
Di tempat Rita, mereka datang sebelum Maghrib tiba. Kazen selonjoran nampak kelelahan.
"Minum nih. Bagaimana dong kalau kamu kelelahan begini. Pulangnya bagaimana?" Tanya Rita.
Prita sengaja membawa Bubu ke dalam rumah sebagai perkenalan agar tidak canggung. Bubu keheranan dia menatap sekelilingnya.
"Bagaimana ya," kata Kazen yang bajunya penuh keringat.
"Aku tidak mau kalau kamu sampai kenapa-kenapa," kata Rita.
"Menginap boleh tidak?" Tanya Kazen tertawa.
"Boleh. Di hotel," kata Rita ketawa.
"Aah tidak seru kalau di hotel," kata Kazen rebahan dan Rita masuk mengambilkan kue.
Melihat Rita masuk rumah, Kazen langsung menghubungi Shin.
"Shin, datang ke Lembang. Aku tunggu," kata Kazen.
"Haaaa ogaaaahhhh kamu saja yang menyetir," kata Shin yang sedang memainkan game.
"Kok kamu tahu sih kalau aku mau suruh kamu jadi supir," kata Kazen tertawa.
"Heh, Panci! Aku berkawan dengan kau sudah seribu tahun! Minta supir datanglah," kata Shin sebal.
"Mana mungkin aku melakukannya, tidak di sini," kata Kazen memelankan suara.
Sudah tentu dirinya kelelahan memang hanya alasan. Dia hanya tidak ingin menjadi lebih superior yah, supaya terkesan lemah.
"Makanya jangan sok jagoan deh. Duh, aku lagi seru ini mainnya," kata Shin mengomel.
"Ayolah demi sahabatmu nih. Saudaramu!" Kata Kazen.
"Demi demi, dedemits! Ahh kau nih tidak bisa paham. Aku sedang dalam Arena!" Kata Shin.
"Paling juga kalah nanti. Oh iya tanggal 22 aku akan ajak Rita untuk ikut menghadiri Pameran Mobil," kata Kazen.
"Awas kau ya mendoakan orang jelek! Serius kamu mau ajak dia? Nanti dia di usili penggemar kamu bagaimana? Rita akan kena hantam," kata Shin sambil duduk.
"Aku akan sarankan mereka memakai topeng jadi tidak akan bisa terlihat wajah Rita," kata Kazen membuat Shin setuju.
"Aha! Kau ini memang pintar," kata Shin.
"Kalau aku bodoh, mana mungkin mendirikan sepuluh perusahaan besar," kata Kazen dengan datar.
"Hahaha iya juga, okelah tunggu aku lima belas menit lagi menuju Lembang," kata Shin mengontak kekasihnya.
Rita datang bersamaan saat Kazen menutup ponselnya. Dia agak kaget juga.
"Nih, kue tart ibuku beli kemarin," kata Rita.
"Wuih! Kamu bisa bikin cake?" Tanya Kazen.
"Tidak bisa tapi kalau masakan Asia atau luar negeri, aku bisa," kata Rita.
"Tidak apa-apa. Kalau bisa belajar buat kue ya," kata Kazen.
"Iya nanti kalau sudah mantap hatinya," kata Rita.
"Bubu mana?" Tanya Kazen mencari.
"Dia di dalam rumah lagi perkenalan lingkungan," kata Rita duduk bersila.
"Hati-hati pup. Kelinci kalau ketakutan banyak pup," kata Kazen memakan kuenya dengan nikmat.
Dalam rumah, Bubu memang ketakutan kakinya menempel ke kaki Prita. Prita dan Bapak tertawa, tampak jelas dia gemetaran.
Prita mendorongnya pelan-pelan, "Ayo berjelajah kamu bebas di sini tapi jangan masuk ke tempat yang sempit ya. Jangan menggigit kabel juga,"
Bubu tampak mendengarkan dia perlahan terdiam dan memandangi sekeliling. Suara-suara burung membuatnya kaget, Bapak mengelus kepala sampai badannya.
Langkah laki membuatnya banyak waspada, dia tengah mengingat langkah kaki semua orang.
Ibu awal jijik melihatnya namun setelah lama menatap perilaku Bubu, luluh juga. Bulunya cokelat dan sangat nyaman bila tersentuh kulit.
Ibu datang, Bubu tiarap ketakutan dan ibu membelainya dengan lembut. "Bubu," katanya.
Bubu mengangkat kepala dan menjilat tangan ibu, ibu menggendongnya. Bubu menatap majikannya yang lain.
Ibu turunkan dan Bubu berlari ke arah Prita, meminta cemilan. "Tuh, Rita. Ayo ke sana,"
Rita di teras menatap ke dalam dan melambaikan tangan. "BUBU, SINIIII!"
Bubu mengangkat badannya, kedua telinganya tegak memastikan suara Rita. Setelahnya Bubu berlari senang dan Rita menggendongnya.
Kazen ingin menggendong dan Rita memberikan kepadanya. Bubu kaget, wajah tampan itu berada tepat di hadapannya.
Tapi Bubu mengerti bahwa Kazen milik majikan perempuannya. Bubu duduk dengan sopan di pangkuan Kazen.
"Kamu sopan ya," kata Rita.
Prita keluar sambil membawa makanan dan sedikit cemilan. "Wah wah beda kalau yang gendong pemuda ganteng," kata Prita.
"Betina atau jantan sih?" Tanya Rita heran.
"Kalau sampai manja ke laki-laki, betina deh," kata Prita.
Bubu memang tampak manja pada Kazen, Kazen tertawa mendengar dengkuran Bubu.
