MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
125



Ney menangis dalam perjalanan menuju mobilnya, tujuannya memasuki pameran tersebut hanya untuk bisa dekat lagi dengan Rita.


Namun apa yang dia niatkan nyatanya berbanding terbalik dengan kenyataan, hasilnya malah semakin kacau.


Saat melihat Rita hidupnya semakin bahagia dengan orang lain, membuat hatinya semakin panas. Dia tidak menerima!


Dari bayangannya yang diterima Rita kembali, membuat hidupnya akan lebih enak. Tidak ada lagi kekhawatiran soal apapun.


WUSH! Semuanya lenyap seketika tatkala harus menghadapi mulut yang lebih tajam darinya.


Kelakuannya yang menyebalkan dan mulut yang tidak bisa dikendalikan, membuatnya harus menerima hantaman.


Taktik liciknya pun harus terbongkar beberapa menit saja. Dengan wajah super malu menahan semua serbuan, Ney berjalan cepat.


Semua yang dia lakukan otomatis terekam dalam satu layar besar di ruangan lain. Mereka menyimpannya sebagai bukti bila Ney berbuat ulah.


Peringatan Kazen dan Seren benar-benar tidak main-main. Bahkan kekasih Rita itu memandanginya dengan sorot mata yang mengerikan.


Ney menjangkau mobilnya dan masuk lalu menangis tersedu-sedu. Menyesali kenapaaa mulutnya selalu otomatis mengeluarkan kalimat yang seharusnya tidak keluar.


Dandanannya yang dia rela membayar di sebuah salon pun hancur. Dia hapus menggunakan air matanya bukan pembersih Make Up.


Ney bisa melihat otot wajah Kazen yang terlihat, tentunya perilaku dia pada Rita pun sudah diketahui.


Ney menjalankan mobilnya menuju rumah. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Bajunya sudah berganti baju biasa, air mata dia seka dan memutuskan untuk istirahat.


Saat Ney pulang, Prita dan yang lainnya muncul dengan pakaian gamis pesta. Mereka berempat diberi sekotak cokelat masing-masing.


Mereka berkeliling dan menuju ruangan penuh mobil mewah lainnya. Salah satu petugas datang untuk menanyakan identitas.


"Anda adiknya Rita?" Tanya petugas tersebut.


"Iya, Saya adiknya. Prita ini teman-teman saya," kata Prita dengan sopan.


"Baik, silakan tadi kakak Anda mencoba mobil ini dengan Pak Kazen. Tapi apakah benar kalau kakaknya tidak bisa menyetir?" Tanya petugas itu.


"Ahahaha kakak saya hanya bisa menjalankan motor tapi itu juga dengan kecepatan yang rendah. Kalau mobil memang tidak bisa," kata Prita tertawa.


Petugas itu menundukkan kepala mengerti dan mereka dipersilahkan melihat-lihat.


"Wooow kereeen!!" Teriak Sasmi mencoba mobil.


"Asyik sekali. Enak sekali kakak kamu menjadi pacar seorang jutawan sepertinya," kata Fitri.


"Ehehehe iya," kata Prita.


"Yang seperti ini dalam sepuluh tahun sekali Pri! Pokoknya kalau Teh Prita ajak kamu kemana-mana, harus ikut!" Kata Anne semangat.


"Tentu doong," kata Prita bercanda dengan lainnya.


"Prita, ayo makan!" Ajak Rita yang menyusul.


Para petugas mengangguk dan seperti melaporkan sesuatu saat Rita dan lainnya berjalan menuju taman.


Kazen berjalan menjemput Rita, para reporter menyorotkan kamera ke arahnya.


Komariah dan Diana bersorak, mereka berharap Rita menikah dengan Kazen.


"Kaze, apa kabar bruh?" Tanya seorang laki-laki yang menghalanginya jalan menuju Rita.


"Wah! Datang juga. Baik," kata Kazen mereka saling bertepuk tangan dan mengobrol.


Prita memutuskan melihat-lihat dan Rita menuju atas bermaksud mengambil minuman. Saat tiga orang wanita berjalan dengan angkuh.


Lara, Sal dan Pho memandangi penampilan Rita dari belakang. Mereka berbisik-bisik. Wajahnya sinis sekali seperti Ney.


"Oh, jadi ini kekasih barunya Kazen. Biasa sekali malah nampak dari kampung," kata Sal sambil tertawa.


Rita yang masih fokus membaca selembaran mengenai pameran sama sekali tidak mendengarkan kedatangannya.


"Lebih baik kamu ya Lara. Sudah cantik, penampilan oke benar-benar tipe Kazen deh," kata Pho.


Lara datang sambil membawa gelas sebesar gentong, berbahan kaca. Tahu kan gelas mirip aquarium tapi isinya air satu senti?


Mereka memandang Rita yang masih fokus. Dan Sal merebut lembaran itu membuat Rita kebingungan.


