MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
155



Bubu sempat menangis bersyukur dirinya banyak dicintai orang dengan kekurangannya.


Hari-hari berlalu Rita dan yang lainnya merasa kehilangan tanpa kehadiran Bubu. Rita terus menanyakan kabar kelincinya dan Kazen memperlihatkan badannya sudah agak berisi.


Infus terpasang karena menurut Ayahnya lagi-lagi Bubu mogok makan. Rita menangis melibat Bubu bernafas dengan pelan.


"Kok bisa badannya berisi? Kan sudah makan," kata Rita heran.


"Pamanku punya banyak kelinci dia tahu bagaimana cara kelinci makan saat sakit. Nih hasilnya, tenang saja," kata Kazen.


"Kalau sudah sehat pulang dong..Keluarga aku juga sayang sama dia," kata Kazen sedih.


"Beli lagi sana," kata Rita.


Saat itu Bubu bangun dan Kazen memperlihatkan Rita. Bubu menjilati layar ponsel Kazen dan Rita tertawa.


"Aku inginnya Bubu. Kamu saja yang beli lagi ya ya ya?" Tanya Kazen memohon.


"Wani piro," balas Rita membuat Kazen tertawa.


"Hari Sabtu Rita dan Prita kesini, Bu. Kalau sembuh, kamu bisa pulang makanya ayo makan yang banyak ya," kata Kazen.


Bubu menatap Kazen penuh arti dia sudah kuat berdiri meski pelan berjalan. Bubu melihat wajahnya yang kesepian dan menjilatinya.


Kazen tertawa baru kali ini dia diperlakukan baik oleh binatang. Biasanya? Ya biasa sih ada beberapa binatang yang takut padanya.


Dijilatnya tangan Kazen dengan lembu, Kazen rebahan di samping kasurnya. Dan Bubu pindah ke pipinya menjilati.


"Tampaknya tuan sangat senang kelinci kekasihnya ada di sini," kata Pri.


"Inginnya sih sudah Tuan dengan Nona Rita kan. Paksa supaya bisa menikah, begini lebih baik daripada harus melihat Tuan selalu serius pada "Pekerjaannya"," kata pelayan lain.


"Pasti akan sepi saat kelincinya pulang," kata Shad.


"Iya," jawab semua pelayan.


"Jangan lupa sabtu nanti kalian jangan ada di rumah ini. Tutup semua jalan jangan menampakkan rumah ini terhubung dengan belakang," kata Nyonya Darma keluar.


"Baik, Nyonya," jawab mereka yang tengah menyiapkan semuanya. Bahan-bahan ditaruh dalam kulkas jadi mereka tidak perlu memeriksa lagi.


Tampaknya para pelayan keluarga Darma sangat menyenangi pekerjaan mereka meskipun disebut keluarga paling kejam.


Malamnya Bubu tidur terlelap dia sudah tahu dimana kamar Kazen. Dan Kazen menuju kamar kerjanya untuk mengerjakan semua tugasnya.


Pukul sepuluh malam bubu bangun dan menggeliat, dia sudah puas tidur. Bubu melihat sekitar tidak ada Kazen.


"Sudah bangun? Tuan Kazen ada di kamarnya. Kamu tunggu saja," kata pelayan menaruh sayuran segar di mangkoknya.


Bubu sudah enak makan, dia memakan semua yang diberikan. Selagi makan dia masih mencari Kazen. Menjilati tangannya dan menguap lagi.


Dimana ya? Ah, seminggu disini membuat aku kesulitan. Besar sekali. pikir Bubu melihat semua peralatan. Dia melompat cepat menuju dapur.


Mencolek kaki pelayan yang kaget lalu senyum pada Bubu. "Halo, cari tuan ya?" Tanyanya mengambil wortel.


Bubu makan sampai habis lalu keluar bermain dengan mainan yang ada. Kazen dimana ya? Masa kerja sih?


Pelayan itu keluar membawakan sepanci sup yang wanginya melewati hidung Bubu. Dia berdiri tegak, ingin tahu.


"Nanti ya kalau ada sisa aku beri. Ini makan malam," kata pelayan membelai kepala Bubu.


Bubu menatap pelayan itu berharap memberitahukan dimana Kazen berada. Tapi tidak ada yang menyadari karena tengah sibuk. Dia keluar ruangan menatap sekelilingnya,


Dia menemukan kamar Kazen dan mengetuk sebisanya sambil mencakar nya. Biasanya Kazen langsung tahu bahwa Bubu ada di luar tapi kali ini sepertinya sibuk sekali.


"Apa kalian sudah memberitahukan tuan makan malamnya?" Tanya Pri.