"Hahaha jangan dia kan kelinci, kamu manusia," kata Kazen.
"Mesranya nanti kalau sudah menikah," kata Prita mengingatkan. Keduanya tertawa.
Bubu tertidur mengeluarkan satu kakinya yang bermasalah. Perlahan Rita memegangnya, memastikan Bubu tidak terbangun.
"Nanti kita ke dokter ya untuk mengobati kakinya. Kasihan," kata Rita.
Bubu bangun namun tidak menarik kakinya. Dia memandangi mereka semua yang peduli kepadanya dan tertidur lagi.
"Kandang kamu di belakang itu kan agak besar, tidak mau beli kelinci lain? Supaya dia tidak kesepian," kata Kazen.
"Nanti aku beli untuk pasangannya, sekarang biarkan saja dulu," kata Rita.
Beberapa hari berlalu, Mereka membiarkan Bubu terbiasa tinggal di kandang. Kadang Bapaknya mengeluarkan Bubu dan mengajaknya bermain.
Bubu sudah terbiasa dan berlari sesukanya dan tidak bisa tertangkap oleh siapapun kecuali Rita. Yang menangkapnya dengan kue.
Dalam rumah Kazen, dua hari akan tiba. Ibunya menyiapkan sebuah gaun untuk diberikan pada Rita, namun Kazen menolak.
"Kenapa sih?" Tanya ibunya.
"Rita tidak akan suka pakaian model begini," kata Kazen menatapnya meski cantik.
"Ini tuh bagus sekali loh bahannya bagus dan mahal. Masa sih bukan tipe dia?" Tanya ibunya kecewa.
"Tanya dulu ke Kazen Mam, jangan langsung beli. Sekarang jadi sia-sia kan," kata Mina yang sudah menyiapkan baju pesta.
"Tidak sia juga kan bisa dikembalikan. Mama jadi cemas Rita pakai bajunya bagaimana," kata ibunya.
"Sudah jangan dipikirin. Rita tidak suka abaya, Mam. Aku percaya pilihan yang dia suka," kata Kazen memijat pundak ibunya.
"Kalau begitu ini jadi kado dia saja," kata ibunya.
"Jangan nanti kalau dia minta putus bagaimana?" Tanya Kazen.
Mamanya menghela nafas kemudian membungkus kembali pakaian mewah itu.
"Rita pilihanku dan Mama berjanji tidak akan mengganggu kan. Sudah berapa kali aku gagal karena Mama ikut campur, mau buat aku jomblo terus?" Tanya Kazen.
Ibunya kemudian menyerah dan menyerahkan segalanya pada pilihan Rita sendiri. Dia akan bertemu dengan Rita kekasih Kazen yang tidak biasa.
Dalam rumah Lembang, Rita sendiri malah kebingungan. Bubu dimasukkan ke dalam rumah, dia juga bingung menatap Rita.
Mengeluarkan beberapa baju pesta lalu dimasukkan kembali.
"Bu, pilih yang mana?" Tanya Rita ke kelincinya.
Bubu tidak mengerti apa sih yang membuat Rita bingung? Dia melompat ke baju gamis berwarna pink bunga-bunga.
"Ini? Bagus sih tapi sering dipakai, Bu," kata Rita mengambil yang lain.
Bubu menguap dan memilih rebahan sambil melihat Rita yang kebingungan.
"Sudah mau pakai yang mana?" Tanya ibunya menghela nafas.
"Tahu begini, kemarin disiapkan dulu. Ini bagaimana? Bubu pilih ini sih," kata Rita.
"Itu sudah sering kamu gunakan..Nih, Ibu selesai membuat yang baru," kata ibu memperlihatkan.
"Wah! Cantik sekali," kata Rita mencoba.
Bubu setuju dia duduk dengan sopan dan ibunya membelai lembut.
"Terima kasih bu! Bukan Bubu ya ini sama modelnya," kata Rita melihat yang pink.
"Sama tapi beda warna, kamu suka hijau kan jadi ibu tambahkan beberapa hiasan bunga dan daun," kata ibu.
"Kalian pergi jam berapa? Prita ikut kan?" Tanya ibu menggendong Bubu.
"Kita pergi jam enam pagi, Bubu tidak bisa ikut. Temani ibu dan bapak ya," kata Rita membuat Bubu marah.
Bubu berbalik dan enggan menatap Rita. "Jangan ikut, nanti ibu dan bapak kesepian kalau tidak ada Bubu,"
Bubu menatap ibu dan mengusap wajahnya bersandar menatap Rita.
"Pintar, aku sudah beli cemilan enak. Kita pergi dua hari, menginap di Hotel," kata Rita.
"Kamarnya pisah kan?" Tanya ibunya cemas.
"Plis ya Bu, usia aku sudah berapa tahun? Kalau ibu cemas aku bertindak nakal, seharusnya saat usiaku tujuh belas bukan dua puluh lima," kata Rita sebal.
"Iya," kata ibu menundukkan kepalanya ya salah kalau di usia Rita yang udah agak tua cemas takut sekamar.
Apa kabarnya saat Rita usia tujuh belas? Menemui orang saat chatting saja ibunya tidak peduli.
Rita sudah membeli makanan enak untuk Bubu. "Bu, ini buat Bubu jangan sampai disentuh sama keluarga Kakak," katanya.
"Waduh! Asyik," kata ibu memberikan pada Bubu yang senang.
"Untuk ibu dan bapak juga ada, tuh sekalian beli satu pak," kata Rita mengerti.
"Jangan sampai gendut Bu di porsi ya," kata Prita membuat Bubu marah.
Bersambung ...