MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
69



Asma keluar ruangan dan senyum, Bu Dewi menghela nafas dan masuk ke kantor. Anak-anak kembali saat Lina dan Kinan menyuruh untuk belajar.


Shin kembali ke kantor dan masuk ruangan dimana Kazen menunggunya sambil senyum.


"Aku sudah dapat info nih," kata Shin di pintu depan ruangan rapat.


"Sini," kata Kazen seenak jidat.


Shin sebal dengan sikap temannya itu tapi kadang sikapnya sulit ditebak terutama menyukai perempuan berjilbab.


Mereka bertemu dan Shin memberikan fotonya.


"Iya. Dia yang aku maksud," kata Kazen senang dan menepuk sahabatnya.


"Gila ya dari tahun lalu? Kenapa sih tidak langsung kenalan? Jadi sekarang kamu sudah lamaran atau resepsi sama dia," kata Shin membuat kopi.


"Ya masalahnya," kata Kazen menarik kursi dan duduk. "Aku sibuk,"


"Sibuuuk terus tapi bisa mendapatkan si Cantik Tamara dari India. Sibuk apa?" Tanya Shin tanpa berbalik.


"Hahaha! Sial! Yaa bagaimana ya, aku kan... ya kamu tahu lah. Aku merasa tidak pantas kenal dia," kata Kazen.


"Lalu sekarang menurut kamu pantas?" Tanya Shin.


"Yaa tidak juga sih. Aku takut setelah tahu masa lalu aku... dia langsung kabur," kata Kazen menaruh foto Rita dalam hpnya.


"Ya pasti kamu kan begajulan dulu. Hilang perjaka juga kan," kata Shin membuat mata Kazen membesar.


"Enak saja! Itu kamu! Meski aku begajulan, tapi aku masih ya menjaga area berharga! Ngaku!" Kata Kazen melempar gelas aqua ke wajah Shin.


"Ehehehe iya yah namanya anak remaja," kata Shin tertawa bangga.


"Serenity kok mau ya sama bocil tua seperti kamu," kata Kazen yang langsung dilempar pembalasan oleh Shin.


"Ah, aku jadi ingat dengan anak-anak di sekolah itu," kata Shin yang kembali menyeruput kopi.


"Hmmm namanya Rita Ashalina. Jadi sudah keluar ya," kata Kazen duduk dengan tenang lagi.


"Kerjanya tidak bagus. Bagaimana bertahun-tahun ngeceng ehh sekalinya mau kenalan malah sudah keluar," kata Shin.


"Aneh. Kepala sekolahnya berbeda dariyang kamu ceritakan. Aku yakin dia hanya menggantikan tapi sekolahnya sepi?" Tanya Kazen.


"Betul. Muridnya juga sisa dua puluh lima," kata Shin.


"HAH!?" Tanya Kazen kaget.


"Zen, kamu bisa membuat semua guru dan murid kembali lagi? Anak-anak di sana tidak betah," kata Shin mulai cerita.


"Hmmm mudah kok. Tenang aku akan membuat itu kembali semula," kata Kazen tertawa lebar.


"Nanti kalau kamu sudah kenal sama Rita, ubah sikap gunung es kamu itu. Emosi juga, kamu temper. Aku cemas dia tidak bertahan lama," kata Shin.


Kazen mengangguk, dia setuju.


Setelah semua info dari sahabatnya itu, Kazen menemukan sesuatu yang mencengangkan yaitu obrolan mengenai Asma.


Entah dari mana Kazen bisa mendapatkan percakapan yang ternyata dulu dia pernah tidak sengaja memasang penyadap.


Berkat itu, dia tahu dalang dari dikeluarkannya Rita. Setelah itu Kazen mencari nomor Asma dari tempatnya bersekolah.


Dengan pura-pura menjadi orang tua murid yang kehilangan nomor Asma. Setelah itu dia mengirimi pesan singkat, yang setelahnya Asma kirim ke Diana.


Kazen tersenyum menatap pesan itu dan mematikan sistemnya, namun dia lupa kalau nomor itu bisa ditelusuri.


Kazen berpikir mana mungkin mereka akan sampai menyelidiki nomornya, tapi sayang kecuali Rita.


Setelah itu yang kita ketahui Asma tentu panik siapakah kiranya yang tahu keonarannya?


Kazen telah mengantongi nama Rita dan kini jalannya menuju Rita semakin terbuka. Dia berniat baik kali ini serius dengannya. Tapi bagaimana dengan Rita sendiri?


Kazen dan Shin kembali ke tempatnya masing-masing, Kazen mencari tahu email kepala sekolah TK Seribu.


Setelah dapat, dia kirimi video dan info apa yang terjadi dalam sekolahnya. Inilah kejadian sebelum akhirnya Rita diputuskan rehat seminggu.


Di tempat lain, kepala sekolah tengah menikmati pemandangan alam dan laptopnya berbunyi. Dia membuka dan mendapat email entah dari siapa dan terkejut.


Ada sebuah chat serta video dan nama-nama guru yang dikeluarkan. Dengan serius kepala sekolah membuka satu per satu.


Dia geram dan sangat marah orangyang mengeluarkan mereka tidak lain adalah adiknya sendiri. Dia mengirimkan email bertanya siapa dirinya.


Kazen hanya membalas sebagai tetangga yang selalu memperhatikan kualitas kerja para guru dan staf TK nya.


