
"Setelah itu kamu cerita ke Ney?" Tanya Alex.
"Iya, tapi tidak semuanya aku masih punya hati ya berbeda sama dia, yang tidak punya hati. Aku hanya bilang kalau mungkin ulat-ulat itu kiriman dari orang-orang yang sakit hati ke dia," kata Rita.
"Tapi dia tidak merasa pernah menyakiti kan? Termasuk kamu dan Arnila," kata Alex mulai paham sesuatu.
"Ya dia tidak mengakui dan masih berlagak tidak memiliki dosa. Aku katakan orang-orangnya mungkin sebelum kamu bertemu aku, Arnila. Ada kemungkinan orang-orang di tahun-tahun silam. Aku juga bilang ke dia jadi orang harus belajar sopan santun," kata Rita.
"Iyalah," jawab Alex. Rita kasar sama dia karena dianya yang sulit mengerti maksudku Alex dan Ney.
"Perilaku dijaga, ucapan dan kepribadian juga. Kalau kamu tidak bisa melakukan semuanya lebih baik menyendiri saja, jangan cari masalah sama orang," kata Rita membalas dengan cepat.
Kata-kata Rita entah kenapa memukul dirinya sendiri. Dia ingat karena kondisinya selalu membuat masalah, orang tuanya menangis, Jasmine harus menyeret dia dari tempat TKP. Alex merasa menyesal, dia juga sering membuat Rita kesal sekali.
"Lalu ada balasan kah?" Tanya Alex.
"Dia tidak membalas, aku tahu kebiasaannya kalau tidak membalas iya dia mengakui, banyak melakukan sesuatu. Kebiasaannya yang begitu sudah kelihatan sejak aku kenal dia," kata Rita.
Memang benar Alex pun pernah mengalaminya saat chat dengan Ney, beberapa pertanyaan atau pernyataan Alex tidak ada balasan.
"Hmmm," jawab Alex hanya itu.
"Untuk informasi kamu saja ya, dia terus menerus berkata ada banyak ulat selama 3 hari. Apa yang aku sudah katakan padanya sama sekali tidak dia pedulikan. Jadi yaa karena itulah aku langsung blokir dia," jelas Rita akhirnya!
"Dia pasti langsung lihat ya," kata Alex.
"Pasti dan aku sudah tidak peduli. Nasehat aku tidak dia gubris yah, terima saja nanti semua balasannya. Aku blok nomor teleponnya, akun instagram dia, PB, termasuk email dia juga. Aku benar-benar sudah menutup segala hal tentang dia," kata Rita.
"Selama tiga hari dia terus mengatakan hal yang sama?" Tanya Alex.
"Iya selalu sama, aku tidak tahu ya apa yang sudah dia lakukan sampai mendapatkan bencana ulat sebanyak itu. Pastinya jahat sih. Aku yakin itu balasan dari orang-orang dahulu yang pernah dia jahatin," kata Rita yakin.
Alex diam.. "Lalu bagaimana saat Arnila chat sama kamu. Apa dia pernah cerita kalau dirinya juga didatangi ulat?"
Rita merenung. "Hmm belum ada deh cerita soal itu selain kamu dan Ney. Aku tidak pernah bertanya hal-hal yang aneh juga,"
"Oh begitu," kata Alex agak kecewa.
"Tapi dia pernah ada nanya sebuah sebab," kata Rita.
"Apa tuh?" Tanya Alex.
"Katanya, 'Rita kok aku setiap chat dengan Ney selalu ada ulat ya?' Aku kan jadi aneh. Kenapa sih kalian tuh bicaranya ulat-ulat? Aku bilang saja kalau Ney dan kamu juga sempat cerita soal ulat-ulat," balas Rita.
Alex tertawa membacanya.
"Arnila ada bertanya juga seperti kamu ya aku jawab tidak pernah mengalaminya. Bahkan dengan aku chat dulu sama Ney ya memang tidak ada apa-apa," kata Rita.
"Lalu Arnila responnya apa?" Tanya Alex.
"Ya sama seperti kamu saja lalu nanya bagaimana caranya supaya mereka tidak ada lagi. Aku hanya menyarankan yang aku tahu sih, bilang rajin melantunkan ayat Kursi, banyak sedekah supaya Allah swt mau menolong," kata Rita yang yah dia sendiri juga bingung.
Tapi memang hanya dengan istiqomah beribadah dan mengaji, bisa kok hilang," kata Rita.
"Lalu binatang apa yang sering mendatangi kamu?" Tanya Alex lagi.
"Kupu-kupu sih," jawab Rita.
Dari balasan Rita itulah dia mulai mengulang kembali pemikirannya. Karena kupu-kupu adalah perlambang kebaikan dan rezeki. Tentu saja bila ada yang berwarna akan berbeda lagi artinya.
Kupu-kupu berwarna terang dipercaya menjadi tanda rezeki datang.
Kupu-kupu berwarna gelap artinya yang akan menghampiri adalah kesiapan dan kabar duka.
Tapi itu semua hanya mitos dan sangat diragukan. Tapi sebagian memang ada yang terjadi yah, tergantung dari orangnya juga sih.
Dalam keluarga Rita misalkan, mitos soal kupu-kupu dipercaya mendatangkan kebaikan. Mungkin karena warna sayapnya yang indah dan bermacam-macam motif.
