MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
114



Mereka naik kembali ke eskalator menuju lantai Lima dimana terdapat banyak toko pastry, toko bahan makanan. Rita tertarik sekali dengan semua isi toko itu.


"Kalau kamu sih tidak cukup sehari ya," kata Kazen tertawa.


"Kita masuk sini," kata Seren menunjuk.


Rita memandangi ke atas dan gembira melihat ada banyak kue yang cantik.


"Hayoo bingung kan pilih apa," kata Kazen tertawa.


"Mereka semua cantik-cantik sih. Apa ya yang enak?" Tanya Rita pada Kazen.


"Semuanya enak sekali kok kak," kata pelayan yang menyambut mereka.


Rita sibuk mencari hingga terpisah dari Kazen dan Lian mendekati dengan gaya sok.


"Kalau kakak berpacaran dengan Om Kazen lebih baik sekalian beli apapun yang paling mahal. Kakak pasti jarang kan punya kekasih orang kaya," kata Lian.


"Hah?" Tanya Rita lama-lama bete juga dia.


"Uang sepuluh juta bagi Om itu paling murah lho beda dengan kakak," kata Lian kemudian pergi sambil menahan ketawa.


"Aduh aduh anak jaman sekarang ya kurang adab," kata pelayannya.


"Katanya karena sering dimanja," kata Rita membuat pelayan itu mengerti.


Kazen datang. "Jadi mau yang mana? Sudah dapat?" Tanyanya menatap Rita yang manyun.


"Aku tidak tahu banyak sekali kuenya. Masih lihat-lihat dulu ya Mbak," kata Rita tidak enak.


"Silakan. Kalau sudah ada bisa panggil saya," kata pelayan lalu pergi melayani yang lain.


Lian memilih Chocolate Fromage, cake berbasis keju mascarpone yang lezat. Rita melihat penampakannya yang memang cantik tapi sayang bukan yang dia inginkan.


Reza memilih Blueberry Cheesecake yang juga memang tidak kalah lezat. Namun membuat Rita tidak menduga, sifatnya angkuh tapi memilih kue yang berkesan lembut.


"Kakak pasti belum pernah kan memakan semacam ini. Yah orang seperti kakak mana mampu beli," kata Reza menertawakan.


"Bapakku suka beli itu jadi sudah bosan," kata Rita membuat Reza kaget.


Pelayan menahan tawa.


"Tapi ini tuh ya mahal mana bisa," kata Reza masih kaget.


"Ayahku beli kalau gaji baru diterima, lalu kepala sekolah juga sering membagikan yang Lian beli, jadi ya sudah tidak asing sih. Lagipula tidak semahal beli mobil kan," kata Rita menatap Reza penuh kemenangan.


Kazen, Seren tertawa mendengarnya dan mengejek mereka berdua yang duduk malu. Mereka berdua mengangguk dan tersenyum.


Seren memilik Clairmont berwarna hijau. Rita suka hijau tapi soal kuenya... Dia memutuskan untuk melihat lagi, Kazen terus menemaninya.


Shin memilih Red Velvet Cake. Akhirnya Kazen memilih pada Cake Miefeuille, dia menatap Rita yang nampaknya masih belum memutuskan mau apa.


"Masih belum? Sampai kapan kamu terus mencari sih? Coba coba sebutkan mau apa," kata Kazen menghela nafas.


"Aku tidak tahu! Aku pusing," kata Rita stres. Kazen tertawa.


"Mbak, pesanan saya diantarnya bareng sama dia ya," kata Kazen.


"Baik," kata pelayan yang masih terus mengikuti Rita. Dirinya juga bingung baru kali ini ada pembeli yang lama memilih.


"Kamu sukanya yang bagaimana?" Tanya Kazen.


"Hmm yang penampilannya tidak biasa. Ini semua yang biasa aku lihat," kata Rita.


"Hmmm kalau begitu, apa kakak berminat mendengar saran saya?" Tanya pelayan tadi.


Mereka yang sudah duduk menunggu pesanan datang, berbalik melihat Rita yang masih belum memutuskan.


"Dia memang suka lama begitu?" Tanya Lian pada Seren.


"Dia suka mencari sesuatu yang lebih unik, tidak biasa. Dia yang paling berbeda dibandingkan dengan para mantan Kazen," jelas Shin.


