MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
Alexandria



"Hahaha supaya kamu semangat saja," kata Kazen melepaskan rangkulan.


Selama pacaran dengan Kazen, memang dia tidak pernah bertingkah kurang ajar. Kalau sayang pun dia hanya mengecup kening atau kepala Rita.


Lebih mirip seorang kakak laki-laki yang sayang pada adik perempuannya. Kazen juga sama sekali tidak masalah memberikan isian dompetnya.


Tidak ada batas pemakaian uang ataupun kartu-kartunya. Namun Rita enggan memakai banyak secukupnya sesuai kebutuhan.


Skincare? Rita tidak pernah memakainya lagipula Kazen pun tidak suka dengan perempuan yang terlalu mengedepankan kecantikan wajah.


Dia hanya memakai suncreen saja karena pekerjaannya banyak terkena matahari. Komariah dan Diana akhirnya diputuskan menjadi guru tetap dan mereka senang bisa bekerja bersama.


"Yuk sudah kita temui paman Shin," kata Kazen.


Rita melemparkan apa saja pada Kazen karena perilakunya. Kazen tertawa senang melihat wajah malu Rita.


"Dasar Kazen. Aku pergi dulua ya, dadah Bubu!" Teriak Rita berlari keluar sambil wajahnya memerah.


Rasa-rasanya belum bisa terbiasa dengan keisengan Kazen. Kazen pun sama sekali tidak pernah meminta hal yang lebih.


Kazen ke kantor sebelah dimana Shin berada dan menitipkan Bubu. Shin mengomel tidak karuan dan meminta uang pesangon.


Seren ada namun tidak menyukai Bubu karena dia dari jenis kelinci biasa. Bubu juga tidak mendatanginya dan terus menatap Shin yang sibuk memberikan tugas pada pegawai lain.


Bubu berbaring di atas meja Shin yang rapih dan terdapat banyak toples makanan Bubu. Dia menghela nafas harus tahan dengan situasi tersebut.


Seren menghampiri Shin. "Kamu biarkan kelinci itu tidur di atas mejamu?" Tanyanya menunjuk.


"Biarkan saja, asalkan tidak mengganggu dan merobek kertas," kata Shin. Dia sudah menyiapkan kertas yang untuk sarana mainnya.


"Aku mau ajak kamu makan siang bagaimana dong?" Tanya Seren bingung.


"Kita harus ajak dia atau makan disini," jawab Shin tenang.


Seren memesan makan siang mereka saat tiba, aroma makanan membuat Bubu bangun. Perutnya juga keroncongan.


Shin memberikan wortel namun Bubu menolak dengan melemparkannya ke pinggir, dan wajahnya agak bete.


"Dia tidak mau makan," kata Shin menghela nafas.


"Mungkin harus dengan Kazen atau Rita?" Tanya Seren yang duduk di sebelahnya.


Pak, kalau tidak salah saya lihat Pak Kazen membeli 1 dus makanan hewan," lapor karyawan.


"Aish, aku ke kantor dia dulu," kata Shin berlari.


"Oke," kata Seren menatap Bubu.


Bubu memandangi Shin yang menghilang lalu berjalan ke tempatnya lalu melirik Seren.


"Apa? Jangan dekat-dekat ya kamu bukan tipe kelinci yang aku suka," kata Seren dengan jutek sekali.


Bubu kembali ke posisi semulanya dan bernafas lega karena Shin tahu dia kelaparan. Beberapa menit terdengar buka tutup botol dan Bubu memandangi setelah ke arah Seren yang sedang minum.


Beberapa karyawan tentu memperhatikan Bubu yang terus menatap Seren minum. Mereka menahan tawa, Kazen lupa mengambilkan botol minum milik Bubu.


Bubu mengunyah sesuatu dalam mulutnya tentu kotorannya dan memandangi Seren. Seren memandangi Bubu selama beberapa menit.


Shin datang sambil membawakan botol minum terisi air mineral. Dan sekotak makanan Bubu.


"Kalian kenapa?" Tanya Shin melihat karyawan lain tertawa.


"Tidak apa-apa,Pak," kata mereka bubar.


Shin kembali dan melihat Seren mengangkat Bubu dan tertawa. Tangannya tampak basah ternyata Seren mengerti bila Bubu kehausan.


Bahkan Seren memeluknya dan Bubu menjilati dagunya.


