
"Aku harus menjauhi anaknya? Wah kalau begini sih tidak mungkin ada kesempatan!
Apalagi soal Rita, kok aku merasa ibunya ingin aku menjauhi ya? Jangan-jangan itu karena Rita akan me jadi menantu mereka?
Haaaa aku tidak ikhlaaaas!" Seru Ney bicara sendiri.
Ney lalu melihat Rita yang berjalan ke arahnya. Oh iya dia hampir lupa teringat apa kata ibunya Kazen tadi. Rita agak kaget melihat penampakan Ney tapi tidak heran sih, pasti dia mencari tahu soal Kazen dan kantornya.
Ney dengan angkuh menunggu kedatangan Rita dan setelah sampai, bertindak menyebalkan.
"Hai Rita, jadi memang kamu ke sini ya. Sudah kuduga, kamu tidak penasaran nih aku bisa tahu alamat ini," kata Ney dengan tingkah genit.
Rita hanya melewatinya saja dan tidak menjawab apapun. Membuat Ney terdiam dan berbalik mengikuti kemana Rita pergi.
Rita belok dan berdiri di depan kantor ibunya Kazen. Dia juga sempat menganga melihat ukiran bunga yang besar.
Buru-buru Ney tiba di sana, "Kamu mau ke sini? Lebih baik jangan deh. Ibunya Kazen galak sekali lho. Aku yakin kamu pasti diusir,"
Rita tidak peduli baginya kehadiran Ney adalah hantu. Rita mengetuk pintu besar itu.
"Ya?" Tanya pelayan di dalamnya.
"Anu.. apa Nyonya Darma ada?" Tanya Rita.
"Tunggu sebentar," jawab pelayan di dalam.
Pintu terbuka sedikit tidak menampakkan penampilan dari ibunya Kazen. Tampak misteri.
"Ada perlu apa dengan Nyonya?" Tanya pelayan itu.
"Kelihatannya teman saya ada keperluan dengan Ibu," kata Ney.
Rita mendelik dengan jutek, pelayan pun heran mendengarnya. "Saya bertanya pada gadis ini bukan Anda. Jadi ada yang bisa saya bantu?"
Ney diam, dia kesal mendengar jawabannya memang sih yang ada urusan itu Rita. Kenapa juga masih mengekor?
Rita mengeluarkan kotak hitam berukuran sedang. Dan memberikannya pada pelayan. "Ini saya mau kembalikan. Tidak perlu begini,"
"Nyonya memberikan ini sebagai hadiah. Nona Mina yang buat, pakai saja bila tidak mau Nona bisa menjualnya. Saya permisi," kata pelayan itu lalu menutup pintunya.
"Ehhh tapi," kata Rita dan tidak ada kesempatan berkata apapun lagi.
Di balik pintu terlihat Nyonya Darma, Lianda dan beberapa pelayan mendengarkan omelan Rita dan menahan tawa.
"Yang benar saja dijual tapi lumayan sih sepertinya. Aish," kata Rita pasrah.
"Memang apa isinya? Coba sini aku lihat," kata Ney membuka tangannya.
Rita memasukkan kotak itu ke kantong bajunya dan meninggalkan Ney yang menganga. Ney mengikuti di sebelahnya masih dengan perilaku genit.
Rita menatap bingkisan yang sama besar dengan Ney, ya pasti dapat juga karena diberitahukan oleh Lianda. Suasana kantor itu memang sepi dan udaranya sejuk.
Rita duduk di bangku panjang Ney juga mengikuti. Ney terus berkicau tiada henti soal keluhan ataupun Rita yang menutup soal dirinya.
Kazen datang dengan terburu-buru, kacamatanya dia gantungkan di saku. "Kamu bertemu dengan bibi ya?"
"Hai Kazen!" Sapa Ney yang tidak di gubris.
"Ah kepala pelayan itu ya. Aku dipanggil katanya ibumu mau bertemu lalu mengobrol sebentar dan dikasih ini," kata Rita memperlihatkan bingkisan.
Kazen memperhatikan semuanya, dia sama sekali tidak tahu ada apa saja. Ya penasaran juga sih.
"Aku juga dipanggil lho diberi bingkisan yang sama. Ibu kamu lebih ada perhatian sama aku," kata Ney bangga.
Kazen sama sekali enggan melihat tingkah Ney yang. Dan terus memperhatikan Rita yang senang.
