
"Ya kita sih sekilas kaget, mungkin karena terlaku asyik mengobrol jadinya tidak sadar kalau ada yang mendahului. Yati jawab, 'Oh, ieu bade hiking ka puncak TB, ni ( Oh, ini mau hiking ke puncak TB, Ni ),' kita sih senyum saja yang beda hanya Deti," kata Rita.
Kedua nya sama sekali tidak ada wajah-wajah ketakutan yang ada hanyalah antusias mendengarkan. Mungkin mereka terpikir kalau mereka yang ketemu bisa-bisa diajak berfoto.
"Yang namanya Deti pasti merasa aneh seakan-akan kalian terhipnotis, bisa bicara dengan Nenek," kata Koma.
Rita dan Diana mengangguk. "Memang dia yang agak-agak mepet ke kita berdua sih dan tarik tas aku untuk cepat pergi,"
"Kenapa kamu tidak pergi saja, Rita?" Tanya Diana sambil menyandarkan kepalanya ke tangan kirinya.
"Tidak sopan kalau kita lari begitu saja," kata Rita dengan polosnya.
Keduanya tertawa sampai sakit perut.
"Ya Allah, Rita! Masih bisa berpikir sopan santun dalam keadaan begitu," kata Koma dengan keras sambil tertawa menelungkup.
Diana juga sama saja!
"Tapi benar lho Kom mau dimanapun kita kan tetap harus menjaga sopan santun. Kalau ya nenek itu agak "begitu" jangan kabur dong. Kalau dikejar sampai puncak bagaimana? Dibuat sesat?" Tanya Rita membuat mereka berdua merenung.
"Iya juga sih lebih seram begitu," kata Diana memegang belakang lehernya.
"Nenek itu tertawa tidak?" Tanya Koma penasaran.
"Ketawa tapi biasa bukan seperti suara mbak K. Lanjuuuut," kata Rita.
Mereka berdua bersyukur takutnya ketawa mirip mbak Lampir. "Lanjooot,"
"'Oh, seueur ni nu kitu di dieu? ( Oh, banyak nek yang seperti itu di sini? ). 'Seueur cu nu di sasabkeun di dieu mah nepi sabulan ge aya ( Banyak cu yang di sesatkan di sini sampai sebulan juga ada )'. Kita agak seram juga mendengarnya," kata Rita memegang lehernya juga.
"Nenek itu pakai baju apa? Biasanya kebaya sih," kata Koma menebak.
"Seram tidak sih? Kebaya. Kalau Rita?" Tanya Diana.
"Iya kebaya atasan merah jambu tapi yang pudar, roknya batik cokelat. Semuanya ya melihat yang sama tidak berbeda. Mata kita normal tahu," kata Rita sebelum mereka bertanya.
Mereka berdua tertawa lagi tahu apa yang dimaksudkan oleh Rita.
"Lalu ada yang aku agak aneh sih. Kok tidak pakai sepatu ya? Sendal lah paling sederhana lalu bawa celurit juga," kata Rita.
"HAH!?" Teriak mereka langsung tutup mulut saat semua orang dan para pelayan toko memandangi meja mereka.
"Kamu tidak bertanya langsung?" Tanya Diana memelankan suaranya, malu karena sudah paling keras suaranya.
"Ya aku tanya dong," jawab Rita senyum.
"He!" Kata mereka menggelengkan kepalanya. "Berani sekali ya kamu,"
"Semenjak tahu ketempelan itu entah kenapa otomatis aku benci sekali dengan yang namanya Jin. Apapun bentuknya, suatu hari nanti aku pasti akan memusnahkan mereka!" Kata Rita dengan berapi-api.
"Tapi bahaya lho kalau memang mau memusnahkan mereka," kata Koma.
"Nanti pasti seperti game RPG keluar bosnya," kata Diana.
"Ya mudah panggil saja Malaikat-malaikat Allah swt dan minta bantuan Allah swt mengirimkan prajuritnya. Tebas habis!" Kata Rita dengan penuh mata yang dendam pada jin kampret!
"Iya, Aamiin banyak panjatkan doa meminta tameng dan pedang kuat supaya kamu bisa menebas mereka semua," kata Diana mendukung.
