
Ney merasa hidupnya benar-benar tidak adil kenapa semua doanya justru Rita yang mendapatkan semuanya. Rajin sholat tahajud namun beberapa permintaan malah Rita juga yang dapat.
"Kenapa ih semua doa aku kok Rita yang dapat? Dia mana ada berdoa minta orang kaya," gerutu Ney.
Padahal Rita bertemu Alex atau Kazen adalah doa dari sahabat-sahabatnya agar Rita memiliki pengalaman memiliki pacar.
Dia merasa terus kalah apalagi melihat Rita masuk televisi dan disorot banyak kamera. Mendidih lah darahnya seharusnya yang ada di sana adalah dia.
Ney terus mencari celah setahu dia Rita sudah lama kenal Alex namun hasilnya dengan orang lain. Lalu kemana Alex? Tidak ada kabar apapun.
Ney menangis mengingat apa kata suaminya bahwa dia dalam bahaya bila berkata sesuatu yang menyakitkan pada keluarga Alfarizki ataupun Darma.
Ney terus mencari sesuatu yang dapat menghubungkannya dengan Rita atau Kazen atau Alex yang sudah dia hina. Jantungnya berdebar teringat ingatan lalu.
Apalagi pekerjaan suaminya yang memang diturunkan pangkatnya karena ulahnya yang tidak dipikirkan dahulu. Pekerjaannya pun alhasil semakin berkurang.
"Seharusnya aku yang dekat sama Rita bukan mereka berdua!" Kata Ney ingat Diana dan Koma yang memang dekat dengan Rita.
"Seharusnya aku bisa tahu kalau ini akan terjadi saat Rita dengan Alex bubar. UGH! Sial! Aku lengah terlalu senang," kata Ney mondar mandir.
Sebelum mengomel anaknya menangis dan dia segera mengurusnya, memberinya susu daripada diomeli lagi oleh mertua.
Sambil memberi susu, Ney teringat akan tingkah laku ibunya Kazen. Dia merasa dirinya tidak disukai dan diremehkan karena orang kecil.
"Ibunya dengan jelas tidak menyukaimu dan gilanya dia memiliki struk Hokben. Kok bisa? Lalu Kazen dapat dari mana?" Tanya Ney menggigit jarinya.
Masih terbayang gerakan ibu Kazen yang sangat elegan dengan memakai kemeja dihiasi perhiasan menyilaukan mata.
"Bagaimana ibunya bisa tahu soal aku dan Rita? Apa benar nomor ini sudah duluan mereka hack?" Tanya Ney dengan cemas dan menidurkan anaknya.
Ney mencoba mencari ke empat puluh lima keluarga Luar dan dia terkejut bahwa Darma berada di urutan ketiga.
Keluarga Alfarizki beserta ke tujuh keluarga lain berada dalam lingkaran. Tidak ada keterangan apapun mengenai keluarga besar tersebut.
Ada sedikit komentar bahwa untuk mengenal keluarga Darma harus ada orang dalam, atau orang luar yang kenal mereka.
Ney yakin Rita lah yang bisa menghubungkannya apalah daya berkat keonaran nya membuat dirinya sudah putus.
"Benar apa kata suamiku kalau Kazen bukan sembarangan anggota. Apakah aku masih selamat? Nomor Rita ini sudah tidak aktif artinya...
Aku juga selamat kan?" Tanya Ney menyimpulkan sendiri. Lalu dia melihat balasan komentar orang yang namanya Bleking mengatakan, bahwa bila ada orang yang sudah ditargetkan Darma tidak ada yang bisa lolos.
Lalu Ney membuat nama akun lain dengan nama No.1 dan bertanya juga. Kalau dapat sorotan mata tidak enak dari mereka dan diancam bagaimana?
Ney menunggu selama beberapa menit dan Bleking membalas, Kasusnya apa dulu? Mereka tidak semerta-merta mengejar kamu.
Ney membacanya dan mengatakan sesuatu yang dialaminya dan Bleking menyarankan untuk berhenti mengganggu, atau nyawa taruhannya.
