
Demensia Frontotemporal
Bentuk demensia yang mempengaruhi daerah otak frontal dan temporal, ini menyebabkan perubahan perilaku dan bahasa.
Perubahannya mencakup :
- Perilaku sosial yang melanggar norma dan hukum,
- Kurangnya rasa empati,
- Perubahan selera makan,
- Perilaku kompulsif,
- Cenderung merasa bosan, dan
- Agitasi yang ditandai dengan gelisah, jengkel dan gugup.
Gejalanya :
- Melontarkan kebohongan, tapi tidak memiliki keuntungan,
- Ceritanya yang diutarakan biasanya dramatis, pelik dan sangat detail.
- Pengidap menjadi tokoh utama penyelamat atau korban ( Macam dia yang sekarang ).
- Pengidap mempercayai bahwa cerita mereka benar-benar terjadi
( Sering sekali. Dia pernah cerita kepada saya soal keluarganya semua Dokter. Aneh. Karena yang saya tahu ibunya Ibu rumah tangga biasa, ayahnya direktur, lalu adik dan kakaknya juga IRT biasa jadi karangan dokter dari mana coba ).
- Kebohongan disampaikan berkali-kali dan terus-menerus
( Sudah sering terjadi sejak saya kenal dia. Sekarang saya menyesal untung saya normal tidak seperti dia ).
Kebohongan yang dilakukan oleh pengidap, yakni :
- Membuat cerita palsu bahwa telah meraih penghargaan
( Jadi teringat soal kisah Ulat, dia berkata bahwa tidak ada ulat lagi karena dia sudah berbaikan sama Saya dan keluarga saya memaafkan dia. Yang dimana, dia tidak pernah meminta maaf pada keluarga. Bahkan mengatakan fitnah soal Ibu saya, Ibu saya tidak pernah mau mengobrol dengannya karena kepribadian orangnya jelek.
Kalau soal memfitnahnya, ibu saya tidak pernah mau saya berteman sama dia karena dia tipe tukang tusuk dari belakang. Bahkan adikku juga tidak menyukainya, dia cerita pernah melihat Ney bicara sendirian dan tertawa sendiri di pojok.
Ney mengaku dia sedang bicara dengan Hantu-Hantunya, yang otomatis membuat aku memilih menjauh darinya. Semenjak itu aku memang jarang pergi main atau mengobrol lagi ).
- Bercerita jika memiliki penyakit mematikan, padahal tidak
( Pernah juga waktu masih SMP karena aneh jadi Saya tanyakan langsung pada ibunya, alhasil dia dimarahi seharian dan mengatakan pada Saya bahwa semua cerita jangan sampai dipercaya.
Sejak itu aku berhenti mengasihaninya dan tidak pernah simpati lagi pada dia karena, lagi-lagi dia katakan itu pada orang lain. Saya tanyakan kenapa dia seperti itu dan dia tidak menjawab ).
"Jadi sekarang kamu sudah tahu semua kan memang kalian tidak cocok dengan dia," kata Feb membeberkan.
"Kenapa kamu memberitahukan? Aku tahu kamu juga tidak menyukai aku kan," kata Rita.
"Kasihan kamu harus menghadapi perilaku dia yang begitu. Banyak yang terjebak juga Rita, aku juga sudah memperingati Arnila. Tapi katanya kasihan, ya memang itu yang dia cari. Perhatian. apalagi saat dia tahu kamu kenal Alex ini, heboh sekali dia disini," kata Feb.
"Dulu tidak begini meski memang pamernya masih tapi kenapa hanya ke aku ya?" Tanya Rita.
"Menurut pandangannya, kamu itu memiliki segala yang tidak dia punya," kata Feb.
"Arnila kan lebih lagi dari aku. Kan aneh," kata Rita.
"Teman kamu ada yang kaya ya. Ney sempat cerita dia nanya kok teman kayanya mau ya sama Rita, padahal kan tidak setara," kata Feb.
"Ahhh! Diana? Yaa memang kaya tapi aku tidak lihat dari situ jadi sahabat dia," kata Rita ingat.
"Dia itu pemilih dalam berteman. Aku yakin kamu sudah tahu, tampaknya Diana ini lebih memilih kamu ya. Soalnya dia cerita ada teman yang biasa mendekati kamu dan dia," kata Feb.
"Dia di tabok," kata Rita.
