MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
12



"Ya ampun! Jadi aku ini sebagai perantara?" Tanya Feb dalam chat.


"Ya nama kamu kotor karena niat dia, intinya dia ingin namanya bersih maka dia butuh orang lain. Kan Arnila pemerannya sudah habis masa kontrak. Dia cari pengganti yang agak mirip selemah dia," balas Rita menurut pemikirannya.


Feb menjadi sangat marah membacanya tapi ada benarnya juga sih dan apa yang Rita perkirakan tepat sasaran.


"Yaa itu sih hanya pendapat aku saja soalnya niat dia sudah kentara sekali sama aku," kata Rita.


Kemudian Rita menceritakannya pada Alex dan Alex terkejut, dia tidak bisa menjawab apapun. Kok bisa-bisanya Ney berbuat nekat tapi dia pikir lagi mungkin Ney ingin berteman lagi dengan Rita.


"Ya artinya bagus kan," balas Alex. Mungkin.


"Bagus apanya?" Tanya Rita sudah mulai curiga. Menyesal juga dia menceritakan perihal ini.


"Dia ada niat ingin berteman lagi sama kamu," balas Alex.


"Tapi aku tidak mau," balas Rita.


"I know. Terus paketnya kamu sudah buka? Apa isinya?" Tanya Alex penasaran.


"Mana minat aku buka paket dia. Cuih," kata Rita membuat Alex menggelengkan kepalanya. Cuih pula, Alex sudah tahu kalau tidak mungkin mereka bisa bersatu kembali.


"Jangan begitu, dia kirim itu baik maksudnya," kata Alex.


"Baik apanya? Mencurigakan tahu. Mau dia kirim barang yang mahal pun ogah aku lihat. Dia itu suka pura-pura orangnya, berbuat masalah tapi kabur saat masalah itu melebar. Nanti dia balik lagi berasa tidak punya salah. No no no," balas Rita.


Alex menggaruk kepala, dia juga jenuh kalau Rita sudah mulai kumat cerita soal Ney. Perempuan kenapa serumit itu?


"Terus kamu mau apakaaan?" Tanya Alex pasrahhhh.


"Di buang," balas Rita cepat.


"Jangan! Sudah terima saja," kata Alex.


"Kamu saja mau?" Tanya Rita.


"Saya bukan puan laa pakai itu nanti saya jadi bencong," kata Alex membuat Rita tertawa.


"Tidak mau! Ini bedak kualitasnya jelek! Heran dia beli bedak ginian," kata Rita sambil menatap paket itu.


"Memangnya kenapa?" Tanya Alex. Bedak apa pula yang kualitasnya jelek? Lalu kenapa juga dibeli?


"Ini bedaknya parah. Banyak yang rusak wajahnya terus saat dipakai, warnanya putih seperti cat tembok," jelas Rita mengirimkan foto.


Alex tertawa saat mencari tahu, memang aneh juga kenapa ada penjual yang menjual bedak aneh seperti itu.


"Lalu dia bilang apa?" Tanya Alex.


"Kata temannya salah kirim. Aneh," kata Rita.


Alex juga tidak menduga dipikirnya Ney hendak memberi namun salah kirim? "Oh ya sudah berarti salah kirim!" Katanya.


"Kamu ini bagaimana sih? Tadi katanya terima saja karena dia ada niat beri, giliran dia bilang salah kirim, kamu beda lagi," kata Rita.


Alex memukul kepalanya. "Ya ampuuuun. Ya aku memutuskan yang terakhir deh. Aku menyarankan kamu kembalikan saja,"


"Dari sini bisa terlihat semakin jelas soal kamu mungkin pilihan aku salah," kata Rita.


"Soal?" Tanya Alex cemas.


"Kalau kamu tidak bisa aku percaya nyatanya kamu juga sama. Plin plan," kata Rita.


Alex terdiam, dia mengusap wajahnya. Alex bingung tampaknya Rita sudah merosot mempercayainya. Sekarang yang tersisa, dia siap-siap untuk yang terburuk.


Alex merasa akibat kejadian ini, membuat Rita agak terpaksa masih kontak dengannya. Dan lagi Ney masih saja mengganggunya.


"Maaf, Rita. Hanya aku ingin kamu melihat..." kata Alex sulit.


"Ogah! Aku juga punya teman. Untuk apa menerima dia?" Tanya Alex.


"Tapi kebanyakan teman-teman kamu juga palsu kan. Mau jadi teman kamu kalau banyak uang, mau jadi teman kamu untuk pesta saja. Memang senangnya kamu itu mengoleksi Barang palsu termasuk Teman palsu. Tuh masukkan ke daftar Palsu kamu, cocok kok," kata Rita marah.


"Maaf," balas Alex. "Sudah doong makanya aku mau kenal kamu, karena kamu benar-benar tulus. Kamu tidak memandang orang dari status, makanya kamu bisa menerima Ney. Tapi sayangnya kamu terlalu mempercayai dia," kata Alex.


"Iya. Salahnya di situ jadi sekarang aku benar-benar menjauh. Jadi kamu jangan memaksa ya kalau aku harus terima makhluk itu lagi!" Kata Rita.


"Iya iya, aku kan bilang dari tahun lalu jangan terlalu dekat kan. mengobrol boleh tapi saring apa yang tidak seharusnya kamu bicarakan sama dia. Memang tidak ada celah sih dia bisa kembali sama kamu, aku tahu itu," kata Alex.


"Tumben bijak biasanya bela dia," kata Rita.


"Sekarang aku mengerti Rita," kata Alex kalem. Tumben...


