
Semua anggota menertawakannya, bukan hanya pada Rita tapi hampir semua orang Ney memang menyumpahi seperti itu.
"Karena sampai satu tahun kan dia membuktikan, ternyata tidak ada kabar atau bahkan semua orang ya biasa saja. Sampai akhirnya dia sendiri yang heboh, kirim sana sini," kata Arfa.
"Dia kan memaksa minta alamat Rita tahun lalu. Rita nya sendiri memang malas," kata Safa.
"Dia itu mengoleksi alamat semua orang yang tidak suka sama dia dengan yang pernah dia sakiti. Intinya mau memperbaiki hubungan, menunjukkan pada orang kalau dia punya BANYAK teman," kata Sana.
"Sana nih parah! Kamu mendekati dia karena pembalasan dahulu ya?" Tebak Anita.
"Dia ingin dikenal sebagai orang yang baik tapi karakternya itu yang akan sulit. Kadang otaknya waras, kadang kurang sedikit waras nya. Sedangkan kita juga punya pilihan kan," jelas Mira.
"Kata aku dia cukup mendekatkan dirinya sama orang yang memang sudah menerima dia. Bukan mencoba yang lain, Rita juga agak melenceng tapi sekarang sudah kembali ke jalurnya," kata Arfa.
"Memang jodoh Rita itu dengan orang-orang kaya?" Tanya Safa.
"Aku tidak tahu kalaupun benar misalkan, itu memang kehendak Tuhannya. Mau orang kaya, atau yang sederhana ya itu semua baik untuk dia," kata Arfa.
"Intinya jalan takdir Rita mulai berjalan kan ke arah yang seharusnya. Kalau dia sukses aku yakin Ney akan lebih gencar mendekatinya," kata Sana.
"Iya untuk pansos dan pamor dia ke kita. Tapi tidak akan bisa sih," kata Arfa yang mencoba meramal.
"Kenapa?" Tanya semuanya.
"Takdir Rita mulai berjalan, bersamaan dengan Karma yang akan Ney terima. Dia mau gencar mepet Rita, banyak orang BANYAK yang menghalangi. Sulit bagi dia untuk menerobos," kata Arfa.
"Wah," kata Sana.
"Tidak ada jalan untuk kembali. Rita juga sudah menghilangkan pintu ke dia jadi kalau Ney berulah, bukan dia yang bertindak. Ada banyak orang yang mendahului, dia hanya tahu ya sudah selesai," kata Arfa.
"Stop stop urusan Ney atau Rita bukan urusan grup ini. Kita disini bicarakan yang seperti biasa," kata Mira.
"Siap Bos!" Ucap semuanya.
Benar saja Ney terus menerus koar-koar di grup awal dan terus memancing orang-orang untuk memperhatikannya.
Soal Alex akan di lupakan sementara waktu. Dan cerita berpusat pada Rita kembali.
Besok paginya tiba, dengan rencana Rita soal pemulangan tugas dan buku sekolah.
Diana dan Komariah saling bertemu di gang menuju sekolah. Rita akhirnya bertemu mereka berdua dan menuju tempat dimana Rita bekerja.
CCTV menyorot kedatangannya, sekolah sudah ramai dengan anak-anak yang berlarian. Mereka menyambut ketiganya dengan senang dan banyak cerita.
Asma yang juga sudah datang nampak kaget namun sumringah menatap Diana. Komariah menyikut Rita dan Diana memberi kode.
"Kita ke atas ya," kata Diana mengajak Komariah.
"Hai, Di.." kata Asma tidak dipedulikan mereka berdua.
Rita membuka sepatu dan dilepas begitu saja di lantai dan memasuki kantor.
"Mereka berdua kenapa sih, Ri? Kamu bukannya sudah di pecat kok datang lagi?" Tanya Asma namun Rita pun tidak ingin menjawabnya.
Bu Dewi sedang duduk di meja kepala sekolah dan kaget Rita masuk.
