
Kilas balik saat Diana dan Komariah mencari Kazen.
Mereka sampai di lokasi yang diceritakan oleh Rita. Nomor tersebut tiba-tiba saja aktif, mereka menggunakan aplikasi yang diberitahu oleh Rita.
"Arahnya ke sini?" Tanya Diana.
"Iya. Panah merah ini kita. Bulat yang hijau adalah letak nomor itu berada. Yuk," kata Koma.
"Rita hebat juga ya bisa langsung menemukan lokasinya," kata Diana.
"Yah, maklumlah. Sejak kuliah kan dia memang banyak yang stalker. Aku juga heran kok bisa ya?" Tanya Koma.
"Dia kalau isi pulsa selalu beda toko sih. Makanya sekarang dia suka beli pulsa ke aku," kata Diana.
"Tapi aku sering kok beli pulsa di beda toko, tidak ada tuh," kata Koma.
"Rita kan sipit matanya, Kom," kata Diana tertawa.
"Kalau Rita dengar pasti kamu dicubit sampai merah. Memangnya apa urusannya sama mata?" Tanya Koma.
"Orang sipit dimana-mana kulitnya putih. Mengerti tidak?" Tanya Diana kesal.
"Ooooh..." kata Koma mengerti maksudnya.
Mereka tertawa untung Rita lagi sakit. Mereka memasuki kawasan perumahan yang bangunannya sangat bagus.
"Tunggu tunggu yakin arahnya ke sini?" Tanya Diana agak takut.
"Serius. Nih," kata Koma memberikan hpnya.
"Tampaknya ada orang lain yang memang memperhatikan Rita deh, Kom," kata Diana menatap semua rumah Elit.
"Rita kan memang beda, wajar sih kalau yang menyukai dia orang kaya, Na," kata Koma.
Mereka sama-sama saling bertatapan dan melihat-lihat rumah contoh yang kosong.
"Mungkin saja orang yang mengirimkan pesan ke Asma itu, orang yang bekerja di sini," kata Diana melihat rumah besar dengan keterangan.
"Ini rumah atau apa sih? Kok mewah sekali?" Tanya Koma mencari tahu.
Mereka masih terus berjalan, satpam yang bertemu pun mempersilahkan mereka untuk melihat-lihat.
"Hotel? Oh, bukan! Komariah, sini!" Kata Diana menemukan sesuatu.
"Apa? Apa?" Tanya Koma.
"Ini semua tuh rumah! Gila! Eh, ada nama yang sepertinya pemilik," kata Diana menunjukkan ke sebuah nama.
"Mahendra Darma? Yang mana ya orangnya kira-kira?" Tanya Koma mencari satpam tadi.
"Iya cari itu satpam kali dia bisa memberitahukan kira mengenai orang ini," kata Diana.
Tanpa mereka sadari, mobil abu-abu mengikuti mereka dan berhenti. Kazen keluar senyum untuk menyapa mereka. Shin dan Seren masih berada dalam toko.
"Tidak ada Na. Apakah nomor ini punya orang ini? Siapa tahu," kata Koma.
"Agak kurang yakin. Kita harus bertanya ini siapa," kata Diana.
"Permisi," kata Kazen.
Diana dan Komariah kaget dan berbalik.
"Itu adalah nomor saya," kata Kazen.
Mereka berdua bengong, seorang pangeran tampan menyapa dan membuat mereka kelabakan.
"Ini kan," kata Kazen memperlihatkan nomornya. Diana memeriksa, sama!
"Ke..." kata Diana.
"Sebelum kalian bertanya siapa saya, kenapa kirim pesan, apa hubungan saya dengan teman kalian.
Bagaimana kalau kita berbincang dahulu di cafe itu? Saya yang bayar karena sengaja mengaktifkan nomor supaya kalian datang.
Saya akan jelaskan semuanya," kata Kazen panjang lebar dan sopan.
