MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
Kencan!!



Tiga Minggu berlalu kaki kanan Rita sembuh dan dia bersorak dengan gembira.


"Kaki aku sembuuuuh," kata Rita berlarian di dalam rumah.


"Wah! Jadi nih sepertinya kencan pertama," kata Prita senang.


"Alhamdulillah, bisa lari lagi ya," kata Ibu bersyukur.


Dengan senang Rita langsung menelepon sang kekasih, tentu dia juga menanti kabar baik.


"Kazen, kakiku sudah sembuh!" Kata Rita dengan ceria.


"Tunggu sebentar, aku tepat menuju gang rumah kamu. Tunggu dulu ya," kata Kazen senang dan agak cemas.


Ponsel ditutup.


"Apa katanya?" Tanya Ibu.


"Sebentar lagi sampai ke rumah. Ke depan dulu," kata Rita langsung melesat.


Mobil merah tiba di gerbangnya, Rita membuka dan menyambut Kazen. Kazen menggelengkan kepalanya menatap kaki Rita yang sudah pulih.


"Tunggu dengan sabar dong sampai aku turun," kata Kazen.


"Marah nih? Aku kan mau beri kejutan," kata Rita manyun.


Kazen turun sambil membawa sebuah toples cokelat mede. Rita senang tapi yah tanpa ciuman.


"Nih buat kamu. Ibuku yang buat," kata Kazen.


"Asyik! Bilang terima kasih ya ke ibumu," kata Rita.


"Bilang sendiri," kata Kazen.


"Hah? Kapan bertemunya?" Tanya Rita kaget.


Kazen senyum. "Kamu lupa? Janji mau ikut ke Pameran Mobil, orang tua ku pasti ada,"


"Oh iya! Oke deh. Masuk yuk," ajak Rita membuka gerbang.


Kalau perempuan apalagi yang baru pacaran, pasti mesra atau manja kan. Namun tidak bagi Rita, tangan Kazen sama sekali tidak digenggam.


Kazen tidak keberatan karena dia mengenakan kaos berlengan pendek. Kadang Kazen makan malam di rumah Rita dan sholat berjamaah sebagai Imam juga.


"Jaga otot kamu," kata Rita menatap datar.


"Haaa.. iya iya kan hanya kamu dan keluarga. Adik kamu mana mungkin minat sama aku, dan kakakmu?" kata Kazen.


Rita senyum menarik kaos sampingnya. Kazen tidak pernah marah bila Rita tidak seromantis dirinya. Dia sudah tahu mengenai karakter Rita.


Bila Kazen datang, Rita selalu menyambutnya dengan kekanak-kanakan. Awal sih menyakitkan mata dan otak Kazen, sudah diberitahukan puuun.. begitu lagi.


"Maklum ya pertama kalinya sih dia punya pacar di usia sekarang," bisik ibunya yang Kazen tahan tawa.


Sikapnya tentu disenangi Kazen karena bukan pura-pura belaka. Daripada menerima, Kazen lebih banyak memberi.


Tentu saja Rita kadang membuatkannya berbagai macam makanan yang bisa dia buat.


Kadang Kazen menolak bukan tidak suka, hanya perutnya sudah kenyang tapi Rita tidak mau tahu. Dia memasukkan ke dalam tasnya secara paksa.


Rita sudah tahu Kazen dari kalangan kelas atas, tidak heran karena mobilnya selalu beraneka ragam warna.


Beberapa orang tentu bertanya mobil jenis apa dan kagum pada salah satu anak mereka yang mendapatkan kekasih tajir.


Rita tidak suka dengan mobil yang pintunya bisa ditarik ke atas. Karena kebanyakan bentuk mobilnya gepeng.


Itu lho tipe Ferrari Enzo, Saleen S7, Mercedes Benz SLR Mclaren dan Mclaren F1.


Tahu kan seperti apa penampakannya? Pokoknya jenis mobil yang pintunya di tarik ke atas gitu lho. Bentuk mobil maksud gepeng ya pendek seperti kepala sama badan hampir bersatu.


Kazen tertawa mendengar penjelasannya, dia punya satu mobil itu dan tadinya mau dipakai saat menuju Pameran.


Tapi karena Rita tidak suka, ya dia akan menukarnya dengan mobil lain ke sepupunya.


