
Asmi menceritakan soal kehidupan rumah tangganya, dia menikah sebelum Rita diterima di sekolah ini. Masih banyak anak yang mendaftar jadi sekolah pun hanya sebentar.
Sudah seminggu Bubu berada di rumah, dia rebahan menikmati sinar mentari dari teras rumah.
Sudah biasa Bubu jadi penjaga rumah, dia berbalik mangkok penuh bermacam makanan, lalu memeriksa toilet alamnya. Kotoran di tanam ke setiap pohon.
Air? Sudah tersedia, bapak menggantungkannya supaya Bubu bisa minum. Bubu siap bila ada siapa, tapi yah semua berharap Bubu baik-baik saja.
Tidak akan ada kucing yang berminat masuk ke rumah karena Bubu dikunci dalam kandang yang dibuat oleh Bapak.
Beda dengan kandang belakang rumah, yang ini lebih terbuka dan lumayan luas. Tapi beberapa hari tampaknya Bubu kurang semangat.
Setiap Rita datang menyodorkan tangannya dia cium lalu berpindah ke sisinya, melihat apakah ada orang lain.
"Kamu lebih ingin ada Kazen ya daripada aku. Aku sediiiih," kata Rita.
Bubu mengangkat tangannya dan menjilat tangan Rita. Rita menggendongnya.
"Kazen gilirannya minggu depan. Tiga hari saja ya, memang sih yang beli kamu itu dia tapi aku yang merawat kamu," kata Rita.
Bubu mengedipkan mata ada kesediham padanya dan tidur di pelukan Rita. Bukan karena itu Bubu tidak ceria tapi kepikiran yang dilihatnya waktu itu.
Apakah Kazen menyukai Rita ada maksud? Ingin rasanya Bubu bisa bicara mengatakan apa yang dilihatnya agar Rita berhati-hati pada Kazen.
Rita jadi kepikiran dan menghela nafas mengerjakan tugas sekolah. Waktu dia menanyakan kangen Kazen, Bubu hanya diam. Seolah-olah bukan itu.
Setelah itu semua staf ditugaskan membagikan materi ke setiap kelas. Rita merebahkan badannya, punggungnya sakit sekali.
Ponselnya berbunyi ah Kazen. Rita bangkit dan mengangkatnya. Perasaannya kembali senang.
Mereka mengobrol lama.
"Kelihatannya Bubu kurang suka tinggal denganku," kata Rita sedih.
"Kenapa?" Tanya Kazen heran.
"Rindu sama kamu," kata Rita manyun.
"Oh hehehe aku juga kangen. Kamu tidak rindu sama aku ya?" Tanya Kazen sambil mengerjakan laporan.
"Kata siapa? Kangen tapi kamu harus kerja kan," balas Rita tertawa.
Kazen senyum dengan wajah serius. Kurang klop ya. "Kamu memang kurang peka. Aku tadi kan cemberut waktu bilang pulangnya malam. Kamu jawab Ok,"
"Oh ituuu memangnya aku harus bilang kamu bolos saja? Oh ya Sabtu ini aku ada kegiatan di sekolah. Ada ceramah sekalian aku bawa Bubu deh," kata Rita.
"Siap, nanti aku jemput ke sana. Mama dan Ayah akan datang ke sini," kata Kazen.
Kadang Rita heran kok Mama dan Ayah ya? Bukankah harusnya Papa? Yah tapi sudahlah sesuka mereka.
"Oke. Sabtu libur? Mau ikut dengar ceramah tidak?" Tanya Rita membuat Kazen meragu.
Dia memang mengerjakan sholat selayaknya muslim tapi sebenarnya itu hanya "Topeng" untuk bisa berbaur. Aslinya agama Kazen tidak ada, makanya saat pacaran dengan Rita dia agak berjaga.
"Ah! Kamu sibuk ya. Maaf," kata Rita.
Kazen bernafas lega. "Iya nih, karyawan ku banyak yang salah mengerjakan tugas. Lain kali saja ya,"
"Oke," kata Rita. Ah! Terlintas dalam benaknya setiap hari Jumat dia tidak pernah melihat Kazen sholat di mesjid.
