
Rita senyum, Ney memandang dengan angkuh ke arahnya. Berapa kali pun usahanya menarik atau memancing Rita, Rita tidak pernah melihat.
Ney tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi tentu saja judulnya Pameran mobil bukan.
"Mobil apa saja yang akan ditunjukan?" Tanya Ney pada mereka.
"Lihat saja," jawab Praya tanpa memandangi Ney.
Ney merasa dirinya sama sekali tidak diperhatikan dan akhirnya hanya diam.
Cay meminum lagi minuman merahnya sampai habis. Iara mengomel melihatnya.
"Berhenti minum lagi! Acaranya baru dimulai nih," kata Iara menyingkirkan gelasnya.
"Tenang tenang aku ini hampir mirip dengan Park Jimin. Oh iya Rita, kamu suka makanan gaya apa?" Tanya Cay memandanginya.
"Maksudnya makanan luar atau lokal. Jelaskan dong," kata Iara.
"Hahh ribet deh kalau kamu ada," kata Cay mengacak rambutnya.
Ney tidak mau kalau hanya Rita saja yang mencolok. "Kenalkan nama aku Ney Grizelle," katanya.
"Iara,"
"Praya,"
"Cay,"
Hanya segitu mereka memperkenalkan dirinya dan Ney memandangi mereka dengan ramah dan bertingkah pada Rita.
"Aku suka..." kata Rita hendak menjawab.
"Dia itu sukanya makanan biasa. Iya kan? Aku tahu kok," kata Ney menjawab.
"Jadi suka gaya apa?" Tanya Cay yang tidak memperdulikan apapun yang Ney katakan.
Rita menjawab, "Asia. Makanan Sunda juga karena aku orang Indonesia. Tapi paling suka ya makanan luar hehe. Kalau kalian?" Tanya Rita memandangi mereka bertiga.
"Aku sukaaaa semua makanan yang enak," kata Cay sambil membuka kedua tangannya. Agak mirip Ney tapi versi anak tajirnya.
"Dia mah menikmati apa saja tapi badannya tetap langsing," kata Iara.
Iara menyukai makanan China karena orang tuanya dari sana. Tapi tidak menutup kemungkinan menyukai makanan lain.
Praya suka makanan yang aneh-aneh tapi karena teman-temannya cerewet, akhirnya dia menyukai makanan apapun sama dengan Cay.
Ney menunggu gilirannya yang ditanya tapi tidak ada. Dia agak marah ketika tampaknya mereka bertiga tampak akrab dengan Rita.
"Nama kamu Cuy Xin tapi dipanggilnya Cay. Aneh," kata Praya.
"Berisik! Nama kamu juga. Praya, kesannya India tapi asalnya dari Swiss tidak nyambung," kata Cay.
Akhirnya mereka agak bertengkar dan Iara menenangkan, Rita hanya tertawa melihatnya.
"Eh Rita, kamu ke sini dengan siapa? Aku bisa lho masuk ke sini dari koneksi teman aku. Kamu tidak mau tahu bagaimana kok bisa dia bagi tiketnya?" Tanya Ney dengan sombong.
Rita tidak peduli dengan apa yang Ney ucapkan begitu pun dengan mereka bertiga. Ney kesal dan Cay menatap Ney dengan tajam.
"Kamu ini siapanya dia sih? Kok seenaknya sekali ya manggil nama dia apalagi saat aku nanya, kamu yang jawab," kata Cay.
Penampilan Cay sangat terkesan garang dengan gaun hitam dan hiasan rambut yang berkilau.
"Oh, aku orang yang pernah sekelas sama dia. Tadinya teman tapi entah kenapa dia bilang tidak kenal aku. Aneh kan," kata Ney dengan nada lain.
Rita hanya diam malas meladeninya. Mereka bertiga memperhatikan Rita lalu Ney.
"Lalu, apa pantas ya kamu yang sekelas sama dia berkata jelek? Kesannya sengaja mau menghina dia di depan kita," kata Praya.
"Mau jadi pusat perhatian ya tapi kurang mampu," kata Iara.
Ney kaget dan hanya diam menatap Rita yang mendengus ke arahnya.
"Tidak aneh kok kamu merasa dekat hanya karena satu sekolah. Tapi kelihatannya tidak sedekat seperti hubungan sahabat ya," kata Iara.
Ney hanya diam, membuat mereka memihak nya ternyata tidak semudah itu. Cay tampak memesan minuman lain dan mereka bersulang. Rita ikut meski hanya dengan air biasa.