"Lho? Bukannya kamu tadi bilang... ah sudahlah. Sini, Bu makan! Eh makanannya sudah datang juga bagian kita," kata Shin.


Bubu dikembalikan ke meja Shin, mereka berdua membuka kotak makanan dan Bubu lebih penasaran kali ada sayuran segar.


"Lalapan!" Seru Shin sontak membuat Bubu berlari dan memasukkan hidungnya mengambil ketimun.


"Hei hei!" Kata Shin sebal. Dan Bubu kabur dengan cepat dan memakannya dengan nikmat.


Bubu takut makanannya diambil dan dia makan dengan posisi membelakangi Shin. Seren tertawa dan memberikan selada pada Bubu.


Kazen kembali memeriksa peliharaannya dan menggelengkan kepala. "Mirip Rita kalau lagi kelaparan,"


Mereka semua tertawa dan makan bersama.


Dalam sekolah, Rita agak tidak fokus dan membuat Rina dan Asna bingung. Tumben padahal mereka sedang mengerjakan yang Rita sukai, membuat hiasan kelas.


"Bu Rita kenapa? Demam ya?" Tanya Asna memeriksa keningnya.


"Ehhh tidak kok. Panas," kata Rita mengibaskan tangan.


"Panas? Cuacanya cerah sih tapi tidak sepanas itu Bu," kata Asna lagi.


"Bu Rita istirahat saja dulu. Kami akan memberikan ke semua kelas," kata Rina agak cemas.


"Tidak perlu ah! Hari ini kita akan selesaikan semuanya!" Kata Rita semangat lagi.


"Oke," kata mereka berdua. Sebagian staf sedang menempelkan dalam sebagian kelas. Rita, Asna dan Rina bertugas membuat karya dalam ruangan.


"Untung ya ada penerimaan staf baru," kata Rina bertugas menggunting.


"Iya, kalau kita yang pegang wah!" Kata Asna menghela nafas.


"Mereka jadi seksi luar ya seperti bagi brosur, pengumuman dan belanja kebutuhan," kata Rita senyum.


"Yang tiga tidak ada minat kerja lagi.. Saya sudah bertanya," kata Rina.


"Mereka takut dicekal kan," kata Asna.


"Oh iya mereka teman kuliah?" Tanya Rita.


"Yang satu iya, sisanya teman kompleks sih tapi yah. Dulu kita nakal Bu, suka dugem dari jam 1 malam sampai jam 5," cerita Asna.


"Uwaw lalu ada cerita kalian pakai hijab sekarang atau ini cuma di daerah sekolah?" Tanya Rita yang bisa bertanya.


Dulu sih boro-boro kesannya harus jauh saja.


"Wahahaha hanya di sekolah saja Bu. Kita belum kuat deh kalau benar-benar pakai," kata Rina.


"Ohh ya tidak apa-apa," kata Rita mengerti.


Pukul dua mereka istirahat, lelah membuat beberapa karya. Guru-guru datang untuk membantu menempelkan dengan anak-anak.


Besok libur, rencana Rita akan makan malam dengan keluarga Kazen pun sudah beres.


Interaksi seperti biasa ibu Kazen heboh sekali menyediakan banyak makanan enak. Ayahnya juga merapihkan baju batik bukan kemeja resmi.


Mina dan keluarga kecil bepergian ke Yogyakarta beserta mertua, dia harus ada di rumah membantu orang tuanya. Karena dia yang paling berpengalaman dengan kehidupan keluarga biasa.


Pukul enam sore hari setelah sholat, Prita dan Rita bersiap pergi menuju rumah Kazen sesuai peta.


"Jaga sopan santun kalian ya kalau sudah sampai di sana," pesan Bapak agak terharu.


Sudah lama juga Rita menjomblo baru sekarang diajak makan malam. Ya terharu lah.


"Iyaaaa," jawab mereka berdua.


"Bubu dijemput kan?" Tanya ibu.


"Iya. Sudah kangen kan," kata Rita.


Dalam mobil, Prita yang menyetir. "Selama ini belum pernah ya ke rumahnya Kak Kazen?"


"Belum. Agak misterius dia, kamu pernah bertemu orang tuanya dalam acara pameran itu?" Tanya Rita.


"Boro-boro," kata Prita.


Mereka mengobrol dengan santai dan Rita pun menceritakan bahwa ada sisi lain dari Kazen. Prita setuju karena orang yang banyak tertawa sebenarnya banyak menyimpan sesuatu.