Kadang dia berpapasan dengan orang-orang dan mencari keberadaannya sampai sepi, tidak ada Kazen. Rita pikir mungkin di kantor ada semacam mesjid kecil.
Saat ke sana dia selalu cari Mesjid nya tapi tidak pernah dia temukan termasuk saat memasuki kantornya. Dia ingat apa kata Kazen soal ruang Mushola.
Saat waktu itu datang ke kantor membawa Bubu, sebenarnya Rita berkeliling namun Mushola itu tidak pernah ada.
Anehnya Rita menemukan bekas sesuatu yang dicabut paksa dan meninggalkan semacam benang-benang daei sajadah.
Bubu pun ada membuat mereka berdua terdiam. Lalu Rita mengelap lantai dan terlihat bekas lem berbentuk sajadah atau karpet untuk sholat. Kenapa dilepas?
Bubu menghampiri Rita, Rita menggendongnya menenangkan Bubu. "Tenanglah. Mungkin dipindahkan,"
Bubu merasa memang ada yang tidak beres dengan Kazen ini. Rita harus menjaganya waspada, jaga Kazen tetap di posisi semula sambil dia menyelidiki yang lain.
Kembali ke masa sekarang, mereka masih mengobrol jangan sampai Kazen curiga. Rita takut dia melakukan kekerasan.
"Kalau Bubu nakal atau merepotkan kamu jangan di sembelih ya," kata Rita tertawa.
"Mana mungkin," kata Kazen menghela nafas.
"Ya kali kalau marah kamu meledak," kata Rita.
Kazen sama sekali tidak curiga untungnya cctv dalam ruangan itu dicopot karena akan diganti. Apa yang Rita temukan sama sekali tidak membuat Kazen curiga.
"Tidak akan pernah kalaupun memang ada yang mau ya om dan tante yang lain. Memang mereka suka daging kelinci. Tapi Bubu, aku yakinkan dia aman denganku," kata Kazen.
"Benar yaaa awas kalau kamu kembalikan Bubu dalam bentuk tulang," kata Rita.
"HAHAHAHAHA memangnya kalau terjadi kamu mau apa?" Tanya Kazen.
"Aku teror kamu sampai masuk neraka," kata Rita membuat Kazen tertawa keras.
Setelah itu ponsel pun ditutup, ibu Darma baru saja memasuki ruangan Kazen dan mendengar dia tertawa.
"Kenapa sih kamu?" Tanya ibunya menyerahkan surat.
"Sabtu aku jemput Bubu dari sekolahnya Rita. Giliran aku yang rawat kan," kata Kazen membuka amplopnya.
"Lho, bukannya minggu depan?" Tanya ibunya lagi.
"Katanya Bubu murung mungkin kangen sama aku," kata Kazen geli.
"Kasihan Rita harus melihat kelincinya lebih suka ke kamu. Memangnya Rita kenapa?" Tanya ibunya memeriksa berkas.
"Sabtu ini ada ceramah di sekolahnya dan kondisi Bubu begitu. Dia mengancam Bubu jangan disembelih," kata Kazen.
"Hahaha dia sayang sekali pada Bubu ya," kata ibunya tertawa.
"Karena nasibnya sama kan kaki yang sama luka. Kalau Rita, aku yang terus ada di sisinya, nah kalau Bubu, Rita yang terus ada di sisinya," jelas Kazen.
"Oh begitu," kata ibunya mengerti. "Nak,"
"Ya ma? Ada apa? Kalau soal mainan Bubu tuh sudah datang," kata Kazen.
"Bukaaan kamu memang suka sama Rita? Mau menikahinya?" Tanya ibu membuat Kazen terdiam.
"Mama ini kenapa sih kok nanyanya begitu," kata Kazen.
"Mama serius, kalau mau tidak apa-apa nanti kita pikirkan caranya ya," kata ibunya.
"Aku masih butuh kalian kalau sampai harus membunuh kalian bertiga, bagaimana denganku?
