
Kazen hanya tertawa mengacak-acak kue dan memakannya. Mina memarahi kebiasaannya itu, semuanya tampak ya keluarga.
"Bubu dimanja oleh semuanya. Keluarga aku suka kelinci juga jadi yaa begini deh akhirnya," kata Kazen.
"Ayoo makan lagi nih mama buat makanan enak. Pasti kamu suka," kata mamanya membuat Rita dan Prita kaget bukan main.
"Ma, sudaaah nanti perut mereka meledak," kata ayahnya.
"Duh, ayah ini. Minggir deh ini piringnya Rita ayo ayo," kata mama Kazen.
"Kazen, keluarga kamu jualan kue ya?" Tanya Rita berbisik.
Kazen hanya tertawa mendengarnya, "Hahaha ini sih mama beli terlalu banyak apalagi sebagian juga buatan mama,"
"Kazen makannya banyak Rita, makanya badannya besar mirip ayahnya," goda namanya.
"Beruang apa monster tante?" Tanya Rita tertawa.
"Monster," jawab mamanya.
Mereka tertawa saat Kazen cemberut pada Rita dan mamanya. "Awas kalian," katanya pelan.
Mereka banyak mengobrol soal pekerjaan Rita, kegiatan kuliah Prita atau keluarga. Tidak ada yang aneh, pikiran Rita dan Prita ternyata mungkin salah.
Malam pukul sembilan, mereka makan malam dengan asyik. Bubu juga makan bersama mereka, dia sangat menyukai keluarga itu.
"Sudah siap pulang?" Tanya Rita pada Bubu.
"Ibu bapak kangen," kata Prita.
Bubu mendengus sudah siap!
"Harus pulang sekarang?" Tanya Ibunya Kazen agak sedih.
"Bubu? Iya tante soalnya kita sudah kangen," kata Rita menatap Bubu.
"Disini jadi sepi di sana seru ya," kata Minna membelai Bubu. Anak-anaknya pun sangat sayang kepadanya dan harus berpisah.
Rita memandangi Kazen. "Nanti bisa ketemu lagi kok,"
"Kak Kazen tidak beli kelinci lain?" Tanya Prita sambil memasukkan sambal oncom.
"Aku maunya Bubu saja," kata Kazen menatap Bubu.
"Kak Mina mana anak-anaknya?" Tanya Rita.
"Mereka disuruh wisata dengan suami kalau tahu Bubu pulang, tangisan mereka akan terus berulang selama seminggu," jelas Minna.
"Hehehe iya ya. Tante, terima kasih kue-kuenya kemarin. Enak sekali," kata Rita.
"Oh yang bingkisan itu ya? Baguslah. Makan dengan keluarga?" Tanya mamanya datang dengan menggunakan celemek.
"Iya. Tante baru dari Swiss?" Tanya Rita.
"Oh, itu oleh-oleh dari adiknya suami. Terlalu banyak jadi saya suruh dia buat bingkisan saja," kata mama Kazen.
Rita dan Prita di suruh mengambil buah, salad atau hidangan penutup lainnya. Bubu dikasih bagian sedikit dari salad, dia habiskan semuanya.
Mama Kazen membelai lembut punggung Rita, tatapan mereka dirasa Rita agak berubah. Seperti penuh pengertian dan simpati. Rita keheranan.
Setelah itu Rita duduk bersama Kazen, Prita bermain dengan Bubu sambil sesekali makan lagi.
"Agar buatan ibu kamu enak sekali," kata Rita.
"Iya doong," kata Kazen bangga sekali.
Setelah itu Rita pamit menuju dapur membawakan piring kotor dan punya Prita. "Tante aku bantu ya,"
"Eh Rita tidak perlu ah. Kamu tamu disini duduk saja. Ada pe... eh bibi maksudnya," kata mamanya Kazen.
Bukan Lianda tapi orang lain. Rita menyimpan semuanya, tampak mamanya Kazen sibuk memasak sesuatu.
Rita inisiatif mengambilkan piring. "Tante nampak sibuk mungkin akan ada tamu selain kami?"
"Aduuuh terima kasih. Tidak sih tenang saja tapi yah beginilah persiapan untuk besok. Sebentar ya," kata mamanya Kazen.
Selesai, ibunya bernafas lega. Bibi membereskan semuanya.
"Kita mengobrol ya. Kamu suka Kazen?" Tanya ibunya.
"Eh.. ya kenapa kita pacaran juga," kata Rita.
"Ibu mau minta maaf soal di pameran itu. Pasti kamu merasa tidak enak kan ya, karena itu menolak bros yang Minna buat," kata ibunya membuat Rita tertawa kecil.
"Terlalu mewah untuk orang seperti saya," kata Rita.
"Tapi kamu pantas kok untuk mendapatkan yang lebih. Sebenarnya itu untuk menguji apakah kamu memang suka anak saya tulus atau karena uangnya," kata ibunya.
"Iya saya mengerti pastilah keluarga seperti Kazen, perlu uji kelayakan," kata Rita.
"Sebelum saya banyak yang mendekati?" Tanya Rita.
"Banyaaaakkk sekali tapi niatnya langsung tahu. Semuanya kandas belum apa-apa sudah banyak meminta uang, barang, perhiasan. Ampun deh," kata ibunya.
