MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
40



Ney tidak chat lagi di dalam grup dia melihat aplikasi Opay kirimannya menuju perjalanan Bandung.


"Nah, sudah terkirim aku yakin setelah dia menerimanya, dia akan membuka gembok akun aku. Dia pasti akan mengucapkan terima kasih dan akhirnya, aku dan dia akan kembali baikan," kata Ney dengan senang.


Melupakan masalah yang dia buat minggu lalu, merasa Rita akan mau membuka kembali pertemanan atau semacamnya. Harapannya terlalu tinggi sampai akhirnya jatuh kembali.


Setelah beres, Sana menghubunginya mengajaknya ke Bandung karena dia ada keperluan. Berpikir sekalian saja antar kan paket, namun sudah duluan terkirim.


Akhirnya Ney mengiyakan ajakannya dan mereka berjanjian bertemu. Sana membawa mobilnya dan Ney membawa serta bayinya dan suami akan menyusul kesana nanti.


"Ngapain kamu di Bandung?" Tanya Ney pada Sana yang sedang membetulkan beberapa barangnya.


"Aku mau berkunjung ke saudara sepupu kebetulan dia meminta aku untuk membuatkan desain toko. Aku ajak kamu, daripada sibuk urusin hidup orang, lebih baik bantu aku saja," kata Sana


Ney cemberut mendengarnya. "Aku urusi hidup orang karena peduli mereka saja yang selalu salah mengartikan," katanya sambil menggendong bayinya.


"Mana ada orang yang suka diurusi? Hidup kamu saja belum tentu tenang kan. Pembantu tidak kamu bawa?" Tanya Sana melihat kiri kanan.


"Bawa dong kita ke rumahnya dulu, mana mau aku bawa anak nanti jalan-jalan," kata Ney tanpa melihat anaknya.


"Lebih baik kamu banyak peduli deh sama calon anak kamu ini. Urusan Rita bukan wilayah kamu lagi. Toh tanpa kamu, hidup dia bahagia saja sama dengan teman lainnya," kata Sana menyalakan mobil dan menuju rumah pembantu.


Ney tidak menjawab, pembantu datang dan langsung diserahi tugas menggendong anaknya. Syukurlah pembantu telah sigap membereskan perlengkapan anak.


"Kita mau kemana, Bu?" Tanya pembantu.


"Ke Bandung. Kamu urus anakku ya, nanti aku dan temanku mau jalan-jalan," kata Ney seenaknya dan merenggangkan kedua tangannya.


Pembantunya hanya mengangguk, baginya sudah biasa melihat kelakuan majikannya. Dalam perjalanan Sana mengajak mengobrol soal berbagai hal termasuk apa pentingnya dia mengikuti grup Sosialita.


Mereka juga bersitegang membuat anaknya menangis karena keras kepala Ney yang enggan mengalah.


"Bu, kalau bisa jangan sampai bertengkar. Anaknya menangis terus," kata pembantu cemas.


Sana tertawa. "Kalau kenal Ney ya Bi mana ada hari-hari damai. Makanya aku heran kok bisa ya dia kenal orang yang kalem, lalu ikut campur masalah orang," katanya melirik pembantu.


Bibi hanya menahan tawa sedangkan Ney cemberut sepanjang perjalanan. Sana membelikan cemilan untuk pembantunya Ney, tidak lupa mengucapkan terima kasih.


Meskipun Sana agak sama kelakuannya dengan Ney, namun dia masih bisa memaklumi seseorang yang tidak ingin dekat dengannya. Dan bukan pemaksa.


Mereka melanjutkan perjalanan, anaknya terus tidur di pangkuan Bibi. Beberapa jam kemudian, mereka tiba di rumah sepupu Sana.


Mereka mengobrol kemudian menuju tempat dimana toko itu akan dibuat. Ney mengikuti, Bibi dan anaknya sudah dia antar ke rumah ibunya.


Ney menghela nafas, dia hanya mengantar saja dan memeriksa ponselnya. Tidak ada chat dari siapapun bahkan Alex. Ney berpikir apakah benar Alex dan Rita sudah berakhir, ataukah itu hanya akal bulus mereka?


"Oke deh, aku mau jalan-jalan dulu ya kebetulan ada baju yang mau aku beli," kata Sana ke sepupunya.


"Makan siang di sini saja ya, ajak teman kamu juga," kata Mbak Yani menunjuk ke Ney yang tengah gabut.


"Siap. Yuk, Ney kita jalan-jalan ke BIP. Sudah lama juga kan kamu tidak kesana lagi," ajak Sana.


"Ayok deh," jawab Ney naik mobil lagi.


Dan di sanalah secara kebetulan Ney melihat Rita, Diana, Koma dan adiknya tengah mengobrol seru di taman yang baru selesai.


Dia agak terperangah menatap Rita yang tidak terlihat sedih karena sudah putus dengan Alex.