"Lanjut deh ke bagian masalah sendal," kata Koma.
"Ya aku memang bertanya ,'Ni, teu ngangge sendal? ( Nek, tidak pakai sendal?)' Terus kata neneknya sambik senyum, 'Ah, tos biasa cu moal kacugak ( Ah, sudah biasa cu tidak akan kena yang tajam-tajam )'. Tapi memang kakinya mulus sih," kata Rita kalau diingat-ingat lagi.
"Ya ampun Rita, bisa-bisanya lurus begitu pikirannya," kata mereka berdua.
"Tapi memang aneh banyak dedaunan kering pasti saja kan ada batu yang runcing atau bagaimana begitu," kata Rita.
"Terus teman kamu, Deti bagaimana responnya?" Tanya Diana menahan tawa.
Memang kelakuan Rita sangat kocak sih nonton bioskop yang horror selalu lepas kacamata katanya semuanya nampak buram. Jadi kalau yang lain teriak, dia yang paling datar karena tidak kelihatan.
Tapi ketemu Hantu misalkan tidak sesuai kenyataan, malah datar saja ditanya pula. Termasuk ketemu nenek-nenek di gunung TB yang katanya memang banyak orang yang melihatnya sebagai penjaga.
Penjaga yang dimaksud, adalah orang yang tinggal di gunung untuk menjaga kelestarian alam. Karena banyak orang-orang yang mencabut atau sengaja mengambil beberapa tanaman yang sudah ada.
Namun mengenai penjaga tersebut kabarnya hanya beberapa orang saja yang bisa melihatnya. Makanya Koma dan Diana tertawa mendengar kisah Rita.
"Deti berkata, 'Ayo pergi ayo," dia agak terlihat takut meski kalaupun nenek itu manusia. Memang agak ganjil sih," kata Rita berpikir.
"Ya iyalah! Karena nenek itu tiba-tiba muncul tapi tampaknya ramah ya bagaimana orang yang menghadapinya," kata Diana.
"Sebelah kiri itu kan semacam jurang memangnya ada rumah dibawahnya? Kita semua mikirnya ada desa atau kampung tapi yang kita masuki itu sudah pertengahan," jelas Rita. Kenapa juga baru terpikirkan sekarang?
Mereka berdua saling bertatapan.
"Kalau kamu ingin tahu, mau coba? Kita kesana tapi mencari jalan menuju bawahnya dan lihat apa benar ada desa atau rumah 1 biji," kata Koma.
"Kalian ya aku tahu kalian penggemar hal-hal horror tapi kalau sampai penasaran hanya lihat rumah saja. Ahh jangan deh," kata Rita tapi penasaran.
"Kita lihat saja dari jauh kalau benar ada memang nenek itu ya ada," kata Koma.
Hening...
"Kita coba saat liburan 3 hari. Bagaimana?" Tanya Rita mengusulkan.
Diana dan Koma setuju! Yah sekalian refreshing juga, mereka merencanakan hiking jauh sebelum memasuki sekolah Rita. Apalagi mereka tahu penyakit Rita, mimisan masih berlanjut karena kelelahan.
"Setelahnya ya sudah karena kita kan mengejar waktu siang juga, kita pamit dan nenek itu juga senyum," kata Rita.
"Deti pas lega ya," kata Diana.
Rita mengangguk. "Aku sempat lihat ke belakang nenek menunggu kami menuju atas dan senyum,"
"Hiiii," kata mereka.
"Nah kemudian Fitri datangi kita agak kesal, 'Kok kalian lama sih? Diskusi apa saja bertiga di bawah,' kita bengong dong lihat ke dia. Terus dia juga bengong," kata Rita.
"Nah lho kalau memang manusia kan seharusnya Fitri bisa lihat dari jauh kan," kata Diana.
"Nah itulah kita bertiga bertanya memangnya dia tidak lihat kalau kita sedang ngobrol dengan nenek-nenek? Dia bilang hanya melihat kita mengobrol bertiga dan tidak ada siapapun lagi," kata Rita.
Bersambung ...