MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
120



Dalam toko baju kepala Kazen habis dibantai oleh Rita. Karena memaksa Rita memakai baju yang tidak dia sukai.


Kazen mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya dan Shin menenangkan temannya yang menurutnya Rita tidak sopan.


Rita melawan tidak perlu memaksanya memakai pakaian yang dia tidak suka hanya untuk melawan Ney. Akibatnya Ney pasti akan lebih beringas mendekatinya.


"Biar aku yang hadapi dia tidak tahu kalau keluarganya termasuk paling sadis," kata Kazen memegangi kepalanya.


"Bagaimana rasanya bisa lihat dia?" Tanya Shin.


"Ingin sekali aku hempas dia ke laut!" Kata Rita yang sudah berganti baju. Kazen manyun mana sudah dibayar.


"Di sini kan ada laut. Kamu kenapa ke sana lagi sih?" Tanya Shin melihat Seren yang datang.


"Buat peringatan. Yah kok dilepas?" Tanya Seren menatap baju yang tadi dipakai.


Melihat Kazen yang masih merintih, membuat Seren menghela nafas. Baju itu akhirnya dia bawa untuk keponakannya Lian.


Ahhh ya mereka berdua tengah asyik bermain permainan di WarZone, lantai tiga. Coba Ney dihadapkan sama mereka pasti hopeless juga seperti Rita.


"Begini lebih enak. Sakit? Sini," kata Rita membelai kepala Kazen dan membuat Kazen tidur di pangkuannya. Agak menangis karena sakit.


"Duuh manja sekali ya," kata Seren menjitaki kepala Kazen.


Ney kembali ke arah tadi dia sempat mencari kemana Rita pergi dan mendapati di toko baju. Ney berhenti melihat ada dua laki-laki yang berbeda.


Satu memeluk erat Seren dan Rita? Sedang membelai kepala seseorang. Ney yakin itu kekasihnya, dia terdiam di seberang.


Mau mendekatinya pun dia tidak berani karena wanita pirang itu memang tampak dekat dengan Rita.


Laki-laki yang tidur di pangkuan Rita sekilas Ney yakin itu Alex tapi bukan saat bangun. Laki-laki itu memeluk kepala Rita dan tertawa.


"Ayo pulang," kata Sana pergi duluan.


Ney diam dan berjalan lemas, pikirannya semakin kacau dengan peringatan dari Seren. Perasaannya campur aduk apalagi Seren yang tadinya ramah, sangat dingin.


Ney sampai di rumah dia merasa hari ini begitu sial. Anaknya menangis saat dia sampai namun tidak dipedulikan. Sampai pembantunya datang.


"Bu, anaknya menangis masa tidak dilihat? Apa saya harus berikan pada Ibu mertua?" Tanya pembantu.


"Jangan, saya akan beri asi," kata Ney langsung pergi. Sambil memberikan asi, Ney berpikir bagaimana bisa mereka tahu kelakuannya?


Hari sudah sore, Ney sudah mandi dan menidurkan anaknya kemudian menonton televisi. Terdapat berita yang ditampilkan beberapa hari lalu sebelum Rita diajak datang ke Jakarta.


Yang menyiarkan deretan mobil mewah untuk di pameran kan nanti malam pada tanggal 23, artinya hari ini.


Mata Ney tertuju pada beberapa mobil mewah lainnya yang memang ingin dia beli. Terkejut sekali dengan harga yang setara dengan rumahnya.


Ney awalnya biasa saat sang MC menghampiri seorang perempuan berambut pirang untuk diwawancarai.


Ney sangat kaget setelah membaca nama wanita tersebut. Serenity yang dipanggil Seren. Dia menyalakan volume tv agak keras.


"Jadi dia terkenal? Putri!?" Seru Ney menganga.


"Assalamualaikum. Hahh kamu nonton berita apa dengar pertunjukkan? Suara keras sampai salam aku tidak kamu balas," kata Suaminya yang pulang kerja.