"Aku melihat kamu seperti bukan pacaran. Seperti ada suatu tugas yang harus dia kerjakan," kata Prita.


"Aku juga selama delapan bulan ini, dia tidak pernah berkata mesum yang menjijikkan. Kesannya menjaga," kata Rita.


"Menurut aku sih, ada seseorang yang memintanya untuk menjaga atau mungkin menyembuhkan luka," kata Prita.


"Jadi kalau aku sudah sembuh, dia pergi?" Tanya Rita.


"Hmmm," jawab Rita.


Lama perjalanan akhirnya mereka menuju arah yang menyertakan alamat Kazen.


"Ini?" Tanya Prita melihat rumah mewah.


Rumah yang dilihat oleh Bubu di bab sebelumnya. Prita dan Rita memandangi rumah sangat megah itu. Kompleks yang mereka masuki adalah perumahan tidak biasa.


"Iya ini alamatnya kan?" Tanya Rita bengong.


"Kalau iya, gila ini rumah. Dia siapa sih?" Tanya Prita.


Mereka berdua keluar untuk memastikan. Alat cctv menyorot mereka berdua yang memandangi ponsel.


Rita memencet bel rumah itu setelah mencari-cari kesusahan. Seorang pelayan keluar.


"Ya?" Tanyanya dengan sopan.


"Apa ini rumahnya Kazen Mahardika Darma?" Tanya Rita.


"Siapa? Kazen? Di sini tidak ada yang bernama Kazen," jawab pelayan itu.


"Lho? Tapi ini alamat yang dia berikan," tunjuk Prita pada pelayan itu.


Pelayan membuka gerbang sedikit dan melihatnya. "Alamat ini bernomor 62 bukan 102. Tapi memang alamatnya disini,"


"Kok aneh ya," kata Prita bertanya-tanya.


"Rumah kompleks ini memang begitu alamatnya semua sama yang beda hanya angka," jelas pelayan.


Prita semakin aneh rasanya tidak masuk di akal karena tidak begitu, rumahnya ada juga yang belum dibuat jadi masa iya dari 102 menjadi 62?


"Apa Kakak tahu rumahnya yang mana? Ini rumahnya siapa ya nanti mau aku tanyakan lagi," kata Rita.


"Ini rumahnya..." kata pelayan menjawab.


"Alexandria T," jawab seorang perempuan dari depan pintu rumah.


Pelayan tersebut menundukkan kepalanya sampai wanita itu berjalan ke arah gerbang. Kesannya sangat elegan, anggun tapi agak sombong.


Rambutnya persis mirip Serenity tapi wajahnya tegang dan agak judes. "Ada apa ya?"


"Ya ampun maafkan kami. Kami kira ini rumahnya Kazen," jawab Rita.


"Ah rumah Mahardika. Rumahnya bukan di sini tapi di ujung jalan sana," jelas Alexandria menunjukkan jalan dan letak.


Mereka memandangi jalan dan memutuskan pergi. "Terima kasih maaf mengganggu,"


"Iya tidak apa-apa banyak kok yang seperti kalian," kata Alex senyum. Senyum tapi senyumnya agak galak.


"Kok bisa salah ya?" Tanya Prita heran.


"Apa efek malam ya?" Tanya Rita juga bingung.


"Aneh," jawab Prita menyalakan mobil dan pergi.


Alexa melihat mobil mereka pergi dan bergegas lari secepatnya sambil mengomel. Wajah galaknya berubah menjadi wajah biasa yang lembut.


Dia tertawa berhasil menipu Rita dan Prita, yah kalau ketahuan mampus deh!


"Zen! Kamu kenapa beri alamat ke rumah ini sih!? Pacar kamu ke sini lho," kata Alexa sambil tertawa.


"Apa!? Aku lupaaaa terus tante jawab apa? Aku siap-siap," jawab Kazen panik.


Diceritakan lah semuanya dan petugas rumah membetulkan nomor rumah menjadi 62.


Orang tua Kazen tertawa mendengarkan dan mereka sudah siap juga.


"Dasar! Akhirnya aku terpaksa jawab kalau ini rumah Alexandria T. Semoga dia tidak mencari tahu soal kita," kata Alexa.


"Aaaa kenapaaa tante berkata ituuu ya tenang saja Rita itu agak bloon kok," kata Kazen untungnya Rita tidak peka.