Mereka masih bengong, mirip Rita kalau bicara panjang sekali tapi Kazen dengan nada ramah dan Rita terlalu ceria.
Mereka memasuki Cafe, wajah keduanya tampak merasa aneh dan ya sebal juga. Mereka duduk dan Kazen menjelaskan.
Mereka mendengarkan dengan seksama pada bagian bagaimana dia tertarik pada Rita selama setahun yang lalu.
Tapi dia belum siap bertemu karena masih terbilang nakal. Masih banyak masalah dengan para Mantan dan juga pekerjaan.
Kazen juga menceritakan soal mengamati Rita selama bulan kemarin dari cctv.
Mereka berdua tertawa karena terlihat Kazen masih agak ragu untuk langsung berkenalan dan juga malu.
"Hmmm tapi kalau begitu sih kesannya seperti psikopat ya," kata Koma menahan ketawa.
Kazen terdiam, itu juga yang dikatakan oleh sahabatnya, Shin.
"Eh bukan maksudnya stalker," kata Komariah memperbaiki.
Lagi-lagi sama dengan yang dikatakan Shin. Dia menghela nafas dan meminta maaf.
"Kalau mau kenalan, ya datang saja jangan seperti ini, meski kamu pasang cctv untuk melihat dia. Aku yakin kalau Rita dengar, kamu akan di habisi," kara Diana menahan tawa.
"Ya resiko saya. Saya tahu itu tidak sopan juga," kata Kazen menunduk.
"Untung saja hari ini dia tidak bisa menjadi Detektif. Bersyukurlah kamu masih ditolong oleh Allah swt," kata Komariah.
Kazen diam memandangi meja yang putih. Pelayan datang dan memberikan menu, Diana dan Komariah agak malu untuk memesan meski mereka akan dibayar.
Kazen mengerti dan memesan dua kue tart potong dan dua gelas minuman hangat. Sedangkan dirinya kopi cappucino.
"Iya kalau aku juga diawasi seperti itu pasti kalau bertemu pelakunya, aku hajar habis!" Kata Diana.
Pelayan datang sambil membawakan kue tersebut, membuat Diana dan Komariah senang.
"Ini sebagai permintaan maaf Saya kepada kalian juga. Saya tahu kalian sahabatnya karena dari cctv juga," kata Kazen.
"Cantiknya," kata mereka.
"Nanti lagi jangan ya, kamu sudah kenal dia kan dalam kecelakaan itu. Bagaimana kalau ikut saja hari ini dengan kami?" Tanya Diana.
Ini dia, memang inilah yang Kazen maksud.
"Kalian akan jenguk dia?" Tanya Kazen tidak sabar.
"Iya. Kami makan ya," kata Koma.
"Silakan silakan. Tapi saya tidak sendiri, saya ajak sahabat dan pacarnya. Tidak apa? Kalian ikut pakai mobil saya saja," kata Kazen ramah.
"Boleh," jawab mereka.
Mereka makan dan berkomentar betapa lembut krim serta kuenya. Kazen menghubungi Shin bahwa rencananya berhasil dan menyuruh mereka menunggu dijemput.
"Kalau Rita sih mana bisa makan stroberi," kata Diana.
"Kenapa?" Tanya Kazen.
"Asam," jawab mereka. Kazen tertawa.
"Kalian bisa makan apa saja ya?" Tanya Kazen.
"Iya, makanya Rita senang dengan kami katanya kalian kalau makan tidak susah. Dia tidak suka daging kan jadi bisa leluasa memberikan daging," kata Diana.
Kazen tertawa dan mereka mengobrol, tanggapan mereka soal Kazen adalah laki-laki yang sangat ramah.
Wajahnya memang ada tipe keras dan galak, tapi sangat sopan dan juga ramah.
"Tapi waktunya kurang pas ya, Diana," kata Koma.
Diana mengangguk menyayangkan kenapa Kazen baru muncul sekarang.
"Memangnya kenapa? Kurang pas untuk menjenguk?" Tanya Kazen.
