
Pemuda itu tidak menggubris teriakannya yang lebay.
"Aku biasanya sering lihat dia tapi sudah tiga hari ini tidak ada. Kemana ya?" Tanya pemuda itu agak cemas.
Kalau sakit tidak mungkin sampai selama ini, kadang Kazen melihat Rita jalan pulang dengan memegang saputangan di hidungnya.
Dia tahu Rita sering mimisan, tanpa sepengetahuannya Kazen sering menitipkan minuman vitamin ke toko yang selalu Rita datangi.
Alasan pemilik toko karena Rita sudah menjadi pelanggan mereka. Rita tentu senang menerimanya, kadang kue bolu atau sus berisi fla stroberi yang nikmat.
Kadang Rita merasa aneh tapi dia tidak memperdulikan dan menikmati kue itu untuk sarapannya di sekolah.
Shin menatap temannya yang mengkhawatirkan apalagi kelakuannya. "Bagaimana kalau kamu memberanikan diri untuk kenalan? Kalau kamu terus lakukan ini, kamu seperti psikopat,"
"KAMU SEBUT AKU PSIKOPAT!?" Teriak pemuda itu sambil berdiri.
Para karyawan sudah tentu mendengarkan namun mereka bingung apa yang dikatakan Shin pada bos.
"MAKANYA KENALAN!" Teriak Shin melawan sambil duduk.
Pemuda itu langsung duduk kembali sambil memalingkan wajah. "Ya... aku rencana... mau... kenalan,"
"Aku di sini bukan di sana!" Kata Shin.
Pemuda itu berbalik lagi, dia masih cemberut dengan kata-kata Shin tapi tidak lagi. Resah kembali.
Shin baru kali ini melihat sahabatnya itu
bertingkah konyol. Sehari-hari selalu berwajah masam dan datar seperti tembok.
"Tapi bagaimana aku mau kenalan? Dia tidak pernah ada lagi," kata pemuda itu murung. Ya kelamaan juga sih ulur-ulur tali.
"Makanya sesekali lihat perempuan itu matanya jangan jelalatan. Yang bagus kelewat kan," kata Shin.
"Hahhh," kata pemuda itu menutup laptopnya lagi.
"Seperti bosan hidup. Nanti saja kalau dia ada lagi, mungkin sedang liburan," kata Shin.
"Mana mungkin, bodoh! Sekarang lagi masanya pembelajaran," kata pemuda itu menatap pemandangan di luar.
"Kemana ya kira-kira dia?" Tanya Shin menerka.
Pemuda itu teringat sesuatu, "Laporan selesai?"
"Sudah tuh di meja," kata Shin.
"Tugas baru," kata pemuda itu dengan senyum sesuatu.
"Sudah biasa jangan lupa ya bonus lembur. Bagian yang mana harus aku periksa?" Tanya Shin dengan serius.
"Selidiki ke sekolah itu soal perempuan ini," kata Kazen berdiri dan memeriksa laporannya.
"EEEH!?" Teriak Shin.
Beberapa menit kemudian Shin mengendarai mobil dengan wajah super bete!
Di negara yang lain lagi-lagi dia yang selalu disuruh oleh Kazen sebagai mata-mata. Kali ini soal perempuan lagi.
Sesampainya di dekat yang Kazen tunjukkan, dia menghentikan mobil dan berjalan kaki. Sekilas dia pernah melihat Rita menuju suatu tempat.
Dia ingat memang ada sekolah taman kanak-kanak tidak jauh dari blok mereka.
Dia berdiri di depan sekolah TK Seribu, memandanginya. Yakin Rita bekerja disini sebagai guru mungkin.
Saat itu juga Asma keluar dari warung di bawah setelah membeli makanan. Dia melihat Shin yang berdiri seperti mencari sesuatu.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Asma dengan sopan.
Shin kaget dan agak mundur. Perempuan berjilbab dengan tubuh agak bulat menatapnya dengan heran.
"Oh, maaf. Aku sedang mencari orang dan kebetulan aku pernah lihat dia masuk ke sekolah ini," kata Shin sopan.
Asma menatapnya dengan takjub, gantengnya Shin membuat Asma agak lupa diri.
"Bu?" Tanya Shin melambaikan tangan.
"Oh! Maaf maklum sedang lapar. Orang yang dimaksud guru? Atau staf?" Tanya Asma dengan malu.
"Guru? Oh iya juga ya tapi sepertinya bukan karena bajunya berbeda dengan ibu," kata Shin dengan ramah.
"Begitu, silakan masuk dulu saja barangkali orangnya ada," kata Asma membukakan pintu gerbang.
"Nampak sepi bu sekolahnya," kata Shin.
"Iya anak-anak ada di kelas atas," kata Asma mempersilakan masuk ke kantor.
Keluarlah dua staf lainnya membuat Shin kaget, seragam itulah yang dia pernah lihat termasuk dalam laptop.
"Tapi kenapa guru yang ini seragamnya berbeda? Apa baru ya?" Pikir Shin menundukkan kepala.
"Bu Asma sudah? Giliran kita ya," kata Lina dan Kinan keluar.
"Kalian mau makan kemana?" Tanya Asma.
"Ada deh," kata Kinan berlalu.
Mereka jutek sekali pada Shin dan tidak mengacuhkannya. Shin juga tidak peduli dia melepas sepatunya.
