MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
Rita & Kazen



Kazen takut Rita tidak nyaman bersamanya karena dirinya terlalu fokus pada pekerjaannya. Namun Rita hanya santai saja ada kalanya Kazen tidak ada kabar.


Pesta ini sudah tentu Kazen berharap menjadi sebuah momen, dimana awal bersama Rita.


"Siapa takut," balas Rita membuat Kazen lega.


"Oke tapi tetap ya kita menunggu perkembangan kaki kamu. Kalau ternyata belum sembuh dan masih istirahat, aku tidak akan pergi," kata Kazen.


"Ok ok," kata Rita tersenyum senang.


Hari demi hari kedekatan mereka semakin terlihat, sang ibu pun meminta maaf pada Rita soal perilakunya.


Katanya begitu agar Rita bisa mandiri tanpa bergantung pada siapapun, sebenarnya agak lebih menghindari konflik sih.


Rita mengerti karena ini sudah yang ke berapa puluhan kalinya, sang ibu berbuat begitu. Sudah berkali-kali sehingga tidak aneh juga.


"Tidak apa-apa sejak SMP pun memang Rita selalu sendiri. Butuh pendukung, ibu memilih Teteh, bapak ke Prita. Aku sudah mandiri sejak dini," kata Rita.


Ibu hanya diam.


"Rita butuh tempat curhat, ibu maupun bapak tidak peduli kan? Akhirnya ya hanya teman-teman Rita yang bisa," kata Rita lagi.


"Ibu kan kerja. Banyak urusan juga," kata ibunya.


"Ibu kerja tapi bisa meluangkan waktu untuk Prita tapi ke aku? Tidak ada. Bekerja jadi pegawai kafe pun ibu tidak peduli, Rita tepar karena pendarahan di hidung juga, kapan ibu peduli?" Tanya Rita.


"Karena pekerjaan ibu jadi harus memilih mana yang bisa ibu lepas, Rita. mohon mengerti," kata ibunya.


"Tapi tidak mengorbankan anak bu. Kalau alasannya hanya untuk mandiri, sebenarnya menurut Rita,


Ibu hanya menghindari tanggung jawab karena Rita paling banyak kecewa tidak sesuai harapan.


Ibu memilih Rita yang diasingkan. Padahal Rita masih butuh bimbingan. Apa gunanya punya orang tua lengkap? Rita hidup seperti yatim piatu," kata Rita kala itu.


Pernyataan itulah yang membuat ibunya kini berubah apalagi ternyata tidak semua orang meremehkan Rita.


Ibu juga berubah semenjak kasus Ney, yang selalu Rita bela dia ternyata menjadi pengkhianat pertemanan.


Ibu sadar banyak ketertinggalan pada keadaan Rita. Ibu melihat Rita selalu melakukan apapun sendiri, tidak pernah mempertanyakan pilihan.


Akhirnya hanya tahu saat Ney bertindak seenaknya. Sejak dulu ya, memang keluarga Rita tidak setuju dia kenal dekat dengan Ney.


Sekarang ya terbukti. Tapi Rita masih memiliki banyak sahabat, toh Ney memang bukan sahabat terbaik yang dimilikinya.


Rita sudah menyadarinya karena dulu dia sempat ingin memulung lah istilahnya laki-laki yang ditolak oleh Rita.


Akhirnya laki-laki itu menceritakan ke kurang ajarnya Ney pada mereka. Tidak sedikit yang memblok nomor Ney karena setiap hari kena teror.


Ada satu yang mengatakan pada Ney kalau fisik Rita lebih menarik ketimbang dia.


Rita hanya bengong membacanya, dia menjelaskan hanya itu caranya agar Ney berhenti mengganggu.


Padahal saat itu dia tengah berhubungan dengan kekasihnya yang lain entah siapa.


Alasannya mau berpindah hati karena laki-laki yang menyukai Rita, kebanyakan tipenya.


Sayangnya, mereka juga menolak dan terganggu. Soal fisik yah, memang jauh sih tapi Rita sama sekali tidak memandang Ney dari itu.


Sifatnya ya yang memang abnormal menurut Rita dan kebanyakan orang. Menyukai seseorang tanpa ada pemikiran soal perasaan orangnya sendiri.


Ada tiga kali setelahnya ya Rita meminta maaf dan berjanji tidak akan terlalu dekat dengannya.


Laki-laki saja begitu apalagi perempuan ya. Kalau selingkuh, jangan ditanya deh. Mantannya banyak sekali kebanyakan ya selingkuhan.