"Bukan. Rita kan... baru saja putus sama yang pertama," kata Komariah agak kecewa.
"Pasti sulit kalau kamu mau berniat lebih dekat dengan dia," kata Diana.
Oh Kazen mengerti. Alex! Dia tersenyum, kedua sahabatnya tahu kalau niat Kazen bukan hanya kenalan semata.
"Saya akan pelan-pelan berteman dahulu dengan Rita," kata Kazen.
Mereka senyum dan percaya bisa dekat karena Rita bukan tipe perempuan cengeng.
Memang pasti sedih kecewa dengan masalah dahulu, toh Alex pun lebih ingin Rita bahagia dengan orang lain.
Sahabat Rita sebenarnya bukan hanya mereka saja masih ada dua lagi yang sayangnya, tempat tinggal mereka berjauhan.
Kupang dan Bayuwangi, Kiara dan Mae adalah sahabat semasa Rita SMA. Mereka berdua juga sangat dekat.
Lulus SMA mereka berdua kuliah di tempat berbeda. Kiara kuliah di Jakarta sedangkan Mae di New Zealand.
Meskipun begitu, keduanya masih sering kontak dengan Rita dan merencanakan pertemuan tahun depan.
Diana dan Komariah sahabat semasa kuliah dan masih terhubung bersamaan dengan Kiara dan Mae.
Mengenai Ney, tentu Kiara dan Mae tahu karena pernah bertemu. Yah sama saja sih mereka kurang sreg untuk mengenal Ney lebih jauh.
Untungnya juga mereka jauh, meski Kiara berada di Jakarta pun rumahnya dalam kawasan Elit, tidak sembarang orang bisa masuk.
Tentu saja Ney pernah mencoba kesana mengatakan dirinya sahabat dari Rita. Namun ditolak karena tidak ada data yang menjelaskan sesuai keterangannya.
Ney melaporkan hal itu dengan mengatakan pada Rita kalau Kiara sangat sombong.
"Kiara tidak mau dekat-dekat dengan seorang perundung,"
Ney sudah tentu kaget dan yah, memusuhi Rita. Itu setahun yang lalu saat mereka ada kontak, tapi Rita memutuskan untuk blok dirinya.
"Kami sahabatnya ingin kamu jangan seperti laki-laki yang pertama dia kenal. Dia sengaja banyak membuat Rita sedih dan selalu membela musuhnya," kata Diana.
Kazen juga sudah lebih dahulu tahu mengenai hal itu, namun dia tidak katakan.
"Musuh?" Tanya Kazen.
"Iya. Kita kaget sekali dengan kelakuannya mentang-mentang dia dekat sama Rita, seenaknya merundung," kata Koma marah.
"Mana orang yang dia sukai juga lebih membela perempuan kampret itu. Ih!! Aku bersyukur deh mereka putus, kalau perempuan kampret itu ada, Rita pasti kena sial!" kata Diana.
"Hmmm bermasalah sekali ya dia," kata Kazen melipat kedua tangannya.
"Anehnya dia sampai kirim barang. Apa coba maksud dia?" Tanya Diana.
"Kirim barang? Niat baikan mungkin," kata Kazen.
"Rita cerita kalau dia sempat minta maaf untuk kelakuannya tapi ya sudah harusnya selesai kan?" Tanya Diana.
Kazen mengangguk.
"Dia terus mengganggu. Apalagi sengaja buat masalah baru, kirim paket lalu bilangnya itu salah kirim.
Kenapa sih senang ya membasuh orang yang sudah dia sakiti? Yang sudah tenang dan memberi maaf, dia buat masalah baru," kata Diana.
Kini Kazen jadi tahu memang ada niat sengaja. Tampaknya bagi Ney meminta maaf adalah hal yang biasa, seperti menginjak barang orang.
Minta maaf lalu pikirnya selesai tanpa berpikir barang itu rusak atau apa.
Bersambung ...