"Mama tidak apa-apa, Minna juga sudanh tahu. Ini kalau kamu memang menyukai Rita, bawa pergi jauh dan hidup bahagia.
Kamu tahu kan ke negara mana yang aman dari dunia kita," kata ibunya dengan cemas.
"Tidak Ma, aku akan memilih di keluarga. Rita akan bertemu seseorang yang benar bisa menyayangi sepenuhnya," kata Kazen.
Seandainya dia bukan dari keluarga Hunter, dengan Rita pasti akan lebih enak rasanya.
Di tempat lain, Ney yang masih ragu akan kata-kata suaminya mencoba menghubungi Rita lagi.
Dia mencuri dan menjaga apakah suaminya sudah berangkat kerja atau belum. Setelah pergi, Ney dengan cepat menghubungi nomor itu.
"Halo?" Tanya pria di ujung.
Ney yang mendengarnya cukup kaget. Kok jadi berubah? Para petugas telah menyambungkannya ke seseorang.
Mereka pun menyelidiki nomor siapa lagi yang menghubungi nomor Rita yang lama. Ternyata mereka melihat nomor yang sama yang pernah menelepon Rita dulu.
"Halo, ini bukannya nomor Rita?" Tanya Ney dengan cengo.
"Bukan ini dengan Tono, sepertinya kamu salah sambung," kata pria disana lalu dimatikan.
Ney menatap nomornya dan memeriksa ya memang benar kok apalagi lokasinya di Lembang. Karena mungkin ada yang salah nomor, dia periksa satu per satu.
"Kok aneh sih jelas-jelas memang nomor dia kenapa jadi suara laki-laki? Kazen juga bukan," kata Ney bingung. Dia mencoba lagi.
"Halo?" Lagi-lagi suara pria yang keluar.
"Pak, ini nomornya Rita lho, perempuan punyanya. Ini nomornya 123436 kan?" Tanya Ney.
"Iya tapi ini punya saya bukan Rita. Kamu ini siapa sih? Mengganggu terus," kata pria itu.
"Tapi kemarin saya telepon masih nyambung ke orangnya," kata Ney.
"Mbak, saya punya nomor ini sudah lima tahun makanya wajar selalu rusak. Mungkin teman Mbak asal kasih nomor. Coba tanyakan lagi nomor dia berapa," kata pria itu menutup telepon lagi.
"Tidak koook ini memang nomor dia. Ihhh!! Kenapa sih? Kok jadi ke orang lain?" Tanya Ney lalu berhenti satu jam dan menelepon lagi.
Kali ini akhirnya perempuan dan diangkat, Ney lega. Ternyata Rita mau mengangkat teleponnya.
"Halo?" Tanya suara perempuan.
"Hai Rita, ini aku Ney. Siapa sih yang tadi angkat kok katanya nomor ini bukan punya kamu? Kamu ada masalah apa sih sama aku. Jutek sekali," kata Ney nyerocos.
"RITA RITA RITA! INI SIAPA SIH? NEY SIAPA? SAYA TIDAK KENAL! KAMU TERUS GANGGU SUAMI SAYA! Di sini tidak ada yang namanya Rita! SALAH SAMBUNG!" Teriak perempuan itu lalu dimatikan.
Ney sangat kaget mendengarnya telinganya berdenging karena kena sentak.
"Salah sambung? Serius? Tapi kok bisa?" Tanya Ney bingung lalu menanyakannya pada Feb.
"Orangnya beda? Ya kali sudah ganti nomor kenapa juga harus bingung segala," kata Feb yang jutek.
"Habis masa dia ganti nomor? Kemarin-kemarin masih nyambung kok," kata Ney.
"Siapa yang tidak mau diganggu apalagi sama orang yang selalu teror dia. Mulai dari bedak, hampersz lalu Hokben? Tidak sadar-sadar kalau dirinya memang tidak disukai," kata Feb sesukanya.
"Ya aku kan niatnya ingin damai tapi dia begitu memperlakukan aku," kata Ney.
"Damai bagi kamu itu beda kesannya terus mengganggu. Damai bagi Rita ya pergi jauh bukan malah terus dideketin," kata Feb.