"Haha mana mungkin. Ayo," kata Lina mengajak.
"Mereka staf TK ini?" Tanya Shin.
"Iya, saya juga tapi masih baru. Pasti mikir seragamnya tidak sama kan," kata Asma merapihkan sepatunya ke rak.
Shin juga kemudian memasukkan. "Oh pantas. Guru juga?"
"Iya, kita semua punya peran tambahan. Bu Dewi ada tamu," kata Asma memanggil.
Bu Dewi langsung keluar. "Tamu?" Tanyanya.
Penampilan Asma yang sekarang jadi lebih berbeda, agak pucat dan nampak kelelahan. Sama yang dia lihat pada Rita juga.
Shin hanya keheranan, bibir Asma juga memucat tampak kurang minum. Namun seberapa beratnya, Rita tampak baik-baik saja.
Bibirnya menampakkan keceriaan berbeda dengan Asma.
"Silakan masuk. Asma ambilkan air dan makanan," perintah Bu Dewi.
Asma menurut tanpa menjawab, wajahnya kurang ceria dan kembali ke dalam ruangannya.
"Yang tadi guru?" Tanya Shin.
Bu Dewi nampak salah tingkah, dia membereskan buku-buku dan duduk depan Shin.
"Iya tapi staf juga. Ada keperluan apa? Mau mendaftarkan anak atau keponakan?" Tanya Bu Dewi.
Mendengar itu Shin hampir tersedak. Dia batuk sebentar, memang nampak seperti om-om yang sudah punya sepuluh anak.
"Oh bukan, saya sedang mencari teman. Dia pernah bilang bekerja di sini," kata Shin agak berbohong.
"Siapa namanya?" Tanya Bu Dewi mencari tahu sambil matanya tidak lepas melihat badan gagah Shin.
"Hmm saya juga baru bertemu tiga hari lalu. Saya hanya tahu nama kecilnya Ara, nama aslinya tidak tahu. Tapi dia bilang bekerja di sini," kata Shin menekankan.
"Ara? Saya kurang tahu karena kepala sekolah yang asli sedang tidak ada. Tapi kamu mungkin bisa tahu dari foto, saya coba cari dulu ya," kata Bu Dewi yang bingung.
"Silakan," kata Shin mencari alasan lainnya. "Gurunya sedikit sekali,"
"Ohohoho iya sekarang sedang ada pengurangan tenaga kerja. Bagaimana dengan album ini? Ada yang mirip Ara?" Tanya Bu Dewi memberikan foto album.
Menurut Shin, Bu Dewi ini genit sekali apalagi setelah melihat otot tangan Shin yang lumayan. Dia agak menyesali hari ini memakai kemeja pendek.
"Otot tangannya mirip suami saya," kata Bu Dewi dengan malu-malu.
"Oh! Rajin olahraga bu," kata Shin bersyukur tapi terganggu dengan pandangan Bu Dewi yang tidak cantik.
"Iyah, olahraga dalam kamar," kata Bu Dewi tertawa membuat Shin berkeringat dingin.
Saat begitu, Bu Dewi tiba-tiba melepaskan jasnya dan duduk lebih rapat dengan Shin. Berharap kemolekan nya membuat Shin menyukainya.
"Tidak ada Bu, bukan disini. Apa ada yang lain?" Tanya Shin dengan cepat menutup.
Bu Dewi agak kecewa tidak bisa berlama menatap Shin. "Sebenarnya sih awal ada enam belas guru dan delapan staf tapi dikeluarkan. Karena kerja mereka tidak bagus,"
Perkataan Bu Dewi agak merayu dan... yah menggoda. Untungnya Shin enek melihatnya dan membuat guru itu mencari yang lain.
"Hmm boleh saya lihat album guru yang dikeluarkan itu?" Tanya Shin.
"Aduuh untuk apa sih? Tapi ya sudahlah saya cari dulu ya. Kakak saya simpan," kata Bu Dewi berdiri dengan sebal.
"Kalau begitu, saya mau lihat-lihat sekolah ini dulu," kata Shin berdiri dan ingin cepat kabur.
"Oh iya silakan," kata Bu Dewi sambil membuka lemari lain.
Shin lega dan keluar bernafas, meski untung sekali bisa melihat pemandangan seperti itu. Tapi sudah menikah bukan tipenya.
Dia melihat Asma yang makan sendirian sambil sesekali dia menyeka air matanya. Kedua staf lain belum juga muncul.
Shin menuju lantai dua, dia melihat semua kelas kosong. Dengan heran dia masuk, kelas tersebut tidak dikunci sama sekali.
"Ceroboh sekali Bu Dewi itu," kata Shin kemudian keluar dan mendengar suara anak-anak.
Ternyata ada dua kelas yang berisikan anak-anak tanpa guru. Aneh!
"Assalamualaikum!" Sapa Shin melambaikan tangan.
Semua anak-anak berhenti dan menatapnya.
"AMBIL SAPU!" Teriak anak perempuan, membuat beberapa anak berebutan.
"Eh eh, tenang tenang," kata Shin panik.
"Walaikumsalam," ucap sebagian anak yang tenang-tenang saja.
"ADA ORANG JAHAAAD!!" Teriak anak laki-laki berponi pendek.
"Eh bukan bukan," kata Shin mundur pelan.
"Usir! Usir!" Teriak sisanya.
Bersambung ...