
"Tapi menurutku tidak sesuai dengan kamu deh," kata perempuan itu.
"Memang, tapi aku bahagia dengannya. Mungkin memang seharusnya begini kan," kata Kazen memegang tangan Rita yang hampir kemana-mana.
"Oh yaa seharusnya, ini pasti kencan pertama kan? Kalian pasti baru seminggu," kata perempuan itu meminum minuman alkohol.
Kazen memundurkan aku dari perempuan itu, perempuan itu agak keheranan.
"Dia muslim, tidak seharusnya kamu minum dan mengeluarkan aroma," kata Kazen sopan.
"Oh, maaf aku kira muslim KTP seperti yang sudah-sudah. Kamu apa sama?" Tanya perempuan itu agak jutek.
"Saya bukan orang yang memakai jilbab musiman," kata Rita membalas senyuman.
Perempuan itu tidak peduli dengan jawaban Rita dan hanya menatap genit ke arah Kazen. Sepertinya memang banyak yang naksir Kazen hanya untuk fisik atau materi.
"Ini yang ke delapan bulannya dan kencan yang kesekian-sekian. Permisi," kata Kazen mengajak pergi.
Perempuan itu kesal dan menggebrak meja kemudian pergi. Mereka berdua menuju suatu meja yang dijaga oleh beberapa orang.
"Silakan, Pak," kata petugas menyerahkan kotak sedang.
"Wah," kata Rita memegangnya.
"Dua, Pak?" Tanya petugas lagi.
"Satu saja. Isinya bermacam-macam cokelat Praline. Kamu pasti suka," kata Kazen.
Mereka menuju ke tempat duduk yang masih agak sedikit orang yang duduk. Rita buka dari pita dengan hati-hati.
"Waaaah!" Kata Rita senang.
"Coba makan satu dan bagaimana pendapat kamu," kata Kazen.
Rita makan dan... "Enaaaak!" Kata Rita senang. Dia buka lagi satu dan membuat Kazen membuka mulutnya.
"Enak kan," kata Seren muncul dengan penampilan yang super cantik. Bajunya mirip seorang dewi dengan rambutnya dibuat sanggul modern.
"Seren! Jadi ini..." kata Rita bingung.
"Seren itu sangat pintar membuat apapun. Kue, cokelat, roti, masakan apapun dia bisa. Kamu bisa meminta Seren mengajarkan atau berbagi resep," kata Kazen.
"Wah. Boleh?" Tanya Rita.
"Tentu," kata Seren senang sekali.
"Semua tamu diberi ini?" Tanya Rita takjub.
"Iya, kalau mereka bawa tiketnya. Kalau tidak, diberi yang lain," kata Seren yang lalu pamit untuk menyambut tamu yang lainnya.
"Seren cantik ya. Dia pernah suka sama kamu?" Tanya Rita membuat Kazen agak kaget.
"Pernah tapi waktu itu aku masih nakal dan sadar kalau dia perempuan baik-baik. Jadi aku tolak karena belum siap," kata Kazen.
"Padahal cocok lho," kata Rita memandangi Kazen.
Kazen menatap Rita yang dia kagumi, Rita sama sekali tidak pernah merasa iri atau cemburu. Ya ada sih cemburu kalau Kazen sedang sibuk bekerja.
Sedekat apapun perempuan pada Kazen, dia melihat sorot mata Rita tidak pernah berubah. Yang Kazen ingat hanyalah kalimatnya.
"Kita bukan siapa-siapa di dunia. Kita hanya Boneka yang Allah ciptakan untuk diuji apakah kita akan menurut atau membangkang. Kamu atau aku, juga bukan manusia yang abadi. Kenapa harus takut kehilangan?"
Rita kemudian merasa banyak yang memperhatikan, dia hanya pura-pura tidak terlalu peduli.
"Eh, Kazen sepertinya banyak yang memperhatikan aku ya? Atau hanya perasaan?" Tanya Rita berbisik.
Kazen memperhatikan ya tidak salah sih. "Selain kamera ya orang-orang," katanya.
"Tenang saja tidak perlu dipedulikan jadilah dirimu sendiri. Mereka heran karena tidak semua wanita bisa menarik hati orang ini," kata Seren menepuk bahu Kazen.
