MEET & ANSWER

MEET & ANSWER
Rita Kecelakaan & Kazen Mengamuk



Mendengar itu mereka bertiga heboh tanpa bersuara, mereka saling memberikan isyarat. Diana menenangkan mereka, dia punya ide.


"Maaf Asma, aku sedang di luar dengan kakakku. Ada masalah apa?" Tanya Diana bernafas tenang.


Asma terdiam, mungkin Diana juga menghindarinya. "Tidak apa-apa aku datang kesana ya. Bagi lokasinya," kata Asma.


Semua tidak ada yang mau Asma datang.


"Aku tidak enak, Ma. Masalahnya di sini teman-teman kakakku datang, mereka ajak aku untuk main dan makan bersama. Sudah cerita saja di sini," kata Diana.


Asma menghela nafas saat itu bertumpuk-tumpuk tugas sekolah bertebaran, namun dalam ruangan itu hanya ada dia sendirian.


Dua staf memilih berada di kelas daripada mengerjakan tugas tersebut bersama Asma.


Asma menangis karena tidak ada yang membantu, bahkan Diana juga sulit. Dia menyesal telah membuat Rita di keluarkan.


"Tolonglah, Diana. Kamu bisa bantu aku kan? Aku harus mengerjakan tugas sekolah, belum untuk aku mengajar. Tugas sekolah ini banyak sekali," kata Asma dengan suara tertahan.


"Lho, kamu kan sanggup katanya. Rita cerita jadi kenapa tiga staf dikeluarkan, karena kamu mampu kan," kata Diana.


"Tadinya aku kira hanya yang Rita perlihatkan. Ternyata masih banyak kok Rita tidak beritahu ya? Jahat sekali ke aku," kata Asma.


"Menurutku kamu yang lebih jahat. Bagaimana ceritanya kamu fitnah dia? Sudah baik dia menawari kamu lowongan, dibalas pakai arang panas," kata Diana kesal.


Asma menangis mendengarnya, karena pernyataannya pada bu Dewi membuat para guru dan staf memilih keluar. Tinggallah dia dalam sekolah merenung.


"Aku tidak suka ya cara kamu kotor hanya agar kamu dapat rezeki mereka, Ma. Aku setuju dengan orang yang kirim pesan ke kamu," kata Diana lagi dengan logat marahnya.


Asma hanya diam, dia menghela nafas. "Apa ini hukumannya untuk aku?" Tanya Asma.


Rita lalu mengetik pesan pada mereka. "Dia sama sekali tidak mengatakan maaf ya,"


Diana dan Koma juga kaget. Oh iya, memang! Asma mengatakan begitu terdengar menyesal tapi tidak ada kata maaf, apa malu?


"Kamu kenapa sih undur diri segala? Kalau ada kan bisa bantu aku. Bagaimana kalau kamu melamar lagi saja, Na? Ya ya ya," ajak Asma.


"Kalau Rita melamar, aku juga mau. Koma juga," kata Diana sengaja.


"Tidak usah deh kalau Rita kan sudah dikeluarkan. Buat apa dia masuk lagi? Koma juga, aku cukup dengan kamu," kata Asma.


Koma dan Rita menggoda Diana yang akhirnya marah dan menahan tawa. "Tidak ah aku kan melamar karena ada Rita disana, Koma juga mau gabung. Kalau tidak suka ada mereka ya sudah ajak saja teman-teman kamu," kata Diana.


Tidak ada jawaban lagi dari Asma tapi hp masih aktif. Asma menyapukan air matanya dan menyembunyikan hp saat melihat bayangan Bu Dewi.


"Asma? Halo?" Tanya Diana heran.


"Sudah dimatikan kali," kata Koma.


"Belum kok ini hitungannya masih berjalan," kata Diana.


Mereka bertiga merasa aneh masa iya Asma serius meraung-raung? Saat hendak dimatikan, terdengar suara seseorang.