"Kamu tidak malu? Mereka tos dengan minuman sedangkan kamu air putih," kata Ney menertawakan.
Rita minum tidak mendengar apa kata Ney, Ney kembali diam saat itu. MC membuka beberapa kunci dan mereka bertiga bersiap-siap.
"Ayo Rita, acarnya dimulai!" Kata Praya dengan semangat.
Mereka menarik Rita untuk masuk ke sebuah lorong yang terbuka. Ney juga tidak mau ketinggalan dan berusaha mengejar.
"Tunggu tunggu," kata Rita.
Yang lain berjalan santai tampaknya mereka sudah terbiasa. Kotak cokelat lupa dia bawa namun ketiganya menenangkan kalau benda itu tidak akan hilang.
Muncul uap yang membuat Rita takut, dan Ney tertawa mengejek meskipun dia juga kaget.
"Tenang, itu uap untuk menyambut kita," kata Cay.
"Masa kamu tidak tahu semua ini ada yang menggerakkan, Rita. Jangan bersikap kampungan begitu dong, aku yang teman kamu kan jadi malu," kata Ney membetulkan rambutnya.
"Ayo, ini ruangan pertama. Mobil Sport, kamu suka hiking naik gunung?" Tanya Praya.
"Iya," jawab Rita. Ney diam.
"Ayo lihat," ajak Cay menepuk bahunya. Baju Cay pendek namun kesan anggun karena hiasan pinggirannya.
Kazen mencari Rita dalam layar cctv yang besar dia tahu Ney juga masuk dan diberi waktu.
"Pak, sesuai apa kata Bapak, ada yang tidak sesuai daftar," kata petugas 1.
"Benarkah? Dia sudah masuk?" Tanya Kazen yang saat itu ayahnya juga ada di sana.
"Sudah. Lalu mau bagaimana?" Tanya petugas yang baru datang.
"Baik, Ayah. Ini semua sudah aku rencanakan. Apa alasannya?" Tanya Kazen.
"Dia teman Rita lalu mengaku sebagai salah satu teman adiknya. Agak aneh," kata petugas itu.
"Hah!? Hahaha mengaku sebagai teman setelah dia duluan tendang Rita," kata Kazen.
"Oh ya? Kok bisa tahu?" Tanya ayahnya.
"Serenity yang cerita kan dia juga bertemu. Aku yakin dia menonton televisi dan mulai mendekati Rita karena kenal Seren," kata Kazen.
Ayahnya menggelengkan kepala. "Yang seperti itu tidak aneh sih,"
"Dia juga yang membuat masalah dengan Alfarizki," kata Kazen.
Ayahnya menganga. "Alex?"
"Iya. Jadi aku lama suka sama Rita tapi Alex yang menerobos," jelas Kazen.
"Ya ampun! Beri dia waktu saja lalu keluarkan," kata ayahnya dengan tegas.
"Baik, Pak!" Kata semuanya dan berpencar.
"Jangan lupa Ibumu juga datang. Dia ngebet bertemu sama Rita ini," kata ayahnya memeluk bahu anaknya dan keluar.
"Aku mau cari Rita, Ayah. Takut makhluk ghaib itu mulai berulah," kata Kazen.
"Kamu ini berhenti overprotektif mirip ibumu!" Kata ayahnya.
"Ayah!" Kata Kazen lalu berlari pergi.
Dalam ruangan kedua mata Rita silau bukan main dengan mobil sport yang besar. Ney juga sama lalu bersikap profesional yang terus mengikuti Rita.
Rita berjalan-jalan, dia mengambil lembaran sedikitnya dia mengerti soal penampilan mobil.
Ney berjalan dengan anggun dan sok tahu dia mengobrol tanpa ada yang tertarik mendengar apalagi Rita.
"Aku juga mau membeli mobil ini lho. Suami aku akan membelikannya sebagai hadiah ulang tahun," kata Ney dengan suara bangga.
Rita bertanya mengenai mobil yang Ayahnya inginkan, dia ingin lebih tahu. Petugas disana menjelaskan secara detail.
Kazen sampai disana dan mulai mencari, kehadirannya tidak terlalu digubris karena mereka sibuk bertanya.
Ney kemudian cemberut saat tahu Rita sudah pergi ke mobil lainnya. Dan tidak mendengarkan apa yang dia katakan. Ney berusaha menyusul dan seseorang menabraknya dari belakang.