Mereka kemudian bertukar email dengan masalah yang serius. Nama email Kazen tentu dibuat berbeda, Bocil Tua.


Kazen tahu kondisi Rita bagaimana dan menyarankan kepala sekolah untuk membiarkan adiknya mengelola sekolah.


"Biarkan sampai hancur dan puas, saat nanti pengawas datang jangan biarkan Ibu dihubungi," balas Kazen.


Kepala sekolah akhirnya mengikuti saran Kazen meskipun sangat aneh.


"Lalu bagaimana dengan guru percobaan?" Tanya Kazen dalam email.


"Mereka akan tetap saya tarik kembali juga Bu Rita. Saya pikir adik saya sudah tobat padahal dia sudah memiliki kehidupan yang baik," balas kepala sekolah menatap foto adiknya.


Komariah dan Diana mendapatkan pesan dari kepala sekolah yang mengirimkan tanggal masa percobaan mereka.


Meski bingung tapi mereka menjawab Baik. Dan... menceritakannya saat berkunjung ke rumah Rita nanti.


Kepala sekolah memutuskan akan mrnguji kelayakan adiknya dan menyiapkan bangunan yang rencananya sebagai sekolah kedua.


Alamatnya tidak jauh dari dimana Kazen bekerja ya sekitar lima blok rumah. Membaca itu Kazen sangat senang, Allah swt tidak meninggalkan kesempatannya.


Shin terus memaksanya untuk berkenalan, tumben dia merasa gugup dan takut penolakan.


"Ingat juga jangan pernah kamu membicarakan soal cctv," kata Shin sebelum bekerja kembali.


"Kenapa?" Tanya Kazen bengong menghentikan pekerjaannya.


"Tumben kamu jadi bego," kata Shin yang dilempar asbak oleh Kazen namun langsung ditangkapnya.


"Bos kita kejam," kata karyawan di luar. Untung kacanya anti retak.


Shin ketawa lalu keluar, tugasnya selesai.


Kazen kembali duduk, merapihkan rambutnya yang keriting bergelombang kembali bekerja dengan serius.


Sebentar lagi dia akan memperkenalkan dirinya pada Rita. Alex? Tentu dia sangat mengenai siapa Alex.


Dia membenci Alex sangat dalam menurutnya Alex tidak pantas mendapatkan Rita. Perempuan sebaiknya malah di sia-siakan dan disakiti.


Kazen juga tahu mengenai Ney, musuh dari Rita yang menganggap bukan orang yang pantas disebut Teman.


Arnila sih tidak masalah tidak memiliki peran besar meski kesal juga, mudah dimanfaatkan untuk menyerang Rita.


Kazen menemukan banyak fakta mengenai Ney yang membuat dirinua kaget dengan mengerikan.


Kedua tangannya meremas jari-jari tangan yang lain dan menggebrak meja kerjanya dengan keras.


"Berani-beraninya perempuan itu membully Rita!" Kata Kazen dengan geram.


Karyawan lain sudah biasa mendengar gebrakan mereka masih duduk dan mengobrol dengan santai.


"Orang seperti dia tidak pantas menjadi temannya! Bagaimana bisa dia baru sadar sekarang?" Tanya Kazen agak stres.


Rambutnya yang rapih disisir kini berantakan dan membentuk gaya rambut belah tengah.


Agak mirip Park Jimin meski rahangnya lebih tegas dan galak. Kazen menendang kursi sambil terbalik.


"Kalian di sini ada yang berbuat kesalahan?" Tanya ketua tim.


"Aku sudah kena marahnya minggu lalu. Jadi aku bebas," kata yang perempuan angkat tangan.


"Curang," kata yang lain.


"Semua laporan kan sudah selesai di tanda tangani. Apa lagi yang membuat bos semarah itu?" Tanya yang lain.


"Biarkan saja paling soal perempuan," kata Shin.


"Ahh benar juga," kata yang lain kembali bekerja.


Entaaah dia mendapatkannya dari mana, tapi semua chat dari Ney yang dia sebar ke banyak orang mengenai Rita terlihat jelas.


Dengan perkataan menghasut, memfitnah dan memutar balikkan cerita dengan kenyataan yang ada. Terbaca!


Termasuk soal paket-paket yang ternyata banyaaak sekali orang-orang yang dia kirimi, memarahinya dengan kata-kata yang lebih kasar dari Rita.


Kazen geram melihat kelakuan Ney yang terus mengganggu dan mengadu domba orang lain. Bagian Rita tentu juga ada, rasa-rasanya Kazen ingin meretakkan mulutnya.


"Bagaimana bisa orang sejahat ini bisa kenal dekat Rita? Heran. Kenapa dia harus kenal dengan Rita semasa SMP?" Tanya Kazen yang bingung.


Kazen akhirnya tahu Rita terlalu baik dan polos tidak menyadari kelakuan minus dari Ney.


"Apa dia di hipnotis? Sampai tidak bisa melihat minusnya?" Tanya Kazen heran. Bisa jadi, di tutup penglihatannya jadi seburuk apapun kelakuan Ney, Rita tidak mempermasalahkannya.


Tapi sekarang? Semuanya Rita bisa lihat dan memilih pergi selamanya. Rita sendiri heran kenapa dia bisa sebego itu masih mau menerima Ney.


"Kalau aku bertemu dengan dia nanti, lihat saja. Akan aku buat perhitungan!" Kata Kazen menyelesaikan bekerjanya dan bersiap pulang.


Bersambung...