"Apa itu?" Tanya Rita.


"Ada beberapa cake yang mungkin kakak suka, dari penampilannya luar biasa meski beberapa orang berpikir sangat tidak sesuai dengan toko kami," kata pelayan itu.


"Wah boleh deh," kata Rita tertarik. Kazen juga agak penasaran.


"Yahh aku pesan kentang goreng dan brownis matcha," kata Kazen menatap Rita yang tertawa kepadanya.


"Terima kasih mau menunggu aku," kata Rita menyandarkan kepalanya ke baju panjang Kazen.


Pelayan masuk ke dapur dan mereka menunggu sekitar lima menit. Dia keluar sambil membawakan berbagai macam jenis cake yang memang sih melenceng.


"Kami punya cake Pandan dengan hiasan buah di atasnya serta cokelat putih, ada Collettes Garden, Lychee Rose, Lemon Basil Meringue Tart, dan ada berbagai jenis cupcake juga. Ada yang Kakak sukai?" Tanya pelayan itu tersenyum.


Rita memandanginya dengan wajah berbinar, Kazen pun baru tahu bila mereka memiliki cake yang luar biasa.


"Woow aku suka cupcakes!" Kata Rita.


"Tidak boleh! Yang lain saja, kamu tidak akan kenyang," kata Kazen melipatkan tangannya.


"Tidak jadi," kata Rita dan pelayan mengangguk.


Mereka semua berdiri penasaran dan terkejut sama dengan Kazen. Reza dan Lian pun berbinar padahal harganya bukan jutaan.


"Aku pilih Lychee Rose saja," kata Rita akhirnya membuat Kazen lega.


"Baik, ada tambahan lain? Minuman?" Tanya pelayan menulis.


Mereka semua menambahkan kue tersebut dan Rita memilih minuman dengan cepat. I See Green, yang disetujui oleh Kazen karena dia memilih yang berbeda juga


Lian dan Reza hanya terdiam selama ini mereka mendatangi toko tersebut namun jarang diperlihatkan cake yang seindah ini.


"Adik kamu sukanya apa?" Tanya Kazen memilihkan.


"Apa saja tidak ada pantangan dia mah, kalau dia lihat apa yang aku pesan pasti mau juga," kata Rita.


Kazen kemudian memesan cake yang sama dengan ukuran penuh yang harus ditunggu selama dua jam.


"Ini buat mereka," kata Kazen yang kemudian ditepuk tangan oleh Rita.


Keponakan Seren baru tahu kalau Om mereka sangat menyukai Rita, apalagi sampai membelikan untuk adiknya.


Mereka berdua mengangguk membuat Seren heran.


Saat Rita dan Kazen berjalan bersama ke arah meja, lewatlah Ney yang menuju ke arah mereka.


Kazen mengarahkan Rita duduk membelakangi pintu toko itu dan menunjukkan sesuatu.


"Di sini ada akuarium besar lho," kata Kazen membuat Keempatnya keheranan.


"Oh dimana?" Tanya Rita.


"Tuh. Kesana deh kamu bisa lihat bermacam-macam ikan kecil. Ada kepiting juga," kata Kazen.


Rita berdiri dan berjalan ke sana dia memang terkejut. Akuarium itu memang besar dan banyak ikan.


"Hah?" Tanya Reza menatap aneh ke omnya.


Kazen hanya menutup mulutnya dengan telunjuk. Kode itu tentu membuat Seren dan Shin tegang.


"Ada apa? Kalau kamu membuat Rita melihat akuarium," kata Shin.


"Nanti kamu lihat saja siapa yang akan melewati toko ini," kata Kazen diam.


JRENG!!


Seren dan Shin kaget sekali. Mereka tahu perempuan itu!


Ney!


Dia berdiri depan toko dan menatap ke dalamnya. Letak akuarium memang agak tersembunyi ke dalam dan Rita sibuk mencari kepiting. Ternyata dia di kibuli!


"Hmm toko ini kuenya serba mahal, kapan ya aku bisa makan disini?" Tanya Ney kemudian pergi tanpa melihat lagi.


"WHAT!? HOW DID YOU KNOW?!" Tanya Shin membuat Seren bingung.