"Aku masih mau kok jadi teman dia bukan sahabat atau teman dekat juga tidak apa-apa. Kan dari teman biasa bisa naik," kata Ney.
"Sudahlah Ney hadapi kenyataan. Sudah banyak kelakuan kamu yang bikin dia enek. Yang bisa jadi teman kamu itu yang satu profesi kebiasaannya," kata Feb.
"Aku bisa kok satu aliran sama dia," kata Ney.
"Hahaha jangan ngaco deh tetap saja kebiasaan kamu itu merusak ya.
Saran aku lupakan kalau nanti dia bahagia dan hidup enak, bukan urusan kamu.
Karena dari semua kiriman kamu tidak ada yang berbalas kan, sekedar kata Terima kasih saja tidak ada.
Itu tandanya memang dia menutup kehadiran kamu lagi. Yang kamu harus mengerti, itulah cara berdamai dia sama kamu," kata Feb sengaja memberitahukan.
"Jadi semua usaha aku sia-sia nih? Tidak perlu berbuat apa-apa lagi? Terus cara aku tahu sudah memaafkan bagaimana?" Tanya Ney yang memang masih mencari celah.
"Dia tidak pernah menelepon, balas pesan kamu tandanya dia sudah memaafkan namun enggan menerima lagi kehadiran.
Itu sudah cukup Ney, yang penting kamu dimaafkan dan berhenti berbuat keonaran dengan menghasut anak-anak dengan cerita Rita yang tidak benar," kata Feb.
Ney diam iya juga Rita memang sama sekali tidak pernah tergerak mendatanginya atau bagaimanapun. Sejak dia mengenalnya dari SMP hanya dia sendiri yang selalu mendekati.
"Berhenti mengganggunya dan membuat kamu banyak dosa dengan menyebarkan soal Rita yang tidak benar. Jadi hidup kamu juga tenang, soal peringkat itu Rita orang luar," kata Feb.
"Aku lihat pacarnya ternyata bukan Alex lho tapi orang lain," kata Ney semangat.
"Oh ya? Bagus dong jadi kamu tidak sombong lagi ya dengan membanggakan sebagai sahabat Alex. Ternyataa hahaha sama orang lain," kata Feb membuat Ney sebal mendengarnya.
"Huh!" Kata Ney.
"Kok kamu tahu? Ahhh pameran itu ya yang kamu ketahuan memalsukan data kan hahahaha," kata Feb menertawakannya.
"Itu namanya usaha untuk mencari informasi," kata Ney.
"Kamu tidak malu pasti foto kamu tersebar luas. Masalahnya kamu dikenal sebagai penyusup," kata Feb.
"Bukan dengan Alex ternyata dia digaet sama anak konglomerat!!" Kata Ney heboh.
Feb sih biasa tidak heran juga pasti membuat Ney membara.
"Hahaha memalukan! Untung kita tidak dekat. Lalu kalau Rita sama anak konglo apa hubungannya sama kamu? Datang ke sana hanya untuk cari tahu doang," kata Feb menghela nafas.
"Ih," kata Ney tidak sesuai dugaan.
"Sudahlah Ney masalah kamu dengan orang saja banyak sekali ditambah soal Rita yang kamu sendiri buat parah.
Rita sudah cukup baik kok menurut aku, dia menghindar dari kamu gitu. Kalau kamunya keukeuh mau kembali lagi, sama artinya kamu menggali lubang kematian," kata Feb.
"Kok kamu bilang begitu sih?" Tanya Ney.
"Terserah kamu mau bagaimana aksinya jangan libatkan aku atau anak-anak disini. Urus sendiri hasilnya pun kamu yang dapat. Aku yakin soal kamu sudah diketahui banyak orang," kata Feb.
Sebelum Ney sadar Feb sudah menutup telepon, dia menceritakan apa yang dilihatnya namun tidak ada suara. Cerita di grup pun tidak ada yang membalas.
"Kenapa sih semua laki-laki kaya mendekati dia bukan aku? Padahal aku kan lebih sama kelasnya dengan mereka," gerutu Ney.
Bersambung ...