"Ah, bukan pertanda aneh kalau kupu-kupu," kata Alex.
"Jangan percaya mitos kalau kamu mengaku agama Islam," kata Rita.
Alex tersenyum. "Iyalah. Kamu beritahukan juga pada mereka? Bagaimana tanggapan mereka?"
"Kalau Ney sih tidak ada tanggapan pastinya marah karena aku berbeda kan. Kalau Arnila ya sama seperti kamu, biasa saja memang dia tahu rumahku banyak bunga juga," kata Rita.
Alex lega ternyata lebih banyak hal baik yang mendatangi Rita tidak seperti mereka. Meskipun begitu Rita sama sekali tidak menghina bahkan mengejek. Dia bersimpati kenapa mereka bisa mendapatkan hal semacam itu.
Kalau Alex sih memang menyebalkan tidak heran kasusnya sama dengan Ney, meski bedanya Alex rajin mengerjakan ibadah, dan senang berbuat kebaikan.
"Hanya kupu-kupu saja?" Tanya Alex sebagai mengulur banyak waktu supaya Rita lupa.
"Ya hanya kupu-kupu saja. Jadi kalau kalian bertanya soal ulat, memang aku tidak tahu. Proses kupu-kupu kan dari ulat juga, aku kira ulat ini yang kalian maksud," kata Rita.
"Bisa jadi rumah kamu terlindungi. Pasti banyak yang suka mengaji ya," kata Alex karena rumah yang sering dilantunkan ayat suci, akan nampak sejuk dan enak didiami.
"Semuanya suka tapi kalau kakakku sih sering banyak alasan," kata Rita.
Alex tertawa. "Ada yang lain soal mereka berdua?"
"Tidak ada aku kan sudah lama menjauh dari mereka. Aku ada kontak lagi dengan Ney di tahun lalu," kata Rita.
"Ney bilang padaku kamu duluan yang mendatangi dia dan memaksa chat," kata Alex.
"Eits maaf ya sejak dulu dia yang begitu. Dia menendang aku saat dia punya teman baru, tapi kalau dia bermasalah sama mereka, dia memaksa aku untuk menemani dia. Bicara sama dia itu malas sekali tahu," kata Rita.
"Memang kenapa? Aku pikir kalian akrab meski nyatanya sangat jauh," kata Alex.
"Akrab sama dia? Amit-amit! Tahun lalu saja baru chat selama 2 hari dia sudah mulai memaksa aku untuk mendatangi kamu buat baikan," kata Rita mengingat kembali.
"Oh yang kita setahun tidak ada kontak kan? Dia juga chat begitu," kata Alex.
Rita tahu kalau Alex pastiii masih saja suka chat dengan perempuan gila itu. "Kenapa sih kamu sepertinya lebih senang ya chat sama dia,"
"Aku ada urusan. Ada yang aku cari, nanti juga kamu akan tahu," kata Alex yang memang senang kode.
"Terserah deh! Dia juga memaksa sekali ya ke aku menyuruh teman-teman aku klik instagromnya dia. Benar-benar tidak punya rasa malu!" Kata Rita sebal.
Alex diam membacanya. Memang aneh sekali tampaknya Ney tidak pernah merasa punya salah. Kok bisa dia seperti itu?
"Dia bicarakan apa saja sih soal aku?" Tanya Alex.
"Banyak! Aku jenuh sekali membaca atau mendengar suaranya yang penuh jebakan itu. Entah apa maksudnya dia karena plin plan, awal dia dukung aku sama kamu, saat aku tidak kontak kamu, dia berubah menentang. Otaknya korslet," kata Rita.
"Ada lagi? Sabar saja ya mungkin dia syok sekali kamu bisa kenal dengan aku. Pemuda jenius dan tampan juga," kata Alex memuji sendiri. Rita tidak membalas.
"Dia sering membicarakan merk yang kamu pakai, yang kamu punya, soal harta keluarga kamu sampai nominalnya dia tahu. Aku muak! Dengar semua omongan dia jadi aku blok," kata Rita tertawa.
Begitu rupanya kenapa Rita memang blok Ney sampai sekarang. Alex merenung memang sudah keterlaluan sekali tampaknya. Apalagi Alex juga merasa karena kehadirannya, membuat Ney merasa paling tinggi.
Dan banyak berbuat ulah. Termasuk soal bedak, hampers dan Hokben. Kenapa Alex tahu? Dia sudah sejak lama stalker Rita tanpa diketahui.
Fans fanatik Rita ternyata hanya memang Rita tidak pernah tahu. Hanya perbedaan otaknya dan Rita yang membuatnya tidak mengerti.
"Tidak ada obrolan lain lagi?" Tanya Alex merasa sudah cukup juga dia mengulur waktu.
"Dia selalu datang dengan wajah menyebalkan seakan-akan dia tidak punya dosa! Dan menyapa tapi aku tidak pernah membalasnya, aku hanya menghindarinya dan pergi," kata Rita teringat kejadian dulu.
"Dia pasti mengekor kan?" Tanya Alex.
"Iya tapi tidak lama saat tahu kedua sahabatku datang dan langsung mengajakku pergi. Mereka tidak melihatnya, aku lihat dia seperti bersembunyi," kata Rita.
Bersambung ...