MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
4



"Padahal kamu juga yang paling banyak makan makanan punya dia, apa pernah kamu ucapkan terima kasih?" Tanya ibu membereskan sisa krim yang bertebaran.


Rin diam, memang dia sangat jarang mengucapkan hal yang paling mudah. Dia sering kedapatan mengambil cemilan Rita tanpa ijin ke kamarnya. Mengira Rita tidak akan pernah tahu karena sangat banyak.


"Bunda, kenapa sih masih saja protes soal cake? Kan itu punya ateu Rita," kata Salman masuk.


"Sudah diberi segini juga ucapkan Alhamdulillah setidaknya ateu masih ingat sama kita," kata Ray menatap ibunya.


"Ya kan Bunda, kakaknya ateu jadi harusnya Bunda lebih di istimewa kan dong," kata Rin.


"Tapi Bunda tidak pernah terlihat mengistimewakan ateu sebagai adik," kata Ray lagi kemudian mereka berlarian keluar untuk main.


"Tidak malu apa, dibilang begitu sama anak-anak?" Tanya Prita yang langsung duduk membalas chat di ponselnya.


Ya apa kurangnya? Rita selalu menomorsatukan dirinya namun balasannya hanyalah menginjak- injak dirinya dan sekarang... tahu Rita dengan Alex semakin membuatnya keki. Iri dengan penuh bara api, lama-lama pasti ada yang gosong.


Selalu cari cara untuk menyalahkan Rita. Hal itu masih sama dengan keadaan Rita yang sudah mendapatkan gaji besar dari tempatnya bekerja. Sering meminta traktir setelahnya, di hina karena pilihan makanannya tidak enak atau apalah.


Sejak itu Rita tidak pernah ingin lagi memberikan makanan pada kakaknya, hanya ketiga anaknya yang sampai saat ini juga masih senang berbagi.


Setidaknya anak-anaknya bisa menghargai apapun yang ateu nya beri. Memang minus akhlak dan adab.


Dalam kamar, Rita menaruh piring tersebut dia mulai memakannya dengan lahap dengan nikmat dan menatap cake. Dia baru menyadari bahwa cake tersebut adalah krim keju, pantas saja keponakan dan lainnya begitu menikmati.


"Benarkah ini dari Alex?" Pikir Rita kemudian melihat ponselnya. "Ya ampun! Aku lupa menyalakan lagi," katanya bergegas menyalakan dan... benar saja banyak emoji menangis yang masuk.


Kalimat permintaan maaf sampai ada 10 baris disertai gambar bunga. Rita tertawa keras menatapnya, mau marah melihat usaha Alex membuatnya geli.


Di ruangan keluarga saat hendak menghancurkan kotak cake, Ibu menemukan amplop kecil yang hampir saja dibuka oleh Rin. Rin hanya sebal melihatnya, dia tahu itu pasti dari Alex. Kalau memang benar, akan dia buang atau bakar jadi Rita tidak akan tahu.


"Rita, ini ada amplop kecil kelihatannya tersemat di kotaknya," kata Ibu mengetuk pintu.


Rin ikut mengekor dengan kedua mata yang sangat jutek.


"Amplop? Mana?" Tanya Rita membuka pintu dan mengambilnya setelah mengucapkan terima kasih ke ibunya.


"Buka apa isinya," kata Rin dengan nada menyebalkan.


Tanpa jawaban, Rita menutup pintunya membuat Rin marah. Ibunya pergi begitu saja, ya dalam hati ibunya pun sebenarnya kecewa. Kenapa harus Rita yang mengalaminya bukan anak pertama atau anak ketiganya.


"Bu, apa sih isinya? Seperti penting saja," kata Rin memegang tangan ibunya.


"Sudah, jangan kepo!" kata Ibunya ke dapur. Ibunya tidak mengira Rita bisa kenal dengan Alex anak pengusaha dari Malaysia. Sejak kapan? Dan bagaimana Rita kenal, tidak pernah tahu.


Ibunya kesal namun apa bisa dikata memandangi anak pertamanya yang terlebih dahulu menikah dengan kekasihnya yang pegawai Bank. Mengingat Rita anak keduanya, yang sama sekali tidak memiliki prestasi dan kemampuan yang bagus.


Rita hanya seorang guru TK, lalu mengenal Alex. Awal ibunya tidak setuju karena identitas Alex diragukan, setelah bertemu semakin tidak percaya.


