
"Iya iya, makan deh," kata Rita tertawa.
"Kalau nanti dia memang punya niat tidak baik, nanti juga terungkap. Semua kebohongan dia jadi kamu jangan cemas," kata Diana sambil makan.
"Memangnya perempuan itu masih berbuat masalah?" Tanya Prita penasaran.
Kemudian Rita ceritakan perihal bedak yang katanya salah kirim tapi ketahuan sengaja.
"Wah! Parah sekali," kata semuanya.
"Kok masih suka kirim sih? Sudah tahu teh Rita tidak suka dia? Heran," kata Anne.
"Memang sakit orangnya," jawab Prita kesal.
"Tampak sengaja buat Rita marah jadi kan kamu akan buka blokiran dia terus panjang kan masalahnya. Tapi kamu sama sekali tidak buka," kata Diana.
"Intinya itulah cara dia supaya bisa bicara lagi. Tidak tahu malu ya," kata Anne.
"Tapi Rita tampak biasa," kata Prita.
"Kan sudah di blokir jadi buat apa mikirin? Tugas sekolah segudang begitu," kata Rita.
"Bagus tuh banyak kerjaan daripada mikirin orang begitu," kata Koma.
"Kalian juga siap-siap deh kalau sudah diterima di sekolah. Guru kelas juga bakalan banyak kegiatan," kata Rita.
"Jangan-jangan Alex ini sebenarnya temannya si perempuan aneh itu, Rita. Habis aneh sebegitu sekali y membela dia padahal kenyataannya dia yang banyak bermain di antara kalian," kata Koma sambil makan.
"Koma," sikut Diana untuk menahan omongannya.
Koma menutup mulutnya dan melihat kedua mata Rita yang mulai berair. "Aduh, maaf Rita! Ini pendapat aku saja kok, jangan marah," katanya menenangkan Rita.
Rita menghapus air matanya, Prita dan kedua temannya hanya diam. Ya pastinya sakit sekali sih. Yang dibela orang yang sudah nyata mendzaliminya, Alex juga merasa dirinya bersih padahal sama.
"Tidak apa-apa aku juga kepikiran begitu kok. Arnila juga sempat bilang kalau Alex sangat aneh dan mencurigakan. Jadi dia juga bilang lebih baik aku cari yang lain, karena perempuan aneh itu sudah pernah masuk kan," kata Rita senyum lagi meski sedih.
"Errr iya Rita. Nanti lagi kalau kamu mau cerita kenal siapa, ke kita saja. Kamu sudah tahu kita bagaimana, jangan cerita ke orang yang hanya ada saat kamu bahagia saja," kata Koma agak bersalah.
"Iya takutnya memang benar dia temannya si perempuan aneh. Jadi makanya aku put-us dengan mereka berdua eh bertiga," kata Rita sudah tidak menangis lagi.
"Iya soal Arnila juga lebih baik jangan deh. Karena dia kenal perempuan itu, kalau dia cerita isinya sama. Memang berbeda, mereka bukan teman dekat tapi kalau masih satu aliran, ya sama saja," kata Diana.
"Iya memang sudah lama kita sama-sama tidak berkabar. Aku juga lebih lega bisa jauh dengan semuanya," kata Rita kembali makan.
"Kalau nanti kamu bertemu dengan suami, apa kamu akan undang si perempuan aneh itu? Dan temannya?" Tanya Diana.
Rita menggeleng. "Tidak sepertinya, toh Arnila bilang juga tidak perlu. Tahu aku sudah berbahagia dengan laki-laki yang sudah takdirnya, itu cukup membuat dia bahagia," katanya.
"Setidaknya Arnila ini orangnya mengerti ya tidak seperti teman satunya," kata Diana.
"Sama-sama jatuh ke lubang hitam yang sama, cerita yang sama, belum tentu satu perjalanan kan. Aku juga masih agak dendam pada perempuan itu. Bagaimana ya?" Tanya Rita.
Mereka senyum.
"Tenang saja, kita yakin yang selanjutnya akan ada seseorang yang mampu menyembuhkan rasa benci, sakit, sedih, kecewa dan dendam. Dan kamu dengannya akan baik kembali," kata Diana. Koma setuju.
"Aku lebih setuju dengan teman teh Rita yang sekarang," bisik Anne dan Dinda setuju.
"Wajar saja teman dekat dan sahabat teh Rita sekarang banyaknya sangat dewasa. Jadi Rita juga bisa lebih nyaman dengan mereka," lata Prita berbisik kembali.
"Iya jangan undang dia Rita. Daripada kebahagiaan kamu dihancurkan lagi. Sekarang sudah lepas, biarkan saja dia. Dia agak menyesal sepertinya sudah banyak mengganggu dan ingin kembali," kata Koma.
"Tapi semuanya tidak akan mudah sekali dia hancurkan kepercayaan orang, tidak semudah membalikkan telapak tangan," kata Diana.
Rita mengangguk, dalam hati dia benar-benar sudah kapok mengenal 2 orang seperti Alex dan Ney. Kali ini sudah tidak ada jalan kembali lagi bagi mereka berdua. Mau berteman lagi? Maaf ya tidak ada kesempatan lagi.