"Untungnya aku cepat bila g kalau rumah ini rumah kita. Kalau terlambat bisa jadi kamu mengatakan sebagai rumah utama Darma," kata Alexa.


"Maaf Nyonya, soalnya saya baru datang ke Indonesia setelah mengurus kepindahan tuan kecil," kata pelayan tersebut.


"Sudah kalian cepat siapkan makanannya dan kirim ke sana. Gunakan jalan rahasia. Ingat jangan sampai ketahuan!" Kata Alexa.


Dua puluh pelayan menundukkan kepala dan heboh menyiapkan semuanya. Lalu dikirimkan.


Kazen menunggu di luar rumah dengan baju batik mirip acara pernikahan. Tadinya mau dihias-hias tapi takutnya Rita mulai pikir sesuatu.


"Sudah ada?" Tanya Mina menggunakan baju biasa.


"Belum. Mana ya? Tante sudah tunjukkan lokasinya. Ah! ITU!!" Teriak Kazen memekik.


"Heh! Sakit telingaku!" Kata Minna.


Kazen melambaikan tangannya, ayah dan mama Kazen menyiapkan semua makanan. Kue dan apapun di tempatkan di meja tamu.


Mobil tiba dan Rita serta Prita lega, mereka tidak salah alamat lagi. Prita menunjukkan nomor rumahnya meski aneh yahh senang juga sampai.


"Kalian lama," kata Kazen.


"Tersesat. Kok bisa ya rumah kamu nomor 62? Harusnya 100 berapa," kata Rita.


"Yuk masuk," kata Kazen tidak menjawab.


"Assalamualaikum," kata Rita dan Prita.


"Walaikumsalam. Halo Rita, Ayo masuk. Ini adiknya ya?" Tanya Mama Kazen senang akhirnya bertemu juga.


"Iya Tante. Salam kenal lagi, saya Prita adiknya Rita," kata Prita bersalaman.


"Oh iyaa kalian sudah makan? Biasanya kalau tersesat suka lapar," kata ibunya Kazen ramah.


"Ehehehe nanti saja tante," jawab Rita tidak enak.


"Kok bisa kalian tersesat? Alamatnya kamu kasih kan," tanya ayahnya senyum.


"Sudah kok," kata Kazen. "Aku lupa pasang nomor rumah yang baru,"


"Ih, kok bisa lupa sih kamu ini jadinya Rita harus cari-cari," kata ibunya memarahi.


"Kok bisa lupa? Seperti baru punya rumah saja," kata Prita.


"Aku sibuk kerja sih jadi malah pakai nomor yang lama. Yuk makan," kata Kazen membuka tutup toples.


Mereka semua duduk ibu dan ayah Kazen menuju dapur. Rita dan Prita menatap rumah itu. Mina memperkenalkan dirinya dan mengobrol.


"Sewaktu tersesat itu kalian ke rumah yang mana?" Tanya Kazen.


"Rumahnya mewaaaah sekali seperti istana," kata Rita.


"Oh ya?" Tanya Kazen yang ikut kaget.


Mama dan ayahnya cekikikan mendengarnya. Mina dan Kazen hanya senyum.


"Itu rumah apa istana ya. Keren bingit! Lampunya, dindingnya warna oren emas gitu," kata Rita menambahkan.


"Oh rumah itu memang yang paling megah sultanos sekali di sini. Pemiliknya wanita paling cantik," kata Kazen.


"Kamu bilangnya tampak bangga. Cinta bertepuk sebelah tangan ya?" Tanya Rita.


Semuanya tertawa membuat Rita dan Prita beradu keanehan.


"Maaf maaf tidak lah bukan tipe aku. Nih makan kuenya enak buatan mama aku," kata Kazen.


Rita dan Prita mencoba dan memaaang lumer sekali. Enaaaak. Minna berdiri dan mengambil Bubu yang sudah sembuh.


"Bubuuuuuu! Kamu sudah sehat?" Tanya mereka berdua.


Bubu berlari dengan senang dan berlarian di tempat kemudian menjilati tangan Rita dan Prita.


Mereka bergantian memeluknya, Bubu membelai wajah keduanya dengan senang sekali.


"Sehat sekali dia gemuk begini. Kamu kasih makanan apa saja?" Tanya Rita. Prita mencium kepalanya.


Bersambung ...