Orang yang dikenal mereka biasanya akan di telanjangi maksudnya diselidiki dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki.
Dari musuh sampai sahabat, keributan kecil hingga besar mereka pasti akan tahu.
Berbahaya sekali kalau ada orang yang kenal. Kalau sampai mengganggu mata, biasanya mereka akan beraksi bisa memperlakukan orang langsung atau diancam sadis.
Kalau kamu kenal ada orang yang mengganggu kenalan mereka, beritahukan saja agar menjauh.
Ney gemetaran membacanya dia menutup kedua matanya. Berusaha tetap tenang. Tiba-tiba akunnya ter blokir dengan sendirinya oleh Bleking.
"Lho? Kok akun aku di blok?" Tanya Ney kebingungan dan mencari tahu. Ney membuat alun lagi dan bertanya pada Bleking.
Kenapa kamu memblokir akun aku? Apa salah aku? Aku hanya bertanya.
Tidak ada jawaban meskipun Bleking aktif. Kemudian layar komputernya menjadi hitam dan Ney terkejut.
Nampak lah sebuah peta dan panah sesuatu yang meluncur ke foto sebuah kotak yang terdapat nama dirinya. Ney kaget dan berdiri.
"Apa ini?" Tanya Ney.
Panah itu berputar dan Ney menghindari komputer, mematikannya namun tidak bisa.
"Tidak. Panah itu bukan ke rumah ini," kata Ney dengan panik kemudian dia keluar rumah. Ponselnya menjadi blank hitam dan terdapat peta bahwa dirinya di luar.
"Tidak!!" Teriak Ney melempar ponselnya ke atas karpet pintu depan.
Bleking adalah seseorang entah dari keluarga mana. Orang tersebut tersenyum.
Ney kemudian memberanikan diri layar ponselnya masih dengan peta lalu dia masuk. Ponsel berubah biasa, dia dengan pelan melihat komputernya.
Terdapat tulisan, Saya tahu ini kamu Ney. Orang yang menyusup ke acara kami. Berani sekali, kamu tidak diundang. Kenapa? Kamu takut kami mendatangi?
Sebagai peringatan. Kami sudah mendapatkan data mengenai mu jadi hati-hati melangkah.
Ney menutup mulutnya terkejut sekali. Dia berusaha menghubungi suaminya namun susah terjawab. Dadanya berdebar tidak enak, dia menangis membacanya.
Tulisan tipis berwarna merah dan terdapat siluet percikan darah yang membuat kesan mengerikan.
Bila kamu masih mengganggu Darma, kami akan langsung mengejar mu dan BAM!
Tulisan itu membuat Ney berteriak. Orang yang mengirimkan tertawa keras lalu menghapus akunnya di layar.
"Ada apa sih? Dari tadi menelepon?" akhirnya tersambung pada suaminya.
Bukannya bicara, Ney hanya menangis membuat anaknya terbangun dan ya sama-sama menangis. Benar-benar tangisan ketakutan.
"Sebentar lagi aku pulang. Ceritakan nanti," kata suami menutup teleponnya.
Ney terus menangis ancaman mereka tidak pernah hanya sekedar mainan belaka. Satu-satunya cara memang hanya bicara pada Kazen atau Rita.
Tapi dia membaca lagi bila masih mengganggu Darma maka ancamannya akan aktif. Dia masih menangis.
Rita. Dia harus mengontak Rita karena satu-satunya yang terhubung dengan Kazen. Ney menyeka air matanya meski masih tersedu-sedu.
Dibilangin kepo nya itu harus tobat dan keonaran nya dihentikan ya begini jadinya.
Teringat kata Rita yang tidak akan pernah membela atau menolongnya meski dia berhadapan dengan masalah yang ganas.
Ney kembali menangis sambil mencari lokasi nomor Rita. Dia kaget bukan main karena lokasinya ada di Kepulauan Papua?