"Oh maaf," kata Kazen tanpa menyentuh Ney.
"Oh.. Lho, kamu kan pemuda yang ada di toko parfum itu ya. Jadi kamu datang juga kesini," kata Ney yang kaget dan menatap Kazen.
Kazen pamit dan langsung pergi begitu saja membuat Ney hanya sebal. Dia tidak terima karena tidak dijawab dan menyusulnya.
Seorang perempuan menghalangi jalan Ney, dia mau menyusul pun dicegat lagi.
"Maaf, tolong jangan halangi jalan saya. Saya ada perlu sama dia," kata Ney dengan ramah.
"Kamu tidak ada kesempatan mengejar Tuan Darma. Sudah banyak yang dibuat patah hati sama dia apalagi sekarang sudan punya kekasih," kata An, namanya terpampang di bajunya.
Ney kaget mendengar sebutan nama Darma. "Dia seorang Darma?" Tanyanya.
"Iya. Masa kamu tidak tahu sih? Dia kan terkenal di banyak negara, Indonesia salah satunya. Anak kampung dari mana kamu?" Tanya An tertawa.
Ney geram sekali dia disebut begitu sama saat dia sebut Rita juga. Ney tidak bisa membalas nampaknya An juga berasal dari kalangan elit.
Beberapa orang berjas nampak berdiri tidak jauh dari dirinya. "Kekasihnya itu teman saya,"
"Ahh yang pakai jilbab kan? Kelihatannya dia berminat sama beberapa mobil disini, yah semoga saja dibeli," kata An melipat tangannya. Usianya sekitar enam belas tahun.
Ney tertawa, "Mana mungkin teman saya itu miskin yah kebetulan saja dia jadi kekasih orang kaya. Ponsel yang dia punya juga hasil kerja yang tidak seberapa gajinya," kata Ney tertawa.
An menatap Ney dengan wajah makin tajam membuatnya berhenti tertawa.
"Kamu miskin yang sebenarnya," kata An.
"Apa kata kamu? Kamu itu tidak sopan ya sama saya! Saya bisa laporkan kamu pada kekasihnya. Dia itu seorang Darma dan kamu bukan siapa-siapa, hanya anak kecil!" Kata Ney karena kebetulan lelaki berjas itu tidak ada.
"Silakan laporkan menurutku kamu hanya mengaku sebagai kenalan dia saja. Yang mendekati Kazen sudah pasti membuat orang mengaku-aku," kata An berjalan mengelilingi Ney.
Ney menahan amarah, apalagi Kazen ternyata memang kekasih Rita. Dia menggenggam tangan Rita yang tampaknya tertarik pada sebuah mobil lain.
"Bukan urusan kamu ya. Minggir," kata Ney.
"Kamu kaya?" Tanya An.
"Tentu saja. Justru aku yang harusnya lebih pantas jadi teman Darma," kata Ney.
"Bahahaha mimpi kamu. Mana ada perempuan kampung bisa jadi sahabat keluarga kami," kata An membuat Ney membeku.
"A-a-apa," kata Ney.
"Kalau kamu mengaku kaya lalu kenapa bajunya bukan kualitas bagus. Bahan ini mudah robek dalam sekali hentakkan, yah anak kecil ini memang tidak berguna.
Setelah berhasil menaklukkan tanah yang luas lalu membangun perusahaan bahan baju berkualitas tinggi. Tahu nama Crygord?" Tanya An tertawa.
Tentu Ney belum pernah mendengarnya. An tertawa mungil.
"Cari tahu saja mengenai nama itu kamu akan tahu. Dan... Kak Darma tidak akan bisa melawan aku.
Kamu tidak seharusnya mengejek keadaan seseorang seperti itu. itu hanya akan membuat poin keanggunan kamu turun, yah meski kamu sama sekali tidak ada poin anggun hanya sombong.
Untuk hari ini belajar lagi me mantaskan diri dan pikirkan apa memang kamu pantas menjadi kenalan kekasihnya," kata An kemudian pergi.
Ney masih terdiam memandangi An dan beberapa orang yang mengikutinya. Langkahnya gontai, sikap angkuhnya ambruk melawan anak kecil.
Kak Darma, yah masih dalam keluarga Darma dan Ney sudah bertindak parah mulai dari Alfarizki sekarang merambah kekacauan nya ke Darma.
Bersambung ...