
"Kamu sudah sholat?" Tanya Kazen melepaskan kacamatanya.
"Lagi berhalangan," kata Rita yang sedang seru memainkan RPG.
"Aku keluar dulu ya ke mushola. Kamu disini tunggu kalau ada yang berani usir, gigit saja," kata Kazen membuat Rita tertawa.
"Hahaha siap!" Kata Rita.
Karyawan terkejut entah apa yang dikatakan oleh bosnya tapi membuat kekasihnya itu tertawa, meski wajah Kazen masih tetap datar.
"Hei, itu pacarnya? Serius?"
"Aku kan bekerja disini karena bosnya ganteng. Kalau dia sudah punya kekasih, apalah gunanya,"
"Ah tidak diduga tipe bos rendahan masa dia pilih perempuan seperti itu?"
Karyawan perempuan memang berada dalam kantor Kazen untuk menyerahkan hasil kerja mereka.
Karena tamam utama lumayan dekat dengan kantor, otomatis pemandangan tadi pasti terlihat jelas.
Kazen masuk hendak mengambil sajadah dan melihat ada dua belas karyawan, dia menatap mereka dengan pandangan kejam.
"KALAU ADA YANG MAU KELUAR SAYA TUNGGU SURAT PENGUNDURAN KALIAN SORE INI!" Teriaknya bergema membuat mereka semua sangat kaget.
"Ma-maaf Pak. Kami hanya ingin menyerahkan ini dan tidak sengaja," kata A menyimpan laporan.
"DAN BILA ADA YANG MAU MEMBULLYNYA SEBAIKNYA KALIAN PIKIRKAN HIDUP KALIAN BESOK!!" Teriak Kazen membuat sebagian memilih menyimpan laporan dan keluar.
"Saya pikir Bapak kurang pantas dengan perempuan itu," kata salah satu karyawan yang dianggap paling berani.
"Lalu kamu pikir kamu pantas dengan saya heh!? PEREMPUAN MALAS SEPERTI KAMU MANA MINAT SAYA LIRIK! KELUAR DARI KANTOR SAYA!!" Kata Kazen.
Perempuan yang berani itu hanya bisa tertunduk saat temannya menyeret dia untuk keluar. Temannya memarahi untuk apa dia berani berkata begitu.
Kejadian tersebut sudah menjadi makanan sehari-hari pegawainya. Kazen kemudian kembali mengambil sajadah dan beranjak ke ruang sebelahnya.
Ternyata dibuat ruang sholat oleh Ayahnya dahulu, lengkap dengan sarung, kopeah serta beberapa Al Qur'an di dalamnya.
Beberapa menit suasana yang sejuk dan adem membuat Rita enggan beranjak.
Tidak ada satupun pegawai yang mengganggunya hanya ada dua petugas kebersihan yang memandanginya dengan tatapan sinis.
Kazen datang sambil membawakan beberapa minuman yoghurt yang Rita sukai. Ini bukan promosi.
"Nih," kata Kazen yang duduk di depannya.
"Wah! Terima kasih," kata Rita menyambut dan mengambil rasa stroberi.
"Maaf ya terlambat," kata Kazen yang senang melihat Rita meminum ya.
"Soal apa?" Tanya Rita rasa pusing dan mual langsung hilang.
"Kamu lagi halangan, aku malah sibuk kerja," kata Kazen.
"Hahaha aku kira apa. Tidak apa-apa kok santai sajaa. Kamu tidak minum?" Tanya Rita.
Kazen lalu membuka botol yoghurt itu dan minum agak geli membuat Rita keheranan. Kazen memilih rasa anggur, dan lumayan dia menyukainya. Karena cintaaaa...
Dari jauh Seren mendatangi kantor Kazen yang dimana sebelahnya adalah tempat kerja Shin. Mereka berjalan dan memandangi Kazen serta Rita.
"Kita jangan ganggu mereka," kata Seren.
"Tumben dia minum yoghurt. Dulu masih ingat? Kamu membuat yoghurt buah yang enak, dia malah muntah," kata Shin.
Seren tersenyum sebenarnya itu juga salah satu tanda bentuk penolakan Kazen pada dirinya. "Cinta bisa merubah segalanya,"
"Benar juga ya seperti kita," kata Shin menggoda.
"Tidak ada yang tahu mengenai takdir tapi aku berharap Kazen bisa terus seperti ini. Yuk makan siang," kata Seren menggaet tangan Shin.
