
"Sudah yuk mumpuung kita rehat. Ayo ikut," ajak Rita berdiri dan merapihkan bajunya.
Diana juga ikut berdiri. "Kita mau kemana?" Tanyanya.
"Mengistirahatkan otot dan menenangkan kepala," kata Rita membuat Diana tertawa.
"Wah ternyata kamu punya tempat rahasia nih," kata Diana.
Mereka mulai berjalan dengan saling berpegangan tangan dan mengobrol sangat seru.
"Di tempat ini kamu pasti akan suka deh aku sudah jadi langganan. Meski ya tiga bulan tidak kesana lagi," kata Rita.
"Ayo deh," kata Diana semangat.
Mereka naik angkot tiga kali berhenti di Ledeng lalu naik yang lain. Perjalanan sangat panjang namun membuat mereka menyukainya.
Akhirnya tibalah di Rumah Rebahan yang berada di Dago dengan suasana yang menyenangkan. Pemandangan alam yang memanjakan mata.
"Wah!" Kata Diana memandangi toko semacam rumah yang minimalis.
"Ayoo," ajak Rita.
Mereka masuk dan menuliskan nama.
"Kakak baru pertama ya? Kalau kak Rita sudah kami kenal," kata resepsionis.
"Buat kartu nanti kalau langganan, bisa dapat voucher. Seperti ini," kata Rita memperlihatkan.
"Aku juga mau," kata Diana semangat meski berbeda cap dengan Rita.
Sambil menunggu Diana, Rita memilih menu enam perawatan. Dan memberikan Diana dia juga memilih yang sama.
"Setelah ini apa?" Tanya Diana.
"Di pijat bahu dengan bagian tubuh yang lain," kata Rita.
Mereka menunggu giliran selama lima belas menit kemudian dipanggil dan dipersilahkan mengikuti petugas.
"Lebih cocok untuk kamu Rita karena pekerjaan kamu berat," kata Diana.
"Ayolaah kamu juga perlu," kata Rita menggandeng tangan Diana.
"Silakan," kata petugas.
Ruangan itu luas dan wangi sekali tapi tidak membuat pusing. Mereka berganti pakaian mirip di Onsen Jepang tapi bukan untuk pemandian.
Jilbab mereka dilepas dan dipasangkan handuk. Ruangan itu di khususkan untuk perempuan, syukurlah.
Baju hanya dipakaikan kimono berwarna putih, bunga-bunga beraneka ragam warna.
"Ini sih kesukaan kita," kata Diana. Rita menyukai apapun nuansa Jepang, Diana juga begitu.
Sebelum kuliah bertemu Rita, dia sudah kuliah S1 di jurusan sastra Jepang. Jadi dia bisa mengajari Rita pengucapan tidak dengan tulisan.
Mereka mulai dipijat dengan tengkurap. Menikmati setiap pijatan yang membuat mereka tenang.
Rasa lelah tergantikan dengan nikmatnya pijakan tangan yang lembut.
"Bisa tidur," kata Diana.
Rita tertawa. Yang paling enak pijatan di leher dan bahu. Setiap hari selalu bawa kantung besar dan buku yang berat.
"Kamu terlihat sangat sumringah waktu diputuskan di pecat, Rita," kata Diana.
"Iya lah. Kesempatan tahu, lihat wajahku lecek kan, badan juga sudah seperti nenek-nenek," kata Rita.
"Bukannya sedih malah senang bisa spa dan pijatan," kata Diana tertawa.
"Hahaha! Oh iya masker dari tempat ini bisa buat wajah segar dan tampak muda lho, hihihi," kata Rita.
"Wah! Ahh kenapa baru beritahu aku sekarang sih?" Tanya Diana agak cemberut.
"Maaf aku kira kamu tidak suka maskeran," kata Rita.
"Tampak muda karena wanginya dari bahan alami bukan kimia atau pengawet. Tanpa zat paraben juga jadi aman kok kak," kata mbak pemijat nya.
"Sedikit lagi selesai jadi kakak-kakak bisa menikmati relaksasi menggunakan air kolam di sana," kata mbak yang kedua menunjukkan.
"Siap," kata mereka berdua.
"Kamu ternyata suka maskeran ya apa karena itu wajah kamu mulus?" Tanya Diana.
"Hahaha bisa jadi," kata Rita.
Mereka kagum pada kolam kecil yang untuk membersihkan daki atau kotoran selesai pemijatan.
"Setelah dipijat, kotoran akan keluar bercampur dengan cairan pijat kami. Kolam ini akan membersihkan sisa-sisa itu. Silakan, waktunya 10 menit ya," kata mbak lalu pergi.
Mereka berdua menikmatinya dan membersihkan badannya. Terasa lembut dan ringan sekali.
"Asyik nyaaa," kata Diana menikmati setiap busa dan pijatan dari aliran air.
"Enaknya kalau setelah bekerja," kata Rita.
Mereka selesai dan berganti pakaian lagi. Menuju ruangan yang lainnya sebelum mbak yang tadi membawakan beberapa produk masker.
"Siang, mungkin kakak mau melihat produk kami," katanya dengan senyum.
"Wah! Kamu yang mana?" Tanya Diana.
"Si hijau doong," kata Rita memilih kesukaannya.
"Silakan ke ruang utama kami," kata mbak menunjukkan arah.
"Mbak, untuk yang selanjutnya bareng dengan dia ya sampai akhir," kata Diana dan Rita.
"Disini disini, Diana. Ayo!" Ajak Rita antusias.
Diana kaget dan kagum ada begitu banyak jenis masker dan beragam wangi dan rasa. Ada bubuk, jelly, cairan bahkan mirip agar yang bisa dimakan.