Kenapa Rita menjauh? Karena dia ada kesan mau merebut kecengan nya yang terakhir namun, tidak Rita ceritakan.


Yang terakhir itu Rita tolak karena ya memang tidak minat pacaran. Sayangnya laki-laki itu belum minat serius jadi ya sudah.


Berteman tapi bukan teman karena dia teman mainnya Asma. Untung tidak jadi sih, karena ternyata agak kurang laki-laki. Mengerti kan? Hehe...


Tapi memang ganteng, mirip orang Arab tapi ternyata Orang Cianjur. Dan Ney sempat melihat orangnya saat Rita jalan-jalan dengannya.


Kalau mengenal dan menyapa tidak karena Rita tidak mau lagi cerita. Hanya Ney memaksa dan mencari tahu. Sampai akhirnya Rita coba beri nomornya, karena laki-laki itu tertarik.


Kita sebut saja Taro, mereka berdua mengobrol tapi ternyata hanya sehari dan Taro memblok nomornya lagi.


Rita bertanya kenapa, dan Taro sangat marah sekali karena Ney mengatakan bahwa dirinya tidak cocok dengan Rita dan cocok dengan dia.


Ney mengatakan hal buruk pada Taro, yang Rita sama sekali tidak tahu seperti itu perilakunya. Taro memberikan bukti percakapan dan memang kurang ajar sih.


Rita pura-pura tidak tahu dan Ney mengatakan bahwa Taro menjelek-jelekkan Rita. Rita meminta bukti namun Ney beralasan, terhapus.


Rita katakan pada Ney kalau Taro sudah menyukainya sejak awal kuliah. Dan Rita tahu sebabnya, Ney terus mencerca. Berkhayal ya.


Rita kirimkan isi chat dia dengan Taro, tentulah Ney kaget sekali. Dia banyak alasan bahwa isi chat itu bohong.


Rita mengatakan, bahwa dia memang sudah tahu ada yang mencurigakan pada Ney karena semua laki-laki yang ditolak Rita, melaporkan kelancangan nya.


Ney diam tentu kaget mereka semua melaporkan balik ke Rita. Minta maaf? Tidak pernah ada karena dia orangnya tidak pernah mengaku salah.


Sejak itu juga hubungan mereka memang semakin renggang dan Rita tidak pernah lagi ada kontak. Ya soal teror sih memang begitu kerjaannya.


Dari semasa lulus SMP sampai kuliah, pekerjaannya meneror Rita dengan banyak nomor tapi selalu berujung ya ganti nomor.


Soal dia yang sekarang dengan suaminya pun, wallahu alam ya adem ayem. Dari pacaran begitu, diragukan menikah bisa sakinah.


Ya dari masalah asmara sampai pertemanan pun ibunya tidak peduli. Tidak heran sampai Rita kuliah dan bekerja, tidak ada campur tangan ibunya.


Alex pernah mengatakan pada Rita yang disebutnya sebagai Boneka. Boneka apanya? Orang tuanya saja tidak peduli, tidak ada yang mengatur hidupnya.


Mau makan sebanyak apapun, juga tidak peduli bahkan saat dirinya setengah pingsan karena pekerjaan.


"Dari semua pengalaman itu, Rita juga tidak pernah kan cerita soal apapun. Bahkan soal Alex, ada ibu bertanya? Tidak," kata Rita.


Ibu hanya terus diam mendengarkan keluhan Rita.


"Jangan cemas Bu, Rita bisa melakukan apapun sendirian tanpa perlu ibu mengarahkan. Kalau ada yang salah, ya harap maklum tidak ada yang mengajarkan atau membimbing," kata Rita.


Setelah itu ibu mulai terlihat ada perubahan, sedikitnya ya mau mendengarkan cerita Rita.


Soal Kazen yang mengajak dirinya kencan nanti pun, Rita ceritakan. Ibu cemas seporsinya karena tahu Rita tumbuh seorang diri.


Dengan bimbingan dari teman-teman dekat dan sahabatnya, menggantikan peran ibu dan ayahnya.


Keputusan apapun hanya Rita sendiri yang putuskan. Tapi Alex yang semprul itu bertindak seenaknya! Seakan dia paling tahu, saat mengetahui situasi keluarga Rita, diam juga dia.


"Mau ibu buatkan baju? Masih banyak bahan," kata ibunya.


"Ah tidak usah. Baju pesta yang kelompok keluarga juga ada yang belum dipakai," kata Rita.


"Yang bagus jangan sampai buat Kazen malu. Siapa tahu ketemu sama keluarganya juga," kata ibu.


