
Alex merasa semuanya seakan kembali dari awal, dia tidak mengerti apa ada yang salah dengan yang dilakukan selama setahun ini.
Seakan-akan Allah swt terus menerus memberikannya ujian dan memperlihatkan masalah mereka bertiga.
Alex tetap dengan pendapatnya bahwa memang Rita sumber masalahnya namun dadanya sakit, apakah dia salah? Hal itu dia kisahkan pada kakaknya, Jasmine.
"Rita hanya ingin kamu mengerti dan pasti ingin kamu peka, memberitahukan pada orang itu untuk berhenti mengganggunya. Tampaknya dia hanya menurut sama kamu saja karena itu dia berpikir untuk mendekati kamu," kata Jasmine yang hadir di kamarnya.
"Tapi kak," kata Alex berusaha menjelaskan.
"Hanya itu saja kamu sulit lakukan karena tidak ingin ikut campur tapi kamu sudah ada di antara mereka. Otak kamu terlalu rumit untuk bisa mengerti maksudnya Rita," kata Jasmine menghela nafas menatap adik laki-lakinya.
Alex menundukkan kepalanya.
"Sudah menurut kakak lepaskan Rita untuk pergi, kamu juga jangan memaksa orang untuk mau menerima. Alex, baginya kamu juga mengganggu," kata Jasmine menepuk punggung adiknya dengan keras.
"Apa menurut kakak memang Rita terpaksa kenal aku? Tidak ada rasa suka?" Tanya Alex dengan wajah sendu.
Jasmine menatap malang adiknya sudah dapat yang baik malah dia berbuat ulah. Yah pergi lagi deh.
"Dia pernah menyukai kamu, sangat! Tapi kamu juga yang merontokkan nya terlalu banyak gengsi. Lalu lebih banyak membela yang bermasalah sama dia, jadi rasa sukanya terkikis seiring waktu. Memang dia sangat lamban memahami sesuatu tapi sebenarnya dia paham soal kamu. Pemikiran kamu yang buat dia sulit mendekat," jelas kakaknya panjang lebar.
Tanpa sepengetahuan Alex, Jasmine sudah mengetahui semua chat antara mereka berempat dan memang terlihat seperti pembullyan. Apalagi tidak ada yabg mendukung Rita dan Ney menyerangnya secara brutal.
"Kak, menurutmu bagaimana dengan orang yang bernama Ney?" Tanya Alex memberikan foto pada kakaknya.
"Bagaimana ya anaknya sulit sih. Intinya apa yang kakak pernah katakan pada Rita, itu berlaku untuk kamu juga. Jangan terlalu dekat dengan orang ini, dia banyak ber halu soal kamu dan kita," kata Jasmine kemudian keluar kamar dari Alex.
Jasmine sedih ternyata Rita memang memutuskan untuk pergi dari adiknya. Jasmine tidak ingin menyalahkan karena kenyataannya memang banyak orang yang memilih pergi, karena kerumitan adiknya.
Setidaknya yang bagus dari Rita, dia jarang berkontak dengan laki-laki lain dan Alex mulai pelan-pelan melepaskannya pergi.
Di hari lain paket yang dikirim Rita tiba dan benar saja kemasannya sama sekali tidak pernah Rita buka. Bedak itu memang tanpa dus dari awal pembelian, mungkin takut terbakar ya.
Ney senang sekaligus agak ketakutan menurutnya siasat dia berhasil namun juga cemas apa yang ada di dalamnya.
Oleh karena itu dia menyiapkan kamera dalam ponselnya untuk bukti dan akan dia laporkan pada Alex. Senyum pada wajahnya mengembang.
Tapi... Ney membaca nama pengirimnya yang sudah siap dia foto, Rita memang cerdas dia tidak pernah menuliskan namanya, hanya menulis "No Name". Tentu saja Rita menyiapkan cadangan ide.
Pemikirannya Ney akan memfoto paket kirimannya dan menjadikannya bukti untuk Alex atau mungkin orang-orang yang dia kenal.
Alamatnya pun Rita tuliskan tidak lengkap hanya nama kota Bandung. Membuat Ney menghela nafas dengan keras.
"Sial! Dia memang selalu berhati-hati memangnya aku *******!" Kata Ney agak sebal sebenarnya.
