
"Tenang. Aku sudah punya ide bagus berkat Prita," kata Rita.
Koma dan Diana berpandangan kenapa sih itu orang masih saja berusaha mendekati Rita?
Padahal seharusnya dia langsung sadar dan menerima bila Rita sudah memasukkan ke daftar hitam, artinya dia sudah tidak ingin berteman lagi.
"Kok itu orang parah ya, Na?" Tanya Koma.
Diana mengangguk. "Sudah buat kesalahan tapi masih berusaha dekat. Memang aneh,"
"Oke deh kita percaya, kamu bisa mengatasi masalah soal dia. Kalau berani datang, lihat saja nanti," kata Koma geram.
Setelah itu mereka membaca komik dengan kesukaan masing-masing. Diana masih membaca buku wisata dengan semangat.
"Kamu masih mau nambah komik?" Tanya Diana melihat beberapa komik yang Rita bawa.
Rita tertawa, setelah cukup lama mereka berempat menuju lantai dua. Rita membayar empat buku komik begitu juga Prita.
Koma dan Diana melihat-lihat aksesoris di tempat yang berbeda. Diana membeli sesuatu untuk kegiatan tes mengajar nanti.
Kemudian mereka keluar dan berencana mengunjungi taman yang baru selesai di bangun, tidak jauh dari Gramedia.
Kedua teman Prita menunggu, ternyata Prita memberitahu mereka bahwa akan mendatangi taman baru.
Mereka tiba dan mencari tempat yang enak untuk duduk bersama. Mereka juga membicarakan kegiatan teman-teman setelah lulus dari kampus.
Tiba-tiba dering telepon Rita berbunyi, dan dia kaget melihat nama yang ada di hpnya.
"Siapa? Siapa? Kenapa kamu kaget begitu?" Tanya Diana yang mengambil keripik pedas.
"Jangan bilang itu si perempuan aneh," tebak Koma.
Kalau iya, dia akan melabrak langsung.
"Bukan lah, dia mana tahu nomor aku yang baru. Tidak mengira tapi aku sudah ada firasat. Ini yang menelepon," kata Rita dengan wajah datarnya memperlihatkan nama.
Mereka berdua melihat, dan sama terkejut.
"Asma?" Tanya mereka.
"Kenapa dia memang suka menelepon kamu?" Tanya Koma.
"Kalau menelepon biasanya isinya hanya keluhan. Kalian bilang ke dia kalau kita mau keluar?" Tanya Rita.
"Aku sih mana mau beritahu. Ya kan, Na?" Tanya Koma.
Diana diam, dia teringat sesuatu. Bukan memberitahukan mungkin Asma mencuri dengar.
"Kenapa?" Tanya Rita dan Koma bersamaan melihat Diana yang mengingat sesuatu.
"Ah, coba deh pakai speaker. Aku dan Koma diam, aku ingin meyakinkan sesuatu," kata Diana mengibaskan tangan kirinya.
"Hmm? Oke," jawab Rita meski penasaran.
"Prita kesana dulu ya mau foto dengan mereka," kata Prita kemudian berdiri dan pergi.
Setelah mereka semua menjalankan aksinya, Rita menekan gambar telepon berwarna hijau.
"Assalamualaikum," kata Rita mengawali percakapan.
"Walaikumsalam, Rita," jawab Asma entah berada di mana.
"Ya, Asma ada apa?" Tanya Rita.
"Hehehe aku mau tanya, Diana dan Koma sudah di terima kerja di sekolah kamu?" Tanya Asma penuh tanda tanya.
Mereka bertiga berpandangan. Diana menjentikkan jemarinya tanpa suara. Dia menuliskan sesuatu dalam hpnya.
"Sudah kuduga, dia mencuri dengar obrolan kita berdua di kampus. Waktu mau ambil ijazah,"
Itu isi Diana yang tuliskan di berikan pada Rita. Koma juga kaget membacanya.
Rita mengerti sekarang. "Kok kamu tahi mereka mau melamar?"
"Tahu dong. Ada deh, ada yang bilang sih. Jadi sudah?" Tanya Asma lagi.
"Sudah. Minggu depan mulai di tes mengajar lalu setelahnya ya mulai mengajar," kata Rita sambil menatap mereka berdua.
Setelah itu ada beberapa menit jeda di antara mereka yang membuat Koma dan Diana bertanya-tanya.
"Eh, Rita kira-kira masih ada lowongan tidak? Aku juga rencananya mau melamar ke sekolah kamu," kata Asma.
Rita menatap mereka lagi, dan mereka menganga dan mengobrol dengan isyarat tanpa suara.
Dimana Rita menahan tawa mereka. Yah, pastilah mereka juga tidak mau kalau Asma sampai masuk.
"Lho? Bukannya kamu sudah dapat tempat kerja? Kan sebelum aku di terima, sudah kamu duluan," kata Rita.
"Asma agak mirip Ney ya. Kita kerja dimana, ikut-ikutan. Tugas kelompok juga ikut padahal kelompoknya beda,"
Ketik Koma pada Diana, Diana menahan tawa dan mengangguk. Dia membalas,
"Asma tampaknya fans dengan kita ya, Kom,"
Balasnya memperlihatkan hpnya. Dan mereka tertawa, membuat Rita penasaran.