"Heh! Diajak mengobrol malah diam!" Seru Sal melemparkan lembaran itu ke lantai.


Rita menguap kantuk biasanya pukul sepuluh dia tidur sih, ini harus bertahan di tempat pesta.


"Oh? Ada orang? Maaf," kata Rita menunduk dan senyum pada ketiganya.


"Kamu itu pura-pura bodoh atau memang bego ya," kata Lara dengan nada tinggi.


"Saya? Saya cerdas kok," kata Rita cengengesan.


Mereka bertiga hening dan sebal bersamaan.


"Begini ya aku tidak terima saja kalau kamu yang menjadi kekasih Kazen, idola kami. Kamu itu tidak pantas!" Kata Pho dengan wajah yang agak tirus tapi cantik.


"Ohhh sudah banyak kok yang bilang begitu tapi yang suka saya duluan kan Kazen, dia juga yang ajak kenalan," kata Rita.


"Iya kamu tolak dong. Sengaja ya supaya pamor kamu naik?" Tanya Sal.


"Sudah berapa hari sih? Paling juga masih seumur jagung," kata Lara.


"Dia mengakunya kenal saya sudah dua tahun," kata Rita dengan santai.


"Dua tahun!? Sama kamu? Yang kampungan begini? HAHAHA!!" Kata Lara tertawa keras.


"Kalau cemburu bilang saja kenapa harus nyinyir, bicara di belakang," kata Rita membuat mereka keki.


Mereka menghalangi jalan dan..


"Duh, maaf ya aku sengaja tuh," kata Pho menumpahkan isi air yang di gelas besar itu.


Rita kaget gaun merah jambu nya kini menjadi agak merah. Dia hanya penasaran pada semua kelakuan yang begini.


Dari jaman batu kenapaaa setiap pengganggu bisanya menumpahkan minuman? Uang atau makanan dong apalah.


Dari film sinet sampai layar lebar, pasti saja selalu minuman yang ditumpahkan ke baju lawan.


"Cara kalian juga ketinggalan jaman ya. Hah aku bosaaan kenapa sih di semua hal pengganggu pasti saja menumpahkan minum?" Tanya Rita kesal.


Mereka bertiga hanya menganga mendengarnya.


"Ya kamu bisa ubah kalau di tumpahi minuman pakai apa gitu," kata Pho yang setuju.


"Hahh harus kreatif," kata Rita yang akhirnya membuat kreasi motif bunga dari air tersebut.


Mereka memperhatikan Rita yang mulai menyebarkan warna merah dan titik-titik seperti kuncup.


"Nah bagus kan," kata Rita senang.


"Aih," kata mereka bertiga menepuk jidatnya.


"Menurut kamu apa yang seharusnya dilakukan kalau caraenumpahkan minuman itu norak?" Tanya Sal tertawa.


Rita melihat gelas kosong yang belum terpakai dan mempraktekkan di depan mereka. "Seperti ini,"


Mereka kaget bukan main memandangi Rita yang senyum pada mereka.


"OH! kamu! Apa kamu tahu berapa harga gelas itu satunya?" Tanya Lara kaget.


"Ini perkembangan yang seharusnya ada sekalian saja melukai lawan," kata Rita menatap mereka.


Petugas datang melihat ada pecahan kaca dia bingung. "Ada apa ini? Gelasnya! Siapa yang melakukannya?"


"Dia! Dia yang pecahkan di depan kami!" Tunjuk mereka bertiga.


"Aku? Bapak lihat saja sendiri pecahannya ada di depan kaki saya atau mereka. Dan lihat bajuku," kata Rita dengan suara cemas.


Mereka juga melihat ke bawah pecahan itu tepat berada depan kaki mereka bertiga bukan Rita.


Sedangkan di depan kaki Rita bersih hanya saja bajunya bernoda merah menjadi bunga.


"Ka-kami bukan..." kata mereka menjelaskan. Rita hanya senyum manis.


"Saya sudah peringatkan berkali-kali jangan berbuat ulah! Sudah berapa kali kalian menghancurkan gelas pesta?" Tanya petugas itu kesal.


Ups! Rita sama sekali tidak tahu soal itu dan menatap mereka seakan mengerti.


"Oh, jadi memang suka hancurkan gelas ya," kata Rita menjulurkan lidah dan matanya.


"Awas ya kamu," kata Lara menatap tajam .


Mereka bertiga pergi begitu saja dan petugas menyapu. Setelah mereka pergi, Rita membantu.


"Maaf Pak, saya yang pecahkan karena kesal dengan ulah mereka menumpahkan minuman," kata Rita.


"Kenapa kamu berbohong?" Tanya petugas itu nampak kesal sekali.


"Saya ingin memberi mereka pelajaran. Saya ganti gelasnya," kata Rita mengeluarkan dompet.


"Kamu tahu harganya? Satunya itu..." kata Petugas.


"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu menggantinya," kata seorang wanita yang mendekati Rita.