"What's going on? Kalian kenapa?" Tanya Seren bingung.


"Itu orangnya?" Tanya Shin.


"Iya," kata Kazen yang melihat Rita masih mencari kepiting.


Shin menatap belakang, "Rita benar-benar polos ya kamu bohongi dia ada kepiting,"


Kazen tertawa, "Bagus kan,"


"Kamu selidiki dia semua?" Tanya Shin.


"Iya," jawab Kazen memandangi jam tangannya.


"Jadi kamu tahu Rita akan bertemu dengan perempuan aneh itu?" Tanya Shin.


"Cewek yang tadi di depan toko? Ada apa sih sama dia dan Rita?" Tanya Seren yang tidak digubris keduanya.


"Aku sengaja kita lihat saja bagaimana reaksi dia nanti, aku sudah punya rencana juga," kata Kazen tertawa.


"Rencana bagaimana?" Tanya Shin.


"Hei hei," kata Seren.


"Kalau dia memang benar memihak Rita hanya untuk urusan dirinya sendiri, saat dia melihat Rita dengan aku nanti, aku yakin dia akan berusaha mendekati Rita lagi," kata Kazen.


"Dia akan cari tahu siapa kamu juga. Tidak apa?" Tanya Shin.


"Memang begitu kebiasaan dia, sudah tahu siapa aku pasti dia melempar Alex dan membuatnya menjijikkan. Orang macam itu kita bertiga tahu kan, seperti apa muslihatnya," kata Kazen.


"Aku tidak tahu," kata Seren.


"Eh?" Tanya mereka berdua yang kemudian Seren tarik kerah mereka semua untuk cerita.


Mereka berdua menceritakan sambil melihat Rita yang sudah mulai agak bosan. Seren cepat mengerti dan melipatkan kedua tangannya.


"Teman rasa Musuh ya," kata Seren.


Mereka berdua mengangguk.


"Lalu rencana kamu berikutnya apa? Kenapa coba-coba sih? Nanti dia usik hidup kita dengan ancaman buatan dia," kata Seren.


"Kita kan sudah biasa. Ancaman, suap uang iya kan. Aku ingin lihat seperti apa muslihat dia," kata Kazen dengan pandangan berbahaya.


"Dia sama sekali belum pernah berhadapan dengan orang-orang seperti kita," kata Seren dengan gaya putri angkuh.


"Baca deh apa yang dia lakukan pada Alex dan Rita di tahun yang lalu.


Parah dong sampai dia bully Rita hanya untuk mendapatkan kepercayaan Alex.


Dia ada niat untuk menghancurkan Rita dengan bertingkah sebagai orang baik, yang bisa Alex percaya," kata Kazen tertawa.


Seren dan Shin tertawa keras bagi mereka itu adalah muslihat murahan. Yaa karena mereka lebih parah dari yang terlihat.


"Perlu aku hadapi dia?" Tanya Seren menyalakan rokoknya.


"Alex pasti termakan umpannya kan makanya dia menyebut Rita sebagai pembawa sial. Brengsek itu orang, sebaik ini malah dia buang," kata Shin berbagi rokok dengan Seren.


Lian dan Reza pindah duduk karena sudah tidak baik urusannya kalau mereka sudah merokok.


"Maklum, Alex terlalu bodoh padahal dia sama dengan kita kan. Terlalu buta oleh Mulut Penjilat," kata Seren dengan nada yang tidak pernah Rita lihat.


Rita masih melihat-lihat menu lainnya yang dia tidak tahu. Seren dengan cepat menghabiskan rokok dan Shin mengambilnya dan pergi sebentar.


Seren mengeluarkan permen yang aromanya harum, agar bau rokok tidak tercium.


"Kalau kamu mau silakan, dia tidak akan berani pada perempuan yang penampilannya seperti kamu.


Tapi dia menjadi berani karena merasa Alex sudah berada dalam genggamannya kan.


Tapi kali ini aku yakin dia akan menendang Alex dan berusaha mendekati kita, dan..." kata Kazen menatap kedua sahabatnya.


"Dia akan bertindak seperti pada Alex ya kan? Menyingkirkan Rita dan menempati posisinya. Alias..." kata Seren menatap Shin.


"Pansos," kata Shin tertawa penuh jebakan.


Bersambung ...