
"Kamu baru kenal sama satu orang yang nyablak, begajulan, playgirl parah. Aku ratusan, Rita bayangkan saja kata-kata mereka seratus lipat seperti Ney," kata Seren memandangi mereka.
"Hah!? Seren kamu ini sebenarnya artis ya?" Tanya Rita.
"Kenapa berpikiran begitu? Memangnya cocok?" Tanya Seren tertawa pelan.
"Habis dari wajah ya kesannya seperti Alex dan Kazen, bukan orang sembarangan. Jangan-jangan aslinya lebih di luar batas nih?" Tanya Rita menatapnya.
Seren menahan tawa ada sesuatu yang dia sembunyikan namun Rita enggan banyak bertanya. Kalau Seren ceritakan, ya dia pasti dengar.
"Artis dunia tepatnya," kata Seren.
"Artis dunia?" Tanya Rita berpikir. Artis yang bagaimana tuh?
"Sudah sudah jangan dipikirkan. Kita keluar yuk, ceritakan pada Kazen dan segera pergi dari sini," ajak Seren menarik tangan Rita.
Ney dan Sana sudah cukup jauh dan mereka berdua mengendap ke toko parfum menemui Kazen dan Shin.
Mereka cerita dan membuat Kazen cemas rencananya terlalu cepat.
"Ayo cepat pergi," kata Rita menatap Kazen. Dia tidak mau berakhir sama seperti Alex.
Kazen berpikir dan mendapatkan ide. "Kamu harus bertemu dia,"
"Hah!? Untuk apa? Tapi boleh juga sih kali saja aku bisa gampar dia atau jambak," kata Rita.
"Hahaha terserah tapi aku ingin kamu bertemu dia, untuk melihat bagaimana tanggapannya. Yuk kita ke toko dulu," kata Kazen.
"Toko mana lagi?" Tanya Rita malas.
"Belanja nih?" Tanya Seren senang.
"Ada deh, aku sudah pesan kamu juga ikut bantu. Kita akan ubah penampilan kamu," kata Kazen.
"Haaaa!?" Seru Rita kaget. Kalau soal gaya baju memang Rita tidak suka ada yang mengatur. Sama dengan Ney tapi Rita lebih suka yang baju santai.
Mereka tiba di lantai lima memasuki sebuah toko elegan. Pemilik toko ternyata kenalan Kazen mereka ber-tos ria.
"Ini orangnya. Tolong ya dipermak. Kamu diam dan iya iya saja," kata Kazen menyerahkan Rita.
Beberapa saat, Rita keluar dengan tampilan yang membuat Kazen menutup mulutnya. Dia senyum menyukai baju yang dipilih Seren.
"Topinya ini," kata Seren memilihkan.
"Aku tidak mau pakai topi!" Tolak Rita.
"Cobalah bertemu Ney," kata Kazen.
Rita memandangi Kazen pasti ada sesuatu. "Iya iya,"
"Kamu mau gampar dia, mau jambak, atau apapun terserah. Hanya coba bertemu dia, kita lihat siapa yang akan membuat drama," kata Kazen.
"Begini, kalau orang itu nanti melihat kamu pasti dia tahu kamu berubah. Aku yakin kamu memang sengaja kan membuka akun kamu?" Tanya Shin.
"Iya karena dia berpikir aku pasti masih terus tidak laku. Dan pasti terkejut saat melihat fotoku dengan laki-laki lain," kata Rita.
"Nah sekarang kamu bertemu sama dia, lihat kelakuannya. Apakah kalimatnya akan seperti merayu supaya dekat lagi atau.. dia merasa tersakiti," kata Shin.
Rita mengerti tersakiti karena? Dia berpikir Rita pergi dari Alex membuat Ney sakit karena yah tidak ada mangsa.
"Usaha dia awalnya mendekati Alex untuk keuntungannya dan membuat kamu jatuh kan pasti sia-sia. Saat dia lihat kamu dengan yang lain mana sudah lama juga," kata Seren.
"Iya iya iya," Rita mengangguk setuju.
"Kalau kamu kesal dan masih marah, jangan bicara. Diam saja biar Seren yang atur nanti," kata Shin.
"Aku siap!" Kata Seren mengacungkan jempolnya.
"Sepertinya pilihan kedua deh," kata Rita.