Di tempat lain, Ney meninggi di BIP sejak pukul delapan padahal sudah dia lihat bahwa nomornya di blacklist.
Tapi Ney lebih mempercayakan firasatnya mana mungkin Rita benar-benar tidak mempedulikannya lagi. Dia tahu kalau Rita sama sekali tidak bisa tahan bertindak acuh padanya.
Pukul sembilan sudah lewat, namun Ney masih menunggu sambil memeriksa ponselnya.
"Uh! Kemana sih dia. Aku kan sudah bilang bertemu di BIP," kata Ney mengomel terus.
Di telepon, yah sudah tentu mana ada sambungan, dia ubah ke nomor lain pun ternyata sudah tak bisa dihubungi. Kazen memasang sistem pemblokiran otomatis pada ponsel Rita.
Kemudian dia berpikir akan mendatangi Rita di tempatnya bekerja dengan menggunakan ojek. Rencananya dia akan menyeret Rita untuk diajak main bersama.
Sesampainya, Ney langsung menuju sekolahnya dengan penuh kekesalan dia akan meneriaki Rita yang tidak menepati janji. Berbagai cara agar bisa membuat malu, tentu rencananya akan mulus.
Ternyata sekolah saat itu sedang kosong, Ney pun kebingungan. Untunglah ada salah satu petugas kebersihan.
"Ada apa Bu?" Tanya petugas itu.
"Sekolahnya kok kosong?" Tanya Ney kaget.
"Sekolah masih di liburkan, anak-anak sekolah biasa senin. Ada keperluan apa ya? Mau daftar mungkin?" Tanya petugas.
Ney mendengus mendengarnya mana mau dia daftarkan anaknya sekolah di tempat kecil begini.
"Saya cari Bu Rita," kata Ney.
"Ah! Bu Rita kan staf sama semuanya diberi libur. Masuk kerja senin depan," kata petugas kemudian membuka kantor.
Ney sama sekali tidak tahu berita soal itu dia pun tidak punya kenalan dari tempat tersebut.
Ney tiba-tiba dapat gagasan, dia bisa bertemu Kazen dan berbicara empat mata soal Rita. Ney langsung tersenyum lebar dan menuju tempat dimana Kazen berada.
Pikirnya keberuntungan ada di pihaknya kali ini, dia akan menyerang Rita sampai bersujud untuk berhenti. Ney kesana menggunakan ojek yang tadi, soal biaya tidak masalah baginya.
Sampainya, dia agak kaget ternyata kantor Kazen terbilang cukup dekat dengan sekolah dimana Rita bekerja.
Dan dari sudut atas itu jelas terlihat lapangan kelas ke kelas lain, ya Kazen memang sering mengawasi Rita.
"Gila. Ternyata dia mengawasi Rita juga," kata Ney kemudian memasuki gerbang tinggi menuju kantor pemasaran.
Bu Permita keluar karena dia bagian penyambutan tamu. Setelah dimarahi, dia lebih ramah dari sebelumnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bu Permita menatap Ney.
"Iya, saya mau bertemu dengan Pak Kazen. Apa ada?" Tanya Ney.
Perempuan itu tidak tahu siapa lagi yang datang hari ini. Tapi setahunya hanya kekasihnya dan seorang pemilik dari sebagian bangunan.
"Ada. Tapi beliau sedang ada tamu," kata Bu Permita.
"Siapa ya kalau boleh tahu?" Tanya Ney penasaran. Niatnya yah sudah gagal.
"Anda ini siapanya Pak Kazen ya? Karena yang bisa menemuinya hanya klien," kata Bu Permita.
"Saya kenalannya Pak Kazen. Tamunya siapa ya? Lama tidak?" Tanya Ney masih kepo.
Bu Permita memandangi Ney dengan agak sebal, memaksa sekali harus tahu. "Kekasihnya baru saja datang,"
Ney menganga. Rita? Net sekarang paham kenapa dia tidak datang. "Oh jadi dia lebih memilih kesini daripada ketemu aku. Aku teman pacarnya Mbak bisa tolong panggilkan orangnya?"
"Lho, tadi katanya mengaku sebagai kenalannya Pak Kazen. Sekarang mengaku teman pacarnya, apa Anda sebegitunya ingin dianggap penting?" Tanya Bu Permita membuat Ney agak salah tingkah.
