MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
89



Seren kemudian minum dan kaget, rasa teh dan aromanya dia kenal.


"Wow! Teh ini kamu suka?" Tanya Seren mendadak bicara.


"Suka karena harum sih. Tapi kalau mau yang lain juga ada," kata Rita hendak berdiri.


Kazen membantu dan memegang tangan Rita, terasa gemetaran. "Jangan banyak bergerak,"


"Tidak apa-apa sudah bisa berjalan kok," kata Rita tapi Kazen tidak mau melihatnya.


Tangan Kazen besar dan hangat membuat Rita juga gugup. Shin dan Seren saling menahan tawa.


"Rita jangan banyak gerak deh biar Prita saja yang ambilkan," kata Diana yang mengambil teko.


Prita menuju dapur dan mengeluarkan teh lainnya. Komariah mengambil cemilan yang ada dalam kamar Rita.


Komariah menganga sangat banyak sekali cemilan dari tradisional sampai modern. Diana datang mereka bingung mana yang harus disuguhkan.


"Semoga mereka tidak keberatan dengan makanan ini," kata Koma.


Mereka datang ke ruang tamu dan menaruh makanannya. Seren nampak penasaran dan antusias.


"Silakan," kata Diana dan Koma lalu duduk kembali.


"Maaf ya merepotkan kalian kalau kakiku tidak sakit, pasti aku yang siapkan," kata Rita tidak enak.


"Jangan dipikirkan, kita membantu kan," kata Diana.


Lalu Prita datang dengan sembilan macam teh dengan aroma bunga yang membuat Seren senang sekali.


Seren menyambut dengan riang, ternyata Rita bukan sekedar perempuan kampung. Bahkan minuman teh yang menurutnya agak mahal pun, dia ada.


"Ada bunga talang juga," kata Diana tertarik.


Kazen takjub, Rita tertawa menatapnya. Dia penasaran dengan aneka teh dari film Korea atau barat.


"Kalau ada yang mau ganti atau mencoba, silakan," kata Rita.


"Maaf ya kuenya tradisional mungkin akan kurang cocok di lidah kalian," kata Prita.


"Iya," kata Rita agak malu.


Seren tertarik membuka makana yang berbungkus emas dan warna-warni. Tentu dengan sikap sopan, dia meminta ijin.


"Kalau lapar bilang saja," kata Shin melihat kekasihnya antusias.


"Ehem! Aku mau mencoba ini boleh?" Tanya Seren.


"Boleh boleh, silakan ambil saja yang mau dicoba," kata Diana.


Seren ambil satu dan dia buka lalu memakannya. Tampaknya senang lalu mencoba yang lain, dia penasaran berbagai macam bentuk dicoba.


"Enak," kata Seren dengan riang.


"Harap maklum ya, Seren ini sejak lahir hanya kenal makanan mahal. Jadi melihat makanan murah begini, pasti... banyak yang dimakan," kata Kazen senyum penuh makna.


Pinggangnya pun kena sikut Seren, dan mereka semua tertawa. Prita mengambil kursi dan menyebutkan nama-nama kue.


Seren paling suka roti yang berbentuk donat berwarna kecoklatan yang disebut ali agrem.


"Apa namanya? Aku kira donat ternyata bukan," kata Seren memandangi.


"Namanya ali agrem. Bahannya dari tepung beras dicampur dengan gula merah lalu digoreng," kata Rita.


"Enaaaak. Manis, aku suka," kata Seren yang habis satu pak.


Tidak ingin kalah, Kazen mencoba juga meski ragu-ragu. Dia juga suka semua makanan itu. Mereka makan bersama sambil mengobrol.


Rita agak malu sebenarnya karena penampilan kakinya. Dilihat oleh Kazen yang ganteng maksimal, Kazen memandangi wajahnya membuat mereka berdua malu.


Tapi Kazen tidak keberatan, dia tahu dan ingin terus bisa datang.


Beberapa jam kemudian ibu datang, suasana berubah agak tegang. Mereka bertiga heran.


"Oh ada tamu. Temannya Prita?" Tanya ibu tersenyum pada mereka.


"Teman aku, kan ada Diana dan Komariah," kata Rita berbalik.


Ibunya tidak menanggapi dan langsung masuk kamarnya. Rita memandangi mereka dan senyum.


"Ibu sepertinya lelah ya," kata Diana mengalihkan perhatian.


"Ya jadi kepala sekolah kan melelahkan," kata Rita.


"Ayo dimakan lagi," kata Prita.


Seren memandangi Rita dan agak keberatan dengan reaksi ibunya.


"Seren ini baru pulang dari Belanda, ke Indonesia menemui Shin dan akhirnya makan seperti pig," kata Kazen.


"Awas ya kamu," kata Seren membiarkan Kazen bicara.


"Jangan makan terus nanti habis. Yang lain tidak kebagian," kata Shin membuat Seren sebal dan berhenti.


"Tidak apa-apa masih banyak kok bisa dibawa pulang juga," kata Rita membuat kedua laki-laki tersebut menolak.


"Boleeeh," kata Seren dengan mata berbinar-binar.


Merek mengomel mengatakan kalau tubuh gemuk Seren sudah kembali normal, sia-sia usahanya kalau mulai banyak mengemil.


Ibu kemudian keluar lagi, bajunya sudan berganti. "Kamu kok bisa menyuguhkan mereka makan minuman. Benar kaki kamu sakit, jangan-jangan hanya bohongan," kata ibunya.


"Diana dan Komariah membantu, Prita juga," kata Rita dengan suara menahan kesal.


"Ooh ibu kira kamu pura-pura sakit supaya banyak yang beri makanan dan simpati," kata ibu menuju dapur.