 "Sudah, tapi Tuan tidak keluar juga," jawab yang lain.


"Dia pasti sangat sibuk. Ah, hai Bubu! Cari Tuan ya?" Tanya Pri berjongkok.


Bubu mengangkat kedua kakinya dan Pri hanya tersenyum tanpa membelai kepalanya.


Iya iya. Dia ada dimana? Kamar? Biar aku yang bujuk dia makan. Kata Bubu percaya diri, sambil mencolek tangan Pri.


Para pelayan tertawa melihat tingkahnya. Pri berdiri dan berjalan, Bubu menunggu.


"Ayo kita ke kamarnya," ajak Pri berjalan.


Ah Bubu mengerti dan mengikuti Pri jalan, tampaknya Pri tidak menyukai hewan tapi karena Tuannya yang bawa ya dia harus suka.


Bubu berlari duluan, dia tahu dimana kamar Kazen hanya saja tidak sopan sok tahu. Dua hari lagi pemiliknya akan datang menjemput.


Bubu terdiam lalu dia berbalik badan setelah menghitung jarak pintu dan kakinya. Lalu... BUK BUK!!


Pri tertawa seadanya dan dia mengetuk dengan wajah serius. "Tuan! Waktunya makan,"


Tidak ada suara balasan Pri menghela nafas memandang ke bawah makhluk berbulu yang menunggu.


"Tuan kalau sedang bekerja tidak akan bisa mendengar suara apapun. Yuk, aku beri kamu makanan enak," kata Pri.


Bubu menolak pergi dia akan mencoba lakukan sendiri. Pri kemudian beranjak karena harus membuka gerbang rumah yang nanti dipakai keluarga Darma.


Kadang Bubu agak merasa merinding menatap wajah Pri. Senyumannya seakan dipaksa dia lakukan, kalau dengan Pri terasa tidak begitu nyaman.


Bubu berusaha mengetuk lagi dengan keras menggunakan kedua kaki belakangnya. Dia lakukan sambil melompat dan menghasilkan bunyi DUK! Dengan keras namun nihil.


Bubu menguap malam ini dia akan tidur depan kamar Kazen saja sampai keluar. Tiba-tiba pintu terbuka, Bubu senang kedua telinganya berdiri.


"SIAPA YANG MENGETUK PINTU DENGAN KERAS!?" Teriak Kazen bergema membuat para pelayan memunculkan kepala mereka.


Mereka menunjukkan jari ke bawah membuat Kazen masih emosi. Bubu yang telinganya terangkat kini langsung jatuh dan tiarap.


Kedua kaki depannya menutup kedua mata, dia ketakutan mendengar suara Kazen yang garang. "Uuk uuk ii ii,"


Kazen masuk dan menutup pintunya pelayan agak iba dengan Bubu yang menangis. Baru saja mau mereka bawa, Kazen membuka pintu lagi.


Bubu masih menutup wajahnya dan menangis, dia tidak tahu bahwa Kazen akan semarah itu padanya. Kazen menarik nafas.


"Kamu mengetuk pintu? Maaf ya aku sedang sibuk bekerja. Jangan takut. Pertama kalinya kamu dengar suara menggelegar aku ya.


Mirip Rita langsung menangis. Maaf ya," kata Kazen mengangkat Bubu yang memang menangis.


Meski Bubu dipeluk, badannya masih gemetaran dan Kazen merasa bersalah. Seharusnya sebelum marah, dia memeriksa dahulu.


Kazen membawa ke dalam kamarnya yang terlihat nyaman sekali, karpet lembut dan lantai yang berwarna cerah. Bubu melihat-lihat ketakutannya berubah menjadi kagum.


Halaman kecil terdapat oase dan tanaman kecil serta rumput yang enak diinjak. Kazen membawa Bubu berkeliling, sambil menciuminya.


"Ini surga kecilku. Aku lupa kalau kamu masih ada," kata Kazen membuka jendela lebar dan menampilkan kolam ikan yang unik.


Bubu menciumi wortel mini yang Kazen miliki, dia antusias sekali melihat pertanian kecil itu. Kazen mengambil lima dari setiap sayuran.


Dia bersihkan, Bubu duduk dengan sopan di samping Kazen. "Silakan Nyonya," kata Kazen tertawa.


Enaaaak rasanya tidak bau dan manis


Bubi mengangkat kakinya dan menjilati tangan Kazen. Kazen tertawa, dia senang. Bubu makan beberapa lalu pergi melihat-lihat lagi.


Kazen membawakan mangkok kecil di dapur kamarnya. Yah ini sih pasti akan mudah lupa segalanya, satu kamar sudah seperti rumah.