Ney tertawa sambil menangis menatapnya, "Hahaha jadi benar nomornya sudah tidak aktif? Lalu aku bagaimana,"
Ney kemudian memeriksa Pacebuk nya dia yakin pasti masih ada karena Rita suka bermain game di dalam nya.
"Kemana akun PB dia?" Tanya Ney mencari. Sampai ke akunnya namun tidak ada sama sekali. Dicari dalam pencarian pun tidak ada.
Air matanya cepat menguap karena dirinya sekarang mulai menampakkan kepanikan. Dia mencari tahu ternyata Rita sudah lama menghapus akunnya.
"Sudah 6 bulan dia hapus PB-nya? Tapi kenapa?" Tanya Ney kemudian sadar bahwa Rita di awasi Ney.
Kemudian Ney periksa akun Arnila, itu juga sama. Dia menyamakan data terhapusnya akun mereka berdua dan dalam tanggal dan waktu yang berbeda.
"Kok mereka berdua... Ooh jadi mereka janjian ya. Gila! Kalau Rita aku mengerti tapi Arnila? Apa saja yang dia ketahui semenjak memutuskan mendatangi Rita?" Tanya Ney sangat gelisah.
"Mereka berdua benar-benar menghilang secara bersamaan! Apa sih yang mereka rencanakan?" Tanya Ney gelisah sekali.
Ya Arnila hilang otomatis tidak akan ada informasi yang bisa dia terima, apalagi Arnila sudah tidak bisa dia jangkau. Seakan ada yang menghalanginya.
Alex pun sama meski baru akunnya terhapus, dan Ney semakin frustasi kenapa jadinya seperti ini? Mereka semua meninggalkannya dengan permulaan Rita.
Tanpa ada kabar apapun lagi-lagi membuat Ney sangat cemas. Suruh Feb pun tidak ada gunanya, dalam grup tidak ada pembicaraan lain.
Arnila sendiri kini membuka usaha bersama mertua yaitu toko kue. Sudah seminggu ini sangat sibuk, tugas Arnila menghias dan mengurusi pembeli.
Rita dengan pekerjaan sekolahnya dan Alex dengan pertemuan perjodohan. Semuanya sudah dengan kesibukan masing-masing.
Alex bersiap menemui sang calon pilihan keluarga dan mengenakan kemeja kotak-kotak. Meski dia setuju tapi dalam hatinya dia masih ada yang mengganjal. Perasaan tidak enak.
"Bang, sudah siap?" Tanya ibunya datang memeriksa.
"Done," jawab singkat Alex.
"Gagahnya kamu. Kamu pasti suka namanya Zaithun, cantik sekali. Tidak berjilbab tapi dia sangat pintar agamanya," jelas ibunya.
Alex tidak berkata apapun selama Rita pergi, dia terus mencari penggantinya. Namun tidak ada yang seperti Rita kocak dan konyol.
Tidak ada yang sepertinya berani membuang amarah. Kebanyakan para perempuan marah namun kembali padam setelah dibelikan baju.
Ya mana ada yang sama dan mirip, ada yang sama tapi pasti berbeda isiannya.
Rita hanya ada satu, tidak ada yang lain.
Keberadaan Rita sudah melekat pada hati Alex namun mengingat kesalahannya terus terulang, dia harus rela Rita dengan Kazen.
Dirinya terus menerus menganggap Rita buruk dan tercela, harus ikhlas melihat Rita tertawa bahagia bersama orang lain.
Tanpa dia sadari Rita perlahan mengetahui siapa Kazen sebenarnya. Bahaya apa yang akan Rita hadapi saat semuanya terbongkar?
Akhirnya tiba di hari Sabtu, dimana Rita menyiapkan segala kebutuhan Bubu. Bubu seakan menolak tapi melihat Rita sudah bersiap, apa boleh buat.
"Hanya tiga hari kok. Kamu biasanya senang," Kata Rita menatap kelinci betinanya.
Kedua tangannya agak mencakar baju Rita, dia seakan merayu untuk tidak usah memberikan dia pada Kazen.