"Langka ya," kata Rita.
Saat berjalan mengambil air, seseorang sengaja bermaksud menginjak bajunya namun karena tidak sampai, yang kena malah sepatunya.
"Ow!" Teriak Rita menatap sepatu depannya penyok.
"Hahaha itulah akibatnya berani mendekati Kazen," kata perempuan itu menjauh.
Meski tidak sakit dan hanya sepatunya yang penyok, sudah buat sebal. Kazen tidak membantu karena Rita bisa sendiri.
"Kamu tidak apa? Yah begitulah," kata Kazen.
"Tidak apa-apa bisa diperbaiki," kata Rita.
Sejak mereka memakai topeng, kamera pun hanya menyorot saja tidak ada yang bertanya. Kazen sesekali berpisah dan mencopot topengnya bila bertemu tamu.
Rita mencari tempat duduk agak pojok dan terduduk sambil menyimpan gelas. "Hahh jadi seperti ini ya pestanya," kata Rita pegal.
"Hai, jadi kamu kekasihnya Kazen?" Tanya seseorang menghampiri Rita.
Rita berbalik ada tiga orang perempuan yang ke arahnya. Masing-masing memegang minuman yang berbeda warna salah satunya warna merah.
Rita sudah pasang kuda-kuda kalau mereka nanti menyerangnya.
"Iya," jawab Rita dengan ramah.
"Tenang kami tidak akan melakukan hal tidak pantas meski kata mereka kekasih Kazen dari kelas bawah," kata salah satunya dengan rambut gelombang.
Mendengar itu Rita hanya senyum, posisinya mirip Hermione di antara para warga dengan darah penyihir.
"Kami boleh kan duduk dengan kamu? Kursi yang lain penuh," tunjuk rambut pendek ke arah lain.
"Silakan," kata Rita.
"Ah, syukurlah. Pinggangku pegal mencari kursi," kata yang berambut gelombang.
"Sudah," kata Rita memperlihatkan.
"Ah, yang biasa ya. Coba deh yang ini enak lho," kata berambut panjang.
Yang membawa minuman merah menggelengkan kepalanya. "Kamu bodoh ya dia ini memakai jilbab! Maaf ya dia memang sering mengalami amnesia," kata yang bergelombang.
"Hahaha oh iya maaf aku kira jilbab musiman," kata rambut panjang tampaknya mabuk.
"Iya tidak apa-apa. Menurut kalian aku aneh dengan Kazen?" Tanya Rita ingin tahu.
Mereka bertiga menatap Rita dan tertawa bersamaan.
"Tidak, biasa saja hanya tumben ada yang benar-benar berjilbab," kata rambut pendek.
"Oh.. aku dengar mantan sebelumnya ada yang berjilbab juga tapi setelah tahu siapa Kazen, penampilannya jadi seksi?" Tanya Rita dengan hati-hati.
"Ahhh yang itu. Mudah tersebar sih kalau Kazen punya kekasih tidak seperti musuhnya ya. Alfarizki, Gunda dan Akenda," kata yang lain.
Rita menganga, jangan-jangan mereka juga termasuk ke dalam keluarga besar ini? Yang Kazen bicarakan waktu itu.
"Setelah itu bagaimana akhirnya?" Tanya Rita.
"Hmmm Kazen putus sih itu terbilang biasa ya, dia kencan dengan perempuan itu hanya dua minggu," kata yang bergelombang.
"Semoga kamu tidak begitu ya," kata yang panjang sambil tiduran.
"Hei, bangun! Ah, kamu ini kebiasaan deh selalu mabuk saat kita janji bertemu," kata rambut pendek manyun.
Rita hanya tertawa melihat teman mereka yang agak tidur. Ponsel berdering, dia mengambil ponselnya dan Rita menganga melihatnya.
"Buset! Ponselnya emas dan berlian semua," pikir Rita menganga kedua matanya.
"Eh, sebentar ya suami aku menelepon nih. Aku ke sana dulu nanti kembali lagi," kata rambut panjang berjalan sempoyongan.
"Kalian tidak bantu?" Tanya Rita.
"Tenang saja dia itu meski oleng, kuat minum kok. Nanti juga kembali ke sini pasti sudah normal lagi," kata rambut pendek.