Nama No Name tidak akan bisa dia katakan sebagai Rita karena tidak ada keterangan dirinya. Lalu nama Bandung pun sangat luas, dia menggaruk kepalanya menatap paket yang ada di hadapannya.
Dia menatap ponselnya ternyata malah duluan terpikirkan oleh Rita. Bahkan nomor telepon oun berbeda dengan yang Ney punya. Dia memeriksanya dan menelepon, salah sambung! Terhubung ke tukang besi entah siapa.
Karena marah, dia melemparkan dus niatnya sudah terbongkar dan dia kehilangan akal saat itu. Ney juga membuang bedak tersebut ke tempat sampah karena tujuannya memang hanya agar Alex tahu bahwa dirinya berbuat baik. Namun Rita menolak.
Sejak itu juga tidak ada lagi chat dari Alex membuat Ney semakin buntu. Dia menunggu informasi tapi nihil seakan mereka tiba-tiba tidak ada kontak.
Setelah dirasa cukup mendapat laporan dari Rita bahwa paket sudah sampai, Feb mengirimkan rekaman telepon dan foto chat dari grup. Rita senang dugaannya benar, dia berterima kasih pada Feb dan dengan itu urusan mereka lunas!
Rita mengirimkan bukti itu kepada Alex dan Alex diam tidak mempercayainya, dia justru kaget soal kiriman paket dia sebar dalam grupnya.
Alex hanya diam tidak membalas apapun, dia enggan mempercayainya tapi ini bukti tidak bergerak apalagi vide percakapan.
Rita sudah memblokir nomor Alex serta semua akun media sosialnya. Dia sudah lelah dan enggan ada kontak lagi. Rita merasa sangat sial mengenal Ney dan juga Alex, sekarang dia akan mengakhiri segalanya.
Alex berusaha chat Rita, tidak terkirim pupus sudah harapan nya saat ini.Dia terlalu banyak menyalahkan Rita tanpa melihat kenyataan. Alex banyak memberikan sesuatu pada Rita dengan harapan Rita bisa bungkam dan mematuhinya
Namun membuat Rita pergi dan muak kepadanya. Itu sama saja seperti sogokan agar Rita patuh kepadanya. Rita menyadarinya dia ingat bagaimana dulu beberapa murid membuatnya sebagai taruhan.
Ternyata Alex pun juga sama itulah yang membuatnya sangat sedih. Bila Rita marah atau sedih, Alex dengan mudah mengirimkan sesuatu entah itu karena merasa bersalah ataukah dia menggampangkan sesuatu dengan uang.
Karena ingin tahu kepastiannya, Alex mulai membuka chat dengan Ney.
Alex : "What's this? So you've been sending that powder to Rita all this time? For the wrong sending?
( Apa ini? Jadi kamu mengirimkan bedak itu pada Rita dengan sengaja? Untuk alasan salah kirim )?"
Ney membacanya dan dia kaget setengah mati, mulai panik dan menenangkan dirinya. Dalam hati dia mengutuk perbuatan Feb.
Ney : "Where did you get it?"
( Darimana kamu mendapatkannya )?"
Alex : "None of your business. Rita proves that you sent the wrong one on purpose. You did it on purpose?"
( Bukan urusan kamu, Rita membuktikan bahwa kamu mengiriminya dengan sengaja. Jadi kamu memang sengaja )?"
( Jangan percaya Alex. Itu semua bohong ),"
Semua jemari Ney gemetaran mengingat apa kata Feb, ternyata itu bukan gertakan. Membuat Ney harus berkata jujur.
Alex dengan agak emosi mengetik dan menenangkan dirinya teringat kesan Rita yang pasti sangat sedih.
Alex : "Lie? This is your own story in your group! You spread everything with reality upside down!
( Bohong? Ini adalah cerita kamu sendiri dalam grup! Kamu menyebarkan segalanya dengan kenyataan yang terbalik )!"
Ney : "Nooo not like that! Its a trick by Rita and my friend, Feb. They both planned all this
( Tidaaak bukan begitu! Ya, ini adalah taktik dari Rita dan temanku, Feb. iNi adalah akal-akalan mereka berdua merencanakan semua ini ),"
Ney berusaha keras, dia masih kaget dan terkejut bahkan tegang. Rita mengirimkan bukti itu langsung pada Alex.