"Bukan begitu Mbak, saya kenal Pak Kazen dari teman saya, Rita. Saya ada janji hari ini tapi dia tidak datang ternyata lebih memilih menemui pacarnya daripada sahabat," kata Ney sambil memainkan kukunya.
"Memang benar ada kekasihnya tapi beliau sedang sibuk bekerja juga. Saya tidak bisa memberitahukannya bahwa ada kenalan nya yang lain.
Beliau tidak ada pesan apapun soal kedatangan Anda," kata Bu Permita.
Ney mendengus, susaaah sekali sih bertemu mereka berdua! Dengan wajah marah memandangi Bu Permita yang memang... menyebalkan!
"Ya beritahukan saja dulu, apa susahnya sih? Rita itu teman saya! Saya ada janji dengan Rita makanya saya kemari," kata Ney mengubah pernyataannya.
Saat Bu Permita mau menjawab, seorang wanita datang dengan anggun dan berkelas.
"Ada apa ribut-ribut?" Tanya wanita tersebut.
"Oh! Ny. Darma maaf membuat Anda terganggu," kata Bu Permita menundukkan badannya.
Ney melihatnya menjaga sikap karena semua pegawai di sana menundukkan badan. Tampaknya orang yang memiliki kedudukan paling tinggi.
"Siapa gadis ini? Ada keperluan apa dengan Pak Kazen?" Tanya Ny. Darma menatap Ney dengan tajam.
Ney kaget bahwa wanita itu adalah ibunya Kazen. Tentu dia mengembangkan lagi senyumnya, niatnya yang gagal toh akan tergantikan dengan kedatangan ibunya.
"Saya sahabatnya Rita. Saya dan Rita janji akan bertemu di BIP tapi ternyata Rita malah datang ke sini," kata Ney dengan sopan.
"Sahabat? Rita tidak ada cerita ya soal kamu. Yang saya tahu sahabatnya itu satu sekolah kerjanya dengan dia," kata Ny. Darma membuat Ney terdiam.
"Bagaimana, Nyonya? Saya ragu dia memang temannya," bisik Bu Permita.
"Saya sahabatnya yang lain. Rita punya banyak sahabat," kata Ney ada rasa kecewa, marah dan tentu tidak senang mengetahui bahwa dirinya memang tidak ada kisah dimanapun.
"Oh. Kamu ikut saya," kata Ny. Darma memberikan kode pada Bu Permita.
"Tapi saya mau bertemu Rita, Tante," kata Ney.
Namun ibunya Kazen tidak menjawab apapun dan berjalan menuju kantornya. Bu Permita mempersilahkan Ney untuk mengikutinya.
Dalam hati dia sangat beruntung tidak bisa bertemu Kazen, ibunya sebagai tempat tertinggi menghampirinya.
"Hahaha aku sangat beruntung! Tidak bisa bertemu Kazen eh malah bertemu ibunya. Lihat saja Rita kali ini kamu pasti akan menangis, aku akan buat ibunya memihak aku," isi pikiran Ney.
Ney semakin menganga melihat pintu kantor itu begitu mewah dan tinggi, mirip pintu istana dan ada satu kantor lagi yang sama namun berbeda interiornya.
"Duduk," kata Ny. Darma saat memasuki kantornya.
Ney masuk dan lebih terkejut lagi, isi kantor itu seperti toko perhiasan dan terdapat lampu-lampu yang mewah.
Ney duduk di sofa bulu yang lembut dan nyaman. Ah dia sangat menyukai semua perabotan di dalamnya.
Ny. Darma duduk di kursi yang tengah. Kursi bergaya bangsawan memang sangat berbeda kesannya. Ney tahu kekayaan Darma lebih besar dari keluar Alex.
"Bagaimana kamu bisa kenal dengan anak saya?" Tanya Ny. Darma dengan kesan sopan.
Pelayan menyediakan minuman dari lubang yang cukup kecil di sela-sela dinding dan menyimpan beserta kue.
"Rita yang mengenalkannya ke saya. Saya senang akhirnya Rita bisa melupakan Laki-laki sebelumnya," kata Ney senyum ramah.
"Saya tidak menanyakan soal itu kan kamu cukup menjawab yang saya tanyakan. Tidak perlu menjelaskan di cerita di luarnya," kata Ny. Darma membuat Ney gugup.
"I-iya, Tante," jawab Ney.
Ny. Darma menatapnya dengan tajam, sebenarnya masalahnya pada pemanggilan. Ney memanggilnya tante seolah-olah seperti akan dekat, seharusnya Ibu atau Nyonya juga.
