
"Sebenarnya sih ya saat kamu kenalkan ke kami, aslinya ya kita tidak sreg tapi kita menghargai kamu. Kan kamu bilang dia teman semasa SMP kan, meski aku kurang suka ya," kata Koma terus terang.
"Kenapa tidak bilang sedari awal? Tidak apa-apa kok, yah tidak bilang juga aku tahu dari mimik wajah kalian sih. Tidak sreg dan tidak suka kan," kata Rita menebak.
Mereka berdua mengangguk. Yah, pastilah memang sepertinya lebih banyak yang kurang nyaman dengannya.
"Karena wajahnya?" Tanya Rita.
"Bagaimana ya? Fisik iya tapi bukannya kita singgung kekurangannya ya karena kita juga tidak sempurna," kata Koma.
"Lebih ke perilakunya sih yang kita lihat dia seenaknya sama kamu. Jadi aku dan Koma merasa, dia bukan teman yang baik buat kamu," kata Diana.
"Iya waktu kamu cerita apa ke dia, dia tidak mendengarkan malah nanya apaa begitu ke kita. Dari situ juga kita yang, 'Wah ini mah bukan orang yang bagus'. Begitu," kata Koma.
Rita diam mendengar apa yang dikatakan Koma dan Diana. "Iya sih, dari SMP sampai kuliah dia memang selalu begitu. Makanya aku jarang sekali cerita apapun. Terakhir soal Ibu saja,"
"Makanya kamu mulai cari teman yang setara atau setingkat pemikiran kamu kan? Cari teman dekat dan sahabat," kata Koma.
Rita mengangguk. Mereka berdua tersenyum.
"Itu bagus Rita, setidaknya kamu sudah sadar, dan dapat kan. Banyak lagi yang bisa kamu pegang termasuk kita berdua," kata Diana.
Rita tersenyum. "Iyalah, kalian tidak pernah neko-neko. Tidak malu juga kan kalau makan di pinggir jalan,"
"Haha yang penting makanannya enak dan terjaga ya. Baso tahu di kampus juga kan kita sering makan pinggir kampus, Ri," kata Koma.
"Cari teman yang nyaman dulu, soal sahabat atau teman dekat itu belakangan. Kalau orangnya mampu memberikan solusi baik, baru deh," kata Koma.
"Kalau dari awal kenal, dia enggan membantu kamu yang kesusahan langsung tinggal saja karena nanti ke depannya juga tidak akan mau tahu," kata Diana sambil makan kerupuk.
"Dia itu tipikal bersusah-susah kabur, bersenang-senang datang kemudian hahaha. Nanti kalau dia ada masalah pasti memaksa orang buat dengar," tebak Koma.
"Betul!" Seru Rita.
"Iyalah sudah terlihat Rita. Kamu pernah curhat kan ke aku, terus dia komen, 'Rita kok sering mengeluh ya aku suka jenuh mendengarnya lho,' aku kaget," kata Diana.
"Berasa kalau dia bukan manusia sih. Hidupnya sudah enak," kata Rita ikut makan kerupuk.
"Kita kan manusia ya kalau masih hidup wajar masalah selalu ada. Kalau tidak mau ada, ya mati saja," kata Koma.
"Sebentar aku ambil kerupuk lagi," kata Rita ke depan. Lalu kembali lagi. Pelayan datang membawakan minuman dahulu.
"Masalah soal Ney sudah beres saja Rita, anggaplah sebagai fans sekaligus Haters kamu," kata Koma.
Rita dan Diana tertawa.
"Iya iya. Sasaeng* ya," kata Rita tertawa.
"Apa itu?" Tanya mereka berdua penasaran.
Sasaeng berasal dari kata bahasa Korea, **sasaenghwal**. Dalam bahasa Indonesia artinya sasaenghwal adalah kehidupan pribadi seseorang.
Pada konteks Kpop, sasaeng merupakan sebutan untuk menggambarkan perilaku penggemar yang melebihi batas kewajaran atau terlalu terobsesi terhadap idolanya.
Kalau kasus pada Rita bisa jadi apa kata Diana dan Koma kalau sebenarnya Ney ini berawal dari kekaguman pada Rita, berubah menjadi kekaguman yang negatif.
