MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
73



Rita dan Prita berteriak, tang terjatuh dan mereka berpelukan. Mereka tidak bisa melihat yang Kazen lakukan karena sudah jelas mode Malam.


"RINGKUS MEREKA!!" Teriak pemotor yang maju membawa tang juga.


Kazen benar-benar membantai keenam remaja itu, mereka dengar suaranya yang keras bergema.


"DIA KESAKITAN! DAN KALIAN TERTAWA? REMAJA BUSUK!!!" Teriak Kazen.


Mereka melawan tapi kalah jumlah yang datang dan akhirnya mereka pasrah digiring polisi yang tiba.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Shin lega.


Rita dan Prita kaget yang langsung menjambak kepalanya.


"OW OW OW! SAYA MAU MENOLOONG," kata Shin kesakitan memegang kepalanya.


"Ma-maaf!!" Kata mereka berdua melepaskan tangannya dan menunduk.


"Tenang, sahabat saya itu monster beruang kutub. Mereka pasti mampus kena hajar nya," kata Shin memegangi kepalanya yang cenut-cenut.


Rita dan Prita masih ketakutan tapi mereka agak lega melihat banyak orang berdatangan.


Rita berjalan menyeret kaki kanannya dibantu Prita yang masih menangis. Shin segera mengambil kotak P3K yang polisi miliki.


Mereka berdua duduk di pinggir jalan, Rita kesakitan saat dirinya duduk dan menangis.


Polisi wanita datang dan melihat tangan kanan Rita memar parah, kemudian diberi cairan antiseptik yang membuat Rita kesakitan.


"Sudah diperban ya. Pasti sakit sekali memukul tanpa ilmunya," kata Polwan tersebut membuat Rita diam.


"Otomatis, Bu mau bagaimana lagi," kata Rita dengan suara serak.


"Sudah tidak apa-apa selanjutnya kaki kamu ya. Saya perlu bantuan perempuan!" Kata Polwan tersebut.


"TOLONG! APA ADA IBU-IBU YANG BERSEDIA MENGOBATI? ADA YANG TERLUKA!" Teriak Shin meminta bantuan.


"Ayo, Nak. Pak! Saya! Saya perawat," kata ibu tersebut.


Ibu dan putri remajanya keluar dan berlari menuju lokasi Rita. Polwan terpaksa membelah jeansnya tentu dengan ditutupi oleh beberapa mobil besar.


"Masih ada perban? Ambilkan di mobil Nak," kata ibu tersebut.


"Baik," jawab anaknya pergi dan kembali lagi.


Kazen ditenangkan para polisi dan keenam remaja yang sudah terluka digiring masuk mobil polisi.


Mereka menundukkan kepalanya, sama-sama menangis. Alasan mereka begitu karena gabut saja.


Kazen berjalan dan Shin menyuruhnya berhenti.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Kazen yang lelah.


"Memarnya parah dan tangan kanannya, luka. Dia memukul keras mobil kijang," kata Shin.


Kazen terdiam, pasti tangannya retak kalau begitu. "Tidak mengeluarkan darah kan? Hanya memar?"


"Hampir. Sudah ada bintik-bintik merah," kata Shin cemas.


"Huaaaa," Rita menangis keras karena perih. Kazen menutup wajahnya, sudah pasti sakit sekali.


Dua puluh menit kemudian, luka tangan dan kaki sudah diperban dengan baik. Meski masih terisak-isak.


"Sudah Teh, mau ibu antar ke Rumah Sakit?" Tanya ibu itu.


"Ti-tidak usah. Kami tetap akan pulang saja," kata Rita dengan kedua mata yang sembab.


"Motornya bagaimana?" Tanya Polisi.


"Aman. Tidak ada yang rusak," lapor yang lain.


"Sebagai penggantinya kaki kanan kakak saya yang rusak," kata prita menangis.


Rita sudah lemas sekali, perutnya kembali lapar karena kejadian ini. Dia hanya ingin pulang saja karena dalam kamarnya sudah banyak makanan menunggu.


"Aduh, adiknya pasti ketakutan sekali ya. Kalau begitu bersantai saja dulu disini, maaf ibu tidak bisa lama ada tugas di Klinik," kata ibu tersebut.


"Terima kasih Bu atas bantuannya. Kami sudah tidak apa-apa," kata Rita meski suaranya masih terdengar parau.


"Kamu yakin tidak mau ke Rumah Sakit?" Tanya Polisi


"Tidak, Pak. Saya sudah agak tenang. Saya mau rehat dulu di sini," kata Rita.


"Kami akan menemani mereka," kata Shin dan akhirnya para polisi bubar, pengendara pun berdoa cepat pulih lagi.


Kazen menatap Rita dengan sedih kalau sajaa dia berkenalan dengan berani, musibah ini tidak akan terjadi.


Rita tidur menatap langit tidak peduli bagaimana orang-orang memandanginya sekarang dan menyeka air mata.


"Kamu.. tidak apa?" Tanya Kazen.


Rita menoleh dan berusaha bangun, Prita membantu meski energinya sudah habis karena takut dan panik.


"Oh iya, terima kasih bantuannya. Kalau mau pergi, silakan," kata Rita.


"Tidak, kami akan menemani kalian," kata Shin.


"Mau diantar?" Tanya Kazen.


"Tidak perlu. Kami bisa pulang sendiri," kata Prita lemas sekali.


"Ya tenang saja dulu," kata Rita.


Wajah Kazen tidak begitu terlihat karena hari sudah malam. Kazen menatap tangan Rita yang diperban, dia merasa tidak berguna.


"Ini sanitizer," kata Kazen.


Rita mengambil dan membuka dengan satu tangan. Kazen pegang dan jatuhkan setetes dia tangan kiri.