Banyak buku yang tersusun rapi bukan komik seperti Rita. Bubu merasa bahagia di sana, dia menaiki tangga yang entah untuk apa dan sampai ke kasur Kazen.


Berlarian kesana kemari membuat Kazen tertawa. Bubu anak yang pintar dia tidak pernah mengotori apapun dengan kotorannya.


Para pelayan tidak membiarkan Bubu memakan kotorannya, mereka selalu memeriksa isi mulutnya dan membuatnya Kesal!


Tapi ujungnya makanan setumpuk! Karena dia tidak lagi memakan kotorannya. Kazen kembali bekerja namun tidak terlalu serius.


Bubu menghela nafas lalu turun dan menjilati kaki Kazen lalu bersandar dan rebahan di dekatnya.


"Ya ampun! Jangan disitu. Sini naik," kata Kazen tertawa mengangkat Bubu ke meja kerjanya.


Bubu melihat tumpukan pekerjaan Kazen dan memandanginya kagum. Dia tidak mengganggunya, ada waktunya bermain nanti.


Kazen memencet sesuatu membuat Bubu memeriksanya. Kazen tertawa saat Bubu mencobanya dan berhasil.


"Pintar. Bawakan makan malam aku ke kamar dan jangan lupa obat dan cemilan Bubu," kata Kazen.


"Baik Tuan," jawab pelayan tersebut.


Bubu menunggu menatap ke arah pintu. Pelayan masuk membawa nampan besar mirip seperti Alex. Ada sepiring salad daging dengan topping yang menggiurkan.


Bubu juga antusias tapi tidak tertarik dengan makanannya. Bubu turun ke arah makanan Kazen disimpan. Dia melihat selada yang segar sekali di tata di piring Kazen.


Bubu menjulurkan tangannya untuk menggapai tapi tangan pelayan memegangnya. "Tidak boleh. Ini makanan kamu,"


Yahhhh telinga Bubu terkulai memohon pada pelayan tersebut. Tapi pelayan itu terus memperingatinya dengan gerakan jari, "Tidak Boleh".


Kazen tertawa Bubu juga bukan binatang yang tidak sopan, dia berbalik pada Kazen dan terus menatapnya.


"Hahahaha kamu mau? Ambil," kata Kazen.


Bubu mengambil satu, selada itu sangat besar menutup badannya. Kazen bekerja lagi, dengan sudah payah akhirnya Bubu bisa menariknya.


Dia berlari membawa selada itu dan dibawa ke tangan Kazen menatapnya. "Untuk aku? Terima kasih cantik. Untuk kamu saja masih ada yang lain," kata Kazen.


Bubu enggan memakannya membuat Kazen menyimpan kacamatanya. "Kamu mau makan bersama? Ayo deh," kata Kazen.


Bubu memperingati Kazen untuk makan juga jangan sampai telat.


"Yayaya kalau ada Rita lebih enak bisa disuapi," kata Kazen tertawa.


Mereka makan bersama, ada juga buah apel untuk membuat Bubu tenang. Kazen mencoba memberi Bubu daging ayam dan ternyata makanan.


Beberapa menit kemudian Bubu tengah menikmati tidurnya di pangkuan Kazen. Perutnya sudah kenyang sekali, meski semua perilaku pelayan agak aneh tapi Bubu juga menyayangi Kazen.


Rita menelepon menggunakan video.


"Hei," kata Kazen mengangkat teleponnya.


"Kamu sedang apa malam ini?" Tanya Rita.


"Istirahat baru selesai makan malam juga," kata Kazen.


Rita senyum kepadanya. "Kerja? Jam segini?"


"Ya apalagi?" Tanya Kazen menunjukkan tumpukan kertas.


Rita menganga melihatnya tidak jauh beda dengan pekerjaannya juga. Sekarang dia sudah mulai bekerja kembali.


"Sekarang kan Jumat tapi kerja kamu masih saja menggunung. Bagaimana keadaan Bubu? Liburan dong," kata Rita terlihat cemas.


"Mana bisa aku lakukan itu kantor sedang dalam masa pancaroba alias kesulitan. Alhamdulillah, sudah dicabut infusnya," kata Kazen memperlihatkan Bubu yang membulat.


"Dia pasti kesakitan. Bubu cayang," kata Rita yang sangat merindukannya.


"Aku juga sakit nih," kata Kazen dengan sedih.


"Eh!? SAKIT APA?" Tanya Rita kaget.


"Sakit kamu selalu tanya kabar Bubu saja," kata Kazen manyun.


Mereka berdua tertawa dan tanpa mereka ketahui sebenarnya Bubu sudah bangun dan terus tidur, mendengarkan obrolan mereka.


