
Ney melihat cincin nikah Xin lebih mewah darinya, dia menyembunyikan miliknya di dalam tas.
"Cincin nikah kamu asli?" Tanya Ney masih melirik.
"Ini diberi mertua. Aku duluan," kata Xin berbalik pergi dengan cepat.
Ney menghela nafas, memandang semuanya dan memutuskan untuk pulang. Tidak ada yang seru dalam reuni itu, ya dia salah kelas juga.
Sambil berjalan, dia memandangi Xin yang masih menelepon. Rasa-rasanya ada hawa panas melihat ponsel emas itu.
Xin kemudian melambaikan tangannya pada seseorang, Ney melihat penasaran siapakah suaminya?
Dia masih teringat apa kata teman-teman Xin yang pernah sekelas. Kalau tidak salah pacarnya yang jualan ponsel itu bernama... Artha.
Ney tertawa sendirian berpikir yah bisa jadi dia meminjam barang orang termasuk cincinnya.
"Aku yakin itu semua adalah barang pinjaman dan mertuanya tidak begitu kaya," kata Ney masih ketawa dan berjalan menyusul Xin.
Dalam ruangan Ayu mencari-cari Ney. "Kemana Ney? Kok tidak ada?"
"Yah, paling juga pulang. Dia kan bukan alumni kelas ini apalagi yang lain," mata Ratna meminum jusnya.
"Lihat tidak wajahnya? Hahaha sampai tidak bisa berkata apa-apa," kata Milan.
"Aku rasa dia mencari tahu deh soal kebenaran Xin. Yah, dia tidak tahu saja orang yang dia sering ejek sekarang jadi jutawan," kata Ratna.
"Hidup itu berputar. Kita harus cerdik menyikapi segalanya. Dia bisa seenaknya pamer hidupnya bahagia, berasa kita di bawah dia," kata Milan.
"Artha kuliah dimana? Kalau tidak salah, Ney satu kampus sama Artha," kata Rita mengingat.
"Wah, dia akan berlipat tuh terkejutnya. Biarkan sajalah, orang seperti dia memang sekali-kali harus kena tinju," kata Milan.
Ney berada di depan ruang tunggu sambil mengambil majalah dan pura-pura membacanya.
Dia melihat Xin tengah menunggu seseorang dan Xin melepaskan cincinnya dan simpan di saku.
Ney tertawa dalam hati memang dugaannya benar. Dia menyimpan majalah bermaksud menyindirnya saat melihat seseorang berjalan ke arah Xin.
"Hah? Itu... Artha?" Tanya Ney menebak.
Artha adalah teman ya bukan teman sih hanya orang yang pernah selintas, satu kelas saat kuliah.
Dulu kuliah perawakannya sangat sangat biasaaa bahkan memakai baju yang sama selama seminggu.
Penampilan standar sekali bahkan hanya memakai sarung serta sandal saat ada kuliah. Tidak lepas dari ejekan Ney.
Ney bengong melihat dia menghampiri Xin dan cipika cipiki sambil tertawa. Artha memeluk Xin dengan mesra.
"Apa!? Jadi suaminya itu serius Artha? Tapi kok tampilannya bisa sekeren itu sih? Ah! Ini tidak bisa dibiarkan aku akan tanyakan semuanya!" Kata Ney berjalan ke arah mereka.
"Jadi hari ini," kata Artha senyum serius.
"Hai, Artha! Kamu kok datang ke reunian? Ini kan reuni SMA ya bukan kuliah," kata Ney menepuk bahu Artha.
Artha kaget dan menghapus tepukan Ney di bahunya, Ney memandanginya agak kesal.
"Siapa ya? Kok tahu nama aku? Teman kamu?" Tanya Artha ke istrinya.
"Sebenarnya aku kenal hanya sekedar menyapa saja waktu SMA. Tapi dia yang salah paham," kata Xin.
"Ih kamu kok begitu sih Xin? Aku sama Xin satu kelas. Kamu kan juga satu kelas sama aku. Tidak ingat?" Tanya Ney senyum ramah.
Mereka saling berpandangan aneh.
"Oh! Waktu materi itu ya. Ahhh aku memang dipindah kelas kan waktu itu tapi maaf aku tidak kenal kamu. Namanya?" Tanya Artha.