"Nodanya harus hilang kalau tidak orang tua kamu pasti histeris," kata Shin.


"Kalau memang iya," gumam Rita pelan.


Sorotan lampu dari mobil keluar menampakkan wajah ganteng Kazen yang bisa Rita lihat.


Rita kaget, dia mengakui ketampanan Kazen dan membuat wajahnya memerah. Kemudian dia memandangi Prita yang tampak lelah.


"Gila, ganteng sekali! Haduuh entah apes apa keberuntungan dah! Bisa lihat makhluk sebening begini," pikir Rita.


"Ambil tisu," kata Kazen ke temannya.


"Ya," dia berlari dan kembali.


"Aku mau pingsan sebentar ya," kata Prita menutup wajahnya dengan satu tangan.


"Pingsan lah, perjalanan kita masih jauh," kata Rita dengan pelan. Bagaimana ini?


Shin dan Kazen duduk. Rita menghela nafas menatap mereka. Ganteng dua-duanya tapi tetap harus waspada.


"Tenang kita bukan orang jahat. Kami temani kalian sampai pulih," kata Shin.


Rita tidak menjawab, dia terlalu syok, lelah, dan lesu. Terlalu sakit pada tangan dan kaki kanannya.


"Kalau begini tidak bisa main detektif deh," kata Rita.


"Detektif?" Tanya Kazen, Prita dan Shin.


"Lah katanya mau pingsan, Pri?" Tanya Rita.


"Hampir," jawab Prita.


Rita kemudian cerita seadanya mengenai nomor aneh yang mengirimkan pesan pada Asma.


Kazen hanya diam menatap Shin.


"Eh? Jadi kamu mau menyelidiki nomor itu? Memangnya aman?" Tanya Shin menyikut Kazen.


"Habis aneh sih kenapa pemilik nomor itu tahu kalau temanku berbuat curang?" Tanya Rita menatap mereka.


Mereka berdua hening ternyata Rita sangat penasaran.


"Aku permisi dulu," kata Kazen berdiri lalu pergi.


"Masih sakit?" Tanya Prita bangun. Kedua matanya sembab juga dan lelah.


"Kamu mau tidur dulu? Aku bawa bantal sebentar ya," kata Shin. Dia muncul sambil membawa selimut tipis.


Kazen datang membawa sebungkus besar makanan entah ada apa saja isinya.


"Kamu beli apa? Memborong lagi?" Tanya Shin mengintip.


Kazen membuat Shin agak terpelanting dan dia bergegas menuju Rita. "Adik kamu tidur? Baguslah," katanya.


"Iya hehe dia syok sekali kan supir juga," kata Rita tidak terlalu melihat wajah Kazen karena malu.


"Tindakan kamu tadi benar untung menarik baju adikmu. Kalau dia kesana bisa jadi dikeroyok," kata Kazen tanpa melihat sikon.


Untungnya Rita tidak begitu memperhatikan karena Kazen langsung mencubit dirinya sendiri.


"Kamu pasti lapar kan. Ini," kata Kazen memberikan bungkusan besar pada Rita.


"Waduh! Apa tidak... kebanyakan?" Tanya Rita melihat isinya.


Banyaaak bermacam-macam makanan ada roti, kue lapis, sus, bolu, brownis, dan lain-lainnya.


Rita bengong dia suka membeli makanan tapi tidak sebanyak Kazen. Dia menatap Kazen yang biasa saja.


Kazen juga membawa sekantong plastik besar berisi macam-macam minuman.


"Mau apa?" Tanya Kazen langsung. "Pilih saja dengan tenang, lebih dari 1 juga silakan," katanya senyum.


"Aish, senyumannya juga tampan!" Pikir Rita mulai melihat.


Dia menganga buanyaaaak sekali. Apa dia borong ya? ada yoghurt, susu aneka rasa, teh pucuk, roti, bolu hampir sama dengan bungkusan yang Rita pegang.


Chiki juga ada dari besar sampai kecil. Nih orang apa memang beli semua makanan satu toko? Parah!


"Sudaah nanti dia bingung. Maaf ya teman saya ini sebenarnya anti jajan, sekali jajan, satu toko dia habis," kata Shin yang di jitak oleh Kazen.


"Hahaha," kata Rita tertawa melihat kelakuan mereka.


Kazen senang melihat tawa Rita, setidaknya bila melupakan musibah hari ini.


"Cieee yang bisa kenalan," goda Shin.


Kazen lalu melemparinya dengan banyak bungkusan roti sisir. "Makan,"


Kazen pindah tempat, dia berniat mau mulai berkenalan ya mengobrol dulu saja sudah membuatnya senang.


Shin menariknya berkata jangan terlalu memperlihatkan ketertarikannya. Takut Rita tidak suka. Meski benar, Kazen hanya manyun.


"Pri.. Bangun. Makan dulu," kata Rita pelan.


"Hmmm," Prita bangun menggosokkan mata dan menggeliat.


"Lumayan ya tidurnya," kata Kazen ketawa.


"Iya, lelah sih kak. Apa ini!?" Tanya Prita kaget.


"Bukan aku yang beli. Tuh yang beli," kata Rita menunjuk ke Kazen.


"HAH!? SEBANYAK INI!?" Teriak Prita bengong.


"Oh, itu untuk kakaknya. Ini buat kamu," kata Kazen memberikan se bundelan sama besar nya.


Setiap orang punya bundelan masing-masing. Prita cengo, Shin biasa, Rita senang. Anehnya Kazen hanya memegang satu minuman.


Prita tertawa saat melihat Shin dengan banyak tumpukan roti sisir. "Ini sih lumayan untuk sebulan ya Rita,"


"Iya kamu juga jadi punya simpanan makanan kan," kata Rita tertawa.


Bersambung ...