
"Nah kalau begitu ceritanya baru aku percaya. Sudah pasti kamu yang hancurkan kepercayaan mereka kan," tebak Sana membuat Ney gerah.
"Urusan aku dengan dia itu bukan urusan kamu!" Kata Ney dengan nada galak.
Sana tertawa dan pergi berjalan meninggalkan Ney, meski begitu Ney menyusul dirinya tanpa banyak bicara.
Sesekali Ney berbalik memandangi mereka bertiga yang nampak seru, banyak pertanyaan dalam benak Ney hari itu.
Di tempat lain, Alex merasa puas dan tertawa menyeringai bagaikan kuda.
"Jadi dia hanya tahu masalah mengenai keluarganya Rita saja. Kemana pun Rita bercerita semuanya sama, jadi dia tidak membedakan isi cerita dengan siapapun," kata Alex mengangguk.
Selama ini dia pikir Rita lah yang bermasalah senang bercerita dengan alur yang beda ternyata.. Salah Alex.
Dia kini merasa sangat bersalah banyak sangkaan yang tidak terbukti mengenai Rita. Kisah dalam keluarganya tidaklah ada kebohongan.
Jasmine datang membawakan cemilan dengan wajah yang senang. Daripada melihat adiknya yang termenung, kini dia sibuk an dirinya dengan pekerjaan.
"Kamu mengobrol lagi dengan Rita ya?" Tanya Jasmine menaruh nampan berisi makanan.
Alex menggelengkan kepalanya sambil mengambil makanan tersebut. "Bukan dengan Rita tapi temannya eh mantan temannya,"
"Mantan teman? Oh, yang bermasalah sama dia? Untuk apa sih kamu masih kontak sama dia? Kamu mau mulai buat masalah lagi? Tidak kapok apa ya," kata Jasmine dengan gemas mencubit pipi adiknya.
"Aduh aduh! Lepaskan. Bukaan lah aku sedang menyelidiki sesuatu, ada yang aneh dengan mantan temannya ini," kata Alex membelai pipinya.
"Apa sih yang anehnya?" Tanya Jasmine penasaran.
"Rita suka cerita soal keluarganya ke dia, aku mau tahu apakah isi ceritanya sama denganku atau tidak," kata Alex memberikan isi ponselnya.
Jasmine membacanya. "Menyamakan cerita perempuan itu ya. Kata Kakak sih Rita jujur kok," katanya menyimpan kembali ponsel adiknya.
"Ya aku tahu dia jujur," kata Alex agak pelan.
"Tapi kamu kurang percaya ya kalau sampai mencari tahu lalu menyamakan cerita. Ada keraguan ya?" Tanya Jasmine membuat Alex agak sedih.
"Tidak, Kak. Aku percaya Rita, aku bisa tahu kalau dia berbohong," kata Alex.
"Lalu?" Tanya Jasmine bingung.
"Yang aku merasa aneh adalah ketika aku mengatakan bahagia melihat Rita senang," kata Alex.
"Ya anehnya itu bagian mana?" Tanya Jasmine.
"Kenapa dia tahu kalau aku putus komunikasi dengan Rita? Coba deh Kakak baca. Aku kan selama ini tidak pernah menjelaskan kalau aku sudah tidak kontak dengan Rita lagi," kata Alex.
Jasmine terdiam mendengarnya. "Ya pasti Rita yang cerita kan,"
"Mana ada kalau soal itu. Rita sudah memasukkan Ney dalam daftar hitam dan menghapus permanen semua hal berhubungan tentang dia," kata Alex membuat Jasmine terbelalak.
"Serius!? Dari kapan?" Tanya Jasmine.
"Sejak dua tahun lalu sampai sekarang, tidak pernah lagi dia buka. Instagram nya pun dia kunci, semua di matikan. Parah kan, jadi tidak mungkin," kata Alex memperlihatkan semua media.
"Wah! Ada kesan seperti keluarga kita ya Rita ini. Termasuk email?" Tanya Jasmine.
"Aku juga kena tapi aku ikhlas karena aku memang salah. Terlalu sering mengganggu dia," kata Alex mengakui.
"Lalu soal mantannya itu bagaimana?" Tanya Jasmine.