Mereka menikmati acara yang akan dimulai terkadang mengobrol dengan Rita nama mereka Praya yang rambut pendek, Iara yang rambut gelombang dan yang tadi pergi, Cay.
Di luar gedung, Ney tiba dengan persiapan yang matang dan berjalan menuju gedung.
"Maaf, tiketnya tolong diperlihatkan," kata petugas 1.
"Oh iya," kata Ney pura-pura mencari. "Aduh, aku baru ingat sepertinya Rita lupa memberikan undangannya,"
"Rita?" Tanya petugas 1.
"Iya, Rita Ashalina. Aku diajak dia datang ke sini katanya soal tiket tidak perlu," kata Ney dengan lembut dan ramah.
Kedua petugas mencari nama tersebut, mereka temukan tapi tidak yakin bila Ney termasuk di dalamnya.
"Memang ada tapi dia mengundang adik dan ketiga temannya. Nama Anda siapa?" Tanya petugas ke 2.
Kazen sudah melaporkan nama ketiga teman adiknya, dan mereka diberitahukan untuk tidak menyebutkan siapa saja.
"Saya salah satu teman adiknya, Ney Grizelle," kata Ney.
Mereka berdua memeriksa dan saling berpandangan.
"Baiklah, nama Anda ada. Dan ini kue pembukanya, silakan," kata Petugas 2 menunjukkan jalan.
"Terima kasih," kata Ney tanpa tahu gerak geriknya sudah diketahui.
"Laporkan pada Tuan kalau orang yang dimaksud telah datang," kata petugas 1 pada petugas lainnya.
"Baik," kata yang lainnya.
"Selain nama yang ada dalam daftar bila nanti ada yang mengaku sebagai adik atau teman Rita. Beri dia jalan untuk masuk selama sepuluh menit. Setelah itu antar dia keluar,"
Itulah pesan dari Shin pada petugas depan dan dalam. Sebenarnya nama Ney sama sekali tidak ada, mereka langsung melaporkan.
Petugas dalam mengangguk dan menyambut Ney.
"Maaf, topengnya bisa diganti? Karena ini berbeda dengan model yang kami buat," kata orang itu.
Ney kecele sekali dia bertingkah dengan membubuhi alasan. "Oh, kok bisa ya? Dasar Rita dia memberikan topeng yang salah,"
Petugas tersebut tidak menjawab dan memberikan topeng yang lain. Ya dia buat topeng juga tapi kurang begitu mirip.
"Silakan," kata petugas dan Ney berjalan dengan hati yang gembira.
"Yess!! Berhasil! Lihat kan aku memang pintar tidak akan kalah dengan Rita. Nah sekarang aku harus menemukan dia," pikir Ney mencari-cari.
Petugas itu kemudian membalikkan topeng buatan Ney, tampak jelas bahwa itu terbuat dari sebuah kotak dus. Ada nama dari dus tersebut lalu dilaporkan juga.
Ney memandangi tempat itu dengan kedua mata yang berkilat. Hiasan glamor terpampang jelas, dia sangat senang dan mengambil beberapa foto.
Akhirnya dia melihat Rita yang sedang memandangi ke arah panggung. Ney berjalan dengan angkuh ke arahnya, ya dia tertawa senang.
"Hai Rita! Wah, kita berjodoh ya bisa bertemu lagi disini. Aku juga diundang lho," kata Ney dengan suara yang agak sinis kepadanya.
Mereka berempat memandangi Ney. Pikir Ney pasti Rita akan terkejut tapi ternyata tidak. Suaranya sengaja dia keras kan agar terdengar, ya tukang cari perhatian kan.
Ney melihat ada dua kursi yang kosong dan langsung menuju ke sana. "Aku duduk di sini ya," katanya dengan percaya diri.
Dalam hati Rita, dia sudah malas berkontak dengan Ney dan akan terus tidak dia pedulikan.
"Kira-kira kapan dimulainya?" Tanya Rita pada Cay yang sudah sadar.
Cay melihat jam mahalnya, "Sebentar lagi tuh sudah keluar MCnya. Tidak sabar ya melihat mobil mewah mereka?" Tanyanya tertawa.
Bersambung ...