Hpnya sengaja dia taruh di lantai supaya bisa melihat isi chat mereka.
Perempuan terkenal bisa multitasking ya, seperti yang Rita lakukan.
Hpnya mengobrol dengan Asma, tapi bisa membaca isi chat mereka berdua dan menahan tawa.
"Hmm aku kurang nyaman sih di tempat ini. Tidak ada yang seru kalau mengobrol," kata Asma.
"Masa sih, Ma? Yang aku lihat kamu selalu bersenang-senang. Tahun lalu kamu ada cerita soal ke Bali," kata Rita.
Lalu Diana mengetik sesuatu,
"Asma gajinya tiga juta lho,"
Rita mengangguk, dan Koma kaget. Mereka mengobrol tanpa suara, membuat Rita harus menahan tawa lagi.
"Ya aku terpaksa. Sebenarnya di sini aku kesepian. Kalau di tempat kamu kan pasti seru apalagi ada Diana," kata Asma beralasan.
Rita mengangguk, tahu karena Asma memang sangat ingin dekat dengan Diana. Entah alasannya apa.
"Kamu mau kerja di tempat aku memangnya apa alasannya?" Tanya Rita ingin tahu.
Koma lalu mengetik lagi,
"Asma itu ingin jadi sahabat kamu. Dia kan tidak suka sama aku dan Rita,"
Diana tertawa langsung tutup mulut. Untungnya saat itu banyak kendaraan lewat, jadi tidak akan terdengar suaranya.
"Gaji aku kurang disini, Rita. Aku sudah cari tahu juga di tempat kamu lebih besar. Jadi siapa tahu ada rezeki aku juga disana. Bisa ya? Rayu kepala sekolahnya dong," kata Asma penuh harap.
Rita juga agak kurang suka dengan Asma apalagi saat dulu, pekerjaan di tempat sebelumnya pun dia ambil.
Akibatnya, Rita harus kena depak tanpa pemberitahuan. Ternyata Asma hanya bertahan tiga bulan saja di sana, setelah berusaha membuat jelek nama seorang guru.
Ide kreatif Rita pun tidak lolos dari sifat liciknya. Dia mengambil idenya dan mengumumkan bahwa karya itu miliknya.
Karena hal itulah, sekelas tidak menyukainya. Mereka tahu karya itu dibuat oleh siapa.
"Aduh, bagaimana ya? Aku meski sudah kerja di sana lama, tidak bisa seenaknya," kata Rita yang tidak mau juga sih bekerja dengan orang licik.
"Ayo dong, Rita. Bisa ya? Aku juga sudah mau mengundurkan diri nih," kata Asma.
"Lho, kok begitu sih? Kamu kan sudah di gaji tiga juta. Kurang apalagi sih? Menurut aku itu besar lho," kata Rita langsung membeberkan.
Mendengar itu, Asma kaget dari mana dia tahu kalau gaji sekolahnya sebesar itu?
"Eh, tahu dari siapa Rita kalau gaji aku tiga juta?" Tanya Asma.
"Ada deh, yah komunitas guru lah, Ma. Kalau ada pertemuan kan suka ada saja guru yang membeberkan gaji," kata Rita.
Asma kemudian diam, yah... gagal deh maksudnya. Tapi dia masih berusaha, dan ternyata memberitahukan ke tempatnya kalau dia memang akan keluar.
"*Iya sih tiga juta tapi itu sering kepotong Rita. Di kamu gajinya bersih kan, maksudnya tidak ada pemotongan*," kata Asma.
Lagi-lagi Asma memaksa.
"Asma, kamu harusnya banyak bersyukur. Aku saja susah tahu kerja disini, kamu enak hanya mengajar. Tugas juga tidak begitu banyak," kata Rita.
Pokoknya, jangan sampai Asma masuk!
Asma mendengarkan, dia cemberut nampaknya Rita memang tidak suka dia masuk ke sana.
"Iya sih," kata Asma.
"Benar-benar pemula sekali dari gaji hanya dua ratus saja jadi guru, sekarang alhamdulillah ternyata aku di per kerjakan sesuai kemampuan," jelas Rita.
"Oh, jadi kamu bukan guru di sana? Staf?" Tanya Asma kaget.
"Bukan. Kata kepala sekolah, aku bagusnya di pembuatan laporan, terus pemakaian komputer, membuat Rencana Kerja Harian dan Mingguan. Aku juga teliti orangnya tapi tetap sih ada saja yang kurang," kata Rita.
"Ya kalau begitu sih aku lebih bisa dong jadi guru di sana kan kamu staf," kata Asma.
"Kamu jangan memandang aku yang berkuasa, Asma. Meski kamu memaksa, guru juga sudah ada yang masuk satu lalu staf juga," kata Rita menahan kesal.
Diana dan Koma memegang bahu Rita untuk terus sabar. Rita menyodorkan salah satu mereka yang bicara, tapi mereka menolak.
Bersambung ...