Baru kali ini mobil bintangnya harus digadaikan. Yah tidak salah juga sih mengingat badan Rita yang tinggi. Pegal lah itu.


"Memangnya kenapa? Keren lho itu, semua mantan aku justru ingin lebih lama jadi kekasih karena mobil itu," kata Kazen nyengir.


"Oooh begituuu terus kenapa putus?" Tanya Rita melipat kedua tangannya.


"Yaaa hehehe terlalu sibuk," kata Kazen.


"Semuanya?" Tanya Rita kaget, itu doang?


Kazen mengangguk.


"Heh!! Aneh. Pasti sekarang mereka menyesal tuh," kata Rita ketawa.


"Iya memang, mereka tahu aku punya kekasih baru makanya nanti di sana jangan terlalu autis ya," kata Kazen.


"Kamu ada kan?" Tanya Rita agak cemas.


"Ya ada dong tapi nampaknya aku harus menyambut banyak orang. Kamu cari makanan saja ya, aku sarankan cari posisi di pojok," kata Kazen.


"Oooh aku tahu. Posisi tengah dan depan untuk orang-orang yang agak... pamer dan haus cahaya ya?" Tanya Rita.


Mereka berdua tertawa, tanpa perlu dijelaskan ternyata Rita sudah mengerti.


"Lalu soal mobil yang tadi alasannya kenapa tidak suka?" Tanya Kazen. Mereka duduk di halaman belakang.


"Aku kan tinggi masa saat duduk harus menunduk? Kamu juga tinggi, bagaimana duduknya?" Tanya Rita.


"HAHAHAHAHA hanya karena masalah itu saja," kata Kazen otomatis tertawa keras.


Rita langsung mencubit pinggangnya dengan keras. Kazen memegang tangannya dan meraba sambil tertawa.


Iyalah dia ingat hari kemarin mendatangi rumah sepupunya uang berada di Pulau Kalimantan.


Sepupunya pun sangat terkejut, Kazen ingin menukar mobilnya.


"Kamu serius! Mobil semewah ini mau ditukar? Kekasih kamu perempuan jenis apa sih?" Tanya sepupunya.


"Ya Allah, jadi dia tinggi? Iya juga sih, pasti capek itu. Tumben dapat perempuan tinggi, bagaimana manjat nya? Hahahaha!" Tawa sepupu yang langsung dihadiahi jotosan.


"Ngaco kamu! Kali ini yang seriusnya. Aku tidak ada main-main sama dia, apalagi soal tidur duluan," kata Kazen.


"Weeiiisss tobat nih ye. Ya baguslah, ada perempuan yang buat kamu menjadi lebih baik. Hanya serius mau ditukar?" Tanya sepupu menatap mobil Kazen yang mulusss.


"Tukar lah daripada putus," kata Kazen memberikan kuncinya.


"Untuk aku belum beli sengaja menunggu Kakak hehehe. Oke deh mau ditukar dengan apa?" Tanya sepupu membuka pintu garasi yang luasnya edun.


Ada banyak mobil mewah sebanyak tiga puluh jenis yang berbeda. Sepupunya menawari mobil Alphard.


"Kak, nih keren mobil. Toyota New Alphard! Belum punya kan? Dimensinya dong wuiih," kata sepupu. Kazen mengangguk.


"Aku ingat ada pembicaraan soal mobil ini juga," kata Kazen.


"Hah? Kekasih kamu suka kan?" Tanya sepupu menebak.


Belum apa-apa Kazen sudah tertawa keras mengingatnya. Dia ceritakan :


"Kalau mobil ini kamu suka tidak?" Tanya Kazen memberikan foto mobil sepupunya.


"Giginya besar sekali! Besar lagi, aku tidak suka," kata Rita menampilkan giginya dan Kazen tertawa.


"Bahahaha gigi yang mana? Memangnya ada?" Tanya sepupunya memeriksa.


"Maksud dia gigi itu tampilan depan hahaha aku banyak ketawa alasannya kocak," kata Kazen memegang perutnya.


"Tampilan eksteriornya Bro! Ya Allah hahahahaha haduuuh aslinya ya kekasih kamu bisa buat awet muda," kata sepupu ketawa juga.


"Rugi sekali deh untuk laki-laki yang bisa ya menyakiti dia secara verbal. Sayang pelawak soalnya," kata Kazen.