"Hah, itu kan Rita ada Komariah dan Diana juga. Kok aku tidak diajak sih? Kira-kira mereka mengobrol apa ya, agak seru," kata Ney bertanya-tanya.


Sana memperhatikan sikap Ney yang memandangi jauh di sana. "Siapa?" Tanyanya.


"Ih, kok Rita tidak menghubungi aku ya kalau mau jalan-jalan? Meskipun aku di Jakarta, aku bisa kok ke Bandung. Rita juga tampaknya tidak sedih," kata Ney.


"Kamu lihat kemana sih?" Tanya Sana heran.


"Yah, sudah biasa kan. Memangnya mereka siapa?" Tanya Sana melipatkan kedua tangannya.


"Mereka itu teman-teman aku tapi kok mereka masih mau ya berteman dengan Rita. Dia kan jahat orangnya, suka fitnah orang dan aku," kata Ney.


Sana menatap Ney lalu tertawa. "Yang mana sih Rita itu?"


"Itu yang berjilbab," kata Ney.


"Semuanya juga berjilbab," kata Sana.


Ney mengatur poninya, iya sih. "Yang warna merah bunga-bunga dan biru kotak-kotak itu Diana dan Komariah. Mereka itu teman aku," kata Ney.


Sana menatap Ney dengan pandangan sebal. "Bukan mereka yang aku tanya, Rita. Rita itu yang mana?" Tanya Sana.


Namun Ney tidak mendengarnya dia hanya jelaskan soal mereka berdua. Sana curiga ada sesuatu mungkin Ney tidak ingin Sana tahu yang Rita.


Jadi Sana hanya menarik kesimpulan bahwa jilbab hijau dengan gradasi warna dan motif adalah Rita.


"Masa? Kelihatannya mereka lebih akrab deh dengan orang yang jilbab hijau. Yakin teman kamu atau... hanya Mengaku-aku? Kamu kan memang begitu orangnya. Kebiasaan," kata Sana me nyengir.


Dengan gugup Ney berkata bahwa mereka memang temannya. Kedua matanya tidak memandangi Sana yang berarti itu hanya mengakui mereka sebagai temannya.


"Memang teman aku kok," kata Ney membuka dompetnya sebagai pengalihan.


"Teman kapan? Dan di mana?" Tanya Sana terus bertanya.


"Teman kuliah tapi beda jurusan," jawab Ney seenaknya.


Sana tertawa. "Teman kuliah? Beda jurusan? Hahaha ya ampun Ney, kalau cari alasan itu yang masuk akal ya. Setahu aku kamu itu tidak punya teman perempuan deh, kita kan satu kampus," katanya masih tertawa.


Ney sebal mendengarnya. Dia lupa kampusnya dimana, banyak berjilbab namun bukan di kampusnya.


"Kalau kamu merasa dia teman kamu, lalu mereka tidak ajak kamu main atau apapun berarti kamu itu mengganggu pemandangan bagi mereka. Teman perempuan kamu di kampus satu-satunya hanya aku, yang sukarela jadi teman dekat kamu," kata Sana.


"Ya aku kenalan dengan mereka saat tidak jalan sama kamu dan kamu juga tidak kenal mereka," kata Ney.


"Serius? Kamu lho yang terus mengekor aku ya saat kita kuliah. Kemana aku pergi, kamu ikut sampai aku masuk grup mana, kamu memohon untuk masuk," kata Sana.


Ney diam dia tidak bisa membantah apapun. Kesal tahu begini, dia tidak mengekor Sana tapi Sana memang salah satu teman yang dekat karena kelakuan sama.


"Aku akan coba tanya mereka soal kamu. Apa benar mereka kenal," kata Sana yang beranjak menuju kumpulan Rita.


"Jangan! Mau apa sih? Mereka sedang asyik bersama," kata Ney mencegah Sana pergi.


Sana tertawa padahal itu hanya akalnya saja. "Kok tangan kamu gemetaran? Kenapa? Takut? Katanya mereka teman kamu. Ayo kita kesana masa teman tidak menyapa," ajak Sana menyeret Ney.


"Tidak usah! Aku akan menyapa nanti," kata Ney menepis tangan Sana.


"Aku ingatkan kamu ya Ney, kampus kita sama tidak mungkin mereka kuliah di kampus kita. Penampilan mereka saja juga sudah berbeda, aku yakin mereka guru kan," kata Sana memperhatikan wajah Ney.


"Tidak tahu," kata Ney memandangi yang lain


Karena kesal, Sana memegang dagu Ney yang dipaksa menatapnya. Dia lakukan itu di area terbuka dimana orang-orang berbisik.


"Kalau aku sedang bicara, perhatikan!" Kata Sana dengan nada tajam.


"O-oke oke, aku lagi..." kata Ney gugup.


Sana melepaskan dagu Ney dengan kasar membuat Ney menatap tajam ke arahnya. "Kamu tidak akan berani melawanku," ancam Sana yang sudah tahu kelemahannya.


Bersambung ...