"Aku sudah menyelidikinya. Memang dia ternyata sudah lama sekali sebelum bertemu aku, sudah mendaftarkan Ney ke dalam buku hitam. Apa yang dia ceritakan soal hubungannya dengan Ney, memang benar sudah tidak ada sejak lama," kata Alex menghela nafas.
"Nah kan. Ketahuan kan kalau Rita memang sudah cerita semuanya. Tapi kamu tidak percaya kan," kata Jasmine.
Alex hanya diam menatap bukti yang ada.
"Bukannya temannya ada satu lagi? Mungkin dari dia kabar kabar soal kamu dan Rita," kata Jasmine angkat bahu.
"Lihat ini, Kak," kata Alex membuka beberapa aplikasi dalam laptopnya.
Terdapat kalimat berwarna merah yang menjelaskan beberapa media telah hilang dari peredaran internet.
"Aku, Ney dan temannya ini dimasukkan ke daftar hitam secara bersamaan," kata Alex.
"Oleh Rita?" Tanya Jasmine tidak percaya.
"Ya siapa lagi," jawab Alex menatap sedih ke layarnya.
"Ini baru?" Tanya Jasmine melihat lagi.
"Bulan kemarin. Rita ternyata tidak bisa dianggap remeh," kata Alex mengangkat kedua tangannya dan menatap atap kamarnya.
"Temannya ini juga menutup akun PB. Apa jangan-jangan Rita yang suruh?" Tanya Jasmine menebak.
"Bisa jadi karena kata-kata dia terakhir sama dengan Rita," kata Alex menunduk dan menutup bukti tersebut.
Jasmine menghela nafas dan menepuk bahu keras adiknya, dengan agak sedih juga karena tahu Alex memang ada hati pada Rita.
"Ingat apa kata Mom. Kamu harus mulai melepaskan semuanya yang berhubungan dengan Rita. Buktinya aku yakin Rita juga sudah melepaskan semua mengenai kamu," kata Jasmine.
Alex tidak rela sebenarnya tapi kepergian Rita membuktikan bahwa keraguannya, semuanya ternyata benar adanya.
Semua kekonyolan, permainan dengannya membuatnya nyaman. Tapi dia sadar, kondisi fisiknya jugalah yang membuatnya keras.
Rita sering menangis menghadapi sifatnya, banyak penekanan yang membuat Rita memutuskan mengakhiri segala kisah.
"Rita juga pasti sulit melupakan kamu karena kalian memiliki kenangan konyol kan. Yang tidak biasa kamu miliki. Lepaskan ya, Alex. Fokus pada pilihan orang tua," kata Jasmine kemudian pergi.
"Apa aku bisa, Kak? Meskipun ada banyak pekerjaan kadang bila merasa sepi, secara otomatis aku menatap ponsel," kata Alex dengan sendu.
"Yah itu semua butuh proses kalau kamu memang benar-benar ingin melupakan Rita. Jangan pernah berkomunikasi lagi dengan orang-orang yang terlibat dalam urusan ini," kata Jasmine mengingatkan.
"Aku ingin bisa melupakan semuanya tapi kenangan bersama Rita terlalu melekat banyak," kata Alex menutup kedua matanya.
"Ingat Alex. Jangan pernah lagi kamu berkontak dengan Ney atau temannya. Kalau temannya itu memasukkan dia ke daftar hitam juga, berarti memang ada yang salah kan," kata Jasmine.
Entahlah apa Alex akan mematuhinya atau tidak soal mengontak Ney. Masih belum memenuhi keingintahuan dia.
"Kak, aku akan mulai melupakan Rita kalau sesuatu yang aku cari sudah aku dapatkan," kata Alex berbalik memandangi kakaknya.
"Kamu tidak akan pernah bisa melupakannya saat mengetahui semua kebenarannya Alex. Saat semua terbongkar kakak yakin, kamu akan mulai menyesali segalanya," kata Jasmine.
Alex termenung menatap kakaknya selama ini firasat dari kakaknya selalu terbukti.
"Bila ingin melupakan, lakukan dari sekarang. Apa yang kamu cari lebih baik lupakan, saat kamu menyadari kesalahan kamu, mungkin sudah sangat terlambat," kata Jasmine.