Alex : "Seriously?"
( Serius )?"
Ney : "Yes, of course!"
( Ya, tentu saja )"
Ney tertawa dia berhasil membalikkan keadaan. Pasti Rita dan Feb kecewa karena mereka sudah pasti kalah.
Alex mengirimkan kiriman lain dan ingin tahu apa yang dikatakan oleh Ney.
Alex : "Then what is this? Irrefutable evidence of your chat with your friend named Feb. What's the point too?"
( Lalu bagaimana dengan ini? Bukti tidak terbantahkan obrolan kamu dengan teman kamu, Feb. Apa ini juga akal-akalan dia )?"
Ney semakin kaget dia tidak mampu membalas chat dari Alex. Alex berkali-kali bertanya namun tidak ada jawaban semuanya sudah hancur!
Feb mengirimkan semua bukti, apa yang dia inginkan nyatanya berbalik menyerang dirinya. Kemudian tidak ada lagi pembicaraan, Alex berusaha mengontak Rita namun semua usaha sia-sia.
Dia mengontak nomor Rita tapi nomornya sudah tidak aktif, email, PB semuanya! Tidak bisa dia hubungi. Rita sudah sangat terluka dan sakit jati karena Alex nyatanya tidak pernah mengerti.
Malam hari Alex tidur dan dia bermimpi sesuatu yang membuatnya terbangun.
"Tidak mungkin Rita benar meninggalkanku," gumamnya.
Keringatnya banyak dia seka semuanya.
"Kamu tidak apa-apa? Usahakan jangan terlalu banyak pikiran," kata Dokter yang duduk di sampingnya.
Ternyata karena terlalu banyak kejutan, membuat jantungnya Alex pingsan. Alex menatap semuanya, malam sudah tiba rupanya dia pingsan dalam kantor.
"Aku? Pingsan?" Tanya Alex tidak percaya.
Ibunya duduk memegang tangannya. "Apa yang kamu pikirkan sampai tiba-tiba? Kamu memegang ponsel dengan berusaha menghubungi Rita yang ada di Indonesia," katanya.
Alex terdiam, kakaknya pergi keluar kamar. Ibunya marah, kesal tapi juga kasihan menatap anak ketiganya.
"Putus sudah ya dengan Rita biar Mom carikan yang lain. Banyak lho yang lebih cantik dan kamu pasti suka," kata ibunya memohon.
"Mom, biarkan aku terus berjuang aku bisa sejauh ini karena dukungan Rita juga," kata Alex dengan wajah yang pucat.
"Tapi kamu mustahil bisa sama dia," kata ibunya agak sedih.
"Mom setuju aku sama dia atau terpaksa?" Tanya Alex.
"Mom setuju tapi dia akan sulit menerima keluarga kita. Dia akan banyak rintangan, banyak godaan apalagi orang yang bermasalah dengan dirinya akan bertambah. Mom takut... usia dia jadi pendek," kata ibunya sedih.
Alex tidak menjawab lagi, dia lupa! Alex menghela nafas dirinya lebih berharap menjadi laki-laki biasa bukan Alfarizki. Jadi dia bisa lebih dekat dengan Rita.
"Mom, jangan salahkan Rita ya. Ini salahku karena kondisiku begini," kata Alex menangis.
Ibunya mengangguk, "Kamu juga coba berhenti memaksa dia melakukan hal yang kamu suka," kata ibunya.
"Tapi dia menendang temannya sendiri," kata Alex.
"Pasti dia punya alasannya yang Mom lihat, dia bukan orang yang senang menendang orang, Abang. Apapun alasannya kamu tidak perlu ikut campur," kata ibunya menaikkan selimut dan membungkus Alex agar tetap hangat.
Soal Ney tentu saja ibunya pernah bertemu. Tidak ada apapun hanya saja ibunya enggan berdekatan.
"Saran Mom, bila temannya itu mendatangi kamu, hindari. Jangan ikut terlalu masuk, Mom agak tidak nyaman," kata ibunya.
Alex hanya diam dia pernah membaca bahwa Rita tidak memiliki kenyamanan berteman dengan Ney, sama dengan Arnila. Dirinya pun sama.
Bersambung ...