MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
159



Mereka bertiga termenung menatap kartu itu, bisa jadi memang Kazen mempersiapkan semuanya.


"Kamu pernah menelepon tidak ke nomor yang 36? Mau diselidiki?" Tanya Diana memecahkan keheningan.


"Mau coba?" Tanya Rita menatap mereka.


"Tidak ada kegiatan lain juga sih," kata Koma setuju.


"Jangan Rita. Aku saja," kata Diana.


Dia menyalakan speaker dan Rita serta Komariah mendengarkan dengan menahan suara nafas.


Kazen menelepon mereka namun sulit diangkat, dirinya sudah cemas kalau tahu nomornya sudah diambil alih bisa celaka. Lokasi para pengawalnya akan ketahuan.


"Aaaaa kemana mereka! Sial!" Kata KaZen kemudian berlari dengan cepat menuju ruang bawah tanah dari kantornya.


Diana menekan simcard nya dan mengganti milik nomor Rita yang lama kemudian menelepon. Mereka agak tegang.


"Kalian diam ya," kata Diana. Rita dan Komariah mengangguk.


Nada menyambung terdengar dan... CKLEK! Membuat Rita dan mereka berdua saling memegang.


"Halo?" Tanya seorang pria di sana.


'Tuh kan benar ada,' gerakan bibir Rita pada kedua bestie nya.


'Kalem kalem,' balas Komariah.


"Ha halo," kata Diana menjawab.


"Ya. Halo," jawab pria di sana. "Ini siapa?"


Diana bingung jangan sampai mereka menyebutkan nama asli. "Saya dengan Tiara. Apa ini dengan Udin?"


Rita dan Koma memegang pundak Diana masing-masing kenapaaa malah bertanya begitu?


Udin pula, siapakah itu?


Tidak menyangka mereka mendengar sesuatu yang mengejutkan.


"Bukan, ini dengan saluran khusus. Dari mana Anda mendapatkan nomor ini?" Tanya orang di sana.


"Aneh sekali Udin memberikan saya nomor ini. Apa dia berniat menipu saya ya? Anda sendiri siapa? Kenapa nomor Udin diangkat oleh Anda?" Tanya Diana.


Tidak ada jawaban, lalu Rita dapat ide. Dia masih ingat alamat website yang mampu mencari lokasi bila nomor tersebut masih aktif.


'Terus ulur obrolan aku akan selidiki pakai ini,' kata Rita menunjukkan alamat web tersebut.


Rita menuliskan nomor lamanya Diana terus bertanya dan pria disana menjawab bahwa nomornya salah alamat.


Lokasinya mulai menunjukkan reaksi. Tanda panah merah bergerak anehnya melalui tempat dimana mereka berada.


Sedikit lagi Kazen menuju ruangan dan beberapa orang berdiri tegak. Kazen melewatinya dan berteriak,


"MATIKAN NOMOR PONSEL YANG AKU SERAHKAN BULAN LALU!!!" Teriaknya lumayan buat telinga orang copot.


Orang-orang di dalamnya kaget luar biasa dan kemudian jadi heboh. Akhirnya salah satu petugas mematikan daei saklar utama.


Semua layar dan alat mati, PAS saat panah dalam ponsel Rita bergerak menuju alamat perumahan Kazen. Sebelum menuju kantor pemasaran.


"Lhoooo kok hilang?" Tanya Rita. Koma pun keheranan.


"Nomor kamu ini?" Tanya Diana.


"Lah kok kamu bicara sih nanti ketahuan," kata Koma.


"Tiba-tiba mati. Nih," kata Diana.


Tidak ada nada apapun meski Rita mengulang menelepon yang ada nomornya sudah tidak terdaftar.


"Ih, aneh," kata Semuanya.


"Menurutku dia tahu kamu sedang berusaha menemukan tempatnya makanya langsung diputus," kata Diana.


"Ini sih sudah bukan main-main benar saja nomor kamu ada yang menempati," kata Koma.


"Nomor aku di duplikat dong. Tapi siapa pria ini yang jawab?" Tanya Rita.


Semuanya berpikir dan merenung sangat aneh. Sisi lain Kazen tepat waktu bersamaan sang panah yang menunjuk ke gerbang kantornya.


"Kita hampir ketahuan, Pak?" Tanya A.


"Sedikit lagi saja dia tahu siapa kalian dan siapa aku? Woooh!!" Kata Kazen duduk terlentang di lantai.


"Baru kali ini ada perempuan yang kemampuannya seperti detektif. Lalu bagaimana, Pak?" Tanya B.