Bila mengagumi seseorang akan lebih baik biasa saja jangan sampai menggebu melanggar privasi orang tersebut.
Itulah kenapa Diana tertawa menyadari perilaku Ney yang agak menyimpang.
Bisa jadi sebenarnya dia pernah ada rasa kagum tapi karena kurang percaya diri berubah menjadi Sasaeng.
Atau kalau dalam Indonesia lebih dikenal sebagai Stalker.
Dari mengirim barang-barang yang tidak dibutuhkan sampai mengancam atau melakukan tindakan di luar hukum.
Dikutip Cambridge Dictionary yang kemudian diterjemahkan secara bebas, apa yang dimaksud stalker.
Yaitu seseorang yang secara ilegal mengikuti dan mengawasi seseorang yang lain.
Terutama wanita, dalam masalah Rita memang perempuan pelakunya.
Bisa disebut sebagai Penguntit, rasa kepo yang awalnya hanya biasa berubah menjadi penguntit sampai mencari tahu nomor telepon dan alamat target.
Dalam Stalker juga terdapat perilaku Obsesi dimana sang pelaku akan melakukan observasi dan juga berusaha berkontak dengan target,
Untuk tujuan memenuhi keinginannya agar bisa memiliki kedekatan dengan target.
Ciri-ciri stalker adalah mereka tertarik terhadap informasi-informasi personal dari targetnya seperti nomor telepon, email, ukuran pakaian, nama lengkap, dan lain-lain yang cenderung bersifat privasi.
Stalker juga berusaha mencari informasi tentang jati diri korban melalui internet, arsip personal, atau media lain yang mengandung informasi target.
Bahkan ada yang sampai mendekati orang-orang terdekat target untuk memperoleh hal tersebut tanpa izin.
Ya, stalker bisa terjerat hukum bila dirasa sudah sangat mengganggu.
Ada pasalnya yakni Pasal 27 ayat 4 UU ITE, atau bisa dilihat pedomannya melalui Pasal Untuk Menjerat Pelaku Cyberstalking.
Bila tidak menemukan unsur yang memenuhi pasal tersebut, sang pelaku bisa terjerat menggunakan Pasal 29 UU ITE dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan/denda paling banyak Rp 750 juta.
Keduanya mengerti ternyata menjadi sasaeng atau stalker bisa dihukum dengan berat.
Karena termasuk pelanggaran mengganggu privasi seseorang.
"Kalau aku mengganggu seperti kata dia, apa dia ada bukti? Kapan juga aku stalker dia," kata Rita menutup kembali perihal stalker.
"Dia pernah bilang kamu mengganggu hidupnya?" Tanya Koma merasa aneh.
"Iya tapi dia kalah sendiri sih soalnya tidak ada bukti yang menjelaskan. Dia sendiri yang banyak bukti meneror. Waktu aku pernah putus kontak juga dia terus meneror," kata Rita.
"Pasti tidak ada teman seperti kita ya, Ri makanya dia banyak ganggu kamu," kata Diana.
"Mungkin, yah siapa juga yang tahan dengan kelakuan dia seperti itu?" Tanya Rita minum minumannya.
"Ada yang tahan sama dia," kata Diana.
"Siapa?" Tanya Rita.
"Yang satu arah sama dia Rita. Tapi akan sangat susah sekali mencarinya karena meski sama, terkadang bentrok juga dengan perilaku lawannya," kata Koma.
"Ya intinya sih jangan senang buat masalah kalau tidak mau ditinggalkan banyak orang. Siapa sih yang tahan sama hobi seperti itu, dimana-mana cari masalah," kata Koma.
"Yang ada bukannya mendapat teman tapi musuh segudang," kata Diana.
Prita datang masih manyun. Temannya masih agak lama sampai.
Pesanannya datang dan dia minum bersama teman satunya.
"Masih lama?" Tanya Rita menatap jamnya.
"Katanya di jalan tapi ditunggu lama juga," kata Prita.
"Ya tunggu saja dulu. Makanannya juga masih belum datang. Makan kerupuk dulu tuh," kata Rita menunjuk ke tempat kerupuk.
Bersambung ...