"Bibi tanya apa saja?" Tanya Kazen, rencana ibunya sama sekali tidak dia ketahui.
"Sssst rahasia nanti deh aku cerita. Hanya saja ini aku tidak mau," kata Rita mengambil kotak yang tadi.
Kazen senyum, "Itu Kak Mina yang buat terima sajalah,"
"Habis... terlalu mewah bros aku cukup yang imitasi juga. Ini asli ya?" Tanya Rita membuat Ney penasaran.
Kazen membuka kotak itu alhasil Ney berusaha melihatnya. Bros kupu-kupu dengan berlian putih dan berwarna hijau dengan hiasan emas.
"Gila! Kamu dapat itu?" Tanya Ney menganga. Ney berpikir jangan-jangan bingkisan miliknya juga ada.
"Ah tidak enak ah kamu kembalikan saja ya," kata Rita memberikan.
"Serius tidak mau? Ini cantik lho," kata Kazen menghela nafas.
"Tidak, aku tidak suka perhiasan yang mencolok hehehe cukuplah makanan juga," kata Rita.
Kazen mengerti dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Susah memang berhadapan dengan Rita dia hanya bisa menerima sembako makanan saja.
"Yuk ke kantor aku. Sekalian aku penasaran isinya apa saja," kata Kazen pergi meninggalkan Ney yang berdiri sendirian.
"Jangan-jangan memang Rita mau dijadikan menantu. Tidak tidak bohong kalau iya dia harus mengundang aku," kata Ney menyusul mereka berdua.
Petugas menghalanginya dan mempersilahkan dia untuk keluar.
"Rita! Pak, aku teman dia. Aku ada janji ketemu. Rita! Tolongin aku dong kita kan ada janji. RITA!" Teriak Ney namun Rita bodo amat!
Di luar Ney pun menangis, satpam menghela nafas. "Mbak apa tidak malu pura-pura nangis?" Tanyanya lalu masuk kembali.
Ney kesal strategi hancur buyatak! Dia akhirnya terpaksa pergi apalagi setelah melihat perhiasan yang mencolok kedua matanya.
Dia terduduk di sebuah bangku dengan taman dari rumah yang kosong. Perutnya juga keroncongan meski dia sudah memakan habis kue di kantor ibunya Kazen.
Adab makan pun membuat ibunya Kazen enggan menerima Ney. Cekot-cekotlah kepalanya tadi.
Ney membuka bingkisan tersebut isinya memang bermacam-macam kue dan cokelat mahal. Dia melihat ada secarik amplop berwarna biru.
"Jangan mencari masalah kalau kamu tidak mampu menghadapi Karma."
Kemudian Ney memutuskan untuk pulang sambil mengomel, raut wajahnya benar-benar tidak enak dipandang.
Di rumahnya dia memberikan kue itu kepada orang rumah termasuk suaminya yang sedang bersantai. Mereka menanyakan tapi Ney enggan menjawab, moodnya sangat buruk.
Ney mengatakan bahwa temannya baru pulang dari luar negeri meski tanpa dia ketahui ada tulisan bahwa dirinya tidak perlu mengganggu siapapun.
Ney membuka instagram dan melihat postingan Rita dengan emoji love. Isinya ada yang berbeda termasuk isi surat.
"Nikmatilah hari-harimu dengan senyuman dan teruslah bersyukur."
Kesal dengan isi yang berbeda, tidak ada postingan isi bingkisan Rita apa. Ya dia memang jarang memposting foto lebih dari sepuluh.
Kebanyakan isinya foto yang tidak berguna menurut Ney.
Di dalam kantor, bingkisan dibuka dan Rita terkejut.
"Kamu pasti senang kan," kata Kazen. Pintu kantor dibuka lebar oleh Kazen, dia selalu ingat apa pesan Ayahnya.
Rita senyum, kue memang kesukaannya meski murah dan sederhana tapi lebih berguna. Bisa buat perut kenyang kan.
"Iya lah," kata Rita tertawa.
Kazen disuapi kue juga namun mengatakan bahwa Rita jangan dihabiskan. Kazen membuka lemari bawah dan mengeluarkan banyak kue.
"Di rumah juga masih banyak. Mamaku suka buat macam-macam kue," kata Kazen.
"Huuuh bikin iri pantas badan kamu besar. Makan enak mulu," kata Rita memakan kue Kazen.
"Ih, badan mah dari lahir juga begini," kata Kazen sebal.