"Kalian harus waspada orangnya lumayan penasaran. Apalagi dia pasti heran nomornya diangkat pria," kata Kazen langsung berdiri.


Hunter tapi bisa juga di buat pusing oleh perempuan biasa. Kazen tertawa dia sangat ceroboh, di pikirnya Rita tidak akan sepintar ini.


"Pak, ini salinannya dia mengakses aplikasi pencarian dan panah itu mengarah ke sini," kata A.


"Matikan aplikasi ini bisa? Atau seberapa akuratnya?" Tanya Kazen.


Mereka semua berpandangan.


"Sangat akurat Pak bukan 100 lagi tapi 1000%," kata B.


"Sial!!" Kata Kazen menggebrak kertas itu ke tembok.


"Untung saja Bos langsung datang kalau tidak. Perempuan ini mulai berpikiran aneh," kata C bernafas lega.


"Dia PASTI akan mendatangi kalian dan meluluh lantakkan semua pekerjaan kita," kata Kazen memandangi semua.


"Ah, bos masa iya sih sampai bisa begitu. Wajahnya tidak segarang itu," kata A menatap di layar.


"Jieh siapa kekasihnya? Kamu atau saya? Saya saja habis kepala di jambak dia, badan memar kena cubitan," kata Kazen memperlihatkan kepalanya yang agak pitak.


Semuanya menganga dan merinding.


"Bisa jadi sih kalau tahu Bos juga kepala bagian ini," kata Shad muncul dengan pakaian kemeja.


"Shad. Lain kali aku kirim nomor langsung hapus atau matikan," kata Kazen. Shad mengangguk.


"Orangnya kalem begitu," kata Shad.


"Luarnya itu memang tenang, kalem kalau kalian lihat seperti perempuan manja, tidak bisa apa-apa. Tapi dalamnya segarang macan! Apalagi kalau meledak," kata Kazen tertawa.


"Bos ternyata takut perempuan galak ya padahal bos lebih berbahaya," kata B.


"Hahaha," kata Kazen.


Di sekolah Rita lemas taktiknya gagal menelusuri nomor itu. Dicoba lagi pun nomornya sama sekali tidak menyambung.


"Masih tidak aktif," kata Diana menyimpan ponselnya.


"Sepertinya kamu berhadapan dengan orang-orang yang hebat ya. Semangat!! Aku yakin kamu menang!" Sorak Koma pada Rita.


"Apanya? Kalau banyak orang ya keok aku," kata Rita manyun.


Istirahat selesai dan mereka semua kembali ke kelas masing-masing. Tita juga kembali ke ruangan staf dan mulai membuka buku tugas yang lain. Menghitung tabungan anak dan guru.


Asmi dan beberapa guru atas turun dan menemukan bungkusan keripik syeton yang masih banyak.


"Asyiiik pasti punya Bu Rita," kata Asmi.


"Ayo kita ijin dulu," kata Sarah.


"Bu Ritaaa assalamualaikuuum," kata beberapa guru.


"Walaikumsalam. Hai semua! Ada apa nih?" Tanya Rita ceria.


"Minta keripiknya hehe," kata Asmi.


"Boleh. Masih banyak kan," kata Rita dengan santuy.


"Iya dari Kazen ya?" Tanya Asmi.


"Ya siapa lagi. Bu Asmi jadi staf?" Tanya Rita melihat pakaiannya.


"Iya kita baru kembali dari sekolah satunya. Aku bergabung dengan Bu Rita mulai hari ini," kata Asmi.


"Ko pindah?" Tanya Asna yang ikut bergabung makan.


"Cari pengalaman sih bosan mengajar terus," kata Asmi.


"Pengalaman apa supaya bisa ghibah?" Tanya Rina.


"Wahh! Anda tepat!" Kata Asmi yang langsung disoraki.


Kemudian Bu wakepsek datang sambil membawa lembaran sesuatu. "Bu Ibu, besok hari sabtu kan kita libur ya. Disini mau ada kegiatan ceramah, pada datang ya,"


"Wah," kata semuanya mengangguk.


Semua perlu siraman rohani juga.


"Siapa yang jadi penceramahnya?" Tanya Sarah.


"Mama Dudu," jawab Wakepsek.


"HAAAAA," jawab semua staf.


"Mama Dedeh mungkin," kata Rita.


Wakepsek melihat lagi. "Benar kok Mama Dudu. Mirip sih tapi beda orang, selesainya kita makan-makan,"


"Yaaaay menjadi gemuk bersama-sama," kata semuanya kompak.


Bersambung ...