"Oh, sudah pusing. Ini, wanita yang tadi aku temui dengan Rita," kata Ney.


Suaminya tidak peduli dan Ney menjelaskan.


"Rita? Kamu yakin? Ada di Jakarta?" Tanya suaminya.


"Iya, demi Allah itu Rita. Kita tadi mengobrol agak lama. Dia jadi sombong lho," kata Ney.


"Menurutku Rita sejak dulu tidak sombong. Kamu yang begitu, lalu ada urusan apa dia disini?" Tanya suaminya membuat Ney sebal.


"Tidak tahu tapi dia memakai barang-barang mahal dan mewah. Apa itu pinjaman ya? Rita mana mungkin bisa beli," kata Ney.


"Sudah jangan berburuk sangka kamu cerita soal teman SMA, awal kanu menduga pinjaman ternyata benar pemberian suami dan mertua yang kaya kan," kata suaminya.


"Iya sih tapi kalau Rita," kata Ney.


"Sudah mau dia jadi kaya, mau sombong aku tidak peduli. Asalkan kamu tidak memanfaatkan dia lagi!" Kata suaminya.


Ney diam. "Kok kamu begitu sih? Nuduh,"


"Lho memang iya kan yang lalu-lalu juga sama siapa tuh? Banyak yang satu grup itu. Jangan iri sama rejeki orang," kata suami mengambil minum.


"Kekasihnya bukan Alex kan aneh," kata Ney.


"Lalu kenapa? Kamu mau selingkuh sama Alex?" Tanya suaminya.


"Tidaklah! Bukan tipe," kata Ney.


"Bukan tipe tapi kamu pacari. Aku tahu, Rio bukan tipe sudah tidur berapa kali sama dia?" Tanya suaminya membuat Ney membanting bajunya.


"Kamu! Aku tidak pernah tidur sama dia!" Seru Ney.


"Oh ya? Kamu kan dulu pernah kasih lihat ke aku sebelum kita menikah, sewaktu kamu kira aku pacaran dengan perempuan lain. Lupa? Masih ada fotonya," kata suaminya.


"STOP!!" Teriak Ney yang menutup wajahnya.


"Kita tidak pernah tidur bersama," kata Ney menangis.


"Ya aku juga kan pernah. Jadi kita seimbang," kata suaminya membuat Ney menatapnya.


"Berhentilah membicarakan masa lalu. Kita sama-sama salah," kata Ney.


"Kamu masih sama," kata suaminya.


"Sama apa?" Tanya Ney.


"Kelakuan kamu dengan masa lalu masih sama. Mungkin kamu pikir aku tidak tahu, sebenarnya aku tahu," kata suaminya membuat Ney terdiam.


"Apa? Apa yang Dins tahu? Soal apa?" Tanya Ney dalam hatinya.


"Aku menikah dengan kamu juga karena kita sama tapi tidak kusangka saat bekerja, kamu bisa-bisanya berjanji bertemu lelaki lain," kata Suaminya membuat Ney kaget.


"S-siapa yang bilang? Aku.. sering di rumah kok," kata Ney.


"Ya kamu sering di rumah kalau aku tidak bepergian," kata suami kemudian beranjak ke kamarnya.


Ney membeku, memang beberapa kali dia keluar rumah tanpa pemberitahuan. Beberapa bertemu lelaki yang kebanyakan mantan, sebagian rekan kerja dahulu.


Ney tidak memusingkan hal itu setidaknya dia berpikir suaminya hanya menggertak. Mana mungkin dia tahu kalau selama ini sering menemui mantan-mantan.


Ney memperhatikan wanita tadi yang penampilannya anggun kalah dengan wanita lainnya.


Suaminya keluar setelah memakai baju kaos, Net agak tidak memperdulikannya. "Perempuan itu terkenal di negaranya,"


"Terkenal bagaimana? Dari negara mana?" Tanya Ney menganga.


Ney tidak mempertanyakan soalan yang tadi, suaminya pun tidak banyak bertanya. Ya buktinya tentu sudah banyak tinggal nanti dibeberkan saat waktunya datang.