"Assalamualaikum," sapa Rita sambil menaruh kantong besar.
"Walaikumsalam. Lho? Kamu! Kenapa datang kan saya sudah pe..." kata Bu Dewi.
Rita agak menghempaskan kantung besar berisi banyak buku sekolah. "Saya datang mau mengembalikan buku ini semua," dengan nada datar.
Bu Dewi menghampiri Rita dan membuka semuanya dengan gaya sombong. Namun tidak sesuai dugaan.
"Kok? Lho lho? Kenapa masih kosong? Kenapa kamu tidak kerjakan?" Tanya Bu Dewi kebingungan campur marah.
"Untuk apa? Kan saya sudah dipecat, suruh saja staf baru yang bilang saya paksa dia kerja disini," kata Rita melirik ke arah Asma yang terdiam.
"Tapi kan Bu Rita saya masih baru," kata Asma dengan pelan pandangannya tidak lepas dari kumpulan buku besar.
"Ya itu resiko Anda. Saya sudah tidak ada urusan lagi dengan sekolah ini. Gaji saya bulan ini pasti tidak akan ibu bayarkan," kata Rita memandang tajam.
Bu Dewi hanya diam dia melipat bibir bawahnya melihat banyaaak sekali buku yang masih kosong.
"Jadi harus aku yang kerjakan?" Tanya Asma bengong.
"Ehem! Mulai sekarang ini semua pekerjaan kamu dan dua staf lain," kata Bu Dewi memberikan buku itu padanya.
"Ini semua?" Tanya Asma lagi.
"Masih banyak kok sini aku perkenalkan," kata Rita dengan nada dingin.
Bu Dewi terlihat menepuk kepalanya semuanya masih kosong, apalagi rapot yang masih sepi dari huruf penilaian anak tahun lalu.
Dua staf yang masih ada, hanya menundukkan wajah mereka malu dan Rita tidak peduli.
Rita menunjukkan penyimpanan buku, tabungan anak, pembayaran SPP, serta administrasi lainnya.
Asma kaget bukan main, semua itu Rita keluarkan agar Asma bisa melihat seperti apa pekerjaan dia selama ini.
"Aku bisa! I-ini mudah," kata Asma dengan yakin.
"Ya bagus tunjukkan semangat kamu saat mengatakan aku harus di pecat dengan janji kamu kepada Bu Dewi," kata Rita dengan nada kesal.
"Maksud aku bukan begitu," kata Asma.
Asma diam. "Jangan marah, kan rezeki kamu juga sudah banyak jadi giliran aku,"
"Senang ya aku tawari kamu kerja eeh kamu fitnah aku plus menyarankan aku dipecat. Sarap memang," kata Rita tidak mau dengar lagi.
"Rita, aku dapat pesan aneh. Aku yakin itu dari..." kata Asma mencoba mengungkit yang kemarin.
"Itu bukan Komariah, aku sudah selidiki," kata Rita tanpa menolah ke arah Asma dan menunggu mereka berdua.
"Lalu siapa?" Tanya Asma kaget.
"Entahlah mungkin seseorang yang benci dengan perbuatan kamu," kata Rita asal.
Sempat terpikirkan juga siapa ya?
Diana dan Komariah turun dari lantai dua, Asma menyambut mereka tapi tidak dihiraukan sama sekali.
"Sudah?" Tanya Diana.
"Tuh," kata Rita menunjuk ke dalam kantor.
"Eh, Diana. Sekarang kita bisa mengajar satu sekolah seperti waktu kuliah," kata Asma senang.
Diana menatap Asma dengan jutek begitu juga Koma, mereka berdua melewatinya begitu saja.
"Yuk Diana," kata Rita yang sudah memakai sepatunya.
"Kalian bukannya ada jadwal mengajar hari ini?" Tanya Asma yang sudah melihat jadwal di kelas.
