
"Sepertinya kamu memanfaatkan Rita supaya terhubung dengan Alex, sama dengan yang kamu lakukan ke beberapa teman yang lain," kata Arfa curiga.
"Ti-tidak itu pemikiran kamu saja buat apa aku memanfaatkan Rita? Dia itu tidak punya apa-apa," balas Ney dalam grup.
"Iya sekarang tidak punya apa-apa tapi kalau dia menikah... dia akan punya segalanya lebih dari kamu. Jangan meremehkan seseorang Ney," kata Arfa mengingatkan.
"Iya kamu harus ingat kenapa kamu bisa kenal Alex karena ada Rita. Mana ada kisahnya kamu bisa kenal dia? Tanpa ada koneksi," kata Safa yang memang sebenarnya bertolak belakang dengan Ney.
"Apalagi kalau Rita sampai putus, kamu bukan siapa-siapa," kata Feb menyambung.
Ney tidak membalas menurutnya sia-sia saja bicara dengan mereka semua yang ada hanya tambah rumit!
"Rita itu ya perempuan gampangan tahu! Kalian saja yang tidak kenal dia tapi dalamnya, tidak berbeda dengan aku. Bagi dia mudah sekali mendapatkan hati laki-laki," kata Ney mulai beralasan hal lain.
"Hahaha itu kamu kali Ney, kita semua tahu kamu seperti apa. Lupa ya? Kamu dulu memohon-mohon masuk ke grup kita karena janji akan berusaha setara," kata Anita.
Ney tentu ingat tapi dia sudah enggan mengingatnya, tidak bisa membantah.
"Kenapa coba Ketua menerima? Karena kamu benar-benar memamerkan tas mewah sebagai syarat grup kan? Tapi kamu tahu, kalau itu hanya sekedar tes saja. Yang kamu lihat awalnya ketua memasang tas Kuci, sebenarnya itu barang diskonan. Harganya juga murah," kata Anita.
"Masa sih!? Tapi aku lihat kok merk nya," kata Ney agak kaget.
"Logonya itu dicopot dari yang asli, ketua hanya ingin lihat reaksi kamu saja. Jadi kata aku sih jangan memandang orang hanya dari luar. Ketua juga suka barang murah diskon," kata Safa.
Ya pantas saja Safa dan Feb bisa masuk, karena mereka berdua juga hobi berburu barang diskon! Yae lah...
Ney bengong membacanya ternyata hanya dia saja yang berpikiran terlalu jauh. Terlalu fokus pada barang bermerk sampai tidak tahu itu imitasi atau asli.
"Kamu tidak tahu ya? Sama dengan orang, jangan terlalu sering menganggap mereka rendah dari tempat kamu berada. Karena kamu tidak akan pernah tahu di depan mereka berubah seperti apa," kata Arfa menahan tawa.
Ney kemudian menepuk dahinya! Dia baru sadar ternyata grup yang dia ikuti adalah penggemar tas merk dengan tulisan logo yang hampir sama.
Awalnya dia memang mencari tas Kuci yang asli dengan meminjam uang dari orang tuanya. Saat itu dia belum menikah dan mengumpulkan dengan uangnya sendiri. Sempat aneh karena logonya agak berbeda.
Dia berhasil masuk tapi entah kenapa foto tas tersebut telah berganti barang. Dia meminta ditukar tambah karena tidak dipakai sama sekali, setelah tahu niatnya kedua orang tua memarahinya.
Akhirnya dia mengembalikan dan hanya bisa pasrah dikeluarkan, tapi tidak! Sejak awal dia sudah tahu bahwa Ketua grup memang sudah berbeda dunia dengannya.
Maksudnya terlahir kaya sedangkan dia biasa saja. Bahkan Arnila pernah menanyakannya kenapa dia sampai bela-bela membeli tas mahal? Menurut ya grup tersebut tidak ada manfaat.
Sejak kuliah memang grup mereka yang berbeda, setiap bulan Ney selalu melihat mereka saling pamer barang masing-masing. Ternyata pamer produk murah karena terlihat sangat seru, dia memaksa masuk.
Segala macam grup, Ney masuki namun berakhir diusir karena pemikiran dan tutur kata yang terlalu seenaknya. Termasuk grup Rita, yang kebanyakan berjilbab panjang. Hanya Rita sendiri yang berkerudung pendek.
Ney sempat mempertanyakan kenapa mereka menerima Rita? Karena beda sendiri soal kerudung, dan menyarankan Rita tidak diterima.
Mereka tidak membedakan siapapun dari pendek panjang kerudung yang penting bisa diajak kerjasama. Ney juga membicarakan soal kelakuan Rita yang menurutnya akan membuat mereka terlihat jelek.
Mendengar itu mereka kemudian mulai menjauhinya dan melarang Rita tidak dekat dengannya. Rita tentu menuruti mereka dan mulai menjauhi Ney.
Kembali pada grup chat mereka, Ney tidak percaya bahwa tas tersebut ternyata hasil diskon!
"Tidak terlihat murahan deh," balas Ney masih tidak percaya.
"Iya dong, ketua memilih yang bagus meski murah. Kamu baru tahu ya?" Tanya Safa tertawa.
"Terus apa alasan dia berbuat begitu sih? Mana aku jadinya beli yang asli," kata Ney manyun.
"Masa sih kita harus jelaskan?" Tanya Isnan.
"Ya aku kan tidak tahu," kata Ney.
Mereka semua yang baca menghela nafas. Soal laki-laki saja baru deh bisa peka.
"Sori ya Ney, banyak anggota yang keberatan kamu masuk ke sini karena sebagian sudah tahu kamu seperti apa kalau gabung grup," kata Anita. Oh ya dia itu wakil grup yang diikuti Ney.