"Hahahaha pasti. Sudah biasa kok banyak kisah kalau sama dia tapi kisah kamu yang sekarang jauh dari dia, itu lebih diacungi jempol," kata Feb tersenyum.
Rita menggelengkan kepalanya tidak menduga dia menderita gangguan kepribadian kalau dipikir-pikir memang benar juga.
"Lalu soal Alex akan bagaimana? Sudah seburuk ini sih," kata Feb agak merasa berduka.
" Aku jadi meragu soal Alex. Tolong sampaikan saja ya ke Ney, aku minta maaf tapi kita tetap akan cari bukti sampai dia meminta maaf balik ke kamu," kata Rita bertekad.
"Yang sabar ya meski aku tidak begitu kenal kamu tapi aku tahu sakitnya seperti apa. Dia lebih membela Ney daripada orang yang jelas-jelas selalu ada untuknya," kata Feb.
Rita tersenyum tipis membacanya, pandangannya semakin kabur dan setetes air mata jatuh mengingat Alex. Feb lalu menyampaikannya dan Ney tertawa keras, dia bersorak. Namanya kini bersih dan benar Alex membuat Rita tunduk, tidak salah memang targetnya adalah memegang Alex.
"Lalu apa Rita menanyakan nomor teleponku?" Tanya Ney yang sudah gembira.
"Untuk apa? Kan dia benci kamu," balas Feb aneh.
Rita memperlihatkan chat dari Feb pada Alex bahwa dia sudah minta maaf dan Ney membalasnya dengan emoji pelukan. Dan Rita membalas dengan jari tengah, setelahnya Ney tidak membalas lagi.
Alex senang, Rita menuruti namun sejak saat itu juga tidak ada chat apapun lagi. Alex menyapa dan mengajaknya mengobrol tapi tidak ada balasan dari Rita. Selama apapun, tetap kosong.
"Lihat saja akan aku buktikan kalau dia memang sengaja," chat Rita di malam hari. Itu adalah batas mengerti nya pada Alex, dan akan dia akhiri.
"Tidak perlulah sudahi saja cukup kamu jangan berurusan lagi dengannya," kata Alex senang dia dibalas tapi masih dengan tema yang sama.
"Memang beda ya kamu suka ya sama Ney," kata Rita.
"Astagfirullah, tidak ada!" Kata Alex menggaruk kepalanya.
Pelayan datang membawakan buah dan juga jus stroberi kemudian keluar. Alex makan dengan lahap, sambil terus memeriksa ponselnya.
"Kamu tidak percaya aku ya?" Tanya Alex dengan mulut penuh dengan buah.
"Tidak sama sekali kamu banyak berbual! Kamu pikir dengan mengirimkan kue bisa buat aku lengah?!" Tanya Rita sebal.
Susaaaah! Susah dengan Rita, dikirim kue cantik lalu dirinya sudah buat kesalahan lagi. Ah ya Alex tidak mengerti kenapa perempuan selalu ribet!
"Tapi aku percaya kamu. Soal Ney, aku sudah tahu memang tidak bisa dipercaya. Sungguh!" Kata Alex berusaha. Salahnya dia memaksa Rita mengakui salah.
"BOHONG! Kamu lebih membela penjahat!" Kata Rita sebal.
"Ney bukan penjahat dia hanya tersesaaat," balas Alex.
"Kamu sama sekali tidak tahu apa-apa tidak perlu sok tahu!" Kata Rita kesal.
"Ya memang aku tidak tahu tapi kamu tidak perlu mencari tahu," kata Alex.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kamu takut aku melukai Kawan kamu yang precious?" Tanya Rita galak.
"Dia bukan kawan aku laaa mana mau aku juga sama dia," kata Alex berusaha mencairkan suasana.
"Iya kamu memaksa aku minta maaf tapi kamu tidak mau aku mengungkapkan bukti kan. Karena dia kawan terkuchuk kamu!" Kata Rita.
Alex teriak sebal dia memakan lagi buahnya. "Fine! Kalau kamu bisa buktikan ternyata dia benar sengaja, aku akan meminta maaf dan menyeret dia juga untuk minta maaf. Itu kan yang kamu mau?" Tanya Alex akhirnya.
"Bukan!" Jawab Rita.
Alex menghela nafas, sudah mulai deh firasat buruknya keluar. "Lalu apa mau kamu?"
