MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
62



"Itu sih... mereka saja yang sebenarnya salah! Aku ini sering tahu mencarikan solusi buat mereka," kata Ney membela diri.


"Kena solusi kamu untuk mereka? Ada tidak yang hubungan sama orang tuanya baik atau yang lainnya tepat? Tidak ada Ney," kata suaminya membuat Ney melemparkan bantal.


"Sudah! Terus saja bela semua orang!" Kata Ney pergi ke dapur.


"Kamu yang bermasalah bukan mereka, bukan juga Arnila atau Rita! Mereka hidupnya lebih bahagia ya TANPA kamu. Apa susah ya kamu menerima kenyataan?" Tanya suami mengikuti.


Ney hanya manyun mendengarnya sambil memasak nasi dan lauk pauk. Dia ingat juga apa kata Sana, bahwa lebih baik tamat kan urusan kepo nya.


"Soal aku apa ada Rita kepo? Aku sama kamu, meski beberapa orang bertanya kenapa aku mau menikah sama kamu," kata suaminya membuat Ney berhenti sibuk.


"Pasti Safa kan," kata Ney dengan kesal.


"Bukan hanya dia saja teman kamu yang lain, termasuk musuh kamu," kata Suaminya.


"Rita!?" Seru Ney.


"Lihat, benar kan? Kamu juga menganggap dia musuh. Sebenarnya yang anggap musuh duluan itu kamu ke dia kan?" Tanya Suaminya.


"Jadi dia juga bertanya begitu? Kok tega sih," kata Ney.


"Bukan Rita tapi teman-teman kamu. Aku dan Rita tidak dekat," kata suaminya.


Ney menjatuhkan centong nasi, iya juga kapan Rita pernah bicara dengan Dins? Orang dia selalu menjauh atau menghindari diri.


"Oh.. Aku kira. Rita itu tidak ingin kalah orangnya. Dia selalu anggap aku saingan!" Kata Ney berdebar.


"Menurutku Rita bukan sosok perempuan seperti itu deh. Dia justru cuek sekali orangnya, tapi kamu menolak dia dekat sama kamu. Aku tahu," kata suaminya.


"Terus kamu bilang ke aku tadi. Masalahnya ada sama aku, soal apa?" Tanya Ney berhadapan dengan suaminya.


Suami mengajaknya duduk bersama. "Diri kamu," katanya menunjuk ke dirinya.


"Aku?" Tanya Ney.


"Iya, kamu selalu ingin jadi nomor satu atas segala-galanya. Ingin banyak yang memuji, banyak di perhatikan, kamu lakukan itu juga pada Rita tapi Rita tidak suka kan," kata suaminya.


"Itu wajar kan," kata Ney pelan.


"Tidak wajar dalam pertemanan, semuanya seimbang. Mereka cerita, kamu dengarkan dengan seksama. Begitu sebaliknya, bukan memaksa hanya kamu yang jadi MC," kata suaminya.


"Sudah! Jangan banyak ceramah lagi, tidak kamu, teman di grup juga begitu!" Kata Ney berdiri dan menyiapkan makan malam.


Suaminya menghela nafas dia teringat pada seseorang yang ditemuinya, saat menunggu laporan.


Sosok itu tidak lain adalah Alex. Mereka saling duduk di sofa yang berbeda namun Dins memperhatikan cara kerjanya.


Dins tidak tahu seperti apa Alex, dia hanya menduga saja. Dia kagum dengan cara Alex memperlakukan orang.


"Selama bekerja di luar, aku banyak melihat berbagai karakter orang. Banyak orang kaya yang hidupnya lebih sederhana. Ada juga bos bekerja tapi jadi miskin," kata suaminya tertawa.


"Ah masa? Bekerja menjadi kaya tapi dia jadi miskin?" Tanya Ney menatap suaminya.


"Aku pikir juga begitu karena dia lebih mementingkan karyawannya, kesejahteraan mereka. Aku tahu dari beberapa orang setiap hari dia mengamuk pada pegawainya," kata suami.


Ney yang tertarik duduk lagi dengannya. "Galak sekali perusahaannya pasti cepat bangkrut,"


"Mungkin tapi tidak, perusahaannya paling maju dibanding yang lain. Saat pembagian gaji, dia berikan semua pada pegawainya. Bagaimana? Dia jadi miskin sedangkan karyawannya kaya," kata suaminya cengengesan.


Ney kaget. "Paling maju? Masa? Kamu bohong ya. Kamu melamar kesana?" Tanyanya antusias.


"Aku penasaran. Perusahaannya paling besar banyak karyawan yang mengeluh soal kegalakan nya, tapi mereka terharu selalu mendapat bonus besar," kata suaminya merokok lagi.


"Kamu melamar saja bagaimana?" Tanya Ney.


Suaminya menggelengkan kepala. "Tidak bisa," katanya membelai kepala Ney.


"Kenapaa?" Tanya Ney kecewa.


"Aku kan sudah tanda tangan kontrak dengan perusahaan lain. Kalaupun... aku membatalkan, kita harus membayar setara gaji aku selama setahun lalu. Kamu mau?" Tanya suaminya.


Ney menepuk kepalanya. Kalau mereka harus membayar berarti rumah mereka juga harus diuangkan kembali!


"Kenapa baru sekarang sih kamu ketemu orang itu?" Tanya Ney manyun.


Suami tertawa gemas. "Sudah cukup porsi rezeki aku untuk kamu dan keluarga kecil kita. Jangan terlalu banyak belanja yang tidak perlu ya," pesannya.