"Orang yang sangat penting dalam negara dia dan enam belas lainnya," kata suami duduk sambil memakan roti.


"Rita kenal sama dia lho!" Kata Ney histeris.


"Wah! Keren, karena sedikit mungkin hampir tidak ada yang bisa mendekatinya. Putri raja juga," kata Suaminya menggelengkan kepala.


"PUTRI RAJA!?" Teriak Ney. Dia kaget sekali ya mana ada sampai putri raja kenal Rita?


"Rita kenal? Wih, ada koneksinya tuh. Biasanya tidak bisa sampai kenal apalagi berteman. Yaa beda kalau dia memang ada di bukan negaranya," kata suaminya.


"Parah kok bisa ya? Pakai ilmu apa sih dia? Sejak dulu aku selalu heran deh dapat laki-laki yang ganteng terus tapi dianya jual mahal," kata Ney


"Rita tidak jual mahal tapi memang tidak minat kan. Jangan sampai kamu punya masalah sama wanita ini, bisa langsung jatuh," kata suaminya membuat Ney agak tegang.


"Jatuh?" Tanya Ney.


"Banyak yang buat masalah sama wanita ini, akhirnya tragis. Kalau dia sampai kenal Rita, artinya bahaya," kata suaminya.


"Rita itu Introvert lho mana bisa tipe dia kenal dengan orang-orang seperti Putri?" Tanya Ney.


"Terus apa salahnya kalau intro atau ekstro?" Tanya suami heran.


"Ya aku kan kenal dia kalau ada yang kenalan langsung kabur," kata Ney.


"Ah, masa? Kamu saja yang mengada-ada. Itu aku lihat dia banyak ikut komunitas dan ada beberapa foto dengan orang lain," kata suaminya.


"Dimana?" Tanya Ney.


"Instagramnya lah. Katanya tahu banyak soal Rita masa kamu tidak tahu dia banyak mengikuti kegiatan, lalu komunitas?" Tanya suami memandangi Ney dengan aneh.


Ney memeriksa ya memang tidak bisa dia buka tapi kenapa suaminya bisa? "Kamu ada kontak ya sama Rita? Kok bisa lihat, aku saja tidak bisa,"


Ney curiga apa jangan-jangan Rita ada...


"Aku tidak ada main di belakang sama Rita. Dia itu anak baik, beda dengan kamu. Wajar kamu tidak bisa lihat kena blokir kan. Nih lihat," kata suaminya menunjukkan foto.


Ney kaget melihat foto yang memang dari beberapa komunitas yang Rita ikuti.


"Wah, dia ikut komunitas pendaki? Sejak kapan?" Tanya Ney.


"Beberapa bulan kemarin mereka ada rencana mendaki gunung tapi untuk pemula. Lihat kan? Apa efeknya dia introvert segala? Tidak ada ngaruhnya! Jangan sok tahu kamu tuh," kata suaminya.


Ney diam masih memperhatikan fotonya. Rita dan beberapa kelompoknya yang senang berjelajah. Soal Rita sama sekali tidak pernah dia kenal.


Komunitas game pun mereka saling bertemu, Ney melihat tanggalnya perkiraan waktu mereka masih kuliah.


Waktu Ney dan Rita memang sudah jarang bertemu ternyata Rita sudah banyak mengikuti perkumpulan. Memasak juga.


"Yang, kamu bisa tidak mendapatkan tiket ke pameran itu?" Tanya Ney merayu. Dia selintas melihat lelaki yang sama dengan di mall.


"Susah. Aku kan tidak bekerja dengan mereka. Tiketnya buatan mereka tidak ada yang dijual bebas. Hanya krang terdekat atau yang kenal mereka bisa masuk. Seperti Rita," kata suaminya.


Ney mengutuk dirinya yang sudah banyak kesalahan mana mau juga Rita memberikan tiket kepadanya. Apalagi kejadian tadi siang itu sangat memalukan.


Bersambung ...