"Aku tidak sudi menerima permohonan maaf lagi dari kamu atau Ney!" Kata Rita. Ya, inilah saatnya waktu yang tepat untuk benar-benar pisah!!
"Lalu apaa?" Tanya Alex agak cemas.
"Jangan ganggu aku lagi. Aku sudah lelah dengan kamu dan dengan Ney. Aku menuruti yang terakhir tadi, aku masih tetap sama lebih menurut pada orang yang salah. Ini sudah melewati batas," kata Rita.
"Oh, jangan begitu Rita. Apa kamu terpaksa selama ini chat lagi dengan aku?" Tanya Alex agak mulai sedih.
"Iya, sebenarnya aku sudah cukup lelah," jawab Rita.
"Apa karena aku tidak jadi ke Indonesia? Besok ada penerbangan siang ke sana, aku pasti..." kata Alex dengan gembira.
"Tidak perlu ya. Kalau kamu mau tahu Arnila banyak cerita soal Ney yang memfitnah aku setelah aku pisah dengan mereka. Tapi aku tahu kamu tidak akan peduli kan," kata Rita menatap atap kamarnya.
Alex membacanya, ada hal-hal dimana dia tidak tahu diluar kemampuannya. Percaya atau tidak, Arnila pun menjelaskan semuanya bahwa Ney memang banyak memfitnah Rita. Menghasutnya menakut-nakutinya dengan bahwa jin yang menempel pada Rita berpindah ke dirinya.
Alex membacanya tidak mempercayai itu, dia mengaku tidak mungkin. Tapi Arnila mengakui bahwa dirinya juga korban sama dengan Rita, ya mereka senasib. Arnila pamit menutup semua akun media sosial termasuk milik Alex juga Rita.
Lagu latar : Ailee - Goodbye My Love
"Apa kamu mempermainkan aku Alex? Dulu kamu pernah mengatakannya kan kalau memang ingin mempermainkan aku," kata Rita ingin meyakinkan hal itu.
"Tadinya tapi lama-lama Aku malah jatuh hati sama kamu. Aku jadi sangat peduli soal kamu soal Ney, aku hanya ingin kamu jangan terlalu melihat dia begitu jelek. Meski kelakuannya memang jelek," kata Alex agak sedih.
"Dengan bukti banyak membela Ney? Maaf aku tidak se bego dia ya. Dia sekarang senang sudah berhasil mendapatkan kamu," kata Rita.
"Rita, tolonglah kepalaku sakit," kata Alex pura-pura melihat apakah Rita akan simpati.
"Sudahlah Alex hentikan bual an kamu. Kamu mirip dengan Ney banyak alasan. Kepala sakit, dada sakit, apa-apa sakit, aku muak! Aku sudah tahu kebiasaan kamu. Sebenarnya kamu cocok sama dia tukang bohong & tukang drama," kata Rita membuat Alex diam.
"Hehehe tapi serius ya aku memang tidak menyukainya. Aku hanya bersalah karena semenjak aku hadir, hubungan kalian bertiga retak," kata Alex dengan jujur.
"Hubungan kami memang sudah retak sejak SMP. SMA aku mulai mendapat sahabat dan teman dekat, tidak ada pertemuan lagi dengan dia. Sudah banyak kekecewaan sejak kenal dia, dia juga berusaha merebut teman-teman aku," kata Rita.
"Benarkah?" Tanya Alex.
"Bahkan semua teman kuliah aku tidak ada yang menyukainya, mereka menceritakan segalanya dalam Season 1 di Eternal Enemy. Episode berapa aku lupa karena banyak sekali," kata Rita membuka aplikasinya dan kedua mata berputar-putar.
Alex diam membacanya, jadi bukan salahnya kini semakin hancur?
"Jadi Alex, dimanapun kamu berada hubunganku dengan Ney memang sudah hancur dan tidak ada. Tapi dia sendiri yang selalu mendatangi aku lagi, dimana aku tidak peduli dan tiba-tiba saja sudah ada dalam halaman Teman di PB waktu itu. Dan sejak itulah bencana ini bermula. Jangan salahkan lagi dirimu ya dan berbahagialah. Arnila berkata dia berterima kasih berkat kehadiranmu, dia bisa tahu sosok ahli Ney," kata Rita.
"Aku kan disini. Selalu baca kisah kamu dalam novel. Aku tidak akan lagi mencampuri urusan kamu Rita, aku akan terus mendukungmu," kata Alex tersenyum.
Bersambung...