Tidak percaya kalau Alex menyukai Rita terlihat dari pancaran sinar kedua matanya. Namun Rita tidak peka dan selalu mengusili Alex. Itulah juga yang dilihat oleh Ney dan semakin benci Rita dan Alex.


Rita menggelengkan kepalanya ada-ada saja cara Alex membuatnya mau memaafkan. Dia membuka amplop itu dan membaca. Meskipun tulisannya bukan tulisan Alex ( Kok tahu? Toko biasanya suka menyediakan kartu dan kertas ucapan kan? ).


Maafkan kebodohan ku yang telat bangun.


Rita, maafkan aku ya semoga dengan kiriman cake ini kamu mau menerima aku lagi. Aku tunggu kamu di aplikasi chat.


Rita tertawa keras dengan cepat dia membalas di chatnya. Hanya dengan makanan enak membuat mood Rita kembali tenang, namun hanya Alex saja yang mampu meluluhkan nya. HANYA ALEX!


Ponselnya berdering dan tahu itu dering siapa, dengan heboh dan rusuh dia menuju kamarnya dan membuka.


"Si bodoh itu kenapa sih?" Tanya Jasmine ke Ayahnya


"Perempuan kan biasanya," jawab Ayahnya sambil makan.


"Kita tahu itu siapa. Ayo makan," kata Ibunya.


"YES! DIBALAAAASSS," Teriak Alex terdengar dan keluarganya sudah terbiasa.


Beberapa pelayan menahan tawa, ketiga keluarganya hanya makan tanpa komentar.


"Kamu suka cakenya?" Tanya Alex membalas dengan cepat.


Rita lalu mengirimkan foto dari awal kue itu dipotong sampai menjadi sajian yang enak.


"Syukaaaa sekali pertama kalinya aku makan cake seenak ini!" balas Rita kegirangan.


Alex bergaya, berpikir dia memang pintar. "Alhamdulillah kalau suka. Rasanya bagaimana? Kamu suka cheesecake kan?" Tanya Alex.


"Syuuukaaa sekaliii. Desainnya cantik dan semuanya hijau. Terima kasih yaaaaa," balas Rita tertawa lagi.


"Pertama? Memangnya tidak ada keluarga yang membelikan atau orang terkasih, misal?" Tanya Alex yang agak kaget membaca apa kata Rita.


Tapi hati Alex berbunga-bunga saat melihat potongan besar yang Rita makan.


"Tidak ada. Keluarga juga yaaa kalau adikku atau kakak ulang tahun," balas Rita.


Alex membaca sambil senyum, namun kemudian hilang. Dia mengetik dengan perasaan sedih. "Kamu ulang tahun tidak pernah dirayakan?" Tanyanya berharap salah.


"Tidak. Paling ya aku minta uang buat beli sendiri sih. Kalau tidak diberi ya aku nabung, kadang adikku juga ikut jadi bisa makan bersama," balas Rita membuat Alex tidak percaya, dia terdiam jadi memang cake pertama ya.


"Kalau pacar?" Tanya Alex.


"Tidak ada karena aku tidak minat pacaran jadi ya seringnya beli dengan adikku saja. Kamu juga lagi makan ini?" Tanya Rita mengalihkan topik.


Kesedihannya tentang keluarganya tidak membuatnya jatuh ke dalam dunia kegelapan alias Ghaib. Dia tetap berpegang pada Tuhannya yang selalu menemani hari-harinya.


Alex sedih membacanya, dia mengusap kedua matanya dan memandangi pemandangan halaman rumahnya.


"Kamu kuat ya. Di saat mungkin perempuan lain lari dari masalah itu dengan obat, atau menyimpang dari agama sendiri. Kamu masih bisa bertahan," balas Alex.


"Yaa karena aku belajar agama sejak sekolah dasar sampai aku kuliah lebih banyak lagi. Kuliah di area pesantren sih, jadi banyak lantunan doa yang bagus," kata Rita.


"Iya benar. Syukurlah," kata Alex tersenyum.


"Beda dengan orang yang masalahnya seperti aku, terus jarang solat semasa hidup eh berakhir memuja jin. Itu hancur kan hidupnya," kata Rita.


"Iya lah, itu sudah di luar Logika. Kalau ada masalah yang sudah parah luar biasa jangan lupa, sholat dan banyak curhat. Aku juga bisa," kata Alex.


"Tidak mau. Cerita ke kamu malah semakin bermasalah," balas Rita menambahkan emoji.


Bersambung ...