"Masih belum selesai!?" itu adalah suara Bu Dewi.


"Sepertinya Asma menyembunyikan hp deh. Bu Dewi memang galak ya," kata Diana.


"Bu, aku tidak bisa kalau mengerjakannya seorang diri. Lina dan Kinan lebih memilih ke atas untuk mengajar," kata Asma terdengar menaham sedih.


"Lho, itu kan resiko kamu bekerja di sini. Katanya mampu dan bisa lebih cepat selesai dari Bu Rita? Makanya saya keluarkan dia," kata Bu Dewi dengan nada marah.


Merek bertiga berpandangan, wah! Tapi mau dimatikan, sudah duluan tahu jadi ya di teruskan dengar deh.


"Saya juga mengeluarkan tiga lainnya untuk pemasukan lebih irit. Sekarang belum selesai juga? Bagaimana sih!?" Tanya Bu Dewi.


"Apa sebenarnya Bu Dewi itu baik ya? Mungkin... dia menguji Asma karena mengatakan kamu yang memaksa," kata Koma.


"Aku tidak tahu juga sih, jarang kontak dengannya. Tapi kalau tidak suka, ya memang ke aku agak-agak..." kata Rita. Mereka berdua mengerti.


"Tapi Bu, ini keterlaluan sudah seminggu saya kerja sendirian, mana saya juga harus mengajar," kata Asma terisak.


"Kasihan sih kalau hanya dia sendiri," kata Diana menatap Koma dan Rita.


"Tapi caranyaaa ini yang ke sepuluh kalinya lho, dia usik Rita dengan berbagai alasan," kata Koma.


"Iya sih itu dia. Tidak kapok-kapok pantas dia tidak punya teman di kelas," kata Diana.


"Mereka juga tidak merekomendasikan kita dekat sama dia," kata Rita.


"Sudah! Kamu tidak perlu mengajar di kelas, mereka berdua sudah cukup. Tugas kamu di sini buktikan dong janji kamu! Jangan mau enaknya saja dapat gaji besar!" Kata Bu Dewi.


Asma diam, dia menyesal meremehkan pekerjaan Rita. ini sebabnya dia selalu mendengar dari guru sekolah lain, bahwa Rita dua bulan sekali selalu sakit.


Mereka bisa saja bertemu saat ada pertemuan sekolah namun berbeda jurusan dan status.


Status disini sekolah yang dimasuki Rita dan Asma berbeda. Asma mengajar di TK Islamiah sedangkan Rita TK umum.


Tapi apapun yang Rita dapatkan, jalani dan miliki selalu membuat iri Asma. Persis dengan Ney, padahal mereka jauh berbeda.


"Saya tidak peduli. Pokoknya kamu harus selesaikan semuanya dalam satu bulan!" Kata Bu Dewi pergi.


Asma menangis tersedu-sedu, itulah nasib orang yang senang memfitnah dan menghasut. Biasanya karmanya datang sangat cepat.


Berkali-kali tapi tidak kapok juga.


"Eh, Asma sepertinya benar-benar menangis. Bagaimana, mau bantu?" Tanya Koma.


"Aku tidak ya. Kecuali dia minta maaf, untuk kesalahan dia yang sekarang dengan yang sembilan lainnya!" Kata Rita.


Mereka menghela nafas terlalu banyak keonaran yang Asma buat pada Rita.


"Aku juga tidak mau deh meski kasihan dia. Kita tunggu sampai dia benar-benar menyesal," kata Diana.


"Diana, aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin bisa dan sanggup. Aku koreksi," kata Asma.


"Sudah terlambat ya gara-gara kamu, Rita dikeluarkan," kata Diana marah.


Asma diam, mereka menunggu setidaknya perkataan Asma yang akan meminta maaf. Tapi nihil. Diana sudah berusaha agar Asma meminta maaf.