"Kamu suka pakai yang mana?" Tanya Diana.
"Bubuk," kata Rita memegang botol yang gemuk.
"Enak tuh? Aku mau pilih yang Gel," kata Diana.
"Koma membalas tidak? Mau ke aini?" Tanya Rita.
"Tunggu," kata Diana mengambil ponselnya. "Ada! Hahaha dia sebal tidak bisa ikut karena ada rapat keluarga,"
"Oh iya kakaknya akan menikah. Sayangnya," kata Rita ikut membaca.
"Kita tanya ya mungkin dia mau nitip untuk masker," kata Diana. Rita mengangguk.
Mereka kemudian menuju kasir untuk membayar karena menit berikutnya mereka akan melakukan perawatan ke tiga.
"Satu cup ini hanya seharga empat puluh ribu rupiah?" Tanya Diana.
"Kita kan sudah jadi anggota kalau bukan anggota lebih mahal. Sekitar seratus dua puluh ribu," kata Rita.
Diana bengong dan menatap masker botolan itu. "Bisa untuk satu bulan," bacanya.
"Iyalah kan itu ada aturan pakainya. Jangan dipakai setiap hari bisa-bisa kulit wajahmu menipis seperti tengkorak," kata Rita menunjukkan penggunaan.
"Ohh jadi cukup seminggu dua kali saja ya atau kalau kamu merasa wajah kotor, ya maskeran," kata Rita.
Masker sudah mereka bayar dan mbak tadi datang mempersilahkan ke ruang selanjutnya.
"Ruangan sudah siap," kata mbak.
Mereka sampai di kamar yang cukup untuk tiga orang dan terdapat jendela kecil. Spa time!
"Kamu pilih menu apa?" Tanya Rita.
"Sama dengan kamu. Ayo!" Kata Diana.
"Yang keenam itu biasanya diberi minuman menyegarkan, kita bisa pilih juga," kata Rita berada di dalam.
"Makanannya ada?" Tanya Diana.
"Ada. Empat macam kita bisa pilih. Enam menu sih kan lumayan," kata Rita.
"Pintu akan saya tutup selama 15 menit, bila tidak kuat bisa mengetuknya," kata mbak itu dan mereka berdua mengangguk.
"Apa Asma mengalami kesulitan ya kan dia baru di sekolah. Kenapa kamu tidak mengerjakan buku besar?" Tanya Diana mengelap lehernya yang berkeringat.
"Tidak mau ah tadinya mau aku kerjakan tapi ingat lagi kelakuan Asma. Aku tendang semua buku," kata Rita menggosokkan sabun garam ke tangannya.
"Walah! Aku mengerti kenapa kamu se marah itu. Mau menikah cara mendapatkan uangnya tidak etis," kata Diana.
"Apa-apa iri tidak bisa dekat sama kamu," kata Rita tertawa.
"Huuh! Aku juga kurang suka sama dia, cerita soal orang negatif terus," kata Diana.
"Kurang bisa mengungkapkan pendapat sendiri. Kita bilang apa, dia menjiplak. Aku juga kurang suka tapi kalau Asma punya teman sendiri ya," kata Rita.
"Asma mirip ya sama Ney," kata Diana menatap Rita.
Rita ketawa keras sambil mengusap wajahnya. "Satu tipe bedanya Asma itu dewasa dari bicara tapi kalau kumat iri nya, itu yang bikin sebal,"
"Aku tidak tahu lho kalau tidak lihat sendiri. Ke kamu kok begitu ya?" Tanya Diana.
Rita mengangkat bahunya. Perasaan banyak ya orang yang tidak menyukainya karena fisik tinggi.
"Dia cerita awal kuliah ada menyapa kamu tapi tidak kamu gubris. Betul?" Tanya Rita membasuh kan air dingin yang ada disana.
"Oh! Iya, soalnya arah mata dia terlihat ada sesuatu jadi aku hindari. Orangnya pilih-pilih, saat dia lihat dompet aku ber merk, langsung datang," kata Diana.
"Oh ya? Wah! Dia punya dompet yang sama dengan kamu lho," kata Rita.
"Haa besok aku ganti deh," kata Diana membuat Rita tertawa lagi.
"Terus kenapa akhirnya kamu mau sama aku? Aku tukang makan," kata Rita masih tertawa.
"Lihat kamu awal masuk kuliah, aku sudah merasa cocok saja. Makan cilok pakai rok, gaya duduknya mirip yang ada di warung tegal haha," kata Diana.
"Wahaha saking nikmatnya. Ampun deh!" Kata Rita ingat.
"Aku ingat waktu kamu duduk di antara mahasiswi lain mereka langsung pergi kan. Tapi kamu tidak peduli dan terus makan cilok," kata Diana.
Rita masih tertawa, waktu itu malas pindah sih meski banyak yang teriak kalau jangan makan di situ karena ada senior.
"Mereka itu senior yang pergi," kata Rita.
"HAH!? kamu tidak kena marah?" Tanya Diana.
"Tidak. Hanya duduk memangnya kenapa? Aku malas pindah juga sih," kata Rita.
"Iya juga sih waktu hari kedua juga kamu duduk di situ saat mereka datang kamu malah rebahan," kata Diana ketawa.
"Aku kan sudah kenal yang lain dan janjian mau duduk di situ jadi aku halangi saja," kata Rita santuy.
"Lucu! Mereka kesal sekali kan, berani sekali. Setelahnya ya jajaran situ banyak yang duduk kan tidak hanya senior," kata Diana.
"Bagus kan jadi tidak ada perbedaan. Semuanya bisa duduk, untuk makan doang," kata Rita.
Bersambung ...