"Kami berdua kan masih dalam percobaan dan kami memutuskan untuk mengundurkan diri," kata Diana.
Asma kaget, "Kok begitu sih aku kan masuk ke sini untuk..." katanya menahan mulutnya.
"Untuk mengeluarkan aku, menggantikan posisi aku jadi kamu bisa dekat Diana," kata Rita melanjutkan.
"Aku kecewa sama kamu, Asma Aku kira kamu sudah kapok dan jujur. Apalagi jilbab kamu lebih panjang dari kami bertiga, aku kira kamu bisa lebih alim ternyata sama saja," Kata Koma.
"Jangan ukur karakter orang dari seberapa panjang jilbabnya. Karena banyak yang hijaber, akhlaknya minus. Salah satunya dia. Yuk," ajak Rita.
Mereka bertiga pergi meninggalkan Asma yang panik, dia tidak berpikir kalau Diana ternyata masih dalam masa percobaan.
"Harusnya aku tanyakan lebih detil lagi soal mereka," kata Asma yang ingin menangis.
Bu Dewi menatap surat pengunduran diri Diana dan Komariah, dia senang. Berdiri dan keluar ruangan melihat Asma yang nampak tidak semangat.
"Bu Asma, sekarang mengajar ya di kelas C. Anak-anak ada yang disatukan, selesainya kamu urus bagian administrasi," kata Bu Dewi berlalu.
"Iya Bu," kata Asma menghela nafas.
Guru lantai atas panik karena kelas mereka disatukan dengan anak kelas yang berbeda.
Bu Dewi tersenyum dari luar kelas, beberapa guru memang sengaja dikeluarkan untuk menghemat pengeluaran.
Kepala sekolah mudah untuk ditipu oleh adiknya, Bu Dewi senang beberapa gaji guru dan staf masuk ke dalam dompetnya.
Selama beberapa bulan tidak ada kabar dari Asma mereka berdua agak penasaran dan tertawa.
"Bagaimana kabarnya Asma ya?" Tanya Rita yang berjanjian diskusi dengan keduanya.
"Memangnya dia pikir bekerja di sekolah itu sama dengan sekolahnya?" Tanya Diana mengeluarkan keripik pedas.
"Bekerja di sana sampai aku tidak sempat merawat diri," kata Rita mengeluarkan yoghurt.
"Asyik! Terima kasih," kata Diana mendapatkan minuman juga.
"Koma mau ikut?" Tanya Rita.
"Belum ada jawaban. Separah itukah Ri bekerja disana meski gajinya besar?" Tanya Diana.
"Iya. Setara dengan gajinya tapi banyak dapat bonus hehe," kata Rita senang.
"Hari pertama masa percobaan kita berdua kaget sih melihat tiga lembar kegiatan yang harus dilakukan," kata Diana.
"Untuk hari itu kan," kata Rita.
Diana mengangguk.
"Tapi guru itu lebih enak sih, kalian tinggal cuap-cuap. Aku dan yang lainnya harus memikirkan rencana," kata Rita.
"Bagaimana dengan kelima staf itu?" Tanya Diana.
"Ah! Mereka payah. Kalau aku menyarankan diskusi, alasannya banyak. Sakit, ada keperluan, mau ketemu kekasih padahal tidak ada," kata Rita membuat Diana tertawa.
"Dengan dipecatnya mereka semoga tersadarkan ya," kata Diana.
"Bertiga kan sekarang. Dengan Asma, huh! Aku kesal sekali!" Kata Rita mengepalkan tangannya.
Rita memperlihatkan chat di grup sekolah TK Seribu. Diana kaget karena nama-nama guru yang dikeluarkan bertambah.
"Gila! Adiknya bu kepala sekolah mau apa sih?" Tanya Diana tidak percaya.
"Bayangkan sisa guru 6 mereka memegang masing-masing dua kelas pagi dan siang," kata Rita menggelengkan kepalanya.
Bersambung ...