"Kamu kenal kekasihnya dari mana?" Tanya Ny. Darma sesuai tebakan Ney.
"Kami satu sekolah, Tante saat di SMP," kata Ney lagi.
"Nona, jangan menyebutnya Tante tapi Ibu atau Nyonya. Karena beliau belum menjadi akrab dengan Anda," kata pelayan itu membuat Ney panik.
"Maaf saya lupa. Kesan Anda mirip dengan tante saya," jelas Ney merasa sudah sangat salah.
Wanita itu menahan tawa mendengar pelayan setianya langsung mengomentari. Ney menangkap sekilas pandangan ibunya Kazen, dia melihat ada rasa ketidaksukaan yang kentara.
"Kamu kenal baik Rita?" Tanya Ny. Darma memperhatikan sikap Ney.
Ney langsung begitu ceria mendengarnya tentu taktiknya pun akan dia sertakan juga.
"Oh iya tentu saja, Bu. Saya dan Rita selalu bersama saat satu sekolah, kami dikenal paling akrab," jawab Ney.
Nyonya Darma tertawa lagi dengan tipis membuat Ney heran. Ada yang salah?
"Kamu tidak mengerti ya maksud Ibu. Apa KAMU memang MENGENAL baik sedalam-dalamnya soal Rita. Itu yang Saya maksud," kata Ny. Darma membuat Ney mengerti.
Para pelayan mencermati gerak gerik Ney dan juga perkataannya. Mereka tidak yakin Ney memang sahabat anak putra Ny. Darma.
"Ah! Iya saya kenal baik Rita. Semua soal dia saya yang paling tahu," kata Ney dengan senang.
"Minum dulu airnya. Kamu terlihat tegang ya, hati-hati panas," kata ibunya Kazen.
Ney lalu mengambil gelas cangkir yang sangat unik dan mewah itu. Dia sudah bisa membayangkan kehidupan mewah seperti apa kalau berhasil mendapatkan Kazen dan Rita.
"Saya tidak mengira Rita cerita soal Kazen ke kamu," kata ibunya Kazen.
"Iya, Rita banyak cerita soal Kazen ke saya. Saya ikut senang mendengarnya," kata Ney menyimpan kembali gelasnya.
"SMP saja?" Tanya ibu Kazen.
"Iya," jawab Ney dengan sopan.
"Berarti bukan teman dekat ya," kata ibunya Kazen menyimpulkan.
"Eh? Kenapa memangnya?" Tanya Ney mulai tertegun.
"Ya memang bukan," jawab pelayan yang lain membuat Ney bingung. "Ini kenapa sih masa semua pelayan juga ikut? Bukannya mereka hanya pelayan?"
"Meski sekolah kami setelahnya berbeda tapi komunikasi tetap jalan," kata Ney lagi.
"Tetap saja itu tidak dekat. Kamu bertemu Rita dari kelas 1?" Tanya Ibunya Kazen.
Hal itu membuat Ney agak terdiam, dia tahu maksud ibunya Kazen apa. "Dari kelas dua," kata Ney.
Ibunya Kazen tertawa tipis mendengarnya. "Kalau memang teman dekat biasanya sudah bersama sejak kelas satu, kelas dua satu kelas sampai kelas tiga.
Kazen juga punya sahabat yang sama taktiknya begitu sampai sekarang meski mereka mengatakan Saingan," kata ibunya menatap Ney.
Ney ingat pasti laki-laki yang satunya yang pernah dia lihat saat di Mall. Kekasih Seren.
"Oh, yang itu," kata Ney.
"Yang mana?" Tanya Ibunya Kazen.
"Saya pernah melihatnya waktu mereka ada di mall. Pacarnya wanita bula yang super cantik dengan rambut pirang," jelas Ney.
"Ah. Shin, bukan. Itu bukan sahabatnya yang paling dekat. Ada satu lagi," kata ibunya.
Ney diam. Siapa?
"Kamu tidak perlu tahu nanti juga yah kalau ada jalannya, akan lihat sendiri," kata ibunya Kazen membuat teka teki.
Nah lhooo siapa cobaaaa?? Tebak.
Ney hanya diam siapakah sahabat Kazen yang paling dekat? Ney merasa ibunya Kazen tidak menyukainya karena nada bicaranya terkesan sangat datar dan sombong.
Bersambung ...