"Hih, mana kamu bilangnya ini sudah habis," kata Rita.
"Nih bawa deh sebagai gantinya," kata Kazen mengambil kue miliknya. Sebenarnya sengaja dia beli dan simpan tahu Rita pasti datang
"Enak sekali," kata Rita makan sepuasnya.
Kazen tertawa. "Eh, Hantu itu kenapa datang kesini sih?" Tanyanya.
"Tidak tahu. Aku juga kaget tapi tidak heran sih dia kan tukang kepo. Cari alamat kamu mah sudah bagian dari kepo dia. Alex juga sama," kata Rita otomatis.
"Hah? Tahu rumahnya?" Tanya Kazen.
"Ya mungkin," kata Rita yang mau dia bawa untuk ke sekolahnya besok.
"Untuk apa?" Tanya Kazen curiga.
Sudahlah, tidak perlu tahu kamu pasti tahu kan muslihat orang seperti dia motifnya apa," kata Rita.
Kemudian siangnya Rita diajak makan di kantin. Kantinnya juga mewah dan banyak menu sangat enak. Seperti biasanya Kazen memesan ramen dalam porsi jumbo.
Membuat Rita menganga, Rita memesan katsu, salah dan jus stroberi. Rita suka melihat Kazen makan nampaknya luar biasa enak.
Selesainya, mereka kembali ke kantor saat Rita mendapatkan chat yang sangat penting. Dia panik.
"Zen, aku pulang dulu ya," kata Rita bergegas.
"Kenapaaa belum sore kan," kata Kazen.
"Bubu sakit," kata Rita memberikan ponselnya.
"Sebentar aku antar," kata Kazen merapihkan pekerjaannya.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri bertemu di rumah saja ya kamu masih kerja kan," kata Rita membuat Kazen manyun.
"Di rumah sakit saja," kata Kazen.
"Di Cikole ya Rumah Sakit Hewan," kata Rita panik dan cemas.
Lalu Rita pergi dan tinggallah Kazen dengan mulutnya manyun. Kembali sepi deh.
Sebelum pergi Rita sudah membereskan kue-kue Kazen. Dan dimasukkan ke tas besarnya. Ibu Kazen datang menatap putranya yang ogah-ogahan.
"Rita mana? Kenapa kamu manyun?" Tanya ibunya mengambil kue.
"Pulang. Kelincinya sakit sepi deh," kata Kazen.
"Ohh kamu tidak boleh bolos lagi ya. Sudah banyak ini laporan," kata ibunya memperingatkan.
"Hhhh," jawab Kazen. "Oh iya Ma, kok bisa orang itu kemari? Ada urusan apa?" Tanya Kazen semangat.
Ibunya bercerita disusul ayahnya yang ternyataaa sudah lama bertahan dalam kantornya di ruangan lain. Dugaan Kazen memang terbukti kalau Ney bermaksud mendekati Rita lagi karena dirinya.
"Mama tidak suka sekali dengan anak itu coba kamu tadi dengar apa kata dia. Berubah-ubah!" Kata ibunya.
"Mama sudah beri peringatan?" Tanya ayah.
"Sudah berkali-kali tapi ngedablek orangnya Yah. Gertakan juga sudah secara jelas dia memandang remeh Rita lalu wajahnya itu lho. Sama sekali tidak merasa menyesal, bilang minta maaf sudah tapi yah begitulah," kata mamanya sebal.
"Iya memang dia berusaha sekali kan. Aku sempat marah pada Rita kok bisa-bisanya dia kenal dengan orang macam itu," kata Kazen.
"Ya semua sudah takdir kita tidak bisa berbuat apapun. Aku yakin inilah cara Allah swt memperlihatkan wajah aslinya dengan dihadirkan kamu dan Alfarizki," kata Ayahnya.
"Ayah juga dengarkan apa katanya. Sakit itu anak," kata mamanya sudah habis kesabaran.
"Oh iya mah. Ini Rita menolak," kata Kazen memberikan kotak perhiasan.
"Elaaaa kenapa nak dia tolak? Ini bagus lho mewah juga. Kurang?" Tanya ibunya.
"Bukan, bukan tipenya coba deh Mama buat lebih sederhana jangan lebih berlian begini," kata Kazen.
"Aduh, mana bisa mama buat yang sederhana. Dia memang tidak suka atau pura-pura?" Tanya ibunya.
Bersambung ...