"Kok begitu sih? Kurangnya aku apa?" Tanya Ney. "Terus kenapa Safa dan Feb boleh? Mereka itu miskin lho berbeda sama aku dan kalian,"
Feb dan Safa yang membacanya agak tersinggung, ya tahulah maksudnya.
"Kalau kamu merasa memang peka dan sadar diri, tidak perlu memaksakan kehendak deh tidak ada kewajiban ya kami harus menerima kamu," kata Anita.
Ney lemas sekali membacanya, ya intinya sih Ney harus punya jiwa pejuang diskonan. Karena tidak ada, jadi mereka kurang nyaman apalagi Ney selalu memamerkan barang-barang asli.
"Kalau kamu masih mau diterima, ikuti aturan grup kami bukan hobi mengadu domba semua anggota," kata Sarah yang juga sudah tentu melihat sendiri.
"Hahaha sudah sudah deh aku tahu kalian sengaja kan bilang begitu supaya aku keluar. Kalian semua yang ada disini harus mulai hormati aku ya, karena aku sudah punya teman yang lebih berkuasa," kata Ney menyombongkan diri.
"Kamu ini masih tidur ya? Siapa Alex bagi kita?" Tanya Anita.
"Bukan siapa-siapa," balas yang lain.
"Tepat! Bagi kamu dia orang penting, tapi kita? Maaf sayang kamu berada dalam grup kita bila tidak mau dikeluarkan, harap mematuhi aturan," kata Anita dengan sopan.
"Atau kamu buat grup saja dengan Alex tuh, tanpa anggota lain. Silakan laporkan ke dia, kami tidak takut," kata Isnan.
"Tamat riwayat kalian!" Balas Ney dengan senyum kemenangan.
"Jangan ajak kami lagi untuk menghasut anggota sini. Kamu yang bermasalah sama Rita, selesaikan sendiri. Untuk apa kamu ajak serta Alex?" Tanya Sarah.
"Aku tidak pernah menghasut orang! Kalian saja yang asal menuduh! Rita ada ya cerita sama kalian?" Tanya Ney curiga.
"Hah? Kita tidak kenal dia, kamu juga tidak pernah ada perkenalan atau foto. Lalu kenapa kamu bisa bicara begitu sok?" Tanya Isnan.
"Kami punya mata, melihat sendiri bagaimana kelakuan kamu pada yang lain Motifnya sama selalu Salah Kirim. Kamu juga senang cari muka pada orang yang kamu anggap berkuasa," jelas Safa.
Ney sudah sangat marah membaca semuanya. Sampai hafal semua karena setiap kirim pasti koar-koar habis kirim kemana, meski tidak ada yang merespon.
"Hahaha kamu itu sudah kalah sejak awal," kata Feb yang tidak tahan lagi.
"Kalah? Kapan? Aku selalu menang ya," balas Ney.
"Hahaha buktinya kamu berharap soal bedak salah kirim agar Alex tahu. Karena niat kamu tentu untuk memanipulasi dia, pura-pura menjadi orang baik. Tapi niat kamu sebenarnya sudah terbaca sih," kata Feb.
"Benarkah Feb?" Tanya Anita.
"Iya tapi niatnya sudah terbaca sih oleh Rita entah ya mungkin memang karena Rita trauma sama tingkah kamu. Kamu pasti lapor kan pada Alex?" Tanya Feb.
"Itu karena Rita yang cerita makanya dia datangi aku untuk bertanya," kata Ney.
"Iya itu kamu sudah kalah. Kenapa? Karena kamu ceritakan kasusnya ke dia, urusan kamu kan sama Rita? Kalau Alex datang kenapa kamu tidak katakan ini urusan kamu dan Rita?" Tanya Feb membuat Ney diam.
"'Benar benar!! Aku setuju agak aneh kalau kamu sampai cerita. Kalau memang ingin buat masalah, ya harusnya kamu hindari Alex dong," kata Isnan sudah mengerti.
"Jadi intinya kamu yang kalah," kata Feb.
Tidak mau kalah, Ney melakukan pembelaan. "Rita juga sama kalah dia kan cerita juga ke Alex," .
"Coba kamu di posisi dia kamu benciiii sama seseorang tapi orang itu terus mengganggu, mengirimkan paket. Bagaimana perasaan kamu saat itu pasti bete kan. Kamu sudah menghindari tapi dia terus datang," jelas Safa.
"Oh, aku paham! Maksudnya Rita ini inginnya Alex menghentikan kamu soal kirim-kirim kan?" Tanya Anita.
"Iya tapi sayang otaknya terbuat dari batu. Bukannya menghentikan malah kebalikan makanya Rita marah-marah," kata Feb.
Semuanya mengerti Ney hanya diam membaca dengan wajah jutek.
"Itu hanya akal muslihat kamu. Aku tahu bagaimana kamu menceritakan soal Rita ke semua orang di luar grup," kata Safa tiba-tiba.
Mereka semua bertanya padanya, Ney sedikit pun tidak bisa membalas. Ney terlaku berpikiran jauh dan buruk mengenai Rita.
Soal ketakutannya melihat Rita hidup sukses dengan Alex, dilimpahi banyak uang dan kekuatan. Ter tampak dalam bayangannya Rita menertawakannya dan menghinanya.
Kenyataannya Rita sama sekali tidak peduli, siapa yang dekat dengan Ney atau bahkan yang dekat dengannya. Rita juga tidak pernah memikirkan Ney mau di puncak manapun, baginya tidak penting.
Toh visi dan misi mereka juga sangat jauh berbeda. Pandangan mengenai sesuatu pun saling bertabrakan.
Bersambung ...