"Sisi baik dia itu memang ada tapi secuil. Dia cemas karena aku kelamaan jomblo tapi caranya support aku bukan dengan perilaku miringnya dia. Apalagi dia mengaku ya mendoakan kamu mati! Aku tidak suka orang yang seperti itu," jelas Rita.


"Iya iya aku mengerti," kata Alex yang mencoba mengalah karena tampaknya Rita dalam zona merah.


"Terus apa perlu ya dia terus ganggu aku? Tahu lah dia, aku tidak suka sama dia terus meneror. Apa aku harus terima di saat aku sudah sangat tidak nyaman dengan kehadiran dia?" Tanya Rita.


Alex diam membacanya, hal ini juga pernah diutarakan oleh Arnila yang memang sama bahwa dirinya sudah tidak ada kenyamanan. Arnila pun ada sedikit pembicaraan dengan Alex, dia hanya mengatakan apa yang dikatakan Rita itu benar.


Arnila ingin Alex lebih membukakan Mata Hatinya karena sudah terlihat jelas siapa yang salah sebenarnya. Bahwa Rita tidak pernah membohongi perasaannya pada Alex, dan Arnila ingin Alex berhenti menyakiti Rita.


Bila memang Alex hanya mempermainkan Rita karena penasaran, lebih baik berhenti mendekatinya. Yang dia lihat, Alex justru selalu membela Ney bukan Rita.


Tidak mengherankan bila nanti Rita berpaling pada laki-laki lain, karena merasa sia-sia mengenalnya selama 4 tahun. Alex tidak membalas, perasaannya gundah.


Di sisi lain, Alex ingin Rita bahagia dengannya tapi... dia takut saat dirinya kumat, Rita kabur dan memutuskan mencintai orang lain. Karena ada pengalamannya juga seperti itu.


Di sisi lain, dia enggan melepas Rita tapi dia sadar Rita selalu bersedih hati bila bersamanya. Temperamennya yang sulit dikendalikan membuat dirinya berjarak. Kalau dalam kenyataannya sih sudah pasti habis kepalanya dijambak oleh Rita.


"Kata-kata kamu sama dengan temannya ya. Kalian sama-sama tidak nyaman," kata Alex berpikir.


"Kalau sudah tidak ada kenyamanan, berteman mau bagaimanapun yang ada hanya Terpaksa. Dan aku tidak suka harus terpaksa menerima seseorang," kata Rita.


Alex menghela nafas. Arnila juga dia tahu sudah pergi jauh dari Rita dan Ney, anehnya kenapa Ney masih terus mengejar Rita? Padahal Rita saja tidak peduli.


( Saya diberitahu oleh Alex bila tidak mau diganggu jangan memasukkan peran Ney dalam novel. Namun nyatanya, Ney masih terus mengganggu sampai menelepon ke nomor saya yang dahulu.


Sebelum saya rilis novel ini, dia sudah mengganggu saya duluan jadi apa kata Alex tidak berguna! Gara-gara dia buat grup bulan lalu, kehidupan saya yang tenang kembali terusik. Dan kalau saya bertemu Alex, akan saya gundul kan kepalanya! Gara-gara dia, makhluk ini kembali mengganggu.


Saya diinformasikan oleh temannya bahwa dia ingin mengobrol seperti tahun lalu saya tertawa kan saja. Bahwa dia sedang dalam masalah dan butuh seseorang. Saya heran kenapa harus saya dan temannya?


Dia punya teman juga ya curhat lah dengan sebangsanya saja. Kenapa juga harus heboh telepon sana telepon sini. Namun saya dan temannya menolak, karena dia memang sangat mengganggu.


Kami berdua memutuskan bersama-sama memblokir semua media yang ada untuk kepentingan otak agar tetap waras. Dulu pun saya di teror dia memakai nomor lain tapi fotonya adalah dirinya.


Saya sudah mengganti nomor beberapa kali tapi yang bikin saya kesal, Ney tidak pernah mengerti dan dia terus menerus mengganggu. Selama beberapa tahun saya memang hidup tenang tanpa ada gangguan dari dia.


Apakah dia sebegitu kesepiannya? Sampai berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama mirip lagu Kerispatih. Dia selalu membanggakan banyak teman tapi kenapa terus mengganggu saya? Terus meneror.


Saya hidup bahagia tanpa kehadiran dia, saya bebas. Saya tidak perlu mendengarkan ocehannya mengenai hidup orang. Saya sudah tidak masalah bila dia masih menghasut orang dengan kisah saya ke dia.


Saya juga tidak peduli kalau dia kenal dengan teman-teman Alex, apa urusan saya? Yang saya jamin soal dia, niatnya mendekati siapapun tidak baik. Saya bersyukur sudah jauh. Mungkin itu yang membuat dia sepi ya, yah saya tidak peduli.


Tapi semenjak saya memberikan nomor saya pada Alex, kehidupan saya terusik gara-gara dia. Saya tidak bisa percaya lagi pada Alex. Tapi saya selalu berdoa bahwa dia baik-baik saja.


Memang hubungan saya dengan Alex tidak berjalan lancar. Namun, saya selalu berharap dia pun mendapatkan kebahagiaan. Mungkin menikah ya, saya berharap dia sudah menemukan tambatan hati baru yang bisa membuatnya nyaman.


Saya tidak tahu apakah dia masih bete sama saya atau tidak, saya hanya sedang sibuk bekerja sambil sesekali meluangkan waktu untuk mengisi novel ini ).


Bersambung ...