"Aku sudah bilang tiga hari. Tumben biasanya kamu semangat mau bertemu Kazen," kata Rita memandangi Bubu yang diam.
"Aku antar deh nanti aku kuliah," kata Prita sudah siap.
"Sip," kata Rita sudah siap.
"Jangan nakal ya selama di sana," kata Prita memeluk makhluk berbulu yang lembut itu.
"Uuuuk," kata Bubu enggan pergi.
"Tumben Bubu tidak mau. Tidak perlu jadi saja," kata Prita memandangi Bubu.
"Sudah janji. Minggu depan deh aku bilang Bubu tidak usah bagi jadwal menginap," kata Rita membelai badannya.
"Anggap saja kamu berpetualang ya tapi jangan jauh-jauh," kata Prita pada Bubu.
"Kakinya sudah sembuh ya," kata Bapak menghampiri dan menggendong.
"Iya doong setiap hari diberi krim pelembab. Lihat bukunya sudah muncul," kata Rita.
"Berapa hari Bubu di sana?" Tanya Bapak.
"Tiga hari," jawab Prita.
Bubu dimasukkan ke dalam tas rumah, ibu sudah pergi karena ada pertemuan orang tua.
Prita meng klakson dan Rita cium tangan Bapaknya dan pergi. Prita mengobrol soal Bubu yang aneh merasa tidak semangat padahal makannya banyak.
Rita pun heran tapi yahhh mungkin karena pagi ya jadi tidurnya terganggu. Tidak ada pikiran lain sih.
Rita tiba dan mobil Kazen sudah di depan menunggu. Rita turun dan membuka helm, Prita pergi setelah mengucapkan salam.
"Taraaa," kata Rita.
Bubu keluar senang sekali membuat Rita bingung.
"Hahaha senang sekali kamu. Ceramahnya jam berapa?" Tanya Kazen.
"Jam sembilan. Sebentar lagi. Nih, tiga hari ya," kata Rita.
"Siap bos," jawab Kazen.
Bubu menatap Rita dan matanya di cium. Meski heran Bubu mendengus kemudian Kazen pun kembali ke kantor. Bubu menjalankan perannya.
Sampai di kantor, ibunya menunggu sambil memegang mainan kecil. Bubu senang dengan ibunya pintar membuat makanan enak.
Bubu melompat ke ibunya dan dibawa masuk ke ruangan mainan. Ibunya memberikan mainan yang langsung dibawa kabur.
"Hahaha lucunya langsung dibawa kabur," kata ibunya tertawa.
Kazen kembali ke pekerjaannya dan membawa sesuatu yang Rita buat. Dia memandanginya penuh kelembutan. Mana bisa dia melukai Rita setelah Alex?
"Apa itu?" Tanya ibunya.
"Rita membuatkan sarapan. Mama mau? Kita anggap ini sebagai kesopanan dia," kata Kazen.
Kazen membawakan piring dan menata sandwich itu dengan mayo dan saus untuk ibunya. Ibunya duduk di meja yang lain.
"Hmmm dia bisa masak juga ya," kata ibunya Kazen makan dengan sendok dan garpu.
"Iya," jawab Kazen lalu melahapnya dengan senang. Ibunya hanya sedih memandangi anaknya.
"Kalau saja dulu sebelum kita sekeluarga tenggelam jauh dengan bisnis ini, kamu dan Rita pasti sudah punya anak," kata ibunya.
"Sudahlah Ma, ini takdir yang harus tetap dijalani. Dia membuatnya banyak aku mau bagikan ke Shin dan Seren," kata Kazen kemudian pergi.
Ibunya tahu Kazen harus menyembunyikan rasa bahagia jangan sampai "Mereka" tahu.
Di sekolah, Rita berjalan dengan santai biasanya biarpun acara jam 9, pasti pada ngaret.
"Assalamualaikum," kata Rita memasuki sekolah. Sepiiii sudah diduga.
"Bu Rita!" Sambut Bu Afzan dari ruang lain.
"Wah, sudah ada yang datang," kata Bu Rita menuju ruangan itu.
Bersambung ....