Ney diam mendengarnya yah maklumlah, memang jarang bicara kenal pun juga tidak ada.
"Aku Ney Grizelle. Kamu Azka Artha kan? Aku ingat kok kalau kuliah selalu pakai sarung," kata Ney menahan tawa.
"Oh hahahaha maaf ya aku sama sekali tidak tahu kalau ada yang sampai memperhatikan. Waktu itu aku tidak mau sampai ketinggalan sholat Ashar, jadi sekalian aku pakai sarung," kata Artha.
"Ow! Kamu menikah sama Xin? Beda agama kan? Kumpul kebo dong?" Tanya Ney langsung nyeplos.
Xin ingin sekali menghajar Ney yang langsung ditahan oleh Artha. Ney agak menghindar, sama sekali tidak tahu Xin akan semarah itu.
"Lebih baik beda agama tapi setia daripada kafir yang gemar selingkuh. Masih ya sama suaminya?" Tanya Xin membalas.
Artha sama sekali tidak tahu siapa suami Ney. Mendengar hal itu Ney hanya bengong dan tidak bisa membalas.
"Selingkuh?" Tanya Artha menatap Ney dan agak berjaga jarak.
"Urusan rumah tanggaku bukan urusan kamu ya!" Seru Ney.
"Urusan agamaku bukan urusan agama kamu ya! Dan kamu jangan sok jadi teman aku dan suami! Tidak malu apa kalau diri kamu itu lebih hina?" Tanya Xin dengan suara yang melengking.
"Sudah sudah biarkan saja! Aku kemari memang untuk jemput istriku, soal kami kumpul kebo, apa urusan kamu?
Lebih baik urus saja rumah tangga kamu kalau apa yang dikatakan Xin benar, kamu tidak cemas kena talak?" Tanya Artha memandangi Ney dengan wajah sebal.
"Aku kan hanya menyapa saja kenapa kalian jadi marah sih," kata Ney.
"Menyapa atau sengaja cari masalah? Kamu pikir aku tidak tahu seperti apa hobi kamu," kata Xin.
"Ya aku hanya heran saja deh kok bisa sih kamu menikah sama Xin? Tapi cocok kok kalian pasangan kumel, dan norak!" Kata Ney tertawa.
"Kalau soal tampilan kucel, kosan aku dekat sekali dengan aku kuliah. Semua anak juga tahu, heran saja kamu baru sadar," kata Artha.
"Kamu," kata Ney sambil menunjuk.
"Iya ayo, reuninya sudah selesai? Lagipula Ney, bukannya kamu salah datang ya? Setahu aku dari teman Xin, kamu kelas 3E kan," kata Artha.
Ney kaget dan memandangi spanduk, pantas tidak ada satupun yang dia kenal meski orang-orang yang dia kirimi paket juga, mengatakan tidak kenal.
"Yah antara dia tidak tahu atau pura-pura yang. Banyak yang bilang dia senang berbohong. Apa kamu tidak tahu kalau reuni kelas kamu sudah lewat?" Tanya Xin mendengus.
"Kok.. tidak ada yang beri kabar sih?" Tanya Ney sebal.
"Kamu tidak tahu?" Tanya Xin.
"Kalau tahu juga aku tidak akan datang yang ini," kata Ney.
"Hahaha ya terjawab sih mana ada yang mau undang kamu. Yuk say," ajak Xin menarik Artha.
Ney diam memang dari bulan lalu pun tidak ada undangan reuni apapun. Dia bahkan sampai mengirimkan chat pada orang yang dia pikir sangat dekat.
Orang itu hanya menjawab tidak ada kabar reuni yang ternyata keesokannya ada.
Ney menatap Artha dan Xin yang sangat mesra, dia kesal sekali hari ini! Lalu Ney menyusul tanpa ada rasa malu.
"Eh, kalian mau pulang? Boleh bareng tidak?" Tanya Ney.
Mereka berdua menatapnya dan tampak wajah menyebalkan ke arahnya.
"Maaf ya lain kali saja kapan-kapan kalau kami ingat siapa kamu," kata Xin.
Ney mencibir dan seperti biasa keluarlah suara yang ingin membuat mereka berdua malu.
