MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
78



Rita kemudian mendatangi Feb dengan meneleponnya.


Feb yang sedang bermain game pun bengong. Kenapa nih? Dia angkat.


"Halo? Kenapa Ri? Tumben," kata Feb.


"Teman kamu tuh memang dasar gila akut ya. Dia kirim aku Hokben dua kali pula di saat yang bersamaan!" kata Rita marah.


"Hahaha apa lagi dia buat masalah? Ya memang begitu banyak ko yang bilang. Kan aku dan beberapa teman lain juga aneh, dia bilang kamu sering fitnah dia, jahat tapi dia terus ganggu kan," kata Feb tertawa.


"Dia memang sengaja ya supaya aku buka gemboknya. Parah! Semakin ogah aku lihat mukanya," kata Rita.


"Sabar. Bukan kamu saja kok yang mengalami ini, BANYAK! Dan mereka juga protes. 'Ngapain sih tuh makhluk senang ganggu hidup aku terus,' yang tidak dia kenal juga dikirim," kata Feb menahan tawa.


Rita merinding sekali kelakuannya sudah di luar kewajaran. Harus diperiksa itu mah karena memang sangat senang mengganggu, mirip setan sih.


"Untuk apa sih? Sudah tahu ya kata dia aku yang banyak fitnah dan jahati dia. Ya sudah sono pergi jauh ke neraka! Eh, dia ganggu dong teruus. Sarap!" Kat Rita protes.


Feb hanya tertawa keras mendengarnya sampai menangis.


"Dia sudah ditinggalkan banyak orang Rita. Bahkan grup kita saja sudah buat yang baru. Kita jenuh asli! Setiap hari dia pamer lah hubungan kamu sama dia.


Kiriman paket, bukan aku saja ya yang berpikiran dia sangat aneh. Ada kemungkinan memang sengaja memutarbalikkan fakta.


Ketua grup juga ya sudah jarang aktif dan dia masih lho sebar-sebar. Dan terakhir dia terus nanya soal hampers. Sudah keterima?" Tanya Feb.


"Sudah tapi pas buka aku baca doa dulu takut ada mantra tersembunyi kan aku tidak tahu," kata Rita.


"Hahahaha kamu juga ya tapi memang harus sih soalnya ada yang bisa lihat," kata Feb.


"Ah, aku tidak mau tahu deh soal ghaib! Pokoknya memang harus dibacakan paket apapun! Daripada kerasukan," kata Rita.


"Lalu kamu makan isinya?" Tanya Feb masih tertawa.


"Amit-amit! Aku berikan ke kuli bangunan supaya aman. Tadinya mau aku injak-injak sampai jadi debu, tapi tidak jadi," kata Rita.


"Wah kejam sekali ya tapi kamu mending sih ada niat begitu. Yang lain lebih ekstrim," kata Feb terkekeh-kekeh.


"Pastilah tidak perlu dijelaskan ya. Benar-benar gabut total dia, cari kegiatan lain yang lebih bermanfaat daripada mengganggu orang yang tidak suka sama dia. Kasih tahu dong," kata Rita.


"Ah, malas! Semua orang yang kenal dan tahu perangainya, sama kok dengan kamu. Mereka semua memilih pergi daripada bertahan sama yang kurang waras," kata Feb.


"Ya sudah deh aku cuma mau beritahu saja," kata Rita.


"Aku kira kamu akan bertindak sangat ekstrim soal paket yang dia kirim," kata Feb.


"Ada. Sebelum pembukaan tuh," kata Rita mungkin yang dia lakukan kemarin itu memang ekstrim ya.


"Wah. Kamu apain tuh? Sebelum dilihat isinya?" Tanya Feb.


Rita mengirimkan foto paket dengan gambaran yang sangat berantakan dan termasuk pisau yang dia gunakan.


Feb kaget sekali, dari semua bukti ke ekstrim an teman-temannya yang menerima paket Ney, Rita yang paling sadis.


"Wah!! Sadis," kata Feb.


"Peringatan jangan anggap remeh orang yang tipenya pendiam. Karena sekali bangun, auman nya sangat mematikan." kata Rita kemudian menyudahi teleponnya.


Feb kemudian menyimpan foto tersebut dan memprosesnya menjadi semacam lembaran.


Dia pasang ke album koleksinya, sekitar sudah ada 20 orang yang mengirimkan hasil pembedahan paket dari Ney.


Feb tidak mencantumkan nama Rita hanya saja dia memberikan keterangan Korban dua puluh satu.


Payah!


Dari dalam koleksinya terpampang paket yang sama. Persis dengan plastik merah dan paket berwarna cokelat. Isian bermacam-macam tapi ada yang sama dengan Rita.


Dari sengaja di cebur kan ke selokan, di injak dengan kedua kaki, dicakar kucing, di gigit anjing, sampai dibakar pun ada!


Bermacam-macam cara beberapa korban yang lain dilakukan. Saat mereka kesal menerima sesuatu dari Ney, orang yang mereka sangat tidak sukai.


Bahkan sampai ada yang mengirimkan foto dijatuhkan dari lantai lima menuju dasar. Hanya satu yang memusnahkan peringkat, yaitu foto Rita.


Di tusuk-tusuk sampai koyak dan plastik merah itu menempel pada pisau dapur, menurut Feb sekilas agak mirip darah tapi terlihatlah bubble wrap.


Dua puluh satu orang dan Feb masih menunggu yang selanjutnya.


Di sisi lain tanpa sepengetahuan Ney uang hasil pembayaran Hokben telah kembali ke rekeningnya.


Saat itu dia tengah menyiapkan susu untuk anaknya, dia enggan menyusukan karena terasa sakit.