"Dia akan terkejut bertemu dengan Penyihir seperti kata-katanya apalagi, salah satu temannya itu bisa jadi saksi lho," kata Kazen.
"Oh iya ya!" Kata Rita.
"Tunggu tunggu, kamu disebut Penyihir!?" Tanya Seren kaget.
"Iya," kata Rita.
"WHAT!? Enough with chit chat. Let's go!" Ajak Seren yang marah.
"Untuk wajah, Rita sudah bagus memakaikan kosmetiknya jadi tidak perlu diubah," kata Kazen.
"Rita, bawa tas ini. Pokoknya kamu harus terlihat lebih glowing. Supaya dia semakin kaget kalau bisa sampai pingsan," kata Seren memilihkan.
Rita tidak suka gaya itu tapi yah apa boleh buat lawannya anak-anak sultan juga. Sebenarnya tidak perlu begini juga sih, tapi ya tidak ada salahnya juga.
"Rita dulu yang keluar biar dia jelas kalau aalah orang," kata Kazen.
"Terserah deh," kata Rita yang sudah siap.
"Seren datang setelah lima menit kemudian dan jangan lupa panggil nama Rita," kata Kazen.
"Baik, Tuan," kata Seren.
"Sekalian bawa ini," kata Kazen memilihkan dua tas berwarna coklat pada Rita. Belanjanya Seren.
"Untuk?" Tanya Rita.
"Bawa saja, bagi kamu hanya kertas tapi bagi dia... beda," kata Shin mengerti.
Rita mengambil dan kemudian mulai berjalan ke luar toko. Dia juga ingin tahu seperti apakah reaksi Ney nanti.
"Sedang apa sih Zen?" Tanya pemilik toko, Arsya.
Arsya hanya mengangguk dan memberikan bon serta plastik baju.
Rita malas sih, belum jauh Seren menyusul. "Yang tegak dong badannya, keluarkan kesan berkelas fan anggun. Ayo!" Kata Seren kemudian pergi lagi.
"Anggun dan berkelas? Hahhh," kata Rita berusaha.
Saat berjalan, Ney melihat dengan sangat terkejut. Rita! Dia agak panik, gugup dan salah tingkah. Dia perhatikan mulai dari baju dan tas yang dia kenakan.
"Jadi memang aku salah orang? Yang ini jelas Rita," kata Ney berdiri kaku.
"Sedang apa? Kamu kenapa lagi sih?" Tanya Sana.
"Itu Rita. Yang aslinya," kata Ney menunjuk ke depan.
"Ooh itu yang namanya Rita," kata Sana kemudian mengeluarkan ponselnya dan memfoto.
"Untuk apa kamu foto segala?" Tanya Ney menatap Sana menyimpannya.
"Tidak apa-apa," kata Sana.
"Kamu mau sebar di grup ya? Jangan! Nanti mereka heboh," kata Ney.
"Heboh? Bukannya kamu yang heboh? Tuh Rita, tidak mau kamu ajak bicara? Tuh orangnya. Bajunya beda kan dengan yang kamu ceritakan tadi," kata Sana.
Ney diam, ternyata baju yang Rita gunakan berbeda dengan yang dia perkirakan.
"Bajunya itu lho. Wah dengan kekasihnya yang sekarang pasti hidup enak ya," kata Sana memanasi Ney.
Ney geram dan dengan wajah penuh maksud, dia mulai berjalan pura-pura melihat toko. Dan setelah sampai...
"Lho, Rita ya?" Tanya Ney.
Rita menatap ke arahnya, ternyata pandangannya hanya keras, datar dan dingin. Tidak ada ekspresi sama sekali, sedangkan Ney mencoba bersikap ramah.
Sana hanya mundur ke arah samping memperhatikan Rita. Apa yang akan dilakukan Rita pada Ney?
Rita memilih tidak menjawab menatap Ney tanpa ada ekspresi apapun, ya inilah jawabannya. Tidak ada sapaan atau bahkan wajah senang nan ramah.
Ney terus mendekati meski dia sadar wajah Rita sangat datar padanya. Karena banyak orang, Ney mencoba menarik perhatian.
"Rita apa kabarnya? Sudah lama ya. Tadi aku merasa sekilas melihat kamu lho di lantai bawah, aku kira kamu. Kamu banyak berubah ya.