"Ibu kamu? Kok begitu sih responnya kamu sedang sakit?" Tanya Seren merasa aneh.


"Hehehe maklum karena lelah," kata Rita.


"Ya tapi kan tidak seharusnya mengatakan kamu bohong sakit," kata Seren.


"Sudahlah orang kalau lelah memang bisa berubah menjadi macan. Kamu tahu kan ada orang seperti itu," kata Shin memberi kode.


Kazen yang sedang makan banyak, tidak mendengar. Sibuk mengunyah setiap makanan.


"Ada polar bear sibuk mengunyah," kata mereka berdua menahan tawa.


"Untung kamu cepat pulang," kata Rita berbisik.


"Ya kan memang ini yang kita takutkan," kata Prita lalu minta ijin pergi.


Prita menuju dapur dimana ibunya menyiapkan bahan masakan.


"Kamu kenapa sih mau membantu kakak kamu segala? Ibu yakin sebenarnya kaki sakitnya itu hanya rencana dia!" Kata ibunya.


Itu terdengar ke ruang tamu dan Rita menatap sahabatnya. Komariah mengeraskan suaranya apa ada yang mau menambahkan air panas?


Mereka menimpali dan berusaha tidak mendengarkan obrolan ibu dan Prita. Rita tampak ingin menangis saat itu juga dan Kazen menatapnya.


"Wah! Ini enak," kata Kazen dengan suara agak keras.


Mereka bertiga bertengkar Kazen menghabiskan sebagian makanan dengan rakus. Seren menyebutnya sebagai hewan pemakan segala.


"Bu, tidak boleh begitu! Ibu ini kenapa sih? Seperti membenci anak sendiri. Malam kan kita bertiga ke Rumah Sakit, ibu juga lihat kaki Rita di gips," kata Prita.


Seren lalu ijin keluar dia ingin melihat halaman lalu Kazen juga sama karena tahu Rita ingin mereka tidak mendengar apapun.


Setelah itu keadaan kembali tenang, ibunya memutuskan masuk kamar dan rebahan, Prita pergi keluar entah kemana.


Saat melihat Kazen tengah pergi keluar, Rita menceritakan mengenai Hampers dan Hokben yang dia curigai kiriman dari Ney.


"Ya Allah, ada apa sih dengan itu orang? Ihh masih saja mengganggu kamu buat apa kirim soal Hokben?" Tanya Komariah greget.


"Parah! Tidak punya rasa malu sama sekali. Mau damai ya jangan ganggu lagi dong. Tidak mengerti sepertinya," kata Diana.


"Orangnya kan memang rese kirim-kirim supaya di bilang baik kali," kata Rita.


"Terus kamu apakan hampers dan Hokbennya itu?" Tanya Koma.


Tentu saja Kazen dan Shin mendengarkan obrolan itu, Seren memfoto dirinya sendiri dengan banyak gaya.


"Tidak kamu makan kan?" Tanya Diana ketawa.


"Hiiii amit-amit. Kalau hampers aku berikan ke kuli bangunan, kalau Hokben ya aku tolak dong," kata Rita.


"Sayang kan sudah dibayar, berikan saja ke kucing yang butuh makanan kan berpahala," kata Diana memberikan saran.


"Wahahaha," mereka semua tertawa.


Prita datang habis membeli cilok, dia bagikan sebagian ke tamu di luar. Bertiga kegirangan dan memakannya.


Seren dan Kazen tentu saling mengejek, Rita tertawa keras mendengarnya.


"Kalian obrolin apa sih? Seru sekali," kata Prita.


"Tuh, haters kirim paketan lagi pakai nama Rita. Alamat tempat lain heran ya senang banget bikin dosa," kata Diana.


"Ya ampun, yah memang orangnya agak kurang waras sih teh. Coba dari dulu dijauhi itu anak," kata Prita.


"Sepertinya dia belum tahu ya kalau Rita sudah putus dengan Alex," kata Diana.


"Bisa jadi sudah tahu tapi tidak percaya. Dulu aku dan Alex bilangnya kompak kalau tidak ada hubungan akhirnya dia tahu. Sekarang pasti dia mengira kita cuma bohongan," kata Rita.


"Terus mau bagaimana dong?" Tanya Koma.


"Biarkan saja, biar otaknya masih di tempat itu sedangkan kita sudah menuju Bulan. Saat dia sadar nanti, sudah terlambat," kata Rita.


"Alex kelihatannya hanya mempermainkan kamu deh," kata Diana.


"Ya aku juga merasakan hal yang sama, Na. Jadi itulah kenapa aku memutuskan untuk bubar gerak jalan," kata Rita.


"Oh, jadi kamu sudah merasa?" Tanya Koma.


"Ya udah lama sih. Makanya aku tolak serius juga kan," kata Rita.


"Sebenarnya Kazen itu sudah lama memperhatikan kamu, yah hanya terlalu mengulur waktu akhirnya malah Alex yang dekat. Kasih kesempatan ya sama dia, orangnya baik sekali," kata Diana.


"Baik karena dia beri banyak bingkisan ya?" Tanya Rita curiga.


"Ya itu juga tapi dia tulus lho kelihatan jelas. Kalau mesum sedikit namanya juga laki-laki, pacar aku saja begitu," kata Diana.


"Singkatnya, kalau Alex benar serius sama kamu, dia pasti datang bukan banyak alasan. Dia sakit ini, sakit itu intinya saja. Serius atau pergi, begitu kan," kata Koma.


Rita mengangguk. "Hanya aku masih agak trauma sih. Mungkin perlu waktu untuk lebih bisa menerima Kazen," kata Rita.


"Kazen akan bersabar menunggu sampai bisa kamu terima. Semoga saja kali ini bisa sampai berumah tangga," kata Koma semangat.


Bersambung ...