"Tidak akan begitu Kak," kata Alex mengejar kakaknya di depan pintu.
"Kamu yakin?" Tanya Kakaknya dengan sedih.
"Lihat saja, aku yakin semua masalah ini memang Rita yang salah. Pasti dia!" Tegas Alex, Jasmine hanya senyum tipis.
"Jangan menyesal bila kamu terbukti salah," kata Jasmine melambaikan tangan dan pergi entah kemana.
Di sisi lain saat menunggu Sana berbelanja baju, Ney mondar mandir di depan toko baju.
Dia menatap ponselnya, masih belum ada kabar chat lagi dari Alex. Dia sangat gelisah, baru kali ini sangat gugup. Apa yang akan Alex tanyakan lagi?
Alex kembali membuka ponselnya dan meneruskan semuanya. Hari ini harus berhasil apa yang membuatnya curiga pada Ney.
"Nothing else? Because if you really think of her as your friend, why did you bully her in the first place?"
( Tidak ada yang lainnya? Karena bila kamu memang berpikir sebagai temannya, kenapa kamu merundung di di awal? )" Tanya Alex kembali hadir.
Yang ditunggu datang juga, Ney membaca baik-baik dan kaget. Masih juga soal perundungan itu, kapaaan berakhirnya sih?
"You bullied her too,"
( Kamu juga merundung dia )," kata Ney kenapa jadi dia yang dipertanyakan?
"I don't mean to bully her. What I meant to invite you first was to talk by explaining everything. But you came with a lot of people and started destroying it. Are you happy with that?"
( Aku tidak bermaksud merundungnya. Maksudku mengajak kamu pertama adalah untuk bicara menjelaskan segalanya. Tapi kamu datang dengan banyak orang dan mulai menghancurkannya. Apa kamu bahagia dengan itu? )" Tanya Alex.
Ney terdiam membacanya, dia memukul kepalanya dan mengingat kejadian itu, ternyata kesalahpahaman.
Seharusnya dia bertanya pada Alex maksud mendatangi Rita, bukan langsung menyerang. Sekarang? Pantas saja kan Rita menjauhinya.
Niat Alex apa, niat Ney kemana. Tidak ada yang benar. Arnila menyadari ada yang tidak beres dari awal. Dia tahu maksud Alex namun Ney semakin memanas.
Dari situlah Alex berpendapat bahwa memang Ney sengaja menyetujui ajakan itu, mengira Alex mengusulkan untuk serang Rita.
Karena semakin kacau, Alex pun memilih pergi daripada menjelaskan. Yah, dia juga salah meninggalkan Arnila yang polosnya mengikuti Ney.
Ney tidak membalas, dia malu, kesal, menyesal. Apalagi dia menebak bahwa Alex mulai mempertanyakan kelakuannya hari-hari lalu.
"And if you are her best friend, it's impossible for her to just tell you about her family,"
( Dan bila kamu memang teman baiknya, mustahil dia hanya memberitahukan kamu mengenai keluarganya saja )," kata Alex.
"Maksud kamu apa?" Tanya Ney bingung.
"Did she ever tell you about the problems around her? About her friends for example?"
( Apa dia pernah memberitahukan masalah di sekitarnya? Mengenai teman-teman sebagai contohnya? )" Tanya Alex lagi.
Ney tidak membalas lagi, tentu saja Rita sama sekali tidak pernah menceritakan soal apapun lagi kepadanya.
Semenjak dia tidak pernah mau mendengarkan segala macam ceritanya.
Disinilah keanehan yang dirasakan oleh Alex terjadi. Mengaku sebagai sahabat atau bahkan teman dekat Rita tapi sebenarnya tidak tahu apapun mengenai Rita.
Yang Alex lihat orang tua Rita mulai terbuka kepadanya. Mereka mulai bisa bersikap menerima kekurangan Rita.
Ibunya mungkin masih kurang bisa membanggakan Rita tapi setidaknya sudah ada kebersamaan.
Bapaknya Rita sudah mulai membuka diskusi dengannya. Dan Rita bersyukur.
Jadi apa yang Ney ketahui soal itu adalah kisah masa lalu dimana Rita masih duduk di bangku sekolah.
Bersambung ...