Saat Ney kembali, dia akan langsung berhadapan dengan macan raksasa yang sudah terbangun dari tidurnya. Dan bersiap menerkam dirinya dengan sekali ayunan tangan dan taring yang tajam.
Selesai makan, mereka membayar. Tapi kebanyakan Rita juga membayar sebagian makanan adik dan temannya.
"Kita ke gramedia yuk. Kalau sudah mengajar tidak akan bisa lagi," ajak Rita.
"Ayo!" Kata mereka berdua.
Rita memberitahukan tema yang akan keluar, mereka hanya tinggal menjelaskan pada anak-anak saja. Mengenai tugas kelas juga sudah disiapkan, mereka hanya bertugas berbicara.
"Aduh Rita, pekerjaan kamu berat begini, sudah begitu mengurus keuangan tabungan, laporan kerja guru, tugas anak-anak, belum tema dan isi kegiatan di luar sekolah," kata Koma menatap semua isi bukunya.
"Makanya kan aku bilang boro-boro mikirin soal Alex dan Ney. Kadang sama sekali tidak ada waktu makan saking mepet," kata Rita.
Mereka duduk di bagian Karpet sambil membaca buku. Temanya juga lumayan ada 36.
"Kamu masih suka mimisan?" Tanya Diana dengan cemas.
"Masihlah! Bahkan lebih parah waktu masalah si Alex kampret sama si Ney gila! " Kata Rita memandangi mereka.
"Syukurlah sekarang kamu bebas setidaknya beban berkurang," kata Diana.
"Kita bantuin kamu deh Rita nanti. Guru hanya mengajar saja kan?" Tanya Koma melihat setumpuk tugas itu.
Rita mengeluarkan buku wisata dan mereka melihat bersama. Terdapat tulisan tangan beberapa guru yang melaporkan kegiatan sebelum wisata dimulai.
"Dahsyat! Banyak sekali. Detail juga," kata Koma dan Diana.
"Iya memang. Harus detail! Buku ini memang selalu aku beri ke guru yang merencanakan wisata dengan anak-anak. Tapi kalau wisatanya bersama guru dan staf, ya aku yang menulis," kata Rita selonjoran.
Untunglah tidak begitu banyak pengunjung hari itu. Sehingga di tempat itu mereka bebas ber selonjor.
"UWOOOW," seru Koma melihat isian buku tersebut.
"Kalau ada wisata ya di urus masing-masing, ada renang, piknik urus sendiri. Lumayan sih itu juga kita dapat bayaran lho makanya lumayan kan aku bisa traktir kalian dan bayar punya Prita," kata Rita tertawa.
"Asma pantas ingin melamar ke sini," kata Koma memperlihatkan iklan lowongan di tahun lalu.
"Yaaa memang sangat lumayan tapi tugasnya tidak main-main. Kenapa aku masih bertahan ya bisa untuk melupakan masalah soal mereka," kata Rita.
"Ada arisan guru?" Tanya Diana.
"Hmmm ini sekolahnya islami sih dulu ada tapi ketahuan yang ikut tidak seimbang. Jadi sekarang tidak ada lagi, kan tidak boleh," kata Rita mengeluarkan permen cokelat dan dibagikan pada mereka.
"Sudah periksa ke dokter soal mimisan kamu?" Tanya Koma.
"Sudah. Kata dokter jangan terlalu banyak pikiran, ya mau bagaimana kerjaan aku kan lebih banyak menulis lalu mikir soal kegiatan. Aku juga berusaha tidur tepat waktu," kata Rita.
"Sekarang masih?" Tanya Koma lagi.
"Masih tapi tidak begitu parah," kata Rita.
"Waktu itu pernah sampai mau pingsan di rumah untungnya sudah masuk rumah," kata Prita yang tiba-tiba muncul tanpa teman-temannya.
"Eh, Prita! Lho sendiri?" Tanya Diana.
"Iya, teman-teman sudah kembali ke kampus ada kuliah lagi. Jadi aku kesini saja," kata Prita menitipkan tas dan mengambil beberapa komik untuk dibaca.
"Soal hampir pingsan itu bagaimana ceritanya?" Tanya Diana.
"Ya karena banyak kerjaan terus deadline juga. Jadi aku kerja secara cepat sampai tidak tidur. Ya rebahan begitu selesai," kata Rita.
"Sudah sampai rumah kan," kata Koma.
"Sudah. Aku rebahan di ruang tamu karena sudah pusing dan demam juga," kata Rita.
"Yah bekerja memang keras sih," kata Diana yang agak sedih.
"Tidak apa-apa aku sakit ada seminggu sudah nya sehat lagi. Memang kelelahan," kata Rita sambil baca komik.
"Cerita ya kalau perempuan aneh itu berbuat ulah lagi," kata Koma.
Rita teringat sesuatu dan menghampiri dan duduk dekat mereka. "Aku diberitahu salah satu gengnya katanya dia mau kirim sesuatu lagi,"
"HAH!? LAGI?" Tanya mereka berdua dengan kaget.
Bersambung ...