Mereka mengobrol kadang dengan isian yang berat dan Kazen sesuatu dengan bersifat mesum. Yang membuat Rita menutup teleponnya lalu Kazen meminta maaf.


"Kamu lagi horny ya? Makanya mengatakan itu terus," kata Rita heran.


"Tanpa sensor pula kamu mengatakannya," balas Kazen menghela nafas.


"Itu kan wajar daripada banyak kode," kata Rita membuat Kazen tertawa.


"Wajar kan kalau aku membicarakannya," kata Kazen.


"Nikah sana!" Kata Rita.


"Ayok!" kata Kazen tertawa.


Rita tertawa.


"Aku serius. Kita menikah yuk," ajak Kazen. Tidak ada jawaban saat itu mereka sedang menelepon saja.


Rita terdiam. Menikah? Dengan Kazen, tentulah dia ingin tapi... dia tidak yakin. Seperti ada hati yang berkata tidak.


"Bercandaaaa yeeee pasti kamu pingsan kan dengar aku bicara begitu," kata Kazen.


"Idiot!" Seru Rita mematikan teleponnya. Tapi entah kenapa dia lega itu hanya bercanda.


Di tempat Kazen, Kazen menutup teleponnya pandangan serius. "Bila ingin pun, aku tidak mungkin bisa Rita. Kalau kamu sampai masuk ke keluargaku, "Mereka" pasti akan bertindak,"


Bubu bangun kenapa dia melihat Kazen berhenti mengobrol dengan Rita. Kazen mengangkat Bubu dan memeluk badannya.


"Kalau aku menikah dengan Rita, apa kamu senang Bubu?" Tanya Kazen memandangi wajah Bubu.


Bubu berkedip dan menjilati dagunya. Kazen senang sekali, tatapannya seperti disayang oleh binatang.


"Kamu takut Rita bukan pasanganku?" Tanya Kazen lagi. Bubu berkedip, ya pasti ada selintas begitu.


"Tidak apa-apa, setidaknya aku bisa mengenal dekat dan menjadi penyembuh lukanya. Kamu sedih?" Tanya Kazen senyum.


Bubu bersandar ke lehernya dan tampak sedih, enggan meninggalkan Kazen sendiri. Kazen memeluknya dengan lembut.


Beberapa hari sebelumnya...


Hari-hari kerja Rita dan Kazen kembali dengan seabreg pekerjaan. Rita kadang mendatangi kantor Kazen dengan membawakan seporsi sushi dan batagor.


Kazen selalu membawa Bubu setiap kerja dan Rita melepaskan rindu. Tentu Bubu pun senang dan lari mengitari Rita sebanyak tujuh kali. Menandakan dia sangat bahagia.


Mereka juga berfoto selfie dengan saling berhadapan dan saling memeluk. Bubu nampak tersenyum meski saat itu masih agak lemas.


"Aku kembali kerja ya," kata Rita pada Bubu yang mengerti.


Dia membawakan masuk kembali kantor Kazen yang sepi, lalu menuju ruangan main bagi Bubu. Ada pegawai sana yang menyimpan pekerjaannya, tahu Rita ada yang tidak menyukainya.


"Aku takut kamu diapa-apain. Aku tunggu Kazen saja," kata Rita dan bermain sebentar dengan Bubu.


Kazen masuk dan dengan senang memasuki area bermain. "Lho? Masih disini? Kelas sudah masuk," kata Kazen.


"Aku tunggu kamu kembali. Pegawai sini kan tahu ini kelinci aku, takutnya dikerjai mereka," kata Rita masih menggendong Bubu.


"Aku akan titipkan pada Shin jadi kamu bisa kembali. Aku harus bertemu klien," kata Kazen.


"Hihihi," tawa Rita menatap Kazen.


Sambil gendong Bubu, Kazen penasaran. "Apa hayooo,"


"Kamu semakin ganteng kalau memakai kemeja kantor," kata Rita malu.


"Cieeee masuk kriteria nih. Sini mau alu peluk," kata Kazen.


"Ogah!" Kata Rita menolak lalu menuju pintu kantor. Kazen menatap Rita daei belakang, ada rasa sayang dan sedih bersamaan.


Tidak dapat memiliki Rita sepenuhnya. Kenapa hayoooo??


"Eh iya Rita sebentar," kata Kazen. Bubu penasaran.


"Kenapa?" Tanya Rita berbalik dan badan Kazen menyentuh wajahnya.


Kazen memeluknya bersamaan dengan makhluk berbulu. Bubu senang serasa dipeluk oleh orang tuanya.


Rita menciumi kepala Bubu dan Kazen menciumi kepala Rita. Ada rasa sedih yang mendalam namun Kazen tahan.


Bersambung ...