Ini semua hasil hubungan kamu sama Alex yaaa. Kok kamu masih mau sih sama orang seperti begitu?" Tanya Ney terus men cerocos.
Sana menatap Rita yang benar-benar datar dan dingin, Sana mengerti sekarang. Dia mengontak di grupnya mengatakan bahwa kebetulan mereka bertemu dengan Rita.
Ya heboh langsung.
"Wah, baju kamu bermerk, terus tasnya juga. Kamu belanja apa ini? Aku mau lihat dong. Boleh ya, kamu kan baik," kata Ney yang langsung dengan seenaknya membuka tas.
Rita pukul tangan Ney agak keras, membuat Ney kaget dan membelainya. Wajah Rita memandanginya sangat dingin benar-benar tanpa bicara apapun.
Orang-orang yang melihat mereka agak mengejek Ney yang tidak sopan.
"Duh, kok kamu begitu sih? Biasanya juga aku selalu boleh lihat isinya! Rita bicara dong seperti tidak punya mulut saja. Merasa bersalah ya?" Tanya Ney memancing menatap wajahnya.
Rita sama sekali tidak menjawab, wajahnya memandangi Ney lekat-lekat membuat Ney agak takut. Dalam hati, Rita menjambak kepala Ney dan membantingnya ke lantai.
Tentu firasat sadis itu membuat Ney tersadar bahwa Rita memang tidak menyukainya dan dia sudah kurang ajar.
"Hahaha Ney kamu itu norak ya lihat-lihat barang orang. Apalagi sama orang yang suka jelas tidak suka sama kamu, jangan berlagak dekat deh," kata Sana tertawa.
Ney mendelik lalu memegang tangan Rita. "Rita, aku kan sudah minta maaf masa kamu tidak mau memaafkan?
Aku memang sudah banyak salah sama kamu, aku sudah jelaskan.
Tapi masa harus begini sih perlakuan sama aku yang sudah banyak berkorban?" Tanya Ney memohon.
Rita menghempaskan tangan Ney dengan menepak nya. Dia mengambil tisu basah dan mengelapnya.
"Iyyyuh, tidak perlu sentuh segala. Faker," kata Rita dengan suara mencekam membuat Ney yang awalnya mengiba langsung terdiam.
Apalagi mendengar Rita mengucapkan kata Iyuuh seperti jijik dan mengelap cepat pegangan tangannya. Membuat Ney geram dengan pandangan sengit menatap Rita.
Sana sudah tentu mendengarnya Rita pikir dia akan melawan tapi...
"HAHAHA!! Faker katanya kasihan ya. Kamu yang namanya Rita ya yang katanya kamu merasa di bully sama dia?" Tanya Sana.
Rita memasang mode waspada.
"Tenang tenang, aku tidak seperti dia. Aku hanya mau bilang bukan hanya kamu saja korbannya tapi banyak! Dia juga sering membully di dalam grup," kata Sana yang membuat Ney menatapnya marah.
"Sana! Kamu apa-apaan sih senang fitnah aku ya," kata Ney sambil menunjuk.
"Oh, banyak ya korbannya," kata Rita memandang tajam ke Ney yang hanya diam.
"Iya, kamu itu korban dia yang mungkin nomor ratusan. Banyak kok yang meninggalkan dia, sisanya ya yang sama dengan dia kelakuannya. Memang hobinya mengadu domba," kata Sana tertawa.
"Pergi sana! Rita jangan dengarkan ya aku itu memang sering sekali di fitnah,. Semua orang itu jahat sekali sama aku," kata Ney yang pura-pura menangis sambil melihat reaksi Rita.
Nihil, sorot mata Rita sama sekali tidak berubah dan justru menganggap Ney sangat hina. Ney menghentikan aksinya saat pengunjung menertawakannya yang nampak seperti anak TK.
"Jangan dekat-dekat. Kotor," kata Rita saat Ney mau mendekatinya dengan suara datar.
Ney yang mendengarnya kaget dan wajahnya berubah, ke aslinya. Rita membersihkan lagi tempat dimana jari Ney sempat menyentuhnya.
Ney naik pitam melihat Rita membersihkan dan membuang tisu dan ambil lagi yang baru. Dengan sikap arogannya, kelakuannya yang penuh kepalsuan kini berubah menjadi yang asli.
Bersambung ...