenyum atau malu-malu seperti itu. Pasti sangat dia sayang ya.
"Siapa? Kenalkan dong," kata Seren antusias meski agak patah hati.
Serenity adalah kekasih Shin yang dahulunya menyukai Kazen, namun Serenity bukanlah tipe yang disukai Kazen.
Seren jatuh hati kepada Kazen tidak memandang dirinya sebagai seorang Darma. Namun Kazen tidak pernah memberikan kesempatan dan menolak halus dirinya.
Kini Seren menyadari Shin lah yang selalu menyukainya selama mereka dulu kuliah. Akhirnya dia mencoba jalani dengan Shin, Shin tahu soal kesukaannya pada Kazen.
Shin cerita bahwa sebenarnya Kazen selalu menjaga hati untuk seseorang yang dia sukai.
Kali ini Seren akan bertemu dengan Rita, gadis yang sudah lama Kazen sukai.
Bersambung ...