"Iya katanya orang tuanya ingin bertemu juga. Yah pasrah saja deh kalau ujungnya tidak disukai," kata Rita.


Sejak Kazen hadir, setengah dunia Rita kembali ceria. Rita berharap Kazen benar-benar hanya di sampingnya.


Kazen tidak terlihat jijik saat melihat perban Rita memendek. Sedikitnya ada beberapa gores luka yang memerah.


"Aku suka kamu bukan karena fisik tapi sikap kamu yang membuat aku selalu tertawa," kata Kazen yang datang ke rumahnya.


"Ih, kamu," kata Rita tersipu malu.


"Kalau aku suka hanya fisik mungkin kamu kena musibah begini, aku tidak akan datang kan," kata Kazen senyum.


"Kamu suka aku pakai polesan atau tidak?" Tanya Rita.


"Begini saja kalau kamu pakai polesan, aku harus menahan kesal kalau ada yang mendatangi," kata Kazen.


"Gombal!" Kata Rita memukul bahunya.


"Hahaha oh iya, aku tahu siapa yang menyakiti kamu. Selain musuh kamu ya," kata Kazen memandangi wajah tanpa polesan Rita.


"Hah? Siapa?" Tanya Rita. Dia yakin tidak bercerita mengenai Alex.


"Alex Haryaka Alfarizki kan?" Tanya Kazen.


"EH!? KOK..." kata Rita kaget.


"Benar kan," kata Kazen mengangguk.


"Marah?" Tanya Rita.


"Aku marahnya sama dia, bukan kamu. Dan aku sangat ingin menghajar mereka berdua. Orang yang bermasalah sama kamu," kata Kazen menggenggam tangan Rita.


"Tidak usah. Mereka akan mendapat ganjarannya," kata Rita menunduk.


Kazen diam, tersenyum meski agak masih geram pada Alex dan Ney yang masih ya mengganggu.


"Jadi.. kamu kakaknya Alex?" Tanya Rita membuat Kazen kecut.


"Enak saja! Amit-amit deh jadi kakaknya dia," kata Kazen mengepalkan tangan ke langit.


"Jadi apa dong? Kok bisa tahu?" Tanya Rita heran.


Kazen berpikir harus bilang apa ya, kalau sebenarnya soal Alex dua belas keluarga lain juga sudah tahu.


"Hmmm sebut saja aku musuhnya," kata Kazen.


"Musuh? Dia memang banyak musuh kan. Jangan sentuh! Kamu pasti mendekati aku untuk membalas kan," kata Rita mencubit tangannya.


"Tenang tenang, aku mendekati kamu bukan ingin membalas. Awalnya aku marah sekali kamu direbut dia, tapi aku murni ya suka sama kamu sejak lama," kata Kazen menjelaskan.


"Jangan bohong kamu ya," kata Rita berdiri dan mulai memukul.


"OW OW OW!!" Kata Kazen yang harus menahan perih.


Semakin bar-bar Rita kini dan mulai menarik kepalanya. "Mengaku kamu! Mata-mata kan?! Mau apa!? Mau datang mengejek suruhan si Alex semprul!" Kata Rita menarik kerah Kazen.


"Bukaaan stop! Berhenti! Nanti penopang kaki kamu rusak, kalau kamu pukul kan ke aku!" kata Kazen menahan serangan bertubi-tubi.


"Rusak? Aku akan rusak wajah kamuuuu. Alex Kampret!! Berani-beraninya dia suruh kamu mematai akuuuu!!" Teriak Rita menjambak kepalanya.


"OWWWWWW!!!" Teriak Kazen menahan rambutnya. "Bukan! Ya Allah berhenti, kepalaku bisa botak!"


"Kamu tidak peduli kan? Makanya kamu mendekat dengan wajah polos begitu!" Kata Rita memukul badannya pakai mangkok.


"Aku peduliiiii AAAAAAA!!" Teriak Kazen kepalanya habis di pelintir.


Kalau ada Shin dan Seren pasti bukannya menolong hanya menertawakannya di hajar oleh Rita.


"Mau apa kesini? JAWAB!!! Kamu kira aku lemah kan? Aku hajar kamu sampai babak belur! Lapor sana pada tuan keparat kamu!" Teriak Rita tidak berhenti.


"Kaki kaki kakiiiii!!!" Teriak Kazen menunjuk ke kaki kanan Rita tanpa penopang.


"KURANG AJAAAAAARRRRR!!!" Teriak Rita.


Bersambung ...