"Aku dengar tadi karena kamu masih mengaktifkan panggilan. Anak-anak banyak yang keluar?" Tanya Diana.


"Iya, Na. Karena gurunya kan dikeluarkan dan sebagian keluar. Orang tua merasa anak-anaknya banyak yang tidak diperhatikan," jelas Asma.


Mereka bertiga kaget! Sampai begitu??


"Sisa berapa kelas?" Tanya Diana agak tegang.


Asma tidak menjawab lalu... "Dua kelas alhasil semuanya disatukan,"


Merek bertiga lemas, sampai separah itu? Yang awalnya dua belas kelas terisi sekitar lima belas anak.


"Kacau," kata Rita menepuk keningnya.


"Kamu serius!? Itu sih menuju kebangkrutan, Ma. Jadi total murid ada berapa?" Tanya Diana.


"Makanya aku jadi bingung. Kalau bangkrut, aku kerja di sini hanya 3 bulan, Na. Semuanya tadinya ada tiga puluh, lima pindah juga," kata Asma.


"Wah," kata Koma, yang lainnya hanya menutup wajahnya.


"Buat apa aku kembali kalau isi murid hanya segitu?" Tanya Rita ke Koma dengan pelan.


Koma tidak bisa menjawabnya, dia juga bingung.


"Gaji aku disini kecil sekali hanya empat ratus, di sekolah awal sudah tiga juta," kata Asma.


"Makanya jangan rakus jadi orang! Kamu itu tidak bersyukur ya terlalu iri dengan penghasilan Rita. Makan tuh," kata Diana sebal.


Asma masih terus terisak, dirinya putus asa entah harus bagaimana menyelesaikan semuanya.


"Karena aku mau menikah, Diana. Aku butuh banyak dana jadi... aku pikir..." kata Asma.


"Astagfirullah! Jadi itu tujuan kamu? Kecewa berat aku sama kamu! Kamu juga seenaknya ambil karya Rita. KAPAN SIH KAMU KAPOK?!" Teriak Diana sangat marah.


Rita dan Koma menenangkannya, mereka sudah pindah duduk di pojokkan jadi beberapa orang tidak akan menatap mereka.


Asma kaget, Diana tahu karya yang dia ambil adalah milik Rita. Dia hanya terdiam, karya itu masih dia timpa dengan namanya.


"Itu.. karya.. aku," kata Asma menangis.


"Itu Rita yang buat kamu tahu kenapa aku bisa yakin? Karena kami belanja bahan dan membuatnya bersama-sama! Jadi tidak mungkin karya dia itu punya kamu!" Kata Diana dengan sangat marah.


"Sudah Na, sabar," kata Koma.


"Kamu teman kurang ajar! Memangnya yang tahu kamu begitu hanya Rita? Aku dan Koma juga tahu. Jadi terima saja akibat kelakuan kamu! Aku tidak mau membantu orang macam kamu!" Teriak Diana.


Karena sudah sangat marah, Rita mematikan hp. Asma terdiam kaget saat diteriaki kurang ajar oleh Diana.


"Istigfar, Na. Sudah aku ikhlas kita tahu dia kurang kreatif orangnya. Kita juga mana tahu apa penghasilannya benar tiga juta di sana," kata Rita.


Wajah Diana merah padam, dia benar-benar kesal dan meminta pamit untuk keluar sambil membawa minuman dingin penuh es batu.


"Aku juga marah sekali sama si Asma!" Kata Koma.


"Memangnya aku tidak? Sekarang kita tahu kenapa dia selalu sendiri kemana-mana, tidak ada yang mengajaknya pergi main," kata Rita.


"Waktu kita dibagi kelompok juga kan memang tidak ada yang ajak dia diskusi," kata Koma.


"Oh iya ya," kata Rita.


Lima menit kemudian Diana masuk dan senyum kembali, moodnya sudah bagus lagi. Dia lega setelah mengomel sendirian sambil minum air es.


Bersambung ...