"Nyonya! Selamat malam," kata petugas dengan tegak dan agak gemetaran.


"Malam. Hanya gelas biasa, kumpulkan dan buang pecahannya.


Rita tidak enak, wanita itu tidak dia kenal. Rita ucapkan terima kasih, wanita itu menatap dirinya. Wajahnya terlihat super galak.


"Tante!!" Teriak mereka bertiga kembali dan Rita sangat kaget.


"Aahhh kalian datang juga. Apa kabar?" Tanya wanita itu menyambut mereka. Rita seakan kehilangan rohnya sebagian melihat mereka kenal.


"Tante, perempuan kampungan ini melemparkan gelas sampai pecah di depan wajah kami," kata Lara memandang sinis pada Rita.


"Apa? Kenapa kamu lakukan itu pada keponakan saya?" Tanya wanita itu memandangi Rita.


Rita hanya menunduk, dijelaskan lagi apakah akan percaya?


"Iya Tante, hukum dia! Masa ada perempuan kampung diundang ke acara besar?" Tanya Sal.


"Siapa yang mengundang kamu kesini? Seingat saya orang luar tidak diijinkan," kata wanita itu.


"Kazen yang mengundang saya," kata Rita.


"Kazen?" Tanya wanita itu.


"Masa dia mengaku sebagai kekasih Kazen? Mana ada kan. Keterlaluan sekali mengaku-aku. Kalau iya kok bisa Kazen memilih perempuan begini," kata Lara.


Wanita itu melirik pada Rita, hahh inilah sebalnya Rita pada pesta. Rita sudah siap digalakkan atau dimarahi, dia bisa menghubungi Kazen sebagai bukti.


"Kamu Rita Ashalina ya?" Tanya wanita itu.


"Iya, Tante," kata Rita gugup.


"Bisa buktikan?" Tanya wanita itu masih menatapnya.


Rita mengangguk dan mengeluarkan kartu KTP. Wanita itu mengangguk dan menatap Rita.


"Tante? Nyonya dong! Kamu ini siapanya Tante? Keluarga juga bukan! Perempuan tidak tahu adab!" Teriak Pho.


"Ya ampun, jadi kamu Rita yang sampai membuat anak Tante mabuk kepayang? Salam kenal ya saya ibunya Kazen," kata wanita itu dengan ramah.


Rita kaget sekali, wanita itu memegang tangan Rita dengan lembut. "Salam kenal tante," kata Rita dengan sopan.


"Ayo ayo kita mengobrol dulu ya. Kamu sudah makan malam?" Tanya wanita itu sambil menggiring ke suatu ruangan.


"Tadi Kazen ajak dan mau makan bersama tapi ditarik dengan temannya. Adik saya juga diundang," kata Rita menunjuk ke belakang.


Prita datang dan berkenalan.


"Oh ya ampun ayo ayo ayo kita makan bersama ya. Akhirnya tante bisa bertemu dengan kamu Nak. Kazen itu susah sekali diajak bicara kalau soal kamu," kata wanita tersebut.


"Oh begitu," kata Rita.


Mereka semua mengikuti dari belakang, anehnya Lara, Sal dan Pho tidak berbuat ulah.


"Nanti kamu ikut saya ya ke ruang perhiasan," kata wanita itu tersenyum.


"Eh? Ruang Perhiasan?" Tanya Rita, dalam pikirannya sudah tentu yang banyak perhiasan.


"Apa tante yakin mau ajak dia ke ruang berharga itu?" Tanya Lara kaget.


"Iya. Tante punya banyak rencana untuk anak ini. Untunglah bisa bertemu karena Kazen sangat sulit mengenalkan kamu," kata wanita itu.


"Oh, kenapa ya" kata Rita hanya bisa menjawab. Kenapa ya?


"Apa bajumu memang ada bunga ya atau..." kata wanita itu curiga dan memegangnya.


Ketiganya langsung menahan nafas dan bermaksud kabur.


"Ini wine merah. Siapa yang menumpahkan air ini ke baju kamu?" Tanya wanita itu nadanya berubah galak lagi.


Rita menatap mereka bertiga, yang dimana mereka menggelengkan kepala. Rita senyum dan menunjuk.


"Mereka," kata Rita.


Mereka bertiga memejamkan kedua mata, wanita itu berbalik dengan wajah nenek lampir yang marah.


"Kalian..." kata wanita itu.


"Ampuuun," kata mereka bertiga.


Wanita itu menghela nafas dan menatap Rita. "Ganti baju saja ya karena acara masih panjang,"


"Tidak perlu Tante, sepulang dari sini aku akan cuci di hotel," kata Rita menolak.


"Baik kalau begitu. Ayo," ajaknya menuju ruangan.


Rita mencari Kazen yang tiba-tiba menghilang begitu saja. Mereka bertiga pun tampak takut pada wanita tersebut. Kesannya bukan ibunya Kazen.


Bersambung ...