Kemudian mengganti popok dan melemparkannya begitu saja. Dia memeriksa kembali dan pemesanannya itu sedang proses pengiriman.


Dalam pemikirannya pihak Hokben pasti telah menghubungi Rita. Jadi dia dengan senang menunggu kabar dari Rita, yang yakin kali ini pasti kena!


Dia juga yakin Rita pasti akan memarahinya dan akan menjadi bukti untuk Alex, bahwa Rita mencaci maki.


Kita tinggalkan Ney yang terus dengan pemikirannya akan berhasil siasatnya. Yang fitnah siapa, yang penjahat siapa teruus saja melakukan pengiriman.


Rita berganti baju, dia juga menyeka badannya sebisa mungkin. Notif masuk ternyata dari Koma yang mengabarkan mereka akan menjenguk.


Perlahan Rita mengambil kerudungnya dan mempersiapkan makanan cemilan untuk mengobrol nanti.


Meski dia tadi sangat emosi tapi kembali tenang setelah membaca kedua sahabatnya akan datang.


TOK TOK


"Yaa sebentar," teriak Rita perlahan.


Rita melihat Diana dan Komariah, dia tersenyum ceria.


"Assalamualaikuuum, Rita. Ya Allah," teriak mereka berdua kaget dan memeluknya.


"Walaikumsalam" jawab Rita.


"Kamu tidak apa-apa? Duh, aku kaget," kata Diana memegang tangan Rita.


Komariah pun sendu melihat keadaan Rita yang sekarang.


"Yah, bagaimana ya sekarang aku tidak apa-apa. Sudah ditangani," kata Rita.


Diana dan Komariah memegang tangan kiri dan kanan Rita. Mereka berdua sejak kenal dengannya memang begitu, kalau Rita sakit merekalah yang pertama menjenguk.


"Yuk masuk. Maaf ya kelamaan, aku jalannya mirip siput sekarang," kata Rita ketawa.


"Eeeh tunggu. Sebenarnya ada yang ikut bersama kita juga sih," kata Diana menatap Koma.


"Hmm? Siapa?" Tanya Rita menatap ke belakang.


Gerbang ditutup dengan penghalang jadi tidak kelihatan kalau masih ada orang lain.


"Ayo masuk saja," kata Koma teriak ke belakang.


Masuklah Kazen, Shin dan Serenity yang menatap Rita. Rita kaget sekali apalagi dia melihat Serenity yang super cantik!


Apakah.. kekasih Kazen? Rita agak meragu, tapi dia senang Kazen memang akan datang lagi.


"Kazen jadi datang toh," kata Rita tersenyum.


Seren terkejut ternyata benar apa kata Shin bahwa Rita kecelakaan dan berjilbab. Kazen senyum malu dan mengangguk.


"Hai, oh iya ini kekasih saya. Saya ajak supaya dia tidak kesepian maklum baru datang ke Indonesia kemarin pagi," kata Shin.


Seren memperhatikan sekilas Rita agak kecewa tapi mendengar dirinya kekasih Shin, ada kelegaan.


Seren akhirnya menerima bahwa memang Kazen bukanlah untuknya.


...Tak ku sesali cintaku untukmu...


...Meskipun dirimu ternyata untukku ...


...Sejak pertama kau mengisi hari-hariku...


...Aku tak meragu mengapa harus dirimu...


"Halo," kata Seren dengan sopan dan ramah.


Diana dan Koma tampak begitu histeris menatap penampilan Seren. Yah, secantik dewi Yunani, Sif. Dewi gandum yang memiliki rambut emas.


Suaranya yang jernih dan ramah membuat mereka bertiga tampak kagum dan Seren agak malu.


"Oh, halo juga. Emmm bahasa atau inggris?" Tanya Rita ke kedua sahabatnya.


"Saya bisa bahasa, Shin dan Kazen yang mengajari saya," kata Seren dengan logat negaranya yang kental.


Mereka berteriak girang membuat Kazen dan Shin hanya tertawa.


"Ayo masuk deh daripada berdiri," ajak Rita dibantu kedua temannya.


Mereka berdua menahan sedih karena kehadiran mereka bertiga, rasanya tidak sopan.


Hampers yang Kazen beli tentu masih dia sembunyikan, sebelum mengikuti Rita masuk dia kembali ke mobil.


"Sakit?" Tanya Kazen cemas. Ingin kuga dirinya membantu Rita tapi dicubit masal oleh Seren dan Shin.


"Oh, tidak kan aku sudah minum obat anti sakit. Duduk, rumahnya kecil hehehe tapi cukup untuk orang banyak kok," kata Rita.


Seren memandangi rumah Rita dengan kagum, padahal Rita sendiri bukanlah orang asing tapi rumahnya mencerminkan begitu.


"Wah, rumah kamu suasananya enak ya apalagi banyak pepohonan," kata Seren kagum.


"Terima kasih, Bapak saya pernah belajar di luar negeri katanya, selama disana beliau melihat-lihat berbagai macam rumah dan tertarik untuk membuat di sini," kata Rita.


"Ayahmu seorang arsitektur?" Tanya Seren.


"Bukan. Jurusan Teknik Sipil, tapi yah beliau ada kemampuan ke sana. Jadi ya begini deh hasilnya," kata Rita.


"That's so cool," kata Seren memandangi semuanya.


"Kamu sendirian di rumah?" Tanya Kazen.


"Iya, semuanya pada kerja," kata Rita menuangkan air.


"Sudah, biar kami saja sendiri," kata Koma.


"Untung ya kamu diberi rehat seminggu sebelum balik kerja," kata Diana melirik Kazen yang agak canggung.


"Iya, Na," kata Rita yang tidak curiga.


Bersambung ...