Rita paham sekali soal itu. "Soalnya Kazen sih,"
"Mama pikir kamu juga begitu jadi maaf ya buat kamu murung. Soal perhiasan kamu kenapa menolak?" Tanya ibunya Kazen.
Ibunya Kazen memperhatikan tangan Rita yang polos hanya mengenakan cincin yang juga tidak mahal dan mainan.
"Soal perhiasan aku tidak terlalu suka memakainya sih," kata Rita.
"Kamu suka bros?" Tanya ibu Kazen.
"Suka," jawab Rita cepat.
"Saya pandai membuat bros. Kamu suka bentuk apa? Nanti biar Mama buatkan sebagai permintaan maaf," kata ibunya Kazen.
"Oh, tidak usah! Serius. Bisa kenal dengan keluarga Kazen sudan cukup kok tante," kata Rita menolak.
Ibunya Kazen terdiam menatap Rita. "Kamu pernah dikenalkan seperti hari ini dari keluarga laki-laki?"
"Pernah tapi kandas juga ternyata laki-lakinya sudah dilamar perempuan lain," kata Rita.
"Haaaa?? Kok bisa? Dia terima begitu saja? Siapa namanya?" Tanya ibunya Kazen.
"Entahlah sebal juga jadi aku lempar dia pakai buku tebal di depan calon istrinya. Lalu aku pulang. Namanya tidak perlu disebutlah sangat menyebalkan," kata Rita tertawa.
Ibu Kazen tertawa keras mendengarnya ya memang ada kisah itu dan mereka melihat nasibnya, mengalami kesulitan karena sang istri membeli banyak barang.
Mereka mengobrol lagi dengan seru, apa kata Ney sama sekali tidak ada yang serius dan galak dari ibunya.
Tadinya Rita mau bertanya soal Ney tapi diurungkan, kalau menurut dia jutek dan galak berarti ada sesuatu yang ibunya Kazen sendiri lihat.
"Adik kamu kelihatannya senang diskusi ya," kata ibu Kazen.
Prita diskusi mengenai sesuatu dan ayah serta Kazen nampak begitu serius. Rita mengangguk, pandangannya teringat bagaimana Bapaknya berdiskusi dengan Prita.
Pernah Rita mencoba diskusi dengan Bapaknya namun tanggapannya sama sekali tidak ada. Rita mencoba lagi mungkin saat itu Bapaknya lelah.
Rita ditanya oleh bapaknya mengenai sesuatu dengan wajah yang serius. Namun karena jawaban Rita kurang bagus, Bapaknya terdiam.
Lalu Rita ajak bercanda yang tertawa hanya dirinya dan Bapaknya sama sekali tidak mendengar atau menjawab.
Semenjak itu Rita hanya bicara seperlunya saja termasuk pada Rin, kakaknya.
"Ya di rumah juga sering dengan Bapak," kata Rita.
"Kamu bagaimana?" Tanya ibunya Kazen.
"Ya tidak seru ujungnya hanya saya yang tertawa dan Bapak pergi," kata Rita menunduk. Teringat lagi saat dirinya membutuhkan saran dan tidak ada yang menggubrisnya.
Ibunya Kazen menepuk bahu Rita, tahulah rasanya pasti sangat tidak nyaman.
"Adik saya kesayangan Bapak. Jadi saya dan Bapak tidak terlalu akrab. Memang sih kita ada obrolan tapi akhirnya ya beda," kata Rita.
"Ibu kamu bagaimana?" Tanya ibunya Kazen.
"Tidak ada. Beliau mementingkan anak pertama," kata Rita.
"Kamu bisa sampai sekarang begini, bertahan tidak mungkin hasil sendiri kan?" Tanya ibunya Kazen.
"Iya hehe meskipun saya kurang beruntung dalam hal orang tua tapi saya memiliki teman sebagai bestie yang saya anggap kakak sampai saudara.
Saya bisa bertahan dalam kondisi tertekan berkat mereka semua. Besti-bestie saya yang selalu ada saat saya susah karena orang tua," kata Rita meneteskan air matanya.
"Kamu kuat! Jadi tenang saja. Musuh punya?" Tanya ibunya Kazen.
"Ada lah pasti. Semua manusia yang hidup pasti selalu punya musuh kan tante," kata Rita.
"Ita betul. Kamu hati-hati Kazen juga banyak karena dia tukang pembuat onar tapi dia bisa membuat solusinya," kata ibunya Kazen.
"Hahaha anu tante mungkin pertanyaan saya kurang sopan tapi saya harus tahu," kata Rita.
"Iya boleh. Ada apa?" Tanya ibunya Kazen agak heran.
"Apa Alex itu musuhnya Kazen?" Tanya Rita membuat ibunya bingung menjelaskan.
"Bagaimana ya soal mereka," kata ibunya Kazen. Karena sulit kita akan ubah menjadi Nyonya saja ya.
Nyonya Darma mengambilkan beberapa puding buah serta fla kuning. Membuat Rita tergoda tapi perutnya sudah kenyang.
"Sebenarnya bukan musuh hanya mereka saja yang beranggapan begitu. Pesaing terbaik," kata Nyonya tertawa.
"Kazen kenal baik Alex? Seperti yang akrab meski pesaing," kata Rita.
Bersambung ...