"Kok sombong ya sudah sukses. aku dan kamu kan sudah lama tidak bertemu. Masa kamu meninggalkan teman yang sudah lama tidak bertemu?" Tanya Ney dengan suara keras.
Orang-orang disana berbisik menatap Ney, dan Ney merasa seolah taktik berhasil membuatnya jadi pusat perhatian.
Mereka berdua pasti akan meminta maaf untuk memintanya berhenti mengganggu.
Artha dan Xin jelas keheranan menatap kelakuan Ney yang tampak bangga mengatakan hal itu.
Xin hilang kesabaran dan menghampiri Ney, Ney dengan wajah senang senyum padanya.
Namun tatapannya menjadi ketakutan saat Xin hendak melayang tangan untuk memukulnya. Ney memejamkan kedua matanya menahan.
Xin tertawa melihat Ney yang ketakutan. "Kamu orang hina. Teman? Aku atau suami? Heloooo kamu sering mengejek aku dan suami, jangan sok dekat ya hanya karena sekarang hidup kami lebih enak dari kamu!"
Ney menatap lantai melihat perlahan ke arah Xin dan semua orang yang menggelengkan kepala ke arahnya.
Artha hanya tertawa dan menghampiri istrinya. "Oh, sekarang aku ingat kamu siapa,"
"Ingat kan," kata Ney yang bergeser menatap Xin dengan menantang.
"Kamu yang sering ejek aku setiap kali lewat, "sarung kotor" kan. Tanpa lihat seberapa kotornya diri kamu.
Kalau tidak salah ada kegiatan solat berjamaah, tapi hanya kamu yang tidak pernah ikut. Kristen ya?" Tanya Artha tertawa kecil.
Xin tertawa mendengar suaminya dan Ney hanya senyum garing.
"Saat itu kebetulan aku ada halangan. Perempuan kan selalu dapat," kata Ney membela diri.
"Oh ya? Anehnya ya sholat berjamaah itu kan ada jadwalnya. Waktu itu aku dengar kamu sedang tidak Haid, tapi jarang ikut sholat.
Kristen kan berarti, yang kumpul kebo sebenarnya kamu dong? Suami dia Islam?" Tanya Artha.
"Suaminya rajin sholat, kamu pernah kok bertemu waktu di Amerika," kata Xin menatap licik.
"Yang mana?" Tanya Artha.
"Eh, kalian setelah ini mau pulang? Kita jalan-jalan yuk," kata Ney mengalihkan topik.
"Kamu kan pernah cerita bertemu orang yang pintar sekali. Ciri-cirinya kulit sawo matang, dan tinggi. Kalau bekerja selalu membawa tas pendek. Nah ya itu suaminya," kata Xin.
"Ohhh! Yang itu.. kita mengobrol seru. Itu suami kamu? Iya aneh sih, ternyata istrinya kamu, orang yang ejek kita," kata Artha tertawa.
Ney tidak menjawab apapun, dia hanya agak tidak enak mendengar mereka menertawakannya.
"Ternyata dunia itu sempit ya. Kita bisa saling bertemu seperti ini, lebih ke hmmm kesialan," kata Xin.
"Sial bagi kalian," kata Ney.
"Sial untuk kamu sih. Kita bisa saja ya mengumbar seperti apa kamu di masa sekolah dan kuliah.
Tapi untuk apa? Oh iya yang, dia bilang ponsel dan cincin aku ini pinjaman lho siapa diaku anak orang kaya. Lucu tidak sih?" Tanya Xin membuat Artha kaget.
Artha kaget. "Ponsel emas yang dikasih sama aku? Wah! Kamu tidak tahu saja sebenarnya soal aku. Aku itu..." kata Artha yang hendak menjelaskan.
Mereka mendengar suara mobil yang jelas, dan memandangi sebuah mobil mengkilap datang ke depan gedung.
"Itu Mamih! Ayo," kata Xin dengan heboh.
Artha memandangi Ney dengan wajah yang kesal dan berlari ke arah mobil. Ney hanya memandangi saja, siapakah?
Dia pelan-pelan menyusul namun berjarak. Adegan tadi membuat dia agak tidak enak, apalagi melihat kedua mata Xin yang sangat membencinya.
Bersambung ...