"Nah! Aku tahu Ferrari? Tenaaang tampilan badannya tidak gepeng kok. Ini agak lumayan yang tinggi juga kalau duduk nyaman kok. Coba?" Tanya sepupu.


"Yang mana, yang mana?" Tanya Kazen penasaran.


"Ferrari 488 Pista Rosso Corsa! Kereeen! Warna perempuan mahal nih," kata sepupunya dengan antusias.


"Kalau beli berapa ya?" Tanya Kazen memegang semua bagian.


"Murah," jawab sepupu.


"Ya berapa??" Tanya Kazen.


"Empat belas koma delapan," kata sepupu. Kazen melongo.


"Juta? Muraaah!!" Kata Kazen senang.


"Miliar," kata sepupu.


Mereka terdiam sesaat. Sulit memang cari mobil mewah yang bisa diterima Rita.


"Yang lain ah! Tar aku diomeli buang-buang uang, mending ditabung untuk nikah," kata Kazen.


"Yakin aku penasaran sama kekasih kamu deh. Rakyat jelantah kan? Tapi kok versi mewah ya? Yang mewah ditolak, maunya apa sih?" Tanya sepupu.


"Yang nyaman lah. Ini warnanya ada hitam atau hijau?" Tanya Kazen menyayangkan.


"Di pilok bisa tapi nanti kena penjara. Merah laaah kamu bujuk kek, merah bro! Menggoda gitu. Dia suka merah kan? Semua perempuan lebih suka merah deh," kata sepupunya.


"Dia mah aneh sendiri. Benci warna merah, tapi kalau baju tidur merah oke asalkan ada banyak motif," kata Kazen menatap sepupunya.


"Hah!? Putus sajalah, ribet tuh perempuan!" Kata sepupu kesal.


"Aku sayang dia, aku rela ganti mobil tukar-tukar asalkan dia nyaman. Ferrari lewat. Yang lain dong," kata Kazen menghela nafas.


"Etdah. Ayo! Masih banyak, sebagian kamu sudah punya kan. Dia tidak ada komentar? Kebiasaan kamu kan ganti mobil," kata Sepupu berjalan mencari yang bagus.


"Tidak komen, koar-koar pamer juga tidak. Biasa saja, mengagumi paling," mata Kazen.


"Hmmm tipe perempuan cuek ya. Lebih bagus tuh," kata sepupunya.


"Katanya disuruh putus tadi sekarang bilang bagus," kata Kazen tertawa.


"Yaa aku kira dia perempuan gatal. Aku bagaimana coba hidupnya dikelilingi perempuan begituan. Pertahankan deh kalau dia cuek, mungkin memang... nah! Aku tahu yang pas," kata sepupunya mengajak ke bagian pojok.


"Apaan dah," kata Kazen.


Sepupunya membuka garasi lain dan terlihatlah mobil berwarna hijau sesuai yang disukai oleh Rita.


"Bagaimana? Bagaimana? Si hijaaaauuu. Lamborghini Urus, ini murah asli," kata sepupunya.


"Boleh juga nih. Kalau ini aku tahu harganya. Tapi," kata Kazen agak ragu.


'Apa lagi sih? Sudah nih kuncinya," kata sepupu.


Kazen memperlihatkan sebuah foto dimana Rita dan kelompoknya berwisata dan mereka melakukan off road, persis dengan mobil yang sama.


"Terus?" Tanya sepupu bingung.


"Kalau di tukar dengan ini, bisa-bisa off road teruuuuus! Tolak!" Kata Kazen.


Sepupu agak pingsan. "Sudah deh kamu cari saja sendiri! Pusing aku! Kalau sudah pas, kasih tahu lewat ponsel!"


"Jiah, pundungan. Oke deh," kata Kazen.


Dan akhirnya! Audi A8 pilihan yang mantul! Dan pastinya nyaman.


"BRO! AUDI A8 2022!!" Teriak Kazen.


"Serius yang itu? Ya terserah deh," kata sepupunya memberikan kunci.


Demikianlah kilas baliknya dan kita kembali pada rumah Rita. Ibu mengobrol dengan Kazen sedikit, beliau meminta maaf untuk kesan tidak enaknya di bulan lalu.


Kazen mengerti dan memaklumi setidaknya kini dia sudah mendapat restu.


Bersambung ...