Ney sudah merencanakan hendak membeli tas mahal, beberapa orang di grup memamerkan tas branded lainnya yang membuat dia panas.


"Terus ada lanjutannya?" Tanya Ney mengubah topik.


"Tentu. Karena penasaran, aku sempat mengobrol dengannya," kata suami membuat Ney kaget.


"Kenapa dia berbuat begitu? Apa dia tidak akan rugi memberikan semua gajinya? Istri kamu bagaimana?" Tanya suami.


"Yah, dia sudah berkeluarga?" Tanya Ney lemas.


"Lho, kenapa memangnya? Kamu minat ketemu dia?" Tanya suami curiga.


"Tidak. Terus?" Tanya Ney, dia harus mencari tahu soal siapakah orang yang ditemui oleh suaminya.


"Dia menjawab yang membuatnya berada di posisi atas adalah semua karyawannya. Dia beri tugas banyak, sampai satu kantor lembur, lalu kena amukan berdarah bersama," kata suaminya senyum.


"Bos seperti itu jarang ada ya jaman sekarang," kata Ney.


"Ada tapi bisa dihitung jari sepertinya. Tapi memang dia hebat sekali," kata suaminya.


"Pasti banyak yang keluar kalau diamuk berdarah," kata Ney yakin.


"Memang banyak yang keluar," kata suaminya merenung melihat daftar pegawai yang dicoret merah.


"Tuh kan, kalau kamu kerja sama dia entah ujungnya bagaimana," kata Ney lega. Ada untungnya suami menolak bekerja disana.


"Tapi kerja sama dia pasti cepat kaya," kata suaminya.


"Iya sih tapi mana ada yang tahan kalau bosnya mirip singa," kata Ney.


"Yang bertahan adalah karyawan-karyawannya yang setia. Mereka kenal baik seperti apa bosnya, yang keluar adalah karyawan lemah. Dimarahi sekali, dua kali langsung kabur," kata suaminya.


"Oh begitu," kata Ney.


"Karyawannya yang setia menganggap kemarahannya seperti badai yang akan berlalu," kata Suaminya.


"Terus hubungannya sama aku apa?" Tanya Ney merasa suaminya menghubungkan.


"Kalau yang seperti ini kamu peka, tapi pertemanan tidak. Hubungannya seperti kamu yang berada di posisi dimana para karyawannya kabur, saat ada masalah," kata suaminya.


Benar saja kan, tapi Ney terdiam. "Menghadapi Rita yang tidak peka itu sulit! Aku tidak tahan," katanya.


"Itulah, aku atau orang lain yang melihat memang kamu bukan sahabat atau teman dekatnya. Kamu bilang hanya teman selintas, tapi terus mengejar dia. Karena apa?" Tanya suaminya.


"Yaa aku cemas sih," kata Ney.


"Cemas? Tapi Rita santai. Cemas saat dirinya menurut Arnila akan menjadi orang yang sukses? Kamu kejar dia supaya kecipratan rezekinya? Jelas niat kamu," kata suaminya.


Ney diam, tidak membantah yang dimana ya memang begitu.


"Dia sulit kamu tinggalkan, sama sekali tidak mau jadi pendengar baik. Saat dia sukses, kamu memaksa dia menerima kamu sebagai teman.


Lepaskan saja jangan iri pada rezeki yang dia punya, jadi hidup kamu bisa tenang. Tidak ada niat menjadi nomor satu dia," jelas suaminya memijat bahu Ney.


Ney banyak memilih diam perkataan suaminya bagaikan panah yang menancap!


"Aku juga baca kamu mendoakan mereka berdua tidak bertemu. Kenapa?" Tanya suaminya.


Tidak ada yang bisa disembunyikan lagi, dia lupa bahwa suaminya juga selalu memeriksa percakapannya dengan siapapun.


"Rita tidak cocok say sama bule itu. Dia tidak bisa bahasa Inggris jadi tidak mungkin bisa," kata Ney.


Suaminya mencari sesuatu seorang Otuber perempuan yang berlogat Jawa medok. Suaminya orang Vietnam, istrinya itu mengemukakan bahwa dirinya diajari bahasa mereka.


Ney terdiam, dia enggan mendengarnya namun suaminya memegang keras tangannya.


"Memang bahasanya jadi aneh, tapi lihat semua orang memaklumi dan mengerti. Dia juga mengajari keluarga suaminya bahasa Jawa. Apalah perbedaan bahasa," kata suaminya senyum.


"Ya selain itu. Bulenya dari keluarga kaya, jomplang sekali dengan Rita," kata Ney dengan jutek.


"Bisa tidak kamu mulai belajar melihat orang tidak pada fisik atau materi? Kamu peka dengan laki-laki tapi tidak peka dengan sesama perempuan," kata suaminya.


Ney lupa soal kelemahannya itu. "Memangnya apa yang disukai bule pada Rita?"


"Ini. Hati. Coba kamu renungkan orang mana yang tahan dengan sifat dan perilaku kamu seperti badak bercampur banteng? Rita kenal kamu dari SMP, ada tidak kamu bersyukur dia mau bertahan sama kamu?" Tanya suaminya.


Itu tidak pernah ada dalam pikiran Ney, selama dia kenal Rita. Terlalu negatif sejak lama sebelum mengenalnya.


"Tapi kan harus dipikirkan juga soal statusnya," kata Ney.


"Rita ya bisa tahan lama dengan karakter seperti kamu. Apa susahnya untuk dia mengerti karakter bulenya?" Tanya suami dengan heran.


Ney tidak menjawab. "Bulenya